Sistem Masuk Perjalanan

Sistem Masuk Perjalanan
Bab 176: Alun-alun yang Indah


__ADS_3

Alessia dan Milena menjelaskan tentang sebuah fakta Alun-alun Campo de' Fiori yang sangat buruk untuk dikunjungi di siang hari oleh para pengunjung yang ingin melihat patung di tengah alun-alun.


Ryzel sambil memegang tangan Raffy mendengarkan apa yang dikatakan oleh keduanya.


Dikarenakan banyak sekali pengunjung yang berdatangan, hal ini membuat banyak warga yang sangat butuh uang memutuskan untuk menjual barang-barang di sana.


Bukan hal yang salah untuk mereka semua berjualan, tetapi yang menjadi masalah adalah para penjual di sini banyak yang membuang sampah saat berjualan.


Mengakibatkan alun-alun kurang enak dipandang dan terkadang mencium bau yang tak mengenakan.


Apa yang dijelaskan oleh mereka berdua memang bukan fitnah, melainkan fakta yang benar-benar ada buktinya.


Begitu mereka semua tiba di alun-alun, terpampang jelas banyak toko yang berdiri mengelilingi Patung Filsuf terkenal Giordano Bruno.


"Banyak sekali orang yang berjualan buah dan sayur," kata Ryzel yang melihat banyak toko-toko di kejauhan.


Matanya dengan jelas menemukan banyak sekali buah dan sayuran yang dijajakan di banyak toko.


Selain itu juga, ada banyak yang berjualan bunga-bunga. Bisa dilihat di sekeliling alun-alun yang berbentuk persegi panjang ini terdapat restoran pizza dan restoran makanan yang populer di Italia.


Alessia tersenyum pada Ryzel dan menjelaskan, "Buah-buahan dan sayuran di sini bagus kualitasnya, kamu boleh membeli buah yang dijual di sini."


"Menarik, aku akan membeli beberapa."


Buah dan sayur bagus untuk Raffy, dia harus membeli beberapa buah serta sayur yang bervitamin dan berserat tinggi.


Setelah berdiri memandangi alun-alun di kejauhan, Ryzel dan yang lainnya berjalan menuju ke dalam toko-toko yang ramai dan masih berjualan.


Memang sudah banyak yang tutup, tetapi ada beberapa yang bertahan dan Ryzel bisa membeli beberapa buah dan sayuran di sana.


"Buah apa ini?" tanya Ryzel kepada ibu-ibu yang menjual buah-buahan.


Ibu itu terkejut sesaat melihat Ryzel, kemudian tersenyum dengan lembut seraya menjawab, "Jeruk Ribera, Pria Tampan. Kamu ingin mencobanya?"


"Apakah boleh?"


"Tentu saja." Ibu penjual buah-buahan itu mengambil satu Jeruk Ribera yang matang dan mengupasnya. "Cobalah, aku jamin kamu akan suka."


Tangan Ryzel mengambil setengah dari buah jeruk yang dibuka oleh ibu penjual, kemudian dia memakannya terlebih dahulu untuk memastikan rasanya.


Daging buah jeruk yang tebal dan berair meledak di mulut Ryzel, rasa manis itu menyebar di permukaan lidah sehingga membuat Ryzel tersenyum sambil mengangguk.


Setelah merasakan buah ini, Ryzel memberikannya beberapa kepada Raffy dan kedua wanita cantik di sebelahnya untuk ikut mencoba.


Khusus Milena dan Alessia, dia sudah pernah mencoba buah ini, tidak begitu terkejut seperti ekspresi yang Ryzel tampilkan.


Kepala Raffy ikut mengangguk, memberikan jempol ke Ryzel. "Buah jeruknya enak."


Melihat Raffy suka dengan buahnya, Ryzel membeli buah jeruk tersebut dalam jumlah yang cukup baginya.


Ryzel juga membelikannya untuk Milena dan Alessia.


"Pria tampan, ini kembalinya!" panggil ibu penjual kepada Ryzel yang hendak pergi dari depan toko.


Melirik ibu penjual buah, Ryzel sedikit membungkuk dan berkata, "Kembalinya untuk ibu saja. Terima kasih. Kami pergi dahulu "


Bersama Milena, Alessia, dan Raffy, Ryzel meninggalkan tempat toko ibu tersebut dan pergi ke toko yang lain.


