Sistem Masuk Perjalanan

Sistem Masuk Perjalanan
Bab 24: Perpisahan dengan Gadis Kecil


__ADS_3

“Oh, namanya Cici ….“ Ryzel mengangguk sambil tersenyum.


“Buthan, namana Cici.” Gadis kecil itu menggelengkan kepalanya dan menyebut lagi namanya, sepertinya Ryzel salah.


“Eh, namanya Cici, kan?“ Ryzel bingung dan bertanya lagi sambil mendekatkan tubuhnya ke depan.


Gadis kecil ini tetap merespons dengan gerakan yang sama, ia menggelengkan kepalanya yang kecil ke kiri-kanan tampak imut. “Athu namana Cici.“


Nama yang dikatakan Ryzel tidak berbeda dengan nama yang disebut Gadis kecil satu ini, ia rasa tidak ada yang salah dari nama yang dikatakan.


Bingung dengan hal ini, Ryzel menatap orang tua dari Gadis kecil yang ternyata sedang tersenyum menahan tawa.


Benar, sepertinya dirinya salah menyebut nama Gadis kecil ini.


“Namanya adalah Chelsi,” kata Ibu dari Gadis kecil satu ini, “tetapi dia cuma bisa menyebut nama sendiri dengan Cici, bicaranya belum lancar.“


“Oh, begitu.“ Ryzel menggaruk pipinya, pantas saja Gadis kecil ini menyangkal perkataannya, ia salah menyebut nama aslinya.


“Kamu namanya Chelsi?“ Ryzel bertanya kepada Gadis kecil untuk memastikannya secara langsung.


“Iya, athu Cici!“ Chelsi mengangguk dengan cepat dan terlihat senang ketika Ryzel menyebut namanya dengan benar.


Terlalu menggemaskan, Ryzel tidak tahan untuk tidak mengusap kepala Gadis kecil di depannya ini yang duduk di atas pangkuan ibunya. “Umur Chelsi berapa?“


“Umul Cici tidha aun!“ ucap Chelsi sambil mengulurkan kelima jari tangan kanannya yang kecil ke arah Ryzel.


“Tiga tahun?“


“Iya, umul tidha aun.“


Kepala kecil Chelsi mengangguk dan terus menatap Ryzel dengan senyum kecil dan pipinya yang sedikit gembul.


Ryzel menahan tawa melihat jari Chelsi yang ditunjukkan terbuka semua yang artinya angka 5, seharusnya Chelsi membuka 3 jari saja.


Cukup pintar Gadis kecil ini, di umur 3 tahun sudah mengerti apa yang dikatakan orang dewasa.


Usai bertanya tentang nama dan umur, Ryzel mengobrol kembali dengan orang tua Chelsi, membahas seputar pekerjaan dan tujuannya ke Bandung.


Dari yang Ryzel dapatkan selama percakapan berlangsung, keluarga Chelsi ini sedang pergi ke rumah saudara dari ayah Chelsi, mereka ingin liburan di penghujung tahun.


Jika dilihat-lihat, keluarga Chelsi bukan orang kaya, mereka memakai baju sederhana, bahkan tas dan beberapa barang yang diletakkan di atas bagasi juga bukan barang yang mahal, tipikal orang sederhana.


Segera niat untuk membantu muncul di hati Ryzel.


Selama 1 jam berikutnya, mereka terdiam, ayah Chelsi tidur dan hanya menyisakan Ryzel, Ibu Chelsi, dan Chelsi.

__ADS_1


Di bangku Ryzel masih ada ruang kosong, bangku ini bisa ditempati 2 orang, sama dengan tempat duduk di hadapan Ryzel yang diduduki oleh orang tua Chelsi. Entah mengapa tidak ada yang mengisi, jadi cuma Ryzel yang duduk.


