
Linh perlahan mundur sambil menatap wajah Ryzel dengan raut yang takut dan waspada. Kalimat yang Ryzel ucapkan sangat mencurigakan.
“Aku tidak mau ponselnya!“ Linh menyerahkan kembali ponsel di tangannya kepada Ryzel.
Tangan Ryzel mengatup dan tidak mau memegang ponsel yang disodorkan oleh Linh.
Menatap Linh yang ketakutan dan waspada kepadanya, Ryzel tersenyum dan berkata dengan lembut, “Ambil saja. Aku membeli ponsel ini memang untukmu. Ucapan tadi cuma bercanda.“
“Benarkah? Aku sulit mempercayainya.“ Linh memandang wajah Ryzel dengan serius.
“Benar, itu untukmu. Terima saja.“ Ryzel mengangguk dan menatap wajah kecil Linh dengan tatapan yang ramah.
Kepala Linh menunduk, dia menatap tas kecil yang berisi kotak ponsel iPon yang mahal. Dia sendiri melihat Ryzel membayar ponsel ini. Sulit untuk Linh terima karena harga dari barang ini terlalu tinggi baginya.
Ryzel merentangkan tangannya dan menyentuh kepala Linh dengan lembut, dan dia berkata dengan senyuman, “Tidak perlu ragu, pakai saja ponsel itu, jangan pedulikan harga dan nilainya. Ponsel itu sangat berguna untuk kamu. Kamu tak perlu mengkhawatirkan aku, aku masih memiliki banyak uang. Oh, iya, kalau kamu terima ponsel itu, aku akan memberi tahu tentang pekerjaan aku yang lain.“
“Umm … baiklah. Aku terima ponselnya. Terima kasih, Ryzel.“
Kedua tangan Linh terbentang dan dia memeluk tubuh Ryzel dengan erat. Terdengar jelas perkataannya keluar dari hati, terima kasih yang diucapkan begitu tulus.
Tubuh Linh pendek dan mungil sehingga Ryzel tidak bisa memeluk kembali. Dia hanya mengelus punggung Linh yang kecil dengan kedua tangannya.
Setelahnya, mereka berdua berjalan pergi dan mencari tempat yang bagus untuk di kunjungi di mall ini.
Mereka berdua mengelilingi mall dan bermain di tempat permainan anak-anak, mirip dengan Temzon, tetapi berbeda namanya.
Menghabiskan waktu di sana dengan mencoba banyak permainan, salah satunya permainan mesin penjepit boneka, Ryzel mendapatkan 3 buah boneka sedang dari permainan itu dan memberikan boneka-boneka tersebut kepada Linh.
Mendapatkan 3 buah boneka karena faktor keberuntungan Ryzel, dia hanya mencoba belasan kali untuk menarik 3 boneka tersebut. Tak perlu puluhan kali mencoba menarik boneka untuk berhasil mengambil 3 boneka.
Linh senang dengan pemberian boneka-boneka dari Ryzel, wajahnya makin ceria selama dia jalan-jalan bersama Ryzel.
Barang yang paling disukai Linh adalah boneka, dia bahagia saat Ryzel memberikan boneka yang lucu kepadanya. Sifatnya memang mirip dengan anak kecil, mengikuti bentuk tubuhnya yang mungil.
Pada saat ini, mereka berdua sedang berada di sebuah restoran makanan cepat saji yang sudah terkenal dengan produk burger atau hamburger, yakni Mekdi.
Mereka berniat untuk duduk di sini sampai malam tiba, mungkin berkisar 1—2 jam mereka di sini. Sekarang baru jam 5 sore.
Waktu Indonesia dan Vietnam adalah sama, tidak berbeda.
“Bagaimana ponselnya, bagus?“ Ryzel melirik ponsel yang dipegang oleh Linh dan bertanya tentang tanggapan Linh.
Linh memandang ponsel di tangannya dengan hati yang gembira, dia sangat menyukai ponsel barunya.
Meletakkan ponsel baru di samping ponsel lamanya, Linh menjawab dengan senyuman yang ceria, “Bagus, sangat bagus. Aku suka dengan ponsel ini.“
“Syukurlah. Ponsel ini berbeda dengan ponsel yang kamu pakai dahulu. Sebaiknya, kamu belajar tentang cara pengoperasian ponsel ini agar tidak ribet,” saran Ryzel kepada Linh.
Ponsel yang dibeli memiliki sistem operasi yang berbeda dengan ponsel lama Linh. Tentu saja, cara pemakaiannya agak berbeda juga, tidak sepenuhnya sama dengan ponsel lama. Butuh belajar untuk mengerti fitur yang asing pada ponsel iPon.