Sebuah senyuman muncul di wajah sedikit tua ibu penjual buah itu, kemudian dia mendoakan Ryzel dengan sesuatu yang baik.


Setelah dari sana, Ryzel dan yang lain mencari toko yang menarik.


Pandangan mata Ryzel menangkap toko bunga, dan dia tertarik dengan toko ini.


Di bawah tatapan Milena dan Alessia, tangan Ryzel mengambil setangkai bunga mawar, membayar kedua bunga tersebut, kembali ke mereka berdua sembari menyerahkan dua bunga mawar tersebut ke tangan mereka.


"Untuk kalian berdua," kata Ryzel dengan senyum tampannya yang memesona.


Sontak, Milena dan Alessia menerima bunga dari Ryzel dengan wajah memanas memerah, hari mereka berdua berbunga-bunga.


"Terima kasih."


Kedua wanita ini tersenyum sangat manis, dengan sorot mata cinta kepada Ryzel.


Melihat keduanya menyukai bunga itu, Ryzel melanjutkan lagi mengeksplorasi tempat ini.


Pada akhirnya, mereka bisa melihat patung tokoh terkenal di dunia ini dari dekat.

__ADS_1


Tanpa banyak bicara, Ryzel mengambil beberapa gambar dirinya dan yang lain dengan bagus.


Hasil gambar Ryzel sangat bagus, lebih bagus dari orang yang belum pernah mendalami ilmu fotografi.


Foto yang menampilkan foto Milena dan Alessia pun sangat bagus, seperti difoto oleh seorang Fotografer yang terkenal.


Tanpa berpikir lagi, mereka berdua meminta foto-foto yang diambil Ryzel untuk diunggah di media sosial mereka.


Ryzel tidak keberatan, dan foto-foto mereka diserahkan secara langsung.


Tidak berhenti di patung tersebut, mereka semua pergi melanjutkan perjalanan lagi hingga malam hari tiba.


Di Campo de' Fiori ini, mereka sempat mencoba sebuah minuman yang menyehatkan yang terbuat dari buah delima merah.


Kata penjual minuman ini, jus yang dia buat mengandung antioksidan yang tinggi dan tentunya itu sangat baik bagi kesehatan orang.


Rasanya cukup menyegarkan dan enak. Secara keseluruhan minumannya, Ryzel suka dengan rasanya dan sensasi minuman itu, memang terasa menyehatkan tubuh.


Bagi Ryzel, minuman apa pun yang menyehatkan atau membuat sakit, tidak ada artinya bagi Ryzel, semuanya sama saja. Pasalnya, Ryzel punya tubuh yang anti dari namanya penyakit dan sakit.


Minuman yang ia coba memang enak untuk diminum, selain menyehatkan juga.


Milena dan Alessia pun suka dengan minuman itu, mereka berkata bahwa minumannya berdampak langsung pada tubuhnya.


Di malam hari, mereka pergi ke tempat wisata selanjutnya, yaitu Piazza Navona.


Letak Piazza Navona tidak jauh dari Campo de' Fiori, dengan berjalan beberapa menit saja sudah sampai di sana.


Piazza Navona ini memiliki banyak sekali bangunan yang indah di sekelilingnya. Ukuran alun-alunnya lebih panjang ketimbang Campo de' Fiori lantaran ada 3 air mancur yang berbeda.


The Fountain of the four rivers adalah air mancur yang lokasinya ada di tengah alun-alun. Air mancur ini paling besar dari dua air mancur yang lainnya.


"Empat sungai yang dimaksud dari keempat patung manusia raksasa ini mencirikan dari empat sungai besar dan empat kepausan," jelas Alessia yang memiliki pengetahuan tentang sejarah air mancur empat sungai.


Milena mengangguk membenarkan ucapan Alessia, dan dia melanjutkan, "Sungai Danube dipersonifikasikan oleh sosok patung manusia besar yang menghadap seekor kuda. Sungai Rio de la Plata yang diwakili oleh patung yang mengangkat tangannya. Sungai Nil adalah patung raksasa yang sedang menutupi wajahnya, dan terakhir Sungai Gangga yang direpresentasikan dengan patung raksasa berjanggut memegang sebuah dayung di tangannya."


