Sistem Masuk Perjalanan

Sistem Masuk Perjalanan
Bab 85: Pemandangan Sungai yang Indah


__ADS_3

Pipi Linh melembung besar karena berisi udara. Menatap Ryzel dengan wajah yang tidak senang.


“Kamu pelit! Tidak mau memberi tahu aku!“


Ryzel tidak menggubris omongan Linh dan dia terus meminum minumannya sambil memakan makanan camilan yang ada di atas meja.


Melihat reaksi Ryzel yang diam dan tak memedulikannya, Linh menjadi makin kesal dan marah, tetapi dia tidak mencubit Ryzel lagi.


Pasalnya, dia sudah berjanji untuk tidak mencubit, itu pasti akan menyakiti Ryzel. Lagi pula, Ryzel sudah berjanji kepadanya untuk tidak mengejek tubuh pendeknya.


Mata Ryzel melirik Linh yang terlihat marah dan enggan menatapnya. Wanita ini membuang wajahnya dan tidak mau ditatap oleh Ryzel.


“Habiskan makanannya, kita akan berangkat lagi ke Sungai Saigon setelah ini.“


Minuman yang Ryzel minum sudah hampir habis, makanan kecil di atas meja pun sebentar lagi lenyap dan menghilang.


“Oke,“ kata Linh dengan suara yang dingin tanpa mau menatap wajah Ryzel.


Meskipun terlihat enggan dan tidak mau, tangan Linh tetap bergerak dan mengambil makanan yang ada di atas meja. Dia memakan camilan yang sudah menjadi bagian dengan lahap.


Beberapa belas menit kemudian, mereka berdua menyelesaikan semua makanan kecil yang dipesan tidak ada yang tersisa. Remah-remah makanan tidak ada yang berjatuhan, di meja bersih tanpa ada kotoran atau bekas makanan yang berjatuhan dan keluar dari pesawat piring.


Setelah Ryzel membayar makanannya, keduanya pergi meneruskan perjalanan ke sungai atau tempat tujuan mereka hari ini.


Setiap kali makan, Ryzel biasanya yang membayar, dan itu selalu ditentang oleh Linh. Meskipun begitu, Ryzel tetap membayar semua makanan yang mereka berdua makan tanpa menghiraukan larangan Linh.


Ryzel tidak keberatan, anggap saja hadiah untuk menemaninya makan dan jalan-jalan.


Jika tidak ada Linh, Ryzel merasa sepi di perjalanan ke Vietnam ini.


Saat mereka berdua sudah berada di beberapa meter dari restoran, Ryzel mengeluarkan peralatan siaran langsungnya, dia berniat untuk mengajak para pengikutnya pergi jalan-jalan.


Melihat Ryzel yang sibuk mengorek-ngorek tas, Linh menjadi ingin tahu apa yang sebenarnya Ryzel lakukan.


“Kamu sedang apa, Ryzel? Mengambil apa di dalam tas itu?“ Linh menatap Ryzel dengan wajah yang penuh kuriositas atau keingintahuan.


Tangan kanan Ryzel sedang sibuk mencari tongkat gimbal di dalam tas, dan dia berkata dengan wajah yang serius, “Aku ingin memulai siaran langsung.“


“Ah, aku lupa tentang itu.“ Linh menepuk dahinya karena lupa bahwa Ryzel seorang streamer luar ruangan.


Di dalam taksi kemarin, Ryzel mengungkapkan tentang pekerjaannya yang adalah seorang streamer luar ruangan sekaligus traveler yang kerap pergi ke luar negeri dan berjalan liburan sendiri.


Mengingat hari kemarin, Linh menjadi ingat tentang janji Ryzel yang kemarin. “Hei! Kamu kemarin berjanji ingin memberi tahu aku tentang pekerjaan kamu selain menjadi seorang streamer, kata kamu di hotel akan memberi tahunya, sampai sekarang kamu tidak memberi tahu tentang itu.“


Baru saja Ryzel mendapatkan tongkat gimbal dan mengeluarkannya dari tas, begitu mendengar ini, dia tertegun sesaat dan tersenyum canggung ke arah Linh. Dia juga baru ingat tentang ini.


“Nanti saja, aku akan memberi tahu kamu setelah kita berada di mall.“


“Tidak! Kelak kamu pasti berbohong lagi!“ Linh menggelengkan kepalanya dengan cepat, dan menolak janji Ryzel.


Wanita ini tidak percaya lagi, dia takut dibohongi Ryzel.


Jujur saja, Ryzel lupa dengan itu dan dia baru ingat barusan ketika Linh mengucapkan kata-kata itu padanya.