Ryzel tahu tentang ini karena dia dahulu sering melihat konten video Yitub yang membahas tentang ponsel. Dahulu dia tak punya uang banyak, membeli ponsel harus melihat Yituber yang sudah mencoba ponsel untuk tahu apakah layak dibeli atau tidak ponsel incarannya yang murah.
Sekarang sudah berbeda, Ryzel tak perlu melihat-lihat lagi, jika dia mau ponsel dia bisa langsung membelinya karena uangnya sudah sangat banyak, tak perlu menimbang-nimbang dalam membeli ponsel.
“Baik, aku akan belajar.“
Setelah mengatakan itu, Linh menggunakan ponsel barunya dan menonton video yang menjelaskan kegunaan fitur dan cara pemakaian iPon yang benar.
Selama Linh menonton video sambil memakan kentang goreng, Ryzel membuka aplikasi Tiktod dan mulai siaran langsung. Sekarang dia sedang bosan.
Melihat akun Tiktod Ryzel sedang melakukan siaran langsung, pengikut akun Tiktod Ryzel langsung menyerbu ruang siaran langsung Ryzel dengan cepat.
Kolom komentar dalam sekejap dipenuhi oleh komentar para penonton, itu bergulir sangat cepat sehingga Ryzel harus menahan komentar supaya bisa membaca komentar mereka semua.
“Aku sedang makan di Mekdi bersama Linh, kami berdua belum pulang. Bagaimana dengan kalian? Sudah makan sore?“
Beberapa komentar yang terbaca oleh Ryzel balas. Terlihat sangat seru karena pertanyaan yang dikirim oleh para penonton di ruang siaran langsung memiliki banyak variasi, variatif sekali.
Beberapa menit kemudian, Linh telah selesai menonton video yang membahas ponsel iPon. Kini dia sudah mulai mengerti dengan fitur dan kegunaan yang disematkan pada ponsel mahal ini.
“Kamu sedang apa, Ryzel?“ Linh sadar dengan Ryzel yang tengah berbicara dalam bahasa Indonesia sambil menonton ponsel di tangannya.
Mendengar Linh bertanya kepadanya, Ryzel mengalihkan matanya untuk melihat Linh di depannya. “Aku sedang melakukan siaran. Bagaimana? Kamu sudah mengerti sekarang?“
__ADS_1
“Lumayan, aku paham beberapa fiturnya. Ternyata memang berbeda dengan ponsel lama aku.“ Linh menganggukkan kepalanya satu kali. Matanya memandang layar ponselnya dan mencoba beberapa fitur yang dia pahami.
“Kamu tonton lagi jika belum paham. Habis ini kita akan pulang, tetapi sebelum pulang aku ingin mengajakmu untuk membeli aksesoris ponsel.“
“Oke!“
Linh tidak lagi malu menerima barang dari Ryzel dan dia tidak masalah diberikan aksesoris ponsel ini.
Dengan demikian, mereka berdua beranjak pergi dari restoran dan berjalan ke area barang elektronik.
Banyak beberapa barang yang dibelikan oleh Ryzel untuk Linh, seperti Aerpod, beberapa case ponsel, tongkat narsis, wireless charger, lensa tambahan, dan lain-lain.
Selain Linh, Ryzel juga membeli jam tangan pintar dari iPon. Ryzel membutuhkan ini untuk memonitor atau mendata kesehatannya. Sebetulnya, ini tidak dibutuhkan lantaran Ryzel sudah dipastikan sehat, kemampuan anti-penyakit membuatnya tak bisa sakit.
Akan tetapi, Ryzel ingin membeli barang tersebut untuk kegunaan yang lain, yakni menerima panggilan, memutar lagu, dan banyak lainnya.
“Terima kasih banyak, Ryzel.“ Linh menatap Ryzel dengan mata yang penuh rasa terima kasih. Dia sangat bahagia dan bersyukur sekarang.
Keinginannya telah tercapai sekarang. Uang yang ditabung tak dibutuhkan lagi untuk membeli ponsel, mungkin akan dia gunakan untuk kepentingan yang lain.
Ryzel mengangguk dan memperlihatkan senyuman lembutnya kepada Linh. “Sama-sama, Linh. Kamu benar-benar menyukai ponselnya, kan?“
“Ya, aku sangat suka ponsel ini.“ Linh mengangguk cepat beberapa kali.
“Baik. Kita akan pulang sekarang kalau begitu.“
“Oke, ayo kita pulang!“
Mereka terus berjalan sampai ke luar gedung mall. Di depan mall sudah ada mobil taksi yang sudah Ryzel pesan di dalam mall, kemudian dia masuk ke dalam taksi dan pulang ke hotel.
Sebelum ke hotel, mereka menyempatkan waktu untuk berhenti di pinggir jalanan yang terdapat banyak sekali tukang dagang atau penjual makanan yang menjajakan dagangan makanannya.