Memandangi keindahan dari pahatan patung air mancur ini, telinga Ryzel mendengarkan penjelasan Milena dan Alessia.


Keduanya secara tiba-tiba menjadi pemandu wisata dia. Tidak apa-apa, itu lebih baik daripada tidak ada.


Untuk mengabadikan keindahan ini, Ryzel mengambil gambar air mancur tersebut dan akan ia simpan, mungkin ada beberapa yang diunggah di Instagremnya.


Setelah itu, mereka berpindah lagi ke tempat yang lain, yaitu air mancur yang ada di bagian selatan Piazza Navona.


Air mancur ini cukup berbahaya untuk anak-anak karena menampilkan patung dari sosok Paus terkenal di zaman dahulu dengan tubuhnya diukir tanpa mengenakan pakaian sama sekali. Bagian joninya terpampang jelas.


Ryzel memberi tahu kepada Raffy untuk melihat ke yang lainnya saja, seperti patung di sisi air mancur yang bagus dan keren.


Ada empat kepala dengan di punggungnya diukir seekor naga, masing-masing kepala ini dihimpit oleh dua lumba-lumba. Air mancur keluar dari keempat kepala tersebut.


Ada patung lumba-lumba yang diceritakan sedang bertarung dengan tokoh terkenal tersebut di tengah air mancur.


Selain itu, ada juga empat Triton yang memegang cangkang kerang atau dua terompet yang di mana air akan keluar dari sana.


Air mancur ini penuh dengan nilai seni, tetapi kurang enak dipandang karena ada sesuatu yang sebaiknya tidak dilihat oleh anak-anak.


Setelah mengambil foto di air mancur tersebut, mereka berpindah ke air mancur yang ada bagian utara.


Air mancur di utara memiliki nama Fontana de' Nettuno, atau yang disebut Air Mancur Neptunus.


Sesuai dengan namanya, patung yang ada di air mancur ini diukir dengan sosok pria besar tanpa mengenakan sedang memegang trisula di tangannya.


Melihat ini, Ryzel sekilas seperti sedang melihat dirinya sendiri.


Dewa Neptunus yang dipercayai ini adalah dewa air. Tidak heran patungnya memegang sebuah trisula besar dan lagi-lagi bentuk trisulanya hampir sama dengan milik Ryzel.


Ada perbedaan pada bilahnya yang di mana milik Ryzel lebih lebar dan besar, ujungnya pun lebih panjang sehingga cocok untuk digunakan untuk menusuk.


Lagi dan lagi, air mancur ini punya pahatan yang tidak ramah untuk anak-anak. Pasalnya, di bawah patung Dewa Neptunus ini terukir sebuah patung dari empat wanita yang dikatakan sebagai putri duyung tidak mengenakan pakaian apa pun sedang memegang kedua bobanya yang punya pucuk mancung ke depan.


Ryzel tidak tahu mengapa menjadi melirik ke Milena dan Alessia, dan itu membuat keduanya malu.


"Ryzel, aku melihat kamu memakai gelang trisula itu mirip dengan trisula Dewa Air Neptunus," kata Alessia yang duduk di kursi seberang Ryzel.


Mereka semua sedang berada di restoran dekat Piazza Novano untuk makan malam bersama.


Refleks Ryzel mengangkat tangan kirinya yang menunjukkan gelang trisula dan gelang pemberian Nenek Risa. "Gelangnya memang mirip dengan trisula Dewa Air Neptunus. Aku juga cukup terheran."

__ADS_1


"Kamu dapat dari mana?" Milena penasaran dengan asal mula dari gelang itu.


Sayangnya, Ryzel tidak bisa menjawab secara langsung kepada mereka berdua. "Ini rahasia. Gelang ini juga bukan gelang biasa."


"Hum! Kamu bermain rahasia dengan kami!" Alessia mengerutkan bibirnya, terlihat sangat lucu dan menggemaskan.


Milena mengangguk dan dia menatap Ryzel dengan sorot mata yang marah.


"Aku akan menjelaskannya kepada kalian berdua nanti." Ryzel menghela napas dan memandang mereka berdua dengan pasrah. "Omong-omong, kalian pulang jam berapa?"


Dengan cepat Ryzel mengubah topik pembicaraan mereka sekarang.