Dia menjulurkan tangan kanannya dan menunjukkan jari kelingking kepada Linh yang berjalan dengan wajah yang cemberut.


“Aku tidak berbohong, aku berjanji. Janji kelingking?“ Ryzel menatap Linh dengan mata yang ramah dan lembut, agak sedikit menyipit.


Melihat wajah Ryzel yang lembut dan tampan ini, Linh langsung tersipu, pesona Ryzel tanpa sengaja membuat perasaan hati Linh melunak dan tidak keras kepala.


Linh mengangguk kepalanya satu kali dan mengaitkan jari kelingking kanannya ke jari kelingking Ryzel. “Kamu sudah berjanji, tidak boleh diingkari. Awas saja kalau berbohong lagi!“


Tingkah Linh benar-benar serupa dengan anak kecil yang marah karena sesuatu. Perbedaannya, Linh adalah anak kecil yang legal.


Kelihatan sangat imut dan menggemaskan. Jikalau saja ada anak sekolah yang sepantaran tingginya dengan Linh, Ryzel tidak akan menyangka bahwa Linh seorang wanita dengan umur 20 tahun.


“Oke-oke, kamu ingatkan saja di mall nanti.“ Ryzel mengangguk dan bersiap-siap untuk memulai siaran.


Selepas ponselnya terpasang di tongkat penstabil atau gimbal, Ryzel mengecek kondisi WiFi dan itu tersambung sangat baik. Begitu dirasa semuanya telah siap, Ryzel masuk ke aplikasi Tiktod dan menekan tombol mulai siaran langsung.

__ADS_1


Baru beberapa detik ruang siaran langsung diterbangkan, sudah ada belasan ribu orang yang masuk ke dalam ruang siaran langsung Ryzel.


Jumlah penonton terus bertambah banyak setiap detiknya. Server Tiktod masih kuat menampung banyaknya orang yang terus berdatangan ke ruang siaran langsung miliknya.


“Halo, Semuanya! Selamat pagi menjelang siang! Bagaimana kabar kalian hari ini? Semoga kalian memiliki peristiwa yang baik hari ini ….“


Kegiatan yang sama seperti biasanya, Ryzel melakukan pembukaan yang berisi bersapa ria dan basa-basi kepada penontonnya. Tak lupa juga Ryzel menyapa kepada orang-orang yang baru datang, guna meramaikan dan membuat orang nyaman menonton siaran langsungnya.


Linh yang berjalan di sebelah Ryzel mempunyai wajah yang bingung, dia tak mengerti apa yang dibicarakan oleh pria ini. Mereka berdua biasanya menggunakan bahasa Inggris untuk mengobrol. Linh lupa bahwa Ryzel bisa menggunakan bahasa Vietnam.


Saat pembukaan, kamera ponsel Ryzel tidak sengaja mengambil sosok Linh sehingga orang-orang yang ada di ruang siaran langsung salah fokus.


Beberapa orang yang teliti langsung bertanya tentang keberadaan Linh yang berjalan di samping Ryzel.


“Apakah itu anak kecil? Mengapa Ryzel bersama dengan anak kecil?“


“Anak kecil itu sangat lucu, jiwa pedo di dalam tubuhku meronta-ronta!“


“Aaaa!! Lucu banget adik kecil itu! Pipinya begitu menggemaskan!“


“Tolong cantumkan tautan pembelian! Aku ingin membeli boneka hidup yang imut itu!“


“Sebenarnya, mereka sedang ke mana? Omong-omong, gadis kecil di samping Ryzel sangat lucu, mirip dengan anak kecil di anime hen***.“


“Halo, Efbiay! Di sini banyak sekali pecinta anak kecil, tolong tangkap mereka semua!“


“…”


Ryzel sadar dengan perubahan pembahasan di dalam komentar ruang siaran langsung. Beberapa komentar Ryzel baca untuk mengetahui apa yang mereka tanyakan.


“Uhuk! Wanita ini bukan anak kecil. Aku bukan seorang pecinta anak kecil yang aneh ataupun Gilang pecinta ayam,” kata Ryzel sambil berpura-pura batuk. Dia menjelaskan bahwa anak kecil yang mereka lihat bukanlah seorang anak kecil asli.


Sontak, lebih dari 130.000 orang yang menonton ruang siaran langsung terkejut dengan ucapan Ryzel. Mereka mengirimkan banyak komentar bertanya tentang kebenaran yang diucapkan oleh Ryzel.


Melihat banyak yang tidak percaya, Ryzel hanya bisa tersenyum pasrah.


