Sistem Masuk Perjalanan

Sistem Masuk Perjalanan
Bab 81: Hotel yang Sama


__ADS_3

Linh kembali duduk normal di sebelah kursi Ryzel, menundukkan kepalanya dan terlihat malu.


Selama percakapan mereka dimulai, mereka berdua memakai bahasa Inggris.


Kemampuan bahasa Inggris Linh sangat bagus. Salah satu faktor yang membuat Ryzel percaya bahwa Linh diundang ke acara di liar negeri.


Menguasai kemampuan bahasa Inggris adalah kemampuan dasar untuk orang yang ingin sukses. Zaman sekarang sangat diperlukan orang yang pintar berbahasa Inggris.


Setelah sekian lama mereka duduk normal, orang-orang kembali fokus kepada kegiatannya masing-masing dan tidak lagi menyaksikan perilaku aneh keduanya.


“Huft! Kalau saja kamu tidak menyebalkan, kita tidak akan diperhatikan seperti tadi. Sangat memalukan!“ Wanita ini mulai menyalahkan Ryzel atas peristiwa memalukan yang baru saja terjadi.


Peristiwa yang memalukan dan membuat orang terfokus kepada mereka berdua, semuanya karena Linh. Ryzel hanya berbicara santai, tiba-tiba saja Linh berperilaku yang membuat orang banyak memperhatikannya.


Dagu Ryzel berdenyut saat ini. Ingin sekali rasanya wanita ini Ryzel lempar ke atas kasur dan menguncinya di dalam kamar.


Ryzel tidak membalas ucapan provokasi dari Linh. Dia diam dan mulai menutup matanya.


[Ding! Terdeteksi Anda Telah Berada di Bandara Internasional Tan Son Nhat, Kota Ho Chi Minh! Selamat kepada Anda karena telah mendapatkan Kemampuan Bahasa Vietnam Level 4, Mendapatkan 50 Miliar Dong, dan Kemampuan Fotografi Level 3!]


Setelah suara mekanis Sistem muncul, sebuah reaksi dan sensasi aneh muncul di sekujur tubuhnya.


Terdapat 2 pengetahuan bahasa baru ditanam di otak Ryzel membuat Ryzel paham dengan suatu pengetahuan tersebut.


Ketika Ryzel diam seperti ini, mata Linh menjelajah sosok Ryzel dengan tatapan yang mengagumi.


Paras wajah Ryzel merupakan sosok wajah yang pertama kali Linh lihat karena bisa sangat tampan dan rupawan seperti ini.


Di acara cosplay, tidak ada pria yang setampan Ryzel, bahkan yang mendekati sangat jarang dan belum ia lihat.


Sekarang ada peristiwa yang langka yang Linh alami.


Sekian lama Linh menatap dan memindai keindahan wajah Ryzel, dia menjadi sangat penasaran tentang dari mana Ryzel berasal.


Kurang dari 3 menit proses integrasi berlangsung, Ryzel yang menutup matanya perlahan mulai membuka matanya.


Begitu Ryzel membuka matanya, ia melihat wajah kecil lucu Linh yang sedang fokus menatap wajahnya, seperti orang yang sangat penasaran dan baru pertama kali melihat pria tampan.


Pada saat ini, Linh tengah terpesona saat melihat Ryzel membuka matanya. Terlihat sangat tampan dan menawan, seakan-akan membawa cahaya pesona yang tak terlukiskan.


Ryzel melambaikan tangannya di depan wajah Linh mencoba untuk menyadarkan Linh yang bingung dan menatapnya dengan mata penuh bintang kekaguman.


“Eh?“


Tak lama Linh tersadar dan ia langsung malu, menundukkan pandangan tidak mau wajahnya dilihat oleh Ryzel.


“Kamu tidak pergi ke rumah? Mengapa diam di sini?“ Ryzel penasaran mengapa Linh tidak pulang dan masih duduk bersamanya di sini.


Ryzel saat ini sedang menunggu taksi, supir taksi yang ia pesan belum membalas pesannya.


“Rumahku ada di kota lain, aku menginap di salah satu hotel di sini, selama beberapa hari, hitung-hitung aku juga liburan di kota ini.“


“Sudah memesan hotel?“


“Sudah, aku sudah memesan. Nama hotelnya ….“


Ryzel terkejut saat Linh mengungkapkan nama hotelnya. Ternyata itu sama dengan nama hotel yang Ryzel pesan.


