
Deg!
Hati Santi, ibu Ryzel terasa sakit seolah ada yang menusuk hatinya begitu dalam. Wajah ibu Ryzel tertegun sambil menatap Ryzel dengan mata yang membesar.
"Ryzel, mengapa kamu berbicara seperti itu kepada ibumu sendiri?!" Septi meraung dan tidak terima ibunya difitnah oleh Ryzel.
Bang!
Ayah Septi menepuk meja dengan keras hingga mengeluarkan bunyi yang nyaring.
Mata Ayah Septi menjadi merah, dia sangat marah sekarang. "Apa maksudmu berbicara seperti itu kepada istriku?!"
Melihat mereka semua yang terkena pancingannya, Ryzel mengangkat satu kakinya ke kaki yang lain, dan bersandar santai di sofa. Tatapan Ryzel tidak menunjukkan rasa takut dengan gertakan ayah Septi dan Septi sendiri.
"Maaf, tolong jangan menghancurkan barang di sini. Menghancurkan barang di sini harus ganti rugi," kata Ryzel dengan tenang dan tersenyum lebar.
Ucapan Ryzel keluar, wajah ayah Septi membeku dan dia segera menarik kembali tangannya yang ada di atas meja, dan mengusap meja tamu yang ia tampar.
Septi menggertakkan giginya terlihat kesal dengan ucapan Ryzel, wajah yang merah seakan tidak sabar ingin menelan Ryzel hidup-hidup.
"Apakah ada kondisi yang ingin kali ucapkan, selain merekrut aku ke dalam kelompok kalian?"
Ibu Ryzel tidak menyerah, dia kembali menawarkan perdamaian dengan cara mengajak Ryzel kembali ke keluarganya. "Kita bisa berdamai dengan masalah ini jika kamu kembali kepada kita, Ryzel. Aku, ibumu sendiri, masih sayang kepadamu, aku ingin kamu bahagia layaknya anak yang disayang oleh ibunya di luar sana, aku menyesal telah meninggalkanmu."
"Maaf, untuk ini aku tetap menolaknya," balas Ryzel tanpa ekspresi. Dia sama sekali tidak tertarik dengan cara perdamaian ini.
Septi tiba-tiba berdiri dan berjalan ke depan Ryzel, kemudian dia naik ke pangkuan Ryzel sembari mencengkeram kerah Ryzel dengan kuat, "Hei, Sialan! Ketahuilah kondisimu sekarang, kamu telah menjadi viral, banyak orang yang menghujatmu! Tidak ada yang bisa menolongmu selain kami. Kamu pikir kamu adalah Justin Bibir yang memiliki banyak penggemar, hah?!"
Ryzel masih bermuka santai sambil mendengarkan celotehan Septi di depan mukanya. Beberapa tetes ludah jatuh di wajah Ryzel, tetapi Ryzel membiarkannya sampai wanita gila ini selesai berbicara.
Sudut mulut Ryzel sedikit terangkat naik, senyuman tipis muncul di wajahnya. "Satu hal yang harus kamu tahu, aku lebih tampan dari Justin Bibir."
Mendengar ucapan Ryzel, sudut mata Seperti berkedut, rona merah naik dari bawah wajahnya sampai memenuhi seluruh mukanya.
Dengan amarah yang meluap-luap tak tertahankan, Septi melayangkan tamparan tangannya ke wajah Ryzel.
"Bajingan!"
Melihat Septi yang menerbangkan tangannya, ibu Ryzel dan ayah Septi ingin menahan gerakan Septi, tetapi ada jarak di antara sofa mereka dan Ryzel sehingga itu takkan mungkin sempat dihentikan.
Plak!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi kiri Ryzel, kepala Ryzel sedikit miring, tetapi dia masih duduk tegap sambil memandang Septi seolah tidak terjadi apa-apa.
Ekspresi wajah Septi menjadi salah, dia menatap Ryzel dengan sorot mata penuh keheranan.
Sama sekali tak pernah dia sangka Ryzel akan setangguh ini.
"Kamu terlalu dekat, posisi di mana kamu duduk sangat tidak sopan."
Ryzel mengangkat tubuh Septi dan meletakkannya kembali ke sofa tempat kedua orang tua Septi duduk.
Keduanya benar-benar tak bisa bereaksi sekarang.
Mereka berdua terpana melihat Ryzel yang diam dan tidak marah, seakan tamparan keras dari Septi tidak berpengaruh apa-apa.
Bisa dilihat dengan jelas pada pipi kiri Ryzel yang tercetak warna merah yang membentuk telapak tangan.
