
Meninggalkan kasur yang terbaring ketiga wanitanya, terlihat Ryzel menjadi sangat panik dengan wajahnya yang pucat pasi.
Panggilan yang diterimanya berisikan informasi yang sulit dia terima dan percaya.
Risa, Rina, dan Rani terbangun dengan suara Ryzel yang terdengar cukup keras di kamar.
Mereka melihat Ryzel yang terburu-buru masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Mengetahui ini, tidak tahu mengapa hati mereka juga terasa tidak baik-baik saja. Ketiganya khawatir dan mencoba untuk masuk ke kamar mandi bersama Ryzel.
Seperti biasa, Ryzel tidak mengunci kamar mandinya karena dia memang tidak terbiasa seperti itu. Dengan demikian, ketiga wanitanya masuk dan mandi bersama.
Di dalam kamar mandi, mereka sempat-sempatnya melakukan itu kepada Ryzel untuk mencoba membuat hatinya tenang. Namun, usaha mereka seakan sia-sia dan Ryzel merasa tidak puas dengan goyangan mereka.
"Sayang, kamu kenapa?" Risa yang sudah sangat cemas dengan Ryzel langsung bertanya sambil memberikan sentuhan ketenangan di tubuh Ryzel.
Ryzel masih menggosok tubuhnya dengan sabun dan wajahnya masih tidak terlihat tenang. Sama sekali tidak menjawab apa yang Risa tanyakan.
Melihat Ryzel yang diam, Risa dan yang lainnya menjadi lebih khawatir dan juga sedih. Mereka bertiga merasa tidak berdaya ketika Ryzel sedang seperti ini, padahal mereka ingin berguna di momen ketika Ryzel kebingungan dan kesusahan.
Tidak tahu dari mana, sebuah dorongan muncul di hati Risa, dan dia tiba-tiba mencium Ryzel dengan sebuah teknik yang liar.
Gerakan yang Risa lakukan berhasil membuat Ryzel tersadar, dan dia menatap Risa dengan mata yang membelalak.
Tak sampai di situ, Risa naik ke atas tubuh Ryzel dan memanjat dengan lihai bak kera memanjat pohon.
Tanpa bicara, Holystick ditelan oleh tubuh Risa dengan menelan lebih dari 74% dari seluruh panjang batangnya.
Setelahnya, Ryzel memberi tahu tentang apa yang ia terima dari panggilan polisi kepada Risa, Rina, dan Rani.
Lantas mereka memberhentikan kegiatan ini untuk cepat-cepat mandi.
Ketiga wanita Ryzel pergi ke kamarnya masing-masing usai mandi untuk memakai pakaiannya, sama apa yang Ryzel lakukan setelah mandi, dia mengenakan pakaian Rapi dan membangunkan Raffy.
Raffy tidur di kamar Rina dan Rani, dia tertidur di sana setelah diajak oleh Rina dan Rani menonton film kartun anak-anak melalui laptopnya, itu dibeli menggunakan uang Ryzel.
Tanpa menunggu lama, Raffy yang sudah lelah itu tertidur dan melanjutkan tidurnya yang diawali di dalam pesawat.
Melihat Ryzel ada di depan matanya, Raffy bingung melihat ekspresi Abangnya yang tampak salah.
"Tumben sekali Abang membangunkan aku dengan wajah seperti itu. Ada apa, Bang Ryzel?" Raffy bertanya dengan polosnya.
Mendengar ucapan Raffy, Ryzel langsung mengubah wajahnya menjadi biasa saja dengan senyuman yang dibentuk senatural mungkin, tetapi itu masih terlihat kaku.
"Tidak apa-apa, aku ingin mengajak Raffy untuk melihat Ibu sekarang," jawab Ryzel dengan senyuman yang tetap kikuk.
Tanda tangan terbentuk di atas kepala Raffy, kemudian dia mengangguk. "Baik, aku ikut."
Raffy merindukan ibunya meski tidak terlalu, Ryzel sudah membuatnya sangat nyaman, cara mendidiknya yang membuat Raffy hampir lupa dengan keluarga.
Sebagai seorang anak, Raffy pasti rindu dengan ibunya. Hal itu juga dirasakan oleh Ryzel saat ini.
Perasaan rindu yang telah menghilang, tiba-tiba dirasakan kembali di hati Ryzel setelah sekian lamanya.
Rindu ini muncul bukan karena kebahagiaan. Namun ....
Vroom!
Mobil Gemera keluar dari gerbang rumah dengan laju yang cepat.
