Sistem Masuk Perjalanan

Sistem Masuk Perjalanan
Bab 89: Pergi ke Museum Perang


__ADS_3

Berdiri di depan cermin kamar mandi sambil memegang dagunya, Ryzel sedang melihat panel Sistem yang muncul di depan wajahnya.


Tugas masuk sudah dikeluarkan ketika dia dan Linh sedang sibuk bermain lubang dan batang di malam hari.


Lokasi masuk diubah, tetapi masih berada di Kota Ho Chi Minh, lebih tepatnya di sebuah salah satu gedung tinggi yang terkenal dengan ketinggiannya.


Gedung yang dimaksud adalah Gedung Botaxco Financial.


Kemungkinan besar dia di sana hanya memandang keindahan kota, dan makan-makan di restoran.


“Aku harus menghubungi Linh. Umm … ya, itu benar.“ Ryzel bergegas keluar dari kamar mandi menuju tempat tidur.


Baru saja dia selesai mandi selepas melakukan kegiatan yang sangat internal dengan Linh. Apabila tidak mandi, rasanya sangat lengket dan tidak enak bergerak di tubuhnya..


Mengetik pesan di ponselnya, Ryzel mengirimkan sebuah pesan kepada Linh.


Tak lama kemudian, pesannya dibalas oleh Linh. Tidak butuh waktu yang lama untuk Linh mengirim pesan kepadanya lagi.


Saat dibuka, Ryzel langsung tersenyum karena lokasi tugasnya sama dengan tempat yang ingin dikunjungi oleh Linh.


Ryzel mengirim beberapa pesan dengan Linh, kemudian dia bergegas memakai bajunya. Dia harus bersiap-siap untuk pergi ke lokasi tugas masuk.


Namun, dia tidak langsung ke gedung tersebut, tetapi pergi ke tempat yang lain terlebih dahulu.


Menatap sosoknya di cermin sudah rapi dengan memakai pakaian yang sederhana dan elegan. Ryzel merasa sudah siap untuk keluar dari kamar.


Pakaiannya untuk pergi ke tempat wisata kali ini masih sama gayanya, mengenakan kaos putih polos jaket hitam dan celana bahan panjang, serta ada tambahan topi hitam, berjaga-jaga jika cuaca tidak bersahabat, tiba-tiba panas menyengat.


Menyambar salah satu tas yang berisikan peralatan siaran dan beberapa barang penting, Ryzel menggendong tas tersebut dan keluar dari kamar.


Begitu keluar dari kamar, adegan Ryzel keluar dari kamar hotel tampak seperti adegan yang ada di film, seorang pemuda tampan yang memiliki identitas yang luar biasa keluar dari kamar hotel dengan tampilan yang biasa.


Meskipun pakaiannya biasa, tampilan Ryzel terlihat berbeda dan sangat elegan, semua pakaian yang dikenakan Ryzel secara otomatis naik tingkat.


Tidak terlihat layaknya pakaian murah, tetapi terlihat mahal.


Beberapa baju yang dibawa Ryzel ada yang murah, ada juga yang mahal, tetapi Ryzel lebih sering memakai yang murah. Sayang sekali jika memakai yang mahal.


Pakaian yang mahal dipakai di saat-saat tertentu atau acara tertentu.


Keluar dari kamar, Ryzel segera pergi ke depan pintu kamar Linh. Dia mengetuk beberapa kali pintu kamar Linh dan menunggu Linh keluar.


Semua wanita sama saja, tidak hanya wanita Indonesia, semua wanita di dunia juga sama, mereka selalu lama jika ingin berangkat keluar atau pergi jalan-jalan. Ada kegaitan yang harus mereka lakukan, yakni merias wajah supaya terlihat cantik dilihat oleh orang lain entah orang yang dia sayangi atau orang-orang asing di jalan.


Ryzel harus menunggu lama lebih dari 15 menit. Saking lamanya dia bisa bermain gim moba atau multipemain 1 kali pertandingan.


Pintu kamar Linh terbuka, Ryzel mematikan layar ponselnya dan memasukkan ke dalam saku celana.


Begitu pandangan matanya naik ke atas dan mengarah ke pintu kamar Linh, dia bisa melihat seorang wanita yang cantik dan imut.