Kembali duduk di sofanya, Ryzel tiba-tiba bertepuk tangan 3 kali di depan mereka semua.
__ADS_1
Gerakan ini tidak dimengerti oleh keluarga Septi dan dia masih memandang Ryzel dengan diam tak berbicara.
Tak lama berselang, dua orang pembantu berpakaian rapi datang menghampiri Ryzel membawakannya Jenbook dan proyektor portabel dengan sangat hati-hati.
"Tuan, pipi kamu merah, mau aku ambilkan air hangat dan kain?"
"Tidak usah, aku baik-baik saja, terima kasih, kalian berdua boleh kembali."
Kedua pembantu itu mengangguk menunjukkan pengertiannya, kemudian pergi dengan tata cara yang sopan dan beradab.
Septi dan keluarganya masih terdiam. Akan tetapi, mereka semua terkesima saat melihat dua pembantu rumah Ryzel yang bisa dikatakan anggun dan berkarisma, memiliki karakter yang baik dibandingkan dengan mereka.
Tanpa banyak berkata-kata, Ryzel meletakkan proyektor kecil portabel di atas meja, mengarahkan lensanya ke dinding yang ada di belakang Sepeti dan keluarganya, kemudian mencolokkan kabel ke Jenbook dan proyektor tersebut.
Sebelum Ryzel nyalakan, ada suatu hal yang harus Ryzel lakukan.
"Makanlah camilan di atas meja, kalian pasti lapar, kan? Sambil memakan camilan, aku ingin mengajak kalian menonton bersama satu film dokumenter yang seru."
Jiwa wanita Septi terpanggil. Meskipun bingung dengan operasi Ryzel saat ini, menonton film bukan hal yang salah.
Selain Septi yang merasa salah, ibu Ryzel dan ayah Septi merasakan hal yang sama. Ini sangat random dan acak, mereka sedang membicarakan sebuah penyelesaian permasalahan tentang konflik yang terjadi di antara mereka.
Namun, tiba-tiba Ryzel mengajak mereka menyaksikan film bersama. Sangat aneh tingkahnya.
Walaupun begitu, mereka tidak bisa menolak karena Ryzel terlalu keras, mereka tidak bisa berdebat dengan Ryzel.
"Film apa?" Septi penasaran dengan film yang akan diputar oleh Ryzel.
Ryzel masih menunjukkan senyumannya dan membalas, "Film drama yang keren dan luar biasa hebat, kalian pasti suka dan enjoy dengan filmnya."
"Apakah itu benar?"
Ucapan Ryzel sulit dipercaya oleh Septi dan keluarganya.
Tangan Ryzel menekan tombol di proyektor kecil, pancaran cahaya terang disorotkan ke dinding datar berwarna krem, menampilkan antarmuka Jenbook miliknya.
Jari-jari Ryzel bergerak cepat hingga akhirnya dia menyentuh sebuah folder yang sudah ia sediakan sebelumnya.
"Kalian siap?" Ryzel memandang Septi dan keluarganya dengan senyuman ramah.
"Siap!"
Adik Septi tiba-tiba melompat dari sofa dan menjawab penuh semangat.
"Oke! Selamat menonton!"
Berikutnya, sebuah video diputar di dalam layar Jenbook, diproyeksikan secara langsung ke arah tembok oleh proyektor sehingga mereka semua bisa melihat video yang sedang dimulai.
Di dalam video, mereka melihat sebuah rekaman cctv yang menampilkan beberapa sosok di suatu tempat.
Septi dan keluarganya belum sadar dengan video apa yang Ryzel putar.
Pada akhirnya, video itu diperjelas oleh Ryzel secara langsung melalui Jenbooknya sehingga mereka semua bisa melihat apa dan siapa yang sedang terjadi di dalam video.
Dalam sekejap, Septi dan seluruh keluarganya, kecuali adiknya, menunjukkan ekspresi yang berbeda. Wajah mereka semua memerah bagai kepiting yang direbus matang, asap mengepul dari wajah mereka semua.
Video masih belum berhenti, adegan di mana seorang wanita tiba-tiba terjatuh dan mengutuk seorang pria ditampilkan di depan Septi dan mereka semua.
Rekaman cctv ini tidak hanya dari satu sudut pandang cctv, melainkan banyak.
__ADS_1
Selain itu jug, ada beberapa video rekaman dari ponsel yang Ryzel dapatkan dari ponsel Ibu Nuraini yang ternyata sempat memvideokan peristiwa Ryzel dan Septi bertemu.