Semua orang yang melihat mobil ini tahu bahwa orang di dalamnya sedang terburu-buru.
"Pak, aku minta tolong untuk tahan sebentar. Paling tidak, sampai aku sampai di sana," kata Ryzel dengan mata yang memerah.
Setelah beberapa patah kata yang Ryzel keluarkan di dalam panggilan telepon sambil menyetir mobil.
Panggilan tersebut terputus dan Ryzel menyimpan kembali ponselnya.
Semua orang yang ada di dalam mobil, yaitu Raffy, Risa, Rina, dan Rani, menjadi begitu panik dan sangat cemas.
Apalagi saat mereka melihat Ryzel yang benar-benar tidak tenang, tak sama seperti biasanya.
Ryzel yang mereka kenal sebagai pria yang cukup tenang jika ada masalah, kali ini pandangan mereka berubah, ternyata Ryzel bisa cemas berlebihan seperti itu, bahkan bisa menginfeksi mereka untuk ikut-ikutan bimbang tak karuan.
Selepas melihat Ryzel, tak tahu apa penyebabnya, Raffy mendadak menangis di pangkuan Risa. Hal ini membuat keadaan mereka makin kacau.
Meskipun begitu, Ryzel tetap fokus pada jalanan dan mengendalikan mobil sampai tujuan.
Kurang dari setengah jam di jalan raya Bandung, mobil mereka akhirnya masuk ke dalam rumah sakit besar swasta yang terkenal dengan keampuhannya mengobati penyakit pasien.
Begitu keluar dari mobil, Ryzel menggendong Raffy dan mencengkeram telapak tangan Risa yang juga bergandengan tangan dengan Rina dan Rani.
Mereka semua tampak tergesa-gesa di mata semua orang yang lalu-lalang di halaman depan rumah sakit.
__ADS_1
Awalnya semua orang terkejut melihat penampilan mereka yang tampan dan cantik, tetapi ketika melihat wajah masing-masing dari mereka, semua orang ikut-ikutan gelisah.
Brak!
Pintu ruang ICU dibuka oleh Ryzel dengan keras, membuat orang-orang yang ada di dalam ruangan terperanjat hampir melompat.
Pada saat ini, Ryzel melihat tiga orang polisi berdiri di dekat ranjang, mata Ryzel bergerak dan ia melihat sosok Septi serta Ayahnya yang sedang menangis sembari melirik orang yang terbaring di atas kasur.
Jantung Ryzel hampir berhenti begitu ia melihat orang yang terbaring lemah di atas kasur, orang itu adalah ibu Ryzel yang sedang mengalami koma karena kejang-kejang di lapas sementara.
Kedatangan Ryzel membuat semua orang terdiam, tak ada yang memberhentikannya untuk tidak terus mendekat.
Ryzel berdiri di samping tempat tidur sambil menatap ibunya yang tak sadarkan diri dengan alat bantu napas di wajahnya.
Baru kali ini, Ryzel melihat ibunya terbaring di kasur rumah sakit terlihat tidak berdaya.
Kabar yang diberikan oleh Pak Polisi membuatnya sangat cemas sehingga dia benar-benar datang ke sini dengan cepat.
Tatapan Ryzel tampak rumit, perasaan kesal, marah, sedih, menyesal, kecewa, dan berharap bercampur di dalam matanya.
Dengan pupil matanya yang bergetar, menandakan Ryzel sedang merasakan banyak suasana hati yang berubah-ubah ketika melihat ibunya.
Tepat ketika Ryzel fokus menatap wajah ibunya dengan banyak perasaan, mesin EKG menampilkan perubahan aktivitas denyut pada jantung ibunya yang melemah.
Gambar garis yang bergelombang jarang muncul dan garis lurus disertai bunyi yang nyaring terdengar lebih sering ditampilkan.
Berikutnya, alat EKG hanya menampilkan garis datar yang tak bergelombang disertai suara nyaring.
Tit!!
Semua orang yang melihat ini menjadi panik.
Secara bersamaan, Ryzel, Septi, dan Ayah Septi melihat ibu Ryzel dengan wajah yang luar biasa terkejut.
"Ibu! Ibu enggak apa-apa, kan?! Ibu, bangun!"
"Sayang!"
"Ibu!"
Septi, Raffy, dan Ayahnya berteriak di samping Ryzel mencoba membangunkan ibu Ryzel yang masih terbaring dengan lemah, mereka semua menangis histeris.