Linh keluar dari kamar dengan mengenakan pakaian yang lucu cantik. Gaun berwarna pink yang panjang ke bawah merangkap sebagai rok juga, di pinggangnya terdapat sebuah tali yang berfungsi untuk mengencangkan gaun sehingga tidak melebar ke samping dan terlihat ramping. Linh memakai topi pantai yang pernah dia bawa.


Akan tetapi, bukan pakaiannya yang membuat Ryzel terfokus, melainkan bola besar yang ada di balik atas gaun tersebut.


“Halo, Ryzel~ ….“ Linh menatap Ryzel malu-malu.


Kelihatannya, Linh tidak percaya diri memakai busana yang sekarang dia pakai di depan Ryzel.


Alih-alih menyahut sapaan Linh, Ryzel malah menjawab dengan pujian terhadap sosok Linh, “Kamu sangat cantik hari ini, tetapi ….“


“Ya?“ Linh tersipu pada awalnya dan dia melirik Ryzel dengan terheran begitu mendengar kalimat terakhir Ryzel.


“Kupikir kamu harus lebih menutupi bagian besar itu.“ Ryzel menggaruk pipinya dan menunjukkan ekspresi yang canggung.


Linh langsung menatap tubuh bagian atasnya dan pipinya makin memerah matang.


“Baik, tunggu sebentar.“


Setelah mengatakan itu, dia masuk kembali ke dalam kamar untuk mengubah tampilannya.

__ADS_1


Ryzel tersenyum, dia masih membayangkan bagian besar pada tubuh Linh. Dipikir-pikir, ukurannya makin besar setelah dia mainkan semalam dan tadi pagi.


Tak sampai 1 menit, Linh keluar lagi dengan memakai jaket putih yang dikenakan untuk menutupi bagian tubuh atas yang memiliki bola besar.


“Bagaimana sekarang? Apakah baik-baik saja?“ Linh menoleh melihat Ryzel dan meminta tanggapannya tentang pakaiannya sekarang.


Sorot mata menelusuri sosok Linh, dan tampilannya sudah lebih tertutup dari sebelumnya, paling tidak kedua bola besar tersebut tidak terlihat karena ditutupi oleh jaket.


Ryzel berjalan mendekat ke tubuh Linh dan berkata, “Sudah cocok dan sopan sekarang.“


“Umm … oke. Kalau begitu, ayo kita pergi!“ Linh mengalahkan rasa malunya dan dia berinisiatif memeluk tangan kiri Ryzel.


Gerakan Linh ini membuat Ryzel terkejut sesaat, dia tersenyum dan membiarkan Linh memeluk tangannya.


Mereka berdua berjalan bersama ke tempat lift hotel berada.


Keluar dari hotel, mereka berdua pergi ke sebuah tempat wisata yang pertama, yaitu War Remnant Museum.


War Remnant Museum merupakan tempat wisata yang berisikan berbagai macam peninggalan selama perang zaman dahulu.


Tempatnya lumayan jauh, tetapi masih bisa dijangkau dengan berjalan kaki. Jadi, mereka memutuskan berjalan kaki sambil menikmati suasa pagi di Kota Ho Chi Minh.


Selama di perjalanan, Linh menjadi sangat lengket dengan Ryzel, dia tidak malu lagi untuk memeluk tangan Ryzel, bahkan kedua bola besar Linh menjepit tangan Ryzel.


Sifatnya yang selalu nakal, kini berubah menjadi manja, bagaikan anak kucing yang penurut.


Linh memiliki sedikit sifat tsundere. Jujur saja, Ryzel lebih suka Linh yang manja seperti ini.


Suka bukan berarti cinta, hati Ryzel entah mengapa tetap sulit untuk menerima Linh sebagai pacarnya.


Masalah pacar dan cinta ini sedang dibahas oleh mereka berdua di perjalanan menuju museum.


“Tak perlu memikirkan aku, Ryzel. Aku tidak masalah dengan hubungan kita berdua sebagai seorang teman. Aku menghormati perasaan kamu. Lagi pula, semua ini terjadi karena aku yang menjadi penyebabnya. Aku bisa bersama kamu saja sudah cukup.“


Perkataan Linh ini sangat-sangat mencerminkan betapa pengertiannya dia kepada Ryzel.


Ryzel menatap Linh dengan perasaan yang rumit. Wanita bertubuh kecil yang terlihat rapuh dan rentan ternyata memiliki hati yang lapang.


Mulai detik ini, selama dia masih berada di Vietnam dan bersama Linh, dia pastikan Linh senang dan bahagia bersamanya. Hal ini dilakukan sebagai rasa tanggung jawabnya karena telah mengambil kehormatan Linh.


