
Wajah Ryzel menjadi tidak benar ketika mengetahui arah Haimi berjalan dan membawanya. Haimi membawanya ke kamar yang Haimi tempati di hotel ini.
Ryzel sempat menahannya, tetapi Haimi lagi-lagi mengeluarkan jurusnya, ia akan menangis jika Ryzel tidak mengikuti dirinya.
Di dalam kamar Haimi, keduanya duduk di atas kasur yang sama dengan suasana yang aneh.
“Sebenarnya, kamu minta apa, Haimi?“ Ryzel menoleh ke samping dan bertanya kepada Haimi.
Alih-alih menjawab, Haimi cuma menatap mata milik Ryzel dengan sorot mata yang aneh.
Berikutnya, tangan Haimi terulur dan ia mendorong Ryzel ke belakang hingga berbaring di atas kasur, kemudian Haimi naik ke atas tubuh Ryzel.
Ryzel terkejut dengan gerakan tiba-tiba Haimi, dan ia memandang Haimi dengan ekspresi wajah yang terpana. “Haimi, apa yang ingin kamu lakukan?“
Sepasang mata Haimi yang sedikit sipit terus-menerus menatap mata milik Ryzel, membuat Ryzel menjadi lebih tidak mengerti dengan permintaan apa yang diinginkan Haimi. Wanita ini masih diam dengan pandangan terkunci pada sepasang mata Ryzel yang memikat.
“Haimi, jawab aku. Apa yang kamu inginkan dariku?“ Ryzel memegang pinggang Haimi yang ternyata begitu ramping. Ia berniat untuk mengangkat Haimi yang menindih tubuhnya.
Baru saja Ryzel ingin memindahkan tubuh Haimi, tiba-tiba saja Haimi menyambar mulut Ryzel dengan cepat dan wanita ini menyedot bibir Ryzel dengan suara yang aneh keluar dari mulutnya.
Ryzel tertegun sesaat, kemudian ia membalas ciuman ini dengan keganasan yang sama.
Tanpa sadar, tangan Ryzel meraba area bagian bawah tubuh Haimi, ia meremas sesuatu yang kenyal dan empuk di sana.
Suara Haimi makin jelas, ia tampaknya menikmati perasaan diremas oleh Ryzel. Ciuman yang diberikan makin ganas dan tangan Haimi mulai meraba sesuatu yang ada di balik baju Ryzel.
Ryzel merasa geli ketika perutnya diraba oleh tangan Haimi, tetapi ia biarkan dan fokus mencium bibir Haimi.
Merasa posisi ini terlalu tidak enak, tubuh Ryzel bangun dari kasur dan duduk kembali dengan Haimi di atas pangkuannya.
Tangan Ryzel masih meremas bahkan ia mulai bergerak untuk meremas bagian atas.
Kondisi baju Ryzel menjadi acak-acakan karena tangan Haimi, wanita ini menikmati perasaan membelai otot-otot dada dan perut Ryzel.
Begitu Ryzel meremas bagian besar dari tubuh Haimi, ia merasakan tubuh Haimi sedikit tersentak, tetapi ia tidak bereaksi dan membebaskan Ryzel meremasnya, bahkan Haimi berinisiatif untuk membuka jaketnya sambil berciuman.
__ADS_1
Saat ritsleting jaket terbuka, benda besar langsung keluar dari kurungan jaket. Wanita ini tidak memakai baju ataupun cup, murni hanya mengenakan jaket untuk menutupi tubuh bagian atas.
Mata Ryzel melebar sekilas ketika merasakan sesuatu yang besar dan kenyal menyentuh dada dan perut atasnya. Mengetahui ini, tangan Ryzel mulai menjelajahi bola besar milik Haimi.
“Emm~ ….“
Suara aneh keluar dari mulut Haimi, ia merasa aneh pada tubuhnya ketika Ryzel memainkan buah besarnya, terlebih memainkan sesuatu yang kecil berwarna cokelat menonjol di bagian depan buahnya.
Haimi merasakan sensasi yang aneh sekaligus membuatnya candu, makin lama Ryzel lakukan, makin dirinya ingin diperlakukan seperti itu.
Namun, tepat ketika mereka berhenti berciuman dan saling memandang, Haimi yang ingin membuka ritsleting celana bahan Ryzel, dengan cepat ditahan oleh Ryzel.
“Jangan, Haimi. Kita sudah terlalu jauh.“ Ryzel menatap mata Haimi dengan serius sambil menahan kedua tangan Haimi yang hendak membuka celananya.
“Mengapa? Apa kamu tidak suka melakukan hal itu denganku?“ Haimi bingung, ia memandang Ryzel dengan wajah yang kecewa.