Sementara itu, Ryzel menatap kosong ke ibunya dengan perasaan hati yang stagnan.
Ekspresi wajah Ryzel membeku hingga Ryzel dan semua orang di dalam ruang ICU diminta keluar dari ruangan karena para dokter sedang mencoba untuk menyelamatkan kondisi ibu Ryzel.
"Maaf, kami sudah melakukan upaya yang terbaik, tetapi Pasien Santi tetap tak bisa diselamatkan dan meninggal dunia karena serangan jantung dan pecah pembuluh darah."
Deg!
Bagai petir di siang bolong bagi Ryzel, membuat tubuhnya terdiam kaku dengan mata terbelalak.
Berita yang dikabarkan dokter seperti tidak nyata dan sedang bercanda, seolah Ryzel melihat dokter yang ada di serial televisi.
Hal yang membuatnya percaya ibunya telah tiada adalah dia melihat ibunya terbaring di atas kasur dengan kulit yang sangat pucat tanpa terlihat ada kemerahan di tubuhnya.
Hanya Ryzel yang berani melihat ibunya yang telah meninggal.
Dokter berdiri di samping Ryzel menjaganya untuk benar-benar melihat tanpa melakukan hal yang tidak disarankan.
Hati Ryzel sangat kusut, dia memandang ibunya dengan sorot mata yang tidak percaya.
Matanya yang telah memerah tidak dapat menahan tangis lebih lama lagi, dan akhirnya Ryzel menangis dengan sedih.
Semua dokter, ketiga wanita Ryzel, beberapa polisi memandangnya perasaan duka yang mendalam.
Septi dan Ayah Septi tetap diawasi oleh polisi meski mereka sedang pingsan karena tidak tahan mendengar kabar berita kematian ibu Ryzel.
"Aku ...."
Ryzel ingin mengatakan sebuah kalimat kepada ibunya, tetapi dia tak bisa, rasanya ada sesuatu yang mengganjal kerongkongannya sehingga tak bisa mengeluarkan suara.
Berusaha untuk berbicara kepada ibunya yang telah tiada, tetapi Ryzel tidak bisa melakukannya.
Pada akhirnya, Ryzel menyerah dan dia membalikkan tubuh untuk berjalan keluar dari ruangan.
Semua orang bisa melihat wajah tampan Ryzel telah basah oleh air mata dengan matanya yang kemerahan.
Jelas sekali Ryzel sangat terluka hatinya mengetahui ibunya meninggal tepat di hadapannya.
Setelah itu, dokter membantu Ryzel untuk mengurusi prosedur formal ibunya yang meninggal, seperti mendapatkan sertifikat kematian.
Ryzel berbicara kepada dokter untuk meminta jenazah ibunya dipulangkan karena ingin dikubur di samping kuburan ayahnya dan kakek neneknya yang telah meninggal.
__ADS_1
Keesokan harinya, langit yang biasanya cerah menjadi mendung dan gelap.
Ryzel berdiri bersama ketiga wanitanya, Raffy, dan satu polisi di dekat sebuah kuburan baru yang dipenuhi banyak kembang.
Mata Ryzel terfokus pada batu nisan yang tertulis nama ibunya.
Blar!
Sebuah petir muncul di awan hitam, dan hujan mulai turun membasahi tanah.
Risa membuka payung di tangannya dan dia memayungi Ryzel dari hujan yang turun.
"Pak, ini ada sebuah surat yang sempat Ibu Santi titipkan kepada saya. Tolong diterima. Saya baru bisa memberikan surat ini sekarang."
"Terima kasih."
Tangan Ryzel terulur untuk mengambil selembar kertas yang diberikan oleh bapak polisi.
Pantas saja bapak polisi ini menunggu di sini begitu lama, padahal semua orang sudah pergi.
Perlahan jari-jari Ryzel membuka lipatan kertas yang berasal dari ibunya hingga dia melihat beberapa barusan tulisan yang bisa dibaca.
Mata Ryzel bergerak dan membaca dalam hati sebaris tulisan yang ditulis ibunya.
Wajah Ryzel berubah-ubah selama membaca surat tersebut, kemudian matanya kembali memerah hampir menangis.
Surat itu bertuliskan tentang permohonan maaf ibunya yang telah berbuat jahat kepadanya, ayahnya, nenek, dan kakek.
Di surat itu dijelaskan bahwa ibunya sendiri yang merencanakan kecelakaan ayahnya yang menyebabkan kematian. Itu dikarenakan Ayah Septi yang menghasutnya.