Pada saat ini, Ryzel sedang melihat perkembangan akun Tiktod dengan menggunakan Jenbook Fold yang merupakan perangkat seperti tablet atau tab dengan ukuran layar yang besar dan bisa dilipat layaknya sebuah laptop, tetapi papan ketiknya layar semua.


Apabila dijadikan mode tab ini memiliki rentang layar yang besar dan luas, jadi laptop pun masih cukup besar layarnya, setelah memeriksa harga, Jenbook Fold ini lumauan mahal, sebanding dengan fitur dan spesifikasinya.


Chelsi yang bermain dengan ibunya sudah teralihkan perhatiannya kepada benda yang dipangku Ryzel, tetapi ia mencoba menahan rasa penasarannya dengan bercanda dengan ibunya.


Sayangnya, ibunya kelelahan dan perlahan mengurangi candaan mereka, dikarenakan merasa bosan, Chelsi yang duduk di atas kaki ibunya menatap Ryzel yang dari awal masih mengenakan masker, terlihat sangat ingin tahu apa yang dilakukan Ryzel.


Mata Ryzel tidak sengaja melihat sosok buram di bidang penglihatannya ketika fokus menatap layar laptop, kemudian ia menggerakkan matanya dan melihat dengan jelas Chelsi yang menatap dirinya.


“Chelsi mau lihat?“ tanya Ryzel dengan lembut dan memiringkan kepalanya.


“Itu memangnya apa?“ Chelsi terkadang bisa berbicara dengan lancar dan baik.


“Sini, duduk di sebelah Abang.“ Ryzel menepuk kursi dan tersenyum kepada Chelsi.


Dengan penasaran dan keingintahuan yang tinggi, Chelsi duduk di kursi Ryzel dan melihat layar laptop.


“Itu apa?“ Tunjuk Chelsi sambil menatap layar laptop yang menampilkan laman beranda Yitub.


Ryzel dengan cepat mencari tontonan anak kecil untik Chelsi.


Melihat video yang ditunjuk oleh Chelsi adalah serial kartun bus biru yang terkenal, menurutnya ini cocok untuk Chelsi.


Pelan-pelan Ryzel meletakkan salah satu earphone ke telingan Chelsi dengan volume suara yang kecil dan pas di dengar oleh Chelsi.


Saking serunya, Chelsi tanpa sadar memanjat pangkuan Ryzel untuk melihat layar lebih dekat, tetapi oleh Ryzel dijauhkan secara halus demi kesehatan mata Chelsi.


Ia selalu mengingatkan Chelsi untuk tidak melihat layar dengan dekat, beruntungnya Chelsi penurut dan ia diam sambil fokus menonton film kartun.


Tidak lama berselang, Chelsi tertidur di atas pangkuan Ryzel dengan keadaan bersandar lemas di tubuh Ryzel.


Perlahan Ryzel melepaskan earphone yang ada di telinga Chelsi, kemudian ia melipat laptop dan menyingkirkan sementara atas kursi.


Ibu Chelsi mengetahui ini, kemudian ingin mengambil Chelsi yang tidur dalam keadaan duduk bersandar di tubuh Ryzel untuk dipindahkan ke pangkuan ibunya.


Namun, ketika tangan ibu Chelsi tersebut memegang tubuh Chelsi, tiba-tiba tubuh Chelsi bergerak tampak menolak untuk dipindahkan.


Sudah beberapa kali Ibu Chelsi mencoba, reaksinya tetap sama.


Untuk sementara waktu, Chelsi dibiarkan tertidur di atas pangkuan Ryzel daripada Chelsi terbangun. Diri Ryzel sendiri tidak mempermasalahkan, ia mengizinkan Chelsi tidur di atas kakinya.


Sambil menunggu kereta sampai, Ryzel memainkan laptop dan memantau perkembangan akun Tiktod lagi.

__ADS_1


Akun Tiktod miliknya sekarang sudah menyentuh 27.000 pengikut, cukup banyak berkembang dalam waktu yang singkat ini.


