
“Wow! Sangat besar!“
“Banyak pohon di sini!“
“Mainan apa itu yang bisa terbang? Tampak seperti burung.“
Ketika sampai di dalam taman Monumen Nasional, ketiga anak ini melihat sekelilingnya dengan takjub, ia jarang sekali ke sini, bahkan cuma 1 kali saja saat mereka lebih kecil.
Di monas banyak orang yang berjalan berlari, ada anak kecil yang bermain dan orang tua yang sibuk menikmati pemandangan di taman Monas.
Udara pagi yang segar masih dapat dirasakan oleh mereka berlima, suasana yang damai dan cuaca yang cerah mendukung untuk mereka berkeliling taman Monas sebelum ke dalam tugunya.
“Di sini sangat sejuk, ya?“
“Iya, benar sekali. Aku sepertinya bisa tidur di atas rumput taman ini.“
“Kamu yakin, Bagus? Aku yakin kamu nanti merasa gatal-gatal.“
“Kalau Rani tidak mau langsung tidur di atas rumput ini, lebih baik rumputnya ditutupi kertas atau koran lalu tiduran di atasnya.“
Selama mereka menyisir taman Monas, ketiga anak ini sibuk berbincang dan mengomentari tentang hal apa saja yang mereka temui di dalam taman ini, entah itu pohon, rumput, tekstur tanah, serangga, dan yang lain.
Ibu mereka dan Ryzel tersenyum sambil mengawasi dan sesekali mengobrol dengan mereka.
Melihat jam sudah menunjukkan pukul 9 pagi, Ryzel meminta mereka untuk berhenti dan berdiri di pinggir jalan utama di dalam taman Monas, tangannya mengorek-ngorek tas untuk mengambil gimbal ponsel.
Anak-anak ini menatap Ryzel, mereka penasaran dengan apa yang dilakukan oleh Ryzel.
Setelah gimbal dikeluarkan, Ryzel meletakkan ponselnya di gimbal, kemudian menyalakan ruang siaran langsung dengan judul “Menjelajahi Tugu Monumen Nasional!“ supaya para penonton mengetahui tema siaran langsung pada kali ini.
Bagus penasaran dengan apa yang dilakukan Ryzel ia pun bertanya, “Abang lagi apa?“
Menunduk untuk melihat ketiga anak ini menatapnya, Ryzel tersenyum dan menjawab, “Abang sedang siaran langsung, sedang membuat video yang bisa ditonton oleh orang-orang pada saat ini juga.“ Setelah mengatakan itu, Ryzel menekan tombol siaran langsung sepakbola, dan ruang siaran langsung terbuka untuk publik.
“Oh, aku tahu!“ Gilang berseru, ia mengetahui apa yang dikerjakan Ryzel sekarang, “Abang Ryzel itu yang kerjanya di internet, ya?“
“Iya, kamu benar, Gilang.“ Ryzel mengangguk membenarkan ucapan Gilang.
“Aku ingat, aku juga pernah melihat orang yang membawa ponsel seperti Abang Ryzel di sekitar kolong Mall,” tambah Bagus yang ingat dengan beberapa orang yang memiliki aktivitas seperti Ryzel.
“Kalian berdua benar.“
__ADS_1
Saat mengobrol dengan anak-anak ini, kamera ponsel menembak wajah Ryzel yang mengenakan masker yang sedang menatap ke bawah.
Para penonton yang sudah masuk ke dalam ruangan itu menyimak omongan mereka dan segera mereka mengirimkan pesan di komentar ruang siaran langsung secara bersamaan.
“Ada suara beberapa anak kecil? Siapa mereka?“
“Ryzel sedang mengobrol dengan siapa? Terdengar seperti sedang mengobrol bersama anak Sekolah Dasar.“
“Tolong arahkan kamera ke anak-anak kecil itu, kami ingin melihat mereka.“
“Apakah anak-anak kecil yang bersuara itu adiknya Ryzel? Mungkinkah?“
“Kedengarannya anak-anak kecil ini pintar, apa kalian mendengar mereka yang berbicara dan menebak pekerjaan sang Penyiar?“
Saat detik ini, penontonnya yang lebih dari 10.000 orang di siaran langsung, mereka berbincang mengenai suara anak kecil yang ada di dekat Ryzel, mereka sangat ingin tahu.
Ryzel tersenyum ke arah kamera dan berkata, “Mereka adalah anak kecil yang aku temui selesai siaran langsung kemarin. Oleh karena itu, aku mengajak mereka jalan-jalan bersama ibunya juga.“
Setelah mengatakan itu, Ryzel berjongkok dan meminta dengan lembut untuk anak-anak masuk ke dalam bingkai video sambil memperkenalkan diri.
Gilang dengan gagah berani berdiri di sebelah Ryzel dan melihat ponsel Ryzel, ia melihat ada wajah dirinya dan Ryzel di kamera serta deretan tulisan yang bergerak ke atas. “Halo! Aku Gilang Langit, salam kenal, Kakak Semuanya!“ Gilang melambaikan tangannya ke arah ponsel sambil tersenyum ramah.
“Halo, Abang-abang! Perkenalkan namaku Bagus Cahya, aku akan bersinar di masa depan layaknya cahaya!“
Semangat bagus ketika memperkenalkan diri menginfeksi para penonton yang menyaksikan perkenalan diri Bagus.