Mengalihkan kepalanya ke arah Linh yang sedari tadi menatapnya dan berkata dalam bahasa Inggris, “Aku tidak sengaja menyorot kamu ke dalam kamera, dan para penonton di ruang siaran langsung menganggap kamu seorang gadis atau anak kecil. Aku memberi tahu mereka bahwa kamu bukan anak kecil, tetapi mereka tetap tidak percaya.“


Tanpa banyak berpikir, Ryzel menyerahkan ponselnya ke tangan Linh.


Ketika Ryzel menyerahkan ponsel, banyak para penggemar yang menonton siaran langsung bertanya-tanya tentang apa yang terjadi.


Setelah kamera bergoyang hebat, sebuah wajah cantik dan imut muncul di depan kamera secara mendadak.


Di dalam layar ponsel mereka semua, tampak sebuah gambar mula dari seorang wanita yang begitu imut dan lucu, sekilas terlihat seperti anak kecil, tetapi begitu mereka lihat lebih lama, ada beberapa bagian wajah yang menunjukkan wajah orang dewasa, itu tetap imut dan menggemaskan.


Dalam sekejap, para penonton pria mabuk dengan kecantikan wajah Linh dan asupan imut yang mereka butuhkan hari ini terpenuhi.


“Wajah siapa ini? Mengapa lucu sekali! Aku mau wanita ini!“


“Kulit mulus dan putih serta bersih, pipi gembul sangat lucu! Tidak kuat menahan wajah manis ini!“


“Lucu sekali! Sangat mungil!“


“Tolong bawakan aku karung, aku ingin menculik gadis kecil ini!“


“…”


Linh melihat komentar sekilas, dia tidak mengerti apa yang dikatakan di kolom komentar. Jadi, dia langsung menginformasikan tentang dirinya di ruang siaran langsung.


“Halo! Aku di sini hanya ingin memberi tahu bahwa aku bukan anak kecil! Sekali lagi, aku buka seorang anak kecil atau gadis kecil! Aku sudah dewasa dan aku sudah bekerja. Aku sudah memiliki kartu identitas. Tolong jangan anggap anak kecil lagi! Terima kasih!“


Pada saat mengatakan kalimat tersebut, wajah imut Linh tampak sedang marah dan dia berbicara dalam bahasa Inggris. Penampilannya tidak menakutkan, malah tambah lucu dari sebelumnya.


Setelah mengatakan kata-kata itu, Linh mengembalikan ponsel kepada Ryzel. Wajahnya masih terlihat kesal. Dia benar-benar tidak suka dengan orang yang bilang dirinya seorang gadis kecil.


“Kalian sudah mendengar itu? Dia bukan seorang gadis kecil. Maka dari itu, jangan lihat dia seperti itu. Dia akan marah apabila kalian berkata dia adalah seorang anak kecil.“ Ryzel mengambil alih ruang siaran dengan wajah yang ceria.


Sedikit demi sedikit orang-orang yang tidak percaya dengan Linh sebagai orang dewasa menghilang. Mereka percaya dengan ucapan Ryzel.

__ADS_1


Walaupun sulit dipercaya, tetapi Ryzel sudah menyebutkan dan bilang kepadanya bahwa gadis kecil yang berjalan bersamanya adalah seorang wanita dewasa, bahkan umurnya lebih tua darinya.


“Lupakan tentang persoalan anak kecil dan pecintanya. Hari ini aku sedang pergi ke suatu tempat, yaitu sungai yang melintas di Kota Ho Chi Minh ….“


Topik pembicaraan Ryzel kontrol dan diarahkan ke tujuan sebenarnya siaran langsung ini diadakan.


Ryzel dan Linh berjalan terus mengikuti arahan Linh. Dia tahu jalan menuju Sungai Saigon.


Tak butuh waktu yang lama, mereka berdua akhirnya sampai di tempat tujuan.


Mereka harus melewati banyak jalan besar menyeberang hingga akhirnya tiba di sana.


Saat ini, di depan mereka telah terdapat sebuah sungai yang besar dan panjang. Saking lebarnya ukuran sungai ini, beberapa perahu besar muat untuk berlalu-lalang di sungai ini.


Pemandangan di sini sangat bagus. Air yang tenang dan bersih membuat hati orang yang melihatnya ikut damai. Sungai ini cocok untuk dilihat di saat bosan dan pikiran jenuh, mengisyaratkan otak dan pikiran.


Kamera ponsel Ryzel bergerak, mengambil gambar Sungai Saigon dari ujung ke ujung sehingga para penonton bisa melihat pemandangan yang dia lihat dengan jelas.