Beberapa jajanan mereka beli, di sini ada beberapa makanan yang berasal dari luar negeri juga, seperti sosis bakar saus barbeque, tteokbokki, hot dog, laksa, dan masih banyak yang lain.
Jajan ini cocok untuk mereka makan bareng malam-malam di hotel nanti.
Selama hampir 30 menit mereka di salah satu jalan raya yang ada banyak pedagang, keduanya masuk ke dalam mobil dan melaju sampai di hotel.
Supir ini juga diajak berbelanja makanan tadi, dan dia membeli 3 makanan untuk keluarga. Pria ini sudah berkeluarga dan punya istri serta 1 anak laki-laki.
Sesampainya di hotel, mereka membawa makanan mereka masing-masing ke dalam kamar. Nanti akan mereka bawa ke restoran saat makan malam bersama.
Di dalam kamar, Linh berbaring di atas kasur sambil melihat-lihat ponsel yang ada di tangannya. Pikirannya terbang ke peristiwa di mana Ryzel membelikan ponsel tersebut untuknya.
Dia masih bingung dengan maksud dan tujuan Ryzel membelikan ponsel yang memiliki harga mahal ini untuknya.
“Pasti ada maksud terselubung dari perbuatannya ini. Tidak mungkin ponsel ini diberikan secara gratis kepadaku,” gumam Linh sambil memandang ponsel dan menendang-nendang kasur dengan santai.
“Tunggu, aku baru ingat!“ Linh langsung duduk di atas kasur dengan mata yang terbuka lebar. “Dia lupa memberi tahu aku tentang pekerjaannya lagi!“
Wajah Linh berubah merah, dia sekarang kesal dengan Ryzel yang selalu lupa dengan janjinya ingin memberi tahu tentang pekerjaannya yang lain, padahal dia sudah sangat penasaran dan ingin tahu.
“Lupakan itu!“ Berdiri di depan cermin besar, Linh melihat sosoknya di cermin dengan wajah yang bengis. “Aku lebih penasaran dengan maksud Ryzel membelikan aku ponsel ini, pasti ada sesuatu di balik perbuatan baiknya.“
Linh berbicara sambil melihat bayangannya di dalam cermin. Tubuhnya tidak terlihat rata lagi, melainkan ada dua tonjolan besar di dadanya, sangat bertentangan dengan sebutan gadis kecil, ini termasuk gadis besar.
Lambat-laun ekspresi marah memudar dan Linh menundukkan kepalanya. “Aku curiga dengan perkataan Ryzel yang di mana aku harus menuruti permintaannya. Walaupun bercanda, tetapi terdengar sangat aneh dan mencurigakan.“
Sniff!
Ryzel menyeka cairan di dalam hidungnya, dia tiba-tiba bersin tanpa ada sebab, padahal dia tidak sedang mengidap penyakit flu dan sejenisnya, mendadak bersin tidak jelas.
“Ada yang membicarakan aku sepertinya.“ Ryzel memainkan Jenbook dan terus mengedit video cuplikan dari siaran langsungnya.
Saat sibuk mengedit video, di tengah-tengah kesibukannya tersebut langsung teringat dengan peristiwa yang terjadi dengan Linh dan dirinya.
“Bola itu? Apakah itu benaran punya Linh? Atau cuma balon yang dimasukkan ke dalam baju?“ gumam kecil Ryzel sambil mengingat sesuatu kejadian di kepalanya. Dia merenung sambil menepuk dagu dengan jari telunjuknya.
Kejadian yang sedang dia ingat adalah kejadian di mana Linh mendadak memiliki bola besar, padahal sebelum itu rata. Sangat aneh dan juga janggal.
Sampai sekarang dia masih memikirkan hal ini. Ingin sekali dia bertanya tentang hal tersebut, tetapi itu tidak sopan karena terlalu kasar dan personal. Nanti dia disangka pelaku pelecehan lisan.
“Mungkin akan aku coba tanyakan nanti. Bisakah di kesempatan makan malam kali ini?“
__ADS_1
Lebih dari 1 jam kemudian setelah mereka masuk ke dalam kamar sendiri-sendiri, mereka berdua keluar dari kamar sambil membawa beberapa jajanan yang mungkin sudah dingin.
Beberapa makanan yang dibeli di jalan sudah mereka makan, tersisa setengah lagi.
Sesampainya di restoran, mereka duduk di tempat biasanya, mereka tidak diizinkan membawa makanan dari luar, terpenting harus membeli makanan di restoran ini.
Ryzel dan Linh membuka makanan dan mengumpulkannya bersama dengan makanan yang dipesan di restoran ini.