Selain memeriksa akun Tiktod, Ryzel memainkan permainan di laptopnya, permainan terkenal dengan tema mafia dan tembak-tembakan, berjenis daring.


Ryzel sama sekali tidak takut dengan koneksi internet, sebab ia selalu memakai WiFi yang ia bawa, itu stabil dan hanya bisa digunakan olehnya.


Sistem memvalidasi bahwa tidak ada yang bisa membobol pola atau kode WiFi portabel tersebut, bahkan seorang peretas andal sekalipun.


Sudah 1 jam Ryzel bermain gim, masinis mengabari bahwa mereka sudah dekat dengan Stasiun Kiaracondong, Bandung.


Segera Ibunya Chelsi memindahkan Chelsi dari tubuh Ryzel walaupun tubuh Chelsi yang tertidur memberontak.


Jujur saja, Ryzel merasa kasihan dengan Chelsi, sedang tidur nyenyak, tetapi dia diganggu oleh keadaan.


Usai Chelsi dipindahkan dan syukurnya tidak terbangun, Ryzel bergegas untuk memasukkan kembali barang yang ia keluarkan dari tas.


Bersiap-siap untuk keluar dari kereta.


Tepat ketika Ryzel dan Keluarga Chelsi keluar dari stasiun kereta, Chelsi menangis karena melihat Ryzel ingin pergi dari dirinya.


“Nda mau! Janan pergii! Athu mau Abang ikut athu!! Huaa!“ Gadis kecil itu menangis dipelukan ibunya dan terus meminta Ryzel pergi bersamanya.


Namun sayang, tujuan Ryzel dan Keluarga Chelsi berbeda.


Dengan niat dari awal Ryzel memberikan belasan lembar uang kertas 100 ribu yang digulung mendadak di dalam kereta ke tangan Chelsi.


Chelsi yang merengek-rengek itu seketika terdiam dan menatap benda di tangannya.


Orang tua Chelsi ingin melepaskan benda itu daei tangan Chelsi dan diberikan kembali ke Ryzel, tetapi Ryzel melarangnya.


“Tidak usah, uang itu untuk Chelsi. Dan ini ….“ Ryzel mengeluarkan puluhan lembar uang kertas merah kepada Ayah Chelsi, “ini untuk kalian berdua, terima kasih sudah mengajakku mengobrol tadi.“


Ayah Chelsi menggelengkan kepalanya dan menolak untuk mengepalkan uang dari Ryzel. “Jangan, tidak perlu memberi uan—”


“Ambil saja, aku pergi dahulu,” potong Ryzel, kemudian mengusap lembut kepala Chelsi yang masih penasaran dengan benda dipegangnya. Setelahnya pergi meninggalkan mereka bertiga.


Baru beberapa langkah ia berjalan, di belakang Ryzel terdengar anak kecil yang menangis, itu adalah suara Chelsi.


Wajar apabila Chelsi menangis, sebab ia sudah merasa nyaman dengan Ryzel. Kemungkinan besar ingatannya tentang Ryzel tersimpan sampai Chelsi tumbuh besar.


Keluar dari Stasiun Kiaracondong, Ryzel berjalan sedikit jauh lalu memesan ojek daring, sebab tempat yang ia tuju lumayan jauh jika ditempuh dengan cara jalan kaki.


Turun dari sepeda motor, Ryzel berbalik dan menatap sebuah bangunan klasik di depannya.


Tidak ada yang salah, alamat lokasinya sudah benar dan bangunan di depannya memang sesuai dengan tempat yang ia tuju, kemudian ia berkata, “Sistem, masuk sekarang.“

__ADS_1


[Ding! Terdeteksi Anda telah masuk di Museum Konferensi Asia-Afrika! Selamat kepada Anda karena telah mendapatkan 1 juta dinar Kuwait, Kemampuan Memasak level 3, Suara Magnetis dan Maskulin Terkontrol, dan Kemampuan Melempar Kartu level 6!]


__ADS_2