“Loh? Mengapa sama dengan hotel yang aku pesan?“ tanya Ryzel dengan bingung kepada Linh.


Linh juga terkejut dan dia menatap Ryzel dengan raut muka yang tidak percaya. “Benarkah? Mengapa bisa kebetulan? Jangan bilang kamu penguntit dan kamu adalah penggemar berat aku?!“


Senyuman masam ditujukkan oleh Ryzel, dan ia menepuk lembut poni rambut Linh. “Sebaiknya, jangan terlalu percaya diri. Aku saja baru kenal denganmu dan baru tahu siapa kamu.“


“Hum! Aku cuma bercanda!“ Linh berkata dengan pipi yang bulat sambil membenarkan poninya yang telah ditepuk oleh Ryzel dan berantakan.


“Taksi yang aku pesan sudah ada di depan, kamu mau ikut bersama aku atau tidak ke hotel?“ Ryzel merasa kasihan dengan wanita bertubuh mungil ini. Tak enak jika ditinggalkan sendiri. Dia tidak memiliki kenalan di bandara ini.


Tangan Linh memegang bibir kecilnya dan berpikir sesaat. Kepalanya mengangguk tegas dan berkata, “Boleh, tetapi kamu yang bayar, ya?“


“Oke-oke.“ Ryzel malas berdebat dengan wanita ini di malam hari.


Lebih baik ia menuruti permintaannya dari pada menjadi ribut dan orang-orang melemparkan pandangan ke arahnya. Itu benar-benar membuatnya sangat malu.


Setelah itu, Ryzel menggendong semua tasnya di tubuhnya, dan Linh menggendong 1 tas di tubuhnya dan mendorong 1 koper yang terlihat berat.


Sebagai pria yang baik dan tampan, Ryzel membantu Linh membawa koper.

__ADS_1


Tindakan Ryzel ini langsung disukai Linh dan ia senang hati membiarkan Ryzel membawa kopernya sampai memasukkan koper tersebut ke dalam bagasi taksi.


Setelah keduanya di dalam mobil, mereka mengobrol ringan. Perbincangan ini lebih membahas tentang Ryzel sendiri.


“Kamu bekerja sebagai apa?“ Linh melihat wajah Ryzel dan bertanya dengan rasa ingin tahu yang besar.


“Aku bekerja sebagai streamer luar ruangan, aku pergi ke banyak negara untuk melihat keindahan yang ada di sana entah alam atau bangunannya.“ Ryzel tersenyum.


“Oh! Aku tahu itu. Kamu seorang traveler, bukan? Namun, kamu juga merangkap sebagai streamer.“


“Benar, semacam itu kerjaku. Namun, sebenarnya itu pekerjaan aku, ini hanya semacam hobi yang aku lakukan, yaitu bepergian ke tempat yang belum pernah aku datangi selama ini.“ Ryzel mengangguk membenarkan ucapan Linh.


Linh merenung memikirkan sesuatu dan bertanya, “Apa sebenarnya pekerjaan kamu kalau bukan streamer? Memangnya ada pekerjaan yang bisa ditinggal liburan seperti itu?“


Pertanyaan Linh tidak langsung Ryzel jawab, melainkan ia memberi senyuman penuh misteri.


“Ih! Kamu jangan begitu kepadaku, beri tahu aku tentang pekerjaan itu, atau aku gigit?!“


“Sutt! Sebentar lagi kita akan sampai di hotel. Aku akan mengungkapkannya di hotel nanti,” ucap Ryzel dengan senyuman yang ramah.


Senyuman ini terlihat menyebalkan bagi Linh. Sayangnya Linh tidak bisa berbuat apa-apa, ia mengikuti ucapan Ryzel dan bersabar sampai pria ini mengungkapkan rahasianya.


Percakapan mereka berdua sejak awal didengar oleh supir mobil. Supir menganggap keduanya sebagai pasangan yang serasi, sebab di antara mereka tidak terasa canggung dan obrolan mereka terasa asyik meski ada pukulan wanita tersebut di sela mereka berdua mengobrol.


Supir itu yakin bahwa pukulan yang dilontarkan oleh Linh hanya candaan dan tak serius. Tidak mungkin itu disengaja dan benar-benar ingin melukai pasangan tercinta.


Mobil sedan berhenti di depan sebuah hotel, Ryzel dan Linh keluar dari mobil setelah memberikan uang kepada Bapak Supir.