“Ryzel! Kamu sudah berjanji mau memberi tahu aku tentang pekerjaan kamu selain menjadi streamer. Sekarang aku ingin tahu!“ Linh berkata dengan suara yang sedikit ditinggikan dan menatap Ryzel dengan wajah yang bengis.
Tubuh Ryzel tersentak, tidak tahu karena terkejut karena suara Linh yang tiba-tiba muncul atau lantaran baru ingat dengan janjinya. Dia selalu lupa ingin menginformasikan tentang pekerjaannya itu.
Dengan begitu, Ryzel tidak perlu menunda lagi. Mata Ryzel bergerak menatap sepasang mata Linh dan dia menjawab, “Baiklah. Aku akan memberi tahu kami sekarang tentang ini. Sebenarnya, aku memiliki saham di perusahaan yang ada di Indonesia.“
“Saham perusahaan? CEO?“ Linh sedikit melompat dari tempat duduknya dan menatap Ryzel dengan wajah yang kaget.
“Bukan, pemilik saham. Aku tak perlu bekerja dan hanya diam saja meski tetapi harus melihat perkembangan perusahaan.“
“Pemilik saham?! Itu artinya kamu orang yang kaya, dong!“
“Tidak juga, biasa saja.“ Ryzel menggaruk kepalanya, malu dikatakan sebagai orang kaya. “Paling tidak aku tidak perlu berpikir lagi untuk bepergian ke mana-mana.“
“Keren! Pantas saja, kamu tidak peduli ketika mengeluarkan uang banyak untuk membeli ponsel ini.“ Linh baru paham mengapa Ryzel memiliki ekspresi datar ketika menghabiskan banyak uang di mall tadi siang.
“Begitulah kira-kira. Jadi, kamu tak perlu khawatir tentangku. Aku tidak memiliki maksud apa-apa dan hanya ingin membantu kamu dengan membelikan ponsel itu.“ Ryzel tersenyum lembut kepada Linh. Senyuman ini begitu tulus dan meyakinkan. Kecurigaan Linh menghilang seketika.
“Aku mengerti, Ryzel. Anu, apakah aku boleh tahu apa nama perusahaannya? Aku ingin tahu.“
“Perusahaan Astro Internasional. Cari saja di gugel.“
“Baiklah, aku akan cari.“
“…”
Setelah makan malam dan mengobrol bersama, keduanya berniat untuk berjalan-jalan ke luar hotel menikmati angin malam Kota Ho Chi Minh.
Keduanya pergi ke luar hotel dan berjalan ke arah timur.
“Kamu suka keluar malam seperti ini, Ryzel?“ tanya Linh memiringkan kepalanya melihat Ryzel yang berjalan di sebelah kanannya.
“Terkadang, aku sesekali keluar dan berjalan-jalan. Di negara sebelumnya juga aku keluar untuk melihat pemandangan malam kota yang aku kunjungi,” jawab Ryzel sambil melihat ke arah depan. Di tangannya terdapat jam tangan pintar yang telah Ryzel beli.
“Di Kamboja kamu juga keluar malam?“
“Benar, aku sempat keluar di malam hari di Kota Phnom Penh.“
“Oh, begitu ….“ Linh mengangguk mengerti.
Tepat ketika dia melihat ke depan, Linh tiba-tiba tersandung dan hendak terjatuh.
Tubuh Linh miring dan tubuhnya hampir menyentuh tanah. Mengetahui ini, Linh di detik itu sudah tersadar dan pasrah dengan apa yang terjadi ke depannya.
Linh menutup matanya dan menunggu rasa sakit yang datang.
Alih-alih rasa sakit yang ia diterima, dia merasakan sesuatu yang memeluk pinggangnya.
Ketika dia membuka matanya, dia melihat permukaan trotoar tepat di depan wajahnya.
Sebuah tanda tanya muncul di atas kepala Linh.
“Eh??“
Tangan Linh bergerak untuk menyentuh pinggangnya dan ternyata tangan yang memeluknya. Dia terkejut dan langsung tersadar, dia sedang dipeluk oleh Ryzel.
Linh mencoba melepaskan diri dari pelukan tangan Ryzel saking panik dan malunya.
Bukan tubuhnya yang terlepas dari tangan Ryzel, tetapi sesuatu yang ada di dadanya yang terlepas.
Ryzel sengaja tidak melepaskan tangannya dari pinggang Linh, karena jika dia lepas itu akan membuat Linh terjatuh. Dia ingin mengangkat tubuh Linh, tetapi perasaan jahilnya meronta-ronta. Maka dari itu, dia membiarkan tubuh Linh di posisi ingin terjatuh menyentuh permukaan trotoar jalan.
Namun, senyum Ryzel berubah begitu dia merasakan sesuatu yang lembut menyentuh kedua tangannya.
“Anu, Ryzel. Bisakah kamu membuatku berdiri sekarang?“
__ADS_1