"Kami tadinya ingin memesan hotel di dekat sini, tetapi kurasa kami terlambat memesan, semuanya sudah penuh," ucap Alessia dengan wajah yang sedih.


"Lantas, kamu akan tidur di mana?" tanya Ryzel dengan bingung pada keduanya.


Mereka berdua tidak langsung menjawab pertanyaan Ryzel, keduanya memandang satu sama lain, kemudian mengangguk hampir bersamaan. "Kamu ingin tidur di apartemen kamu. Apakah diizinkan olehmu?"


"Anu, itu ...."


Untuk sekian kalinya, Ryzel mendapatkan peristiwa yang hampir serupa.


Melihat keduanya memandangnya dengan tatapan memohon yang imut dan menggetarkan hati, mau tidak mau Ryzel mengizinkan mereka untuk menginap di apartemennya.


Masih ada kasur lain di apartemen, bisa mereka berdua pakai.


Raffy nantinya akan tidur satu kasur dengannya nanti malam.


Merasa kenyang makan di restoran, Ryzel dan mereka semua pulang ke apartemen milik Ryzel.


Untungnya, pemilik gedung apartemen membolehkan keduanya untuk tinggal di sini.


Pasalnya, sikap Ryzel kepada pengurus gedung begitu baik, barusan Ryzel memberikan buah-buahan dan makanan untuk pengurus apartemen yang adalah seorang ibu-ibu yang cukup berumur.


Ibu pengurus sampai-sampai memberi kode kepada Ryzel. Kode itu sangat dimengerti oleh Ryzel, dan direspons olehnya dengan senyuman canggung.


Di dalam apartemen, mereka awalnya cukup canggung untuk mengobrol. Untungnya, Alessia bisa mencairkan suasana di ruangan ini sehingga mereka bisa mengobrol dengan asyik kembali.


Saat mengobrol, Raffy akhirnya tidak kuat untuk terus membuka matanya, dan tumbang di atas kasur dengan kondisi yang sangat mengantuk.


Daei obrolan mereka, Ryzel menjadi tahu bahwa keduanya tidak berkata jujur perihal hotel.


Sebenarnya, mereka berdua pulang tidak larut malam ke hotel mereka yang ada di bagian barat Roma.


Dikarenakan mereka berdua tertarik dengan Ryzel, mereka berdiskusi diam-diam untuk menginap bersama dengan Ryzel di apartemennya.


Tidak lama setelah pengungkapan mereka berdua itu, wajah Ryzel dihantam oleh dua pasang bola besar yang mengguncang kota.


Dengan begini, Ryzel sama sekali tidak bisa melawan dan meladeni mereka berdua dengan Holystick terkuat di Bimasakti.


"Terlalu besar!"


Di kamar mandi, keduanya memandang Holystick Ryzel yang tegak gagah berani di depan mereka berdua.


Milena dan Alessia menelan ludah mereka sembari melihat ukuran barang Ryzel.


Tidak tahu mengapa mereka malah membandingkan milik Ryzel dengan patung-patung itu, sangat jauh ukurannya.


Dengan lingkar batang 5 cm dan panjang 45 cm, ini benar-benar monster bagi mereka berdua.


Meski begitu, mereka berdua mencoba dan langsung ketagihan.


Mereka berdua bermain di kamar mandi sejenak, pindah ke kamar sebelah selama 3 jam, dan 2 jam di kamar mandi.


Holystick Ryzel sangat sulit ditaklukkan. Tidak perlu ditaklukkan, mereka berdua saja tidak bisa menelan hingga 80% semua tubuh Holystick.


Setelah bermain berjam-jam, Ryzel memberi mereka berdua istirahat dengan duduk di bathtub tanpa air.


Berdiri di depan mereka dengan tubuh sangat seksi dan Holystick Titan, tangan kiri Ryzel sedikit melambai dan trisula yang melingkari pergelangan tangannya berubah menjadi trisula yang besar dan panjang.


Mata keduanya membesar, menatap sosok Ryzel yang berpose seperti Dewa Air Neptunus.


Sangat-sangat mirip, dan itu sangat memesona.


"Kamu?!" Alessia berdiri di bathtub dan menatap Ryzel dengan ekspresi terkejut, ada sesuatu yang telah ia ketahui.


"Benar, aku Dewa Air Pen**, maksudku Atlantis."

__ADS_1


__ADS_2