“Terima kasih banyak atas uang lebihnya. Semoga kalian berdoa langgeng sampai rambut kalian menjadi putih,” kata supir dengan ucapan yang tulus penuh rasa terima kasih.


Mendengar ini membuat Ryzel dan Linh canggung dan kikuk. Mereka tidak tahu harus menjawab dengan kalimat apa yang tepat.


“Terima kasih, Pak, atas doanya. Semangat terus kerjanya, Pak. Kami berdua masuk dahulu.“


Setelah Ryzel mengucapkan kalimat itu, ia menarik Linh ke dalam hotel dan kabur dari pandangan mata Bapak Supir.


“Hei! Jangan tarik aku seperti itu!“ Linh memukul tangan Ryzel yang menarik tangannya beberapa kali berharap Ryzel melepaskan.


Tindakan Ryzel membuat Linh malu. Dia sama sekali belum pernah dipegang lengannya layaknya seorang pasangan.


Saat sampai di meja resepsionis, Ryzel melepaskan tangannya dan ia langsung melaporkan tentang kehadirannya.


Mbak resepsionis yang melihat Ryzel langsung berwajah cerah setelah wajahnya terlihat lesu dan lelah.


Pria tampan memang obat untuk para wanita.


Berbincang dalam bahasa Vietnam beberapa saat, Ryzel diberikan kunci kamar oleh Mbak Resepsionis, kemudian Ryzel diantarkan oleh mbak tersebut ke kamarnya.


Ryzel tidak sadar bahwa dirinya telah meninggalkan Linh di lobi hotel.


Linh sedari tadi melihat Ryzel dengan wajah yang cemberut. Selanjutnya, wajahnya berubah ketiak Ryzel meninggalkannya dan pergi bersama petugas Resepsionis.


“Dasar pria! Mereka sangat menyebalkan!“ Dengan hati yang dongkol, Linh pergi ke meja resepsionis untuk bertanya tentang kamarnya.


Namun, reaksi yang tidak terduga terjadi ketika Linh datang ke meja resepsionis.


“Halo, atas nama Linh Hao, berikan aku kunci kamarnya!“ ucap Linh dengan lantang.


Akan tetapi, petugas itu tidak menjawab, mereka melihat ke kiri dan ke kanan untuk mencari di mana suara tersebut berasal pasalnya tidak ada sosok orang di depan meja resepsionis.


“Di mana suara itu? Hei, apakah kamu melihat seorang tamu di sini?“


“Tidak, aku tidak melihat siapa-siapa! Jangan-jangan itu hantu!“


Wajah Linh yang sedang dalam suasana buruk menjadi gelap lagi begitu mendengar ucapan para petugas resepsionis.


“Hei! Aku di sini!“ Linh mengangkat tangannya untuk menunjukkan sosoknya.


Begitu para petugas resepsionis melihat tangan anak kecil terangkat, hati mereka menjadi lega.


Mereka takut sebuah kejadian mistis terjadi di hotel ini.


“Anak kecil, mengapa kamu di sini? Sudah malam. Ibu kamu ke mana?“ tanya Petugas resepsionis wanita ini sambil melihat Linh yang terlihat sepasang matanya dari atas meja.


Warna kulit wajah Linh makin gelap. Ia menatap petugas resepsionis dengan tatapan yang sangat tidak senang.


“Aku bukan anak kecil! Aku yang memesan salah satu kamar di sini, namaku Linh Hao! Berikan aku kunci kamarnya!“

__ADS_1


Para petugas tertegun ketika mendengar ucapan Linh Hao.


Dengan butiran keringat di dahi mereka, para petugas resepsionis ini mencari pesanan kamar atas nama Linh Hao, kemudian mereka memberikan kunci kamar tersebut dan mengantarkannya ke kamar yang dimaksud.


Saking pendeknya Linh tidak terlihat oleh para petugas resepsionis.


Saat ini, Ryzel sedang duduk di atas kasur dan menyalakan siaran langsung di malam hari sambil menunggu waktu jam makan malam.


“Kali ini aku sedang di negara berbeda, bisakah kalian menebaknya? Aturannya masih sama dengan sebelumnya, jawaban yang benar akan mendapatkan uang.“


Ryzel melakukan tebak-tebakan lagi bersama para penontonnya yang telah berjumlah 100.000 di malam hari ini.


Mereka menonton Ryzel karena penasaran dengan tempat apa yang Ryzel kunjungi pada kesempatan kali ini.