“Bukan itu, kita tidak boleh melakukan hal itu sebelum menikah, terlebih kita baru bertemu.“
Ryzel mencoba menjelaskan alasan dirinya tidak ingin melakukan sesuatu yang panas dengan Haimi.
“Haimi, sadarlah. Kamu tidak boleh berpikir seperti itu.“ Tanpa sadar dahi Ryzel mengeluarkan butiran keringat.
Bulu kuduk Ryzel berdiri saat mendengar ucapan Haimi. Wanita ini sepertinya sudah kehilangan kendalinya.
“Ryzel, aku menyukaimu. Aku ingin melakukan hal itu bersamamu, aku tidak peduli kamu ingin bertanggung jawab atau tidak, terpenting aku pernah melakukan itu denganmu sebagai bukti aku benar-benar menyukaimu. Tenang, aku belum pernah disentuh oleh lelaki sedikit pun.“
Suara Haimi terdengar tegas dan sangat yakin, tilikan matanya yang melirik Ryzel terasa niatnya yang sudah bulat.
Ryzel menelan ludah setelah mendengar kalimat Haimi. Tampaknya wanita ini sudah kehilangan akal sehatnya.
“Tidak bisa, Haimi. Kamu akan kesulitan nantinya, lebih baik kita berhentikan kegiatan ini, sebelum terlambat.“ Ryzel menggelengkan kepalanya. Ia memegang kembali pinggul ramping Haimi dan ingin memindahkan tubuh Haimi dari pangkuannya.
Akan tetapi, Haimi tidak mengizinkan, tangannya memegang pergelangan tangan Ryzel untuk menahan gerakannya dan menatap wajah Ryzel dengan mata yang memohon.
“Ryzel, bukankah kamu sudah berjanji akan menuruti keinginanku?“
__ADS_1
“Tidak seperti ini permintaannya, aku tidak bisa, Haimi. Ini pasti merugikan kamu di masa depan.“
“Kamu tidak menyukaiku, kan?“ celetuk Haimi kepada Ryzel. Membuat Ryzel tertegun untuk beberapa waktu yang singkat.
“Aku menyukaimu sebagai teman. Maka dari itu, aku tidak mau berbuat itu denganmu, nanti kamu akan kerepotan dengan dampak dan akibatnya setelah kita melakukan perbuatan tersebut.“
Untungnya, Ryzel memiliki alasan yang terpikirkan begitu saja dalam benaknya.
“Teman?“ Perasaan kecewa tercermin dari manik mata Haimi saat melihat wajah Ryzel.
“Bukankah kita teman?“
“Bukan, aku sudah menganggap sebagai calon suamiku.“
Ryzel menggelengkan kepalanya tanpa daya begitu mendengar ini. Ryzel rasa wanita ini sudah terlalu terpikat hingga mabuk asmara karena pesona yang dia punya.
Telapak tangan Ryzel ditempelkan ke dahi Haimi seraya ia berkata, “Sepertinya kamu sedang tidak enak badan, makanya kamu berbicara yang tidak-tidak sejak tadi.“
Pipi Haimi memerah, dan dengan kesal menjawab, “Tidak, aku tidak sakit!“
“Kalau tidak sakit, mengapa permintaanmu sangat aneh?“ Ryzel menonton wajah Haimi dengan aneh.
Berikutnya, wajah Haimi yang kesal berubah, bagai langit terik yang secara singkat berubah menjadi mendung.
“Jujur saja, kamu tidak menyukaiku, kan? Kamu tidak suka aku karena aku jelek dan gila, aku tidak cantik seperti mereka, tubuhku besar dan tidak seksi seperti wanita lain di luar sana, aku jelek di matamu, aku memang tidak pantas dicintai olehmu—”
“Sutt!“ Jari telunjuk Ryzel memberhentikan ocehan Haimi yang makin melantur. “Aku akan menuruti permintaanmu, tetapi jangan berbuat itu.“
Mata Haimi yang mulai basah saat mengatakan kalimat tadi tiba-tiba berhenti dan ia menatap Ryzel dengan mata yang rumit. Wanita ini sedang berpikir tentang permintaan apa yang ingin diwujudkan oleh Ryzel.
“Emm … kalau kita saling memegang satu sama lain, apakah boleh?“
“Pegang? Maksudnya?“ Ryzel belum mengerti apa yang dikatakan Haimi. “Pegang tangan?“
“Bukan. Maksudku, aku memegang adik kecilmu dan memainkannya sedangkan kamu boleh memainkan semua yang ada di tubuhku, tetapi kita tidak akan melakukan hal itu, bagaimana?“
__ADS_1
Ludah Ryzel terpeleset di dalam kerongkongannya, ia memandang sosok Haimi dengan wajah yang ngeri.