
Bagian menonjol yang terlihat di balik celana hitam basah Ryzel membuat Haimi ingin melihat terus. Sebab ia baru pertama kali melihat bentuk burung seorang pria dewasa.
Haimi tahu burung milik anak kecil, keponakannya yang kecil pernah menunjukkan burungnya saat minta dibersihkan setelah buang air besar. Bentuknya sangat kecil seperti Burung Pipit, tetapi milik Ryzel sangat besar, bagai Burung Elang.
Saking besarnya, itu menonjol sangat kuat dari celananya. Haimi sampai membayangkan jika sesuatu sebesar itu masuk ke dalam itunya, apakah terasa sakit atau dirinya merasa nikmat, Haimi tidak begitu memikirkan hal tersebut dan terus memandangi diam-diam milik Ryzel.
Selain itu, Haimi juga menonton otot-otot Ryzel yang meledak-ledak dan kuat itu. Tanpa sadar membuatnya ingin menjilati lekukan otot tubuh Ryzel.
Jikalau Ryzel tahu pikiran ini, dia pasti menjadi ngeri saat melihat Haimi.
Ryzel tidak tahu sama sekali tentang pikiran Haimi dan bahkan tilikan mata Haimi yang mengarah ke bagian alat vitalnya. Ia terus berenang di aliran air terjun paling bawah sambil menikmati suara percikan air yang jatuh.
Posisi Haimi berada di dekat tepi air terjun, tempat di mana mereka turun dari daratan ke air terjun.
Sosok tubuh Haimi tidak kalah dengan Gina, jika dibandingkan dari segi ukuran boba, Haimi menang telak. Barangnya berukuran besar. Kalau dibandingkan dengan milik Yochi, itu membuat Yochi seperti tidak memiliki buah dada.
Sempat Ryzel melihat milik Haimi dan ia kagum dengan keindahan tersebut. Tidak menunjukkan dirinya terkejut saat melihat barang Haimi.
Ia menjauhi pandangan matanya ke arah Haimi, takut melihat benda besar tersebut, dan dikarenakan itu juga, Ryzel tidak tahu bahwa Haimi memperhatikan adik kecilnya.
Setelah puas berenang dan bermain air sampai sore tiba, mereka keluar dari area Air Terjun Kuang Si dan pulang ke hotel mereka.
Pada saat di tuk-tuk, Ryzel mengamati gerakan tubuh Haimi ketika mengobrol. Haimi cenderung mendekati dirinya, sampai-sampai tubuhnya menyentuh tubuh Ryzel.
Perilaku kecil Haimi kontras dengan sebelum pergi ke Air Terjun Kuang Si, kini lebih berani bahkan tidak masalah melekatkan diri ke tubuh Ryzel. Dari sini, Ryzel menyadari bahwa Haimi ada maksud tersembunyi terhadap dirinya.
Jadi, Ryzel mencoba dan berusaha menghindari perilaku aneh Haimi dengan halus, ia juga menjaga perasaan orang lain jangan sampai tersakiti. Takutnya saat dirinya menghindar, Haimi merasa dibenci oleh dirinya sendiri.
Begitu sampai di hotel, Haimi mengajak Ryzel untuk makan bersama di luar hotel, jawaban Ryzel tentunya setuju dengan undangan makan malam Haimi.
__ADS_1
Dengan demikian, mereka berdua pergi ke sebuah restoran yang ada di luar hotel. Haimi bilang restoran yang akan mereka kunjungi memiliki masakan yang lezat dibandingkan dengan yang lain.
Rasa penasaran membuat Ryzel menerima tawaran makan malam dengan Haimi.
Setibanya di sana, Ryzel memesan makanan kesukaannya berjenis mie dan beberapa makanan lain khas Laos yang dianggap warga lokal sendiri enak.
Tam Mak Hoong salah satu makanan yang Ryzel pesan. Makanan ini adalah sajian salad, mirip dengan salad pepaya dan asinan sayur Betawi karena rasanya juga hampir mirip.
Makanan ini memiliki bahan dasar sayuran yang diiris lalu disajikan dengan bumbu yang dimasak. Bumbunya terbuat dari gula aren, cabai, saus ikan, jus ikan fermentasi, dan jeruk nipis.
Memiliki cita rasa asam, manis, dan asin. Cukup segar dan cocok sebagai makanan pencuci mulut untuk Ryzel.
Apabila ada Tam Mak Hoong, biasanya ada Ping Gai yang adalah ayam panggang khas Laos. Kedua makanan itu biasanya disajikan bersama dengan ketan.
Ryzel memesan satu paket makanan tersebut dan mulai mencobanya.
Setelah mencicip makanan ini, memang rasanya lezat dan masuk ke selera lidah Ryzel. Secara keseluruhan Ryzel menyukai makanannya.
Rasa makanan khao piak sen di restoran yang dipilih Haimi ini lebih enak daripada yang dibuat oleh restoran yang ada di hotel.
Bumbu kuahnya lebih menonjol dan memukul lidah Ryzel, makanan yang cocok untuk menjadi perantara dirinya tidur nyenyak.
“Ryzel, coba makan ini.“ Haimi mengambil sesendok makanan yang ia pesan kepada mulut Ryzel.
Secara spontan dan refleks, Ryzel membuka mulutnya dan memakan makanan yang disendokkan oleh Haimi.
Begitu makanan ini dikunyah di dalam mulut, sebuah cita rasa gurih, manis, asin, dan bau jeruk nipