
Sebuah patung Buddha dan bangunan besar yang megah dilihat oleh Ryzel dan Maly.
Mereka berdua menikmati pemandangan dari bangunan khas Khmer ini, suasana atau atmosfer yang diberikan sangat unik, seakan mereka berdua memang ada di kawasan istana kerajaan zaman dahulu.
Selain mereka, ada para penonton siaran langsung Ryzel yang bisa merasakan pemandangan indah di sana melalui kamera Ryzel.
Tak sadar mereka berdua berada di sana selama berjam-jam hingga langit yang cerah menjadi redup, menunjukkan waktu yang berganti malam.
Di malam hari, bangunan-bangunan ini menyala terang berwarna kuning keemasan, terlihat sangat menakjubkan dan memukau.
Kesan indah menjadi bertambah ketika lampu-lampu yang melekat di sana bersinar, seolah-olah istana tersebut menghasilkan cahaya emas yang megah dan mewah.
Ryzel tidak mematikan siaran langsung. Kameranya diarahkan ke Balai Singgasana tersebut yang memiliki pancaran lampu.
Banyak para penontonnya yang berdecak kagum begitu melihat panorama malam di Royal Palace ini.
“Sangat-sangat keren! Warna kuning yang agak emas ini membuat bangunan tampak lebih baik dan bagus!“
“Bayangkan jika dirimu memiliki bangunan ini, kamu pasti sudah terkenal di Indonesia!“
“Bahagia sekali kalau tinggal di sini. Sayangnya, aku tidak memiliki darah keturunan kerajaan, melainkan keturunan Sunda dan jawa.“
“Ingin sekali ke sana untuk bersantai di malam hari sambil menyaksikan keindahan istana ini, pasti luar biasa!“
“…”
Puas dengan pemandangan ini, Ryzel dan Maly pergi meninggalkan kawasan Royal Palace menggunakan sepeda motor sewaan.
“Kita mau langsung ke hotel?“ tanya Maly yang duduk di jok belakang. Tangannya memeluk pinggang Ryzel dengan erat dan tubuh depannya menempel di punggung belakang Ryzel.
Sesi mengendarai sepeda motor di kesempatan kali ini Ryzel merasakan ketegangan, tegang karena ia bisa dengan jelas merasakan dua bola lembut milik Maly yang menabrak punggungnya.
Tebakan Ryzel, Maly tidak memakai pelindung bola. Ada sesuatu yang timbul di antara permukaan lembut, seperti bola cokelat di atas biskuit, terasa sekali benjolan atau permukaan yang mencuat ke atas.
Dengan perasaan tegang yang ia tahan, Ryzel menjawab, “Memangnya, kamu mau ke mana?“
“Umm … bagaimana kalau kita ke pasar malam dekat daerah sini?“ Maly meletakkan dagunya di pundak kiri Ryzel.
“Pasar malam? Apakah ada jajanan atau makanan di sana?“
“Tentu saja, pasti ada, mau ke sana?“
“Baiklah, aku ikut saja.“ Tidak ada pilihan lain, Ryzel mau tak mau mengikuti Maly.
“Oke! Kita berangkat ke sana!“
Sepeda motor matic atau otomatis yang Ryzel bawa meluncur menuju ke arah utara Kota Phnom Penh.
__ADS_1
Menurut arahan Maly, lokasi pasar malam ini berjarak kurang dari 7 kilometer dari tempat Istana Kerajaan berada. Semestinya, tidak memakan waktu yang lama.
Maly sudah memberikan petunjuk jalan yang cepat kepada Ryzel, memangkas waktu tempuh untuk bisa sampai di sana.
Sesampainya di pasar malam yang penuh dengan tukang jualan atau orang yang melakukan niaga dengan para pengunjung dan pembeli.
Sebelum menjelajahi pasar malam ini, Ryzel melanjutkan siaran langsung dan menunjukkan keramaian pasar malam Kamboja.
Banyak sekali makanan yang dijajakan oleh para pedagang sehingga membuat Ryzel kebingungan ingin mencoba apa. Selain makanan dan minuman, di sini juga ada yang menjual baju dan barang aksesoris lainnya yang bagus.
Ryzel membeli gantungan kunci dan satu baju yang menurutnya bahannya bagus, bisa menyerap keringat. Lumayan digunakan untuk baju pengganti apabila sedang di pantai atau kolam renang.
“Ryzel, kamu mau coba makanan ini tidak? Enak tahu.“ Maly memegang sebuah telur putih di tangannya. Ia membeli sebuah makanan di salah satu toko makanan yang buka di pasar malam.
Melihat benda tersebut, Ryzel penasaran dengan telur yang digenggam oleh Maly, dan ia bertanya, “Apa itu? Telur ayam, ya?“
“Bukan.“ Maly menggelengkan kepalanya. “Telur ini adalah telur bebek yang masih embrio dan sudah agak berbentuk anak bebek.“
Balut itik atau ayam umumnya ada di Negara Filipina. Kamboja kebanyakan Balut bebek.
“Coba aku lihat.“
Telur putih itu diserahkan kepada Ryzel untuk dilihat secara lebih dekat.
Terdapat lubang besar di telur ini, sudah dipecahkan, dan di dalamnya terdapat embrio bebek utuh. Rasa mual terasa dari perut Ryzel, ini tercium bau amis yang luar biasa.
“Makanan ini sangat bagus, penuh vitamin dan protein. Balut juga bisa meningkatkan gairah ***-***, cocok untukmu. Coba, deh.“
“Untuk apa juga, aku tidak punya istri atau pasangan, manfaat makanan ini tidak berguna bagiku yang sendiri.“
“Kamu mau membuktikan khasiatnya?“ Senyum Maly tampak aneh dan ia memandang Ryzel dengan tatapan seduktif.
“Maksudnya?“ Tanda tanya melayang di kepala Ryzel. Ia belum mengerti apa maksud Maly.
Maly mendekatkan diri dan berbisik sesuatu di telinga Ryzel, “Kamu boleh coba khasiat makanan ini kepada tubuhku, itu kalau kamu mau.“
Sontak Ryzel menoleh dan menatap Maly dengan wajah yang penuh keheranan. “Jangan aneh-aneh, Maly. Kita berdua baru bertemu, jangan bertingkah seperti itu.“
“Kalau begitu, kamu coba makanan ini dahulu, pasti kamu menyukainya setelah memakan makanan ini.“
“Tidak-tidak, terima kasih.“ Ryzel melambaikan tangannya. Menolak persuasi dari Maly.
“Ryzel, kumohon, coba makanan ini! Kalau tidak, aku tidak mau pulang.“ Bibir Maly mengerucut, ia tampak merajuk.
Wanita kalau sudah mengeluarkan jurus ini, sangat sulit untuk seorang pria yang baik hati dan tidak sombong menolak permintaannya.
Dengan demikian, Ryzel mengambil telur putih yang terdapat embrio bebek utuh dan garpu sebagai alat makannya.
__ADS_1
Melihat bentuk makanannya saja sudah menurunkan nafsu makan Ryzel. Ia menatap makanan ini sambil mengumpulkan keberanian, setelah dikira ia berani dan tekadnya terkumpul, Ryzel menelan ludah dan mengambil embrio bebek yang hampir sempurna ini dan ia menggigitnya semuanya.
Rasa sensasi fermentasi memenuhi dinding mulut Ryzel, ini membuat Ryzel ingin muntah, tetapi karena tekadnya yang kuat, ia sanggup menahannya.
Tak lama berselang, rasa gurih bisa dirasakan, mulut Ryzel dengan cepat mulai beradaptasi.
Merasa sesuatu di mulutnya sudah hampir ditelan semuanya, Ryzel langsung mengambil botol air dan menyesapnya untuk menghilangkan rasa amis di mulut.
Ternyata, rasanya tidak begitu buruk, masih ada rasa gurih yang bisa diterima oleh lidahnya.
Tekstur makanan ini awalnya terasa keras, tetapi lambat-laun menjadi lembut.
Makanan yang sangat asing bagi Ryzel yang berasal dari Indonesia. Lidahnya sekarang mungkin sedang terkejut dengan makanan Balut ini.
“Pfft—wajahmu terlihat lucu saat makan Balut ini,” kekeh Maly usai melihat penampilan Ryzel ketika makan Balut.
Tampan dan lucu. Ingin rasanya Maly cium bibir Ryzel hingga besok pagi.
“Apakah kamu puas dengan ini?“ Ryzel menatap wajah Maly dengan ekspresi yang sedikit kesal.
“Puas sekali!“ Maly menjawab dengan senyum main-main.
“Bagus.“ Ryzel tersenyum masam mendengar jawaban Maly.
“Jangan marah.“ Maly mendekati Ryzel dan memeluk tubuhnya, kemudian ia kembali berbisik. “Aku ada hadiah untukmu karena sudah menuruti kemauanku”
“Hadiah?“ Ryzel tertarik dengan hadiah Maly.
“Ya, hadiah rahasia. Setelah kita sampai di hotel, aku akan memberikan hadiahnya.“ Maly mengangguk memvalidasi perkataannya.
“Baiklah, aku menunggu hadiahnya.“
Pembicaraan ini tidak terdengar oleh mikrofon ponsel karena ramai orang yang berbicara sehingga bisikan Maly tak terdengar, sangat sayup.
Setelah Ryzel makan Balut, ia mencari kandungan makanan tersebut. Faktanya, makanan ini memang benar bisa meningkatkan gairah, tetapi itu belum dikonfirmasi oleh para peneliti, ini hanya anggapan orang-orang.
Pastinya, makanan Balut memang memiliki gizi dan protein yang tinggi.
Keduanya melanjutkan lagi penjelajahan pasar malam, Ryzel menemukan banyak makanan yang lazim dimakan, tentunya tidak semacam Balut tadi, makanan ini sangat mudah diterima oleh lidah Ryzel.
Usai membeli beberapa barang dan makanan, mereka berdua pulang dari pasar malam menuju hotel, sekaligus Ryzel mengembalikan sepeda motor yang disewa ini.
Di hotel, mereka makan malam bersama lagi di restoran hotel.
Sesudahnya makan malam, Maly mengajak Ryzel ke dalam kamarnya, ia bilang hadiah yang dijanjikan ada di dalam kamar.
“Masuk saja, Ryzel. Tidak apa-apa,” kata Maly yang melihat Ryzel diam di depan pintu kamar enggan masuk ke dalam.
__ADS_1
“Tidak, terima kasih. Aku mau di luar—”
Sebelum menyelesaikan ucapannya, Maly mengambil tangan Ryzel dan memaksa untuk masuk ke dalam.