“Terima kasih sudah mengerti aku. Aku benar-benar merasa bersalah kepadamu.“


“Ryzel, jangan menyalahkan diri sendiri. Kamu tidak salah, ini adalah murni kesalahanku.“


Linh menahan Ryzel dan dia memandang Ryzel dengan wajah yang serius dan lembut.


“Aku—”


“Cukup, Ryzel. Kamu dengarkan aku dengan baik,” sela Linh sambil memegang kedua tangan Ryzel. “Tolong jangan menyalahkan diri kamu sendiri. Ini murni kecelakaan.“


“Baik, aku mengerti.“ Ryzel menatap mata Linh dan mengangguk.


“Bagus.“ Linh tersenyum dan dia memeluk tubuh Ryzel penuh kasih serta sayang.


“Aku sayang kamu, Ryzel.“


“Aku juga,“ Ryzel memeluk Linh dan melanjutkan perkataannya di dalam hati, “sebagai teman.“


Setelah berpelukan, mereka berdua kembali berjalan lagi sesuai dengan arahan dari Gugel. Hampir 1 jam mereka berjalan, mereka akhirnya sampai di museum yang dituju.


Setibanya di War Remnant Museum ini, mereka berdua langsung masuk ke dalam untuk melihat apa yang ada di dalam bangunan museum.


Di sana, mereka berdua langsung disuguhi dengan peralatan tempur di zaman Perang Indo–China I pada halaman museum.


Ada banyak perlengkapan tempur, seperti helikopter, tank, pesawat, dan lain-lain yang dipamerkan di halaman.


Alat tempur ini sangat bagus untuk diambil gambarnya. Demikian Ryzel memulai siaran langsungnya dan mengajak orang-orang di ruang siaran langsung untuk melihat apa saja yang ada di museum ini.


Tampaknya, tidak semuanya bisa atau diizinkan untuk direkam.

__ADS_1


Selain ada helikopter UH-1 dan tank M-48 Patton, ada banyak barang lainnya, misalnya rudal dan beberapa jenis bom atom.


Banyak para penonton Ryzel yang tahu tentang jenis alat tempur perang zaman dahulu.


Mereka menyebutkan nama jenis setiap kendaraan yang Ryzel sorot dan perlihatkan, ternyata banyak anak IPS di ruang siaran langsungnya.


Setelah puas melihat-lihat di halaman museum, mereka berdua segera masuk ke dalam ruang museum yang terbagi menjadi banyak ruang-ruang.


Tiap ruangan memiliki tema sendiri-sendiri dan barang yang ditunjukkan juga berbeda. Terdapat karya seni dan beberapa dokumentasi pada setiap ruangan, itu menjelaskan betapa kejam dan brutalnya masa peperangan zaman dahulu.


Saking brutalnya, Linh yang sebagai warga negara Vietnam meneteskan air mata karena terharu dengan ketangguhan serta kesabaran para pejuang, juga sedih dengan cara bagaimana mereka tewas dan wafat. Perang memang sangat merugikan.


Sebenarnya, peperangan tidak ada yang baik, semuanya sama-sama membuat manusia dirugikan. Tak ada yang diuntungkan.


Ketika mereka berpindah ke lantai 2 museum. Linh makin menangis karena melihat miniatur dan replika yang mendemonstrasikan bagaimana kejam dan brutalnya para penjajah.


Di lantai 2 ini mereka diperlihatkan betapa mengerikannya penyiksaan yang dilakukan kepada para tahanan perang.


Ini terlalu gelap dan tidak manusiawi, para tahanan disiksa begitu parah, banyak alat pemenggal dan alat penyiksaan yang diperlihatkan serta boneka yang menjadi gambaran bagaimana tegang dan sadisnya penyiksaan tersebut dilakukan.


Dikarenakan ini terlalu mengerikan, Ryzel tidak menyorot secara langsung pemandangan di dalam museum ini. Dia hanya menampilkan gambaran yang tidak terlalu sadis kepada orang-orang di ruang siaran langsung.


Meskipun tampak seram dan mengerikan, keduanya tidak takut dengan museum ini. Mereka menjadi belajar tentang sisi buruk perang, betapa tidak baiknya kehadiran perang yang banyak menewaskan orang-orang yang tidak bersalah.