Banyak penonton yang menyukai pemandangan Sungai Saigon, dia meminta Ryzel untuk membidik sungai lebih lama lagi.


Ryzel tidak berbicara, dia diam dan fokus mengarahkan kamera dan mencoba untuk mencari sudut yang bagus dalam video siaran langsung.


Selain Ryzel dan para penontonnya yang menyukai panorama keindahan sungai, Linh juga diam dan menikmati setiap detik pemandangan sungai di depannya.


Pupil matanya terasa sebuah perasaan yang merindukan sesuatu. Arah pandangan matanya terfokus di tengah sungai.


Tak lama Ryzel melunasi keinginan para penonton, dia menoleh untuk melihat Linh. Dia baru sadar bahwa suara Linh tidak terdengar di telinganya.


Melihat Linh yang diam dan pandangan matanya menjadi kosong, Ryzel menepuk bahunya dengan lembut.


“Eh?“ Linh langsung tersadar dan dia menengok melihat Ryzel dengan ekspresi wajah yang bingung. “Ada apa, Ryzel?“


“Tidak apa-apa. Aku melihat kamu diam tak berbicara seperti itu, ditambah dengan tatapan mata yang kosong, aku khawatir sesuatu terjadi padamu. Di Indonesia tidak diperbolehkan berpikiran kosong di tempat seperti ini, takut akan ada sesuatu peristiwa yang tidak mengenakkan terjadi,” jelas Ryzel kepada Linh.


Di Indonesia ada yang namanya Pamali, sebuah larangan yang memiliki fungsi perlindungan diri dan mendidik moral.


Kalau tidak salah, ada sebuah Pamali yang tak memperbolehkan memiliki pikiran kosong di beberapa tempat, salah satunya tempat yang membahayakan ini, yaitu sungai.


Perkataan Ryzel membuat hati Linh hangat. Tindakan Ryzel tadi merupakan suatu bentuk perhatian bagi Linh.


“Tidak, aku tidak berpikiran kosong, aku hanya sedang memandang keindahan sungai ini.“ Linh menggelengkan kepalanya, dia tidak mau mengakui.


Ryzel tersenyum pasrah dan sedikit menggelengkan kepalanya.


Dia kembali melihat ponselnya lagi dan fokus menyiarkan siaran langsung.


Mereka berdua tidak diam di situ saja, mereka berjalan ke sisi lain dari pinggir Sungai Saigon. Mereka bergerak sekaligus pergi ke arah tempat pusat perbelanjaan Kota Ho Chi Minh.


Ada beberapa gedung yang tidak jauh dari Sungai Saigon, bahkan salah satu mall atau gedung memiliki nama Saigon karena tata letaknya begitu dekat dengan sungai tersebut.


Sampainya di salah satu mall tersebar dan teramai di kota ini, hari sudah lewat siang hari, sekitar jam 2 siang. Ryzel masih belum mematikan siaran langsung dan telah mengajak para penontonnya melihat pemandangan sungai hingga sampai ke mall.


Di dalam mall, Ryzel akhirnya mematikan siaran langsung lantaran ponsel sudah terlalu digunakan. Baterainya butuh diisi ulang.


Total sudah 4 jam Ryzel siaran langsung di siang hari ini, sudah cukup siaran langsungnya.


Tidak apa-apa 180.000 orang protes dan enggan, ini adalah keputusannya.


“Di sini, kita hanya diam dan duduk di kafe saja?“ Linh menatap Ryzel yang telah berpamitan dengan para penontonnya di ruang siaran langsung.


Ryzel menutup aplikasi Tiktod dan mematikan laya ponselnya dan berkata, “Tidak. Aku sudah bilang sebelumnya, aku ingin membeli sesuatu di mall. Omong-omong, di sini ada bagian barang elektronik, kan?“


“Ya, ada kayaknya. Kita coba cari saja.“ Linh tidak begitu yakin. Jadi, lebih baik memeriksa bersama.


Setelah mereka makan siang di mall dengan makanan khas vietnam dan beberapa makanan terkenal seperti ayam goreng Kaefsi, mereka beranjak pergi menuju area barang elektronik.


“Ambil ponselnya, itu untuk kamu.“ Ryzel menyerahkan 1 kotak ponsel iPon 14 varian paling tinggi ke tangan kecil Linh.


Linh tercengang dia menatap Ryzel dan ponsel dengan wajah yang menunjukkan ekspresi tak percaya.

__ADS_1


“Ini sungguhan?!“


"Ini benaran, tetapi kamu harus menuruti perintah aku." Ryzel memandang wajah Linh dengan raut wajah yang mencurigakan dan sedikit aneh.


__ADS_2