Video masih belum habis setelah rekaman peristiwa itu di-zoom dengan jelas, dilanjutkan sebuah gambar tangkapan layar pesan seseorang yang diperlihatkan dalam video dalam beberapa detik, diteruskan lagi dengan banyak tangkapan layar sebuah percakapan pesan yang lain.
Wajah mereka benar-benar merah karena amarah yang dipendam, bahkan tinju ayah Septi mengepal kuat dan bergetar hebat.
Namun, video masih belum berhenti sampai akhirnya sebuah video yang sangat aneh ditunjukkan.
Di dalam video dapat dilihat seorang pria sedang melakukan gaya erotis di tempat tidur dalam hotel bersama seorang pria lain.
Wajah merah mereka berubah seketika menjadi hijau karena merasa jijik melihat tontonan ini, tetapi kulit wajah mereka berubah lagi saat tahu bahwa pria yang ada di dalam kamar hotel tersebut adalah sosok yang mereka semua kenal orangnya.
"Bukankah ini mengejutkan?" Ryzel menaikkan alisnya sembari menatap Septi dan keluarganya dengan senyuman gembira.
Septi dan ibu Ryzel memalingkan wajahnya ke ayah Septi dan memandangnya tidak percaya.
"A–ayah, kamu—"
Plak!!
Sebelum Septi bisa melanjutkan ucapannya, ibu Ryzel berdiri dan menampar kencang pipi ayah Septi. Seluruh tubuh ibu Ryzel terlihat tegang dengan dada yang turun naik, emosi negatifnya benar-benar tidak terkendali sekarang, ibu Ryzel sangat marah.
"Pantas saja kamu jarang sekali pulang, Santo!! Ternyata kamu selingkuh dengan pria lain, bajingan!! Aku benar-benar kecewa padamu, Gay!"
Setelah mengatakan itu, ibu Ryzel menampar pipi ayah Septi yang lainnya sehingga warna merah yang muncul di wajahnya menjadi seimbang.
"Kamu juga, Lacur!! Memangnya aku tidak tahu kamu sering bermain di belakangku dengan pria lain!!"
"Kamu dahulu yang selingkuh, Pria jadi-jadian!"
"Ayah, Ibu, huaa!!"
Ternyata ibu Ryzel tidak berbeda kelakuannya dengan ayah Septi, tetapi ibu Ryzel normal.
Sementara itu, ayah Septi jauh dari kata normal.
Segera, Ryzel mendapatkan tontonan film drama yang ditayangkan secara langsung di depa matanya.
Tangan Ryzel mengambil segelas popcorn dan memakannya seraya menyaksikan film drama yang berubah genre menjadi aksi.
Adik Septi yang menangis membuat drama ini makin seru dan menarik.
Beberapa barang di rumah Ryzel dihancurkan dan dilempar. Melihat ini Ryzel hanya diam dan membiarkannya.
Septi menjadi bingung, hati dan otaknya dimasuki berbagai jenis masalah yang membuatnya mati rasa.
Wajah Septi yang pucat menandakan kekalahannya dalam melawan Ryzel.
Mematikan proyektor kecil tersebut, Ryzel menelepon suatu nomor, kemudian meminta satpam rumah mengamankan mereka bertiga kecuali adik Septi yang masih kecil.
Sebuah sirine polisi terdengar tak lama mereka menunggu di halaman depan rumah.
Mendengar suara ini, Septi dan keluarganya menjadi panik juga putus asa.
Mereka semua menangis sejadi-jadinya seperti anak kecil yang tak diberikan mainan.
"Ryzel, maafkan kami, kami benar-benar tidak bermaksud ingin menjatuhkan reputasi nama baikmu, kami hanya ingin kamu kembali ke dalam keluarga utuh kami," ibu Ryzel memohon dengan wajah yang menyesal.
Sayangnya, hati Ryzel tidak bisa menerima ini, dan dia menggelengkan kepalanya, "Kalian tidak melihat jelas tangkapan layar di video? Kalian kira aku buta? Aku tahu bahwa kalian ingin mengincar hartaku dengan cara menjadikan aku keluarga kalian lagi. Santi, kamu adalah ibu terburuk bagiku." Ryzel berjongkok di depan ibunya dengan wajah yang kecewa berat seperti burung hantu.
__ADS_1
Berikutnya, polisi datang dan meminta kejelasan mengenai apa yang sedang terjadi sebenarnya antara Ryzel dan keluarga Septi.
Permasalahan ini akhirnya dibawa Ryzel ke ranah hukum tanpa ada niatan untuk berdamai secara kekeluargaan.