Peninggalan-peninggalan sejarah di museum ini menjadi bukti betapa buruknya perang sehingga ini bisa menjadi pengingat bagi mereka semua untuk tidak mengulangi hal yang sama. Jangan sampai perang dunia terjadi lagi. Pasalnya, warga negara yang menjadi korban hanya demi keegoisan para petinggi.


Sehabis ke museum, Ryzel dan Linh pergi ke restoran karena hari sudah mau menjelang sore hari.


Di museum, mereka berdua terlalu menyimak dan fokus dengan apa yang ada di sana, sampai-sampai mereka bisa merasakan betapa menyeramkannya zaman peperangan yang terjadi beberapa puluh tahun silam.


“Sudah, jangan menangis lagi, Linh.“ Ryzel mengusap air mata Linh yang jatuh ke atas pipi mulusnya.


Mata Linh bergerak menatap Ryzel dan dia segera menahan air matanya untuk tidak keluar. “Aku masih terbayang akan adegan yang ada di museum, Ryzel. Betapa sengsaranya orang-orang di zaman dahulu. Mereka berjuang sampai merelakan nyawa dan darahnya demi kebebasan dan kemerdekaan yang belum tentu bisa mereka rasakan nantinya.“


Ryzel tidak menjawab, dia mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulut kecil Linh.


“Apakah kita harus berkorban demi keinginan kita sendiri? Apakah harus berkorban seberat itu? Aku sangat bingung dengan cara kerja dunia ini. Kita harus menukarkan sesuatu yang berharga yang kita miliki demi barang berharga yang lainnya. Benar-benar di dunia ini tidak ada yang gratis.“


“Ini sudah menjadi aturan dunia. Jadi, kamu harus berhati-hati dalam memilih atau membuat keputusan dalam kehidupan ini. Pilihanmu bisa jadi mendapatkan pertukaran yang sebanding atau lebih baik dari yang kamu korbankan, bisa juga kamu rugi berat. Apabila kamu ingin menginginkan sesuatu, kamu harus berkorban, tidak ada yang gratis. Benar katamu.“ Ryzel menggenggam tangan kecil Linh dan menatapnya dengan tatapan mata yang lembut.


“Jika memang begitu, aku akan mengikuti nasihat kamu. Mulai sekarang aku akan berhati-hati dalam memilih pilihan di kehidupanku sendiri.“ Linh mengangguk menunjukkan pengertiannya.


“Bagus.“ Ryzel mengelus jari-jari kecil linh dan tersenyum. “Terpenting kamu memilih sesuai dengan pertimbangan dan keinginan kamu. Jangan sampai menyesal.“


“Ya.“ Linh membalas tersenyum.


Keduanya meneruskan menghabiskan makanan yang mereka pesan di restoran ini. Selanjutnya, mereka akan pergi ke gedung Botaxco Financial.


“Wow! Gedung ini benar-benar tinggi!“


Pada sekarang ini, mereka berdua berdiri di depan gedung yang memiliki tinggi luar biasa. Mereka merasa kecil berdiri di sini.


“Ayo masuk!“ Ryzel mengajak Linh masuk ke dalam gedung.


Dia tersenyum dan mengangguk. “Ayo!“


Di dalam gedung, mereka harus membayar sekitar 200.000 Dong, tetapi mereka membayar lebih untuk perjalanan yang lain.


Begitu di dalam dan selesai membayar tiket, mereka pergi ke lantai 49 gedung ini. Di sana, biasa melihat segala pemandangan yang indah.


Waktu sore sekarang waktu yang cocok untuk ke gedung ini karena mereka bisa melihat pemandangan Kota Ho Chi Minh ketika matahari tenggelam.


Ryzel dan Linh bisa melihat keindahan Kota Ho Chi Minh dari atas, bahkan mereka bisa menyaksikan Pasar Ben Tanh yang ramai, Saigon Kubus, Takashimiya Vietnam serta keindahan Sungai Saigon yang kemarin mereka lihat dari dekat.


Tidak sia-sia mereka datang ke sini, rasa lelah karena berjalan-jalan menghilang seketika setelah melihat pemandangan yang menakjubkan.


Puas melihat pemandangan dan panorama kota di skydeck gedung.


Mereka pergi ke lantai paling atas untuk ke kafe yang ada di atas.

__ADS_1


[Ding! Terdeteksi Anda Telah Berada di Gedung Botaxco Financial!]


__ADS_2