Terakhir, Rani, gadis kecil ini malu-malu di depan kamera, padahal Rani yang mendekati Ryzel dan ingin memperkenalkan diri juga, ia terus menundukkan wajahnya tidak mau melihat ke kamera ponsel.
“Halo, namaku Rani Dara, salam kenal, Kakak ….“ Setelah memperkenalkan diri, Rani menutupi wajahnya dan berlari ke arah Ibu Nuraini.
“Aku malu~” kata Rani yang berlari menuju pelukan Ibu Nuraini.
Mendengar ucapan Rani di detik terakhir, ruangan siaran langsung ramai oleh ledakan tawa, tingkah lucu Rani berhasil membuat mereka semua terhibur.
Ryzel pun tersenyum menahan tawa dan menggelengkan kepalanya.
Usai anak kecil melakukan perkenalan, Ryzel dan ketiga anak kecil ini serta Ibunya berjalan lagi menuju Tugu Monas, lantaran cuacanya makin terasa panas, takut anak ini tidak kuat berjalan dan pingsan.
Tepat pada jam 10 pagi, mereka sudah sampai di tempat membeli tiket yang ada di bawah tanah.
Tiket masuk untuk pergi ke puncak tugu masih tersedia, sebab masih pagi, orang belum banyak yang datang, untuk tiket ke puncak tugu dan ke museum yang ada di bawah itu berbeda harganya, tiket ke puncak harganya 15 ribu rupiah dan museum serta cawan 5 ribu rupiah untuk dewasa, anak kecil hanya cukup membayar 2 ribu rupiah agar bisa masuk ke museum dan 4 ribu rupiah sampai ke puncak tugu.
__ADS_1
Sehabis membayar tiket menggunakan kartu ATM Ryzel, mereka diperiksa lebih dahulu barang-barang yang mereka bawah, kemudian berjalan melewati lorong dan diperiksa kembali oleh penjaga wanita.
Selama proses menuju ke pelataran Tugu Monas, Ryzel selalu diperhatikan oleh para wanita muda di sini, bahkan ibu-ibu yang liburan bersama keluarga juga mengawasinya.
Penampilan sosok Ryzel sangat menarik, padahal dirinya memakai masker, otomatis itu membuat ketampanannya tertutupi.
Namun, tubuh tinggi Ryzel dan terlihat berotot, terlebih otot tangannya saat dirinya mengangkat gimbal dan ponsel.
Otot itu membuat para wanita meneteskan air liur.
Penampilan yang mematikan bagi para wanita muda, terlebih janda.
Begitu Ryzel melewati pemeriksaan penjaga wanita ini, pandangan mata dari petugas penjaga tidak lepas dari wajah Ryzel.
Bahkan ada kejadian ada sekelompok ibu-ibu yang sedang liburan bersama teman-teman tiba-tiba mendekati Ryzel dan anak-anak kecil, ibu-ibu ini terlihat menggoda Ryzel dengan cara memuji ketampanannya, itu terjadi di dalam perjalan ke tempat pembelian tiket masuk.
Beruntungnya peristiwa itu tidak terlalu lama, tubuh Ryzel berkeringat dingin dan wajahnya tampak pucat seperti orang yang sakit, jari-jari tangannya samar-samar bergetar.
Selepas melalui pemeriksaan penjaga wanita, mereka semua menaiki tangga tidak lama setelahnya, anak-anak sangat senang begitu bertemu dengan tangga, mereka menaiki tangga seolah-olah sedang melewati berbagai rintangan sulit, mereka melakukan banyak gaya ketika menaiki tangga.
Ibu Nuraini dan Ryzel tidak melarangnya, cukup mengawasi mereka agar tidak jatuh, Ryzel pun terus menyalakan siaran langsung, penontonnya ikut senang melihat ketiga anak ini ceria.
Setibanya di atas permukaan pelataran halaman sekitar Tugu Monas, mereka melihat terdapat tembok yang memiliki relief bergambar timbul.
Banyak dari penonton yang paham akan relief yang terukir di tembok ini, kata mereka ini adalah penggambaran sejarah pada masa penjajahan Belanda.
Ryzel juga mengetahui hal ini, ia terus menyoroti tembok ini supaya penonton bisa melihat pemandangan tembok secara keseluruhan.
Sambil siaran langsung, Ryzel juga memberi tahu anak-anak ini tentang gambarnya, mereka merenung dan menyimak dengan baik apa yang dijelaskan oleh Ryzel.
“Jahat sekali mereka! Mengambil barang yang bukan miliknya!“
“Kasihan sekali para orang tua dahulu, mereka pasti tersiksa.“
Gilang dan Bagus berkomentar usai mendengar cerita sejarah yang dibeberkan secara singkat oleh Ryzel.
“Maka dari itu, kita harus bersyukur karena bisa hidup di zaman ini, sekarang Indonesia damai dan tidak ada penyiksaan seperti zaman dahulu. Kalian harus ikuti perjuangan kakek moyang kalian, kalian bertiga harus semangat dan pantang menyerah untuk menggapai cita-cita, sama halnya pendahulu kita yang tak kenal lelah memperjuangkan kemerdekaan Indonesia,“ Ryzel memberi pesan kepada ketiganya dengan ucapan yang antusias dan serius.
Mendengar ini, api semangat di dalam ketiga anak ini menyala, ia mengangguk tegas ke arah Ryzel.
“Siap, Abang!“ Gilang dan Bagus serempak melakukan gerakan hormat menghadap Ryzel.
__ADS_1