Sebuah fakta yang membuat Ryzel murka, tetapi kalimat berikutnya membuat Ryzel kembali tenang karena polisi sudah mengetahui tentang itu karena ibunya sudah memberikan sebuah bukti dan surat untuk polisi atas kesalahan yang ia buat.
Informasi yang ada di dalam surat berisikan penyesalan dan pengungkapan kasus yang sudah terjadi.
"Pak, aku ingin kasus pidana ini tetap dilanjut hingga mereka berdua mendapatkan hukuman yang layak di mata keadilan," ucap Ryzel kepada polisi yang masih menunggunya selesai membaca.
Bapak polisi itu mengangguk tegas. "Baik, akan saya sampaikan."
"Terima kasih banyak."
"Sama-sama."
Peristiwa kematian ibunya membuat Ryzel sangat terpukul, dia hanya diam di rumah dan mengurung diri di dalam kamar tanpa mau bepergian lagi selama lebih dari 2 Minggu.
Semua wanita Ryzel mencoba untuk membujuk Ryzel, tetapi tak ada yang bisa berhasil membuat Ryzel keluar dari kamar.
Selama 2 Minggu itu, Ryzel benar-benar tidak keluar kamar satu kali pun, dia tidak makan dan tidak minum, mandi mungkin dia lakukan karena di dalam kamar ada kamar mandi.
Ryzel yang diam di dalam kamar membuat semua wanitanya khawatir, bahkan Maly, Putrea, Aruny, Linh, Keiko, Abiella, Soomin, Laurel, Amanda, Firda, Syifa, dan Naura datang ke rumah Ryzel yang ada di Bandung hanya demi membujuk Ryzel untuk keluar dari kamar dan berhenti bersedih.
Pada saat ini, beberapa polisi yang datang karena ingin memberi surat persidangan terkejut melihat banyak wanita cantik dan seksi berkumpul di depan kamar Ryzel.
Namun, mengingat ketampanan Ryzel yang luar biasa, tak heran jika wanita cantik berkumpul di sini berusaha untuk membuat Ryzel tidak lagi mengurung diri.
Kapolri jenderal polisi datang ke rumah Ryzel dan ikut mencoba membuat Ryzel berhenti mengurung diri di dalam kamar.
Semua wanita Ryzel seketika memberi jalan untuk Kapolri berinteraksi dengan Ryzel.
Tok! Tok!
"Selamat pagi, Tuan Ryzel. Kami datang ke sini ingin memberi tahu bahwa persidangan akan dilakukan besok, kami berharap Anda datang sebagai saksi.
"Terima kasih sudah mendengar ucapan saya. Saya harap Anda sehat di dalam sana dan tetap kuat menghadapi kesedihan. Kami semua di sini menunggu Anda dengan memperlihatkan tampilan terbaik Anda di persidangan nanti."
Setelah mengatakan itu, jendral mengucapkan salam perpisahan dan meninggalkan semua wanita Ryzel, berjalan bersama semua anggota polisi hingga keluar dari rumah.
Suara mobil yang melaju terdengar, dan semua orang di rumah kembali tenang.
Laurel dan yang lainnya sangat bingung sekarang, mereka sudah menggunakan segala cara untuk membujuk Ryzel sampai bisa keluar dari rumah.
Mereka semua duduk di ruang keluarga mendiskusikan apa yang akan dilakukan jika Ryzel masih belum keluar dari kamar besok hari.
"Jika memang besok Ryzel masih tidak mau keluar, kalian sebaiknya pulang saja, kami yang tinggal di Indonesia akan terus memastikan Ryzel baik-baik saja," ucap Amanda kepada Maly dan wanita yang berasal dari luar negeri.
Maly mengangguk dan berkata, "Iya, aku percayakan Ryzel kepada kalian. Aku berharap di tidak apa-apa di dalam sana."
Mereka saling memandang dan memiliki harapan yang sama di dalam hatinya.
"Terima kasih telah menungguku selama ini."
Di detik berikutnya, sosok Ryzel tiba-tiba muncul di hadapan mereka semua dengan tampilan yang berbeda.
Rambut pendeknya telah menghilang digantikan oleh rambut panjang sebahu berwarna hitam. Mengenakan celana panjang berwarna hitam tanpa mengenakan pakaian atas.
__ADS_1
Saat semua wanita Ryzel melihat tampilan Ryzel sekarang, mata mereka membesar dengan pipinya yang mulai memerah.
"Tampan!"