Mendengar ucapan Ryzel yang barusan, membuat mereka bersemangat menonton siaran langsung dan mencoba mengundi keberuntungan.


Lebih dari 105.000 orang menonton siaran langsung dan mencoba untuk menebak jawaban Ryzel.


Ratusan ribu komentar dalam sekejap diunggah dan terbang di kolom komentar ruang siaran langsung Ryzel.


“Sehabis ke Kamboja seharusnya ke Jepang. Aku menjawabnya kami sedang berada di Korea Utara!“


“Phuket di Thailand!“


“Aku menebaknya di China, Kota Shanghai!“


“Humm … sangat sulit. Tidak ada petunjuk di sekitar siaran langsung ini. Baiklah, aku akan menebaknya! Kamu ada di Kota Ho Chi Minh !“


“Tidak, seharusnya Ryzel ada di Myanmar, itu dekat dengan Kamboja!“


“Semoga aku menang! Kamu ada di Afrika Selatan, ole ole ole!“


“…”


Jawaban mereka banyak yang salah, tetapi saat Ryzel baca ia langsung menemukan siapa orang yang mendapatkan hadiah.


Tanpa banyak basa-basi lagi, Ryzel menghubungi akun tersebut dsn melakukan verifikasi. Berikutnya, Ryzel mengirimkan total uang 2 juta rupiah kepada orang ini.


Orang yang menjadi pemenang kali ini adalah seorang wanita pelajar SMA.


Sangat beruntung gadis itu, mungkin memang sudah menjadi rezekinya.


Setelah siaran langsung seperti ini, Ryzel mematikan siaran langsung dan berpamitan dengan 120.000 orang yang sedang menyaksikan siaran langsung di malam hari ini.


Jumlah penonton memang tidak selalu stabil. Wajar jika ada penurunan, terlebih durasi siaran langsung tidak lama seperti biasanya.


Ryzel membereskan peralatan siaran langsung dan pergi dari kamar, berniat untuk makan malam di restoran hotel.


Di hotel ini terdapat restoran yang buka sangat malam. Semestinya, restoran itu masih buka. Sekarang baru jam setengah 9 malam. Tidak terlalu malam.


Ceklek!


Tepat ketika Ryzel keluar dari kamar, ia melihat Linh yang juga keluar dari kamar.


Mereka berdua saling bertatapan selama beberapa detik, sebelum akhirnya Linh berteriak keras kepada Ryzel, “Kamu! Akhirnya aku bertemu denganmu!“


Linh berjalan dengan cepat menuju Ryzel yang berdiri di depan pintu.


Selanjutnya, ia mencubit pinggang Ryzel saat sampai di depan tubuh Ryzel. “Rasakan ini! Hukuman karena telah meninggalkan aku di lobi sendirian! Dasar pria jahat!“


“Aduh!“ Ryzel terkejut dengan gerakan tiba-tiba Linh dan ia mengusap pinggangnya untuk meredakan rasa perih akibat cubitan Linh.


Meskipun tangannya kecil, Linh memiliki kekuatan cubitan yang tak bisa diremehkan, ini sangat mematikan.


“Maaf, aku baru ingat ada kamu di sini.“ Ryzel menggaruk rambutnya tampak kaku.


Jujur saja, setelah Ryzel ke resepsionis, pikirannya terfokus pada kunci kamar karena ia sudah tidak sabar untuk beristirahat sebentar dan menikmati lembutnya kasur.


Ryzel di kamar juga membalas pesan dengan Maly dan kedua temannya, memberi kabar bahwa dirinya sudah sampai di Vietnam dengan selamat. Tidak lupa juga Ryzel memberi tahu yang lain tentang keberangkatannya ke Vietnam.


“Huft! Untuk kali ini, aku memaafkan kamu! Jika kamu seperti itu lagi, aku akan menggigit lehermu, aku sebenarnya adalah vampir!“ ucap Linh dengan wajah yang marah, tetapi tetap imut yang bisa membuat orang ingin mencubit pipinya yang lucu.


Ryzel tersenyum dan mengangguk mengiakan ucapan Linh. Jika ia menolak, kemungkinan besar akan sesuatu yang heboh terjadi.


Mungkin Ryzel akan dipukul lagi oleh Linh.


Pukulan Linh sama sekali tidak berasa di tubuhnya. Itu seperti pijitan yang kurang tenaga dan tidak berasa sama sekali.

__ADS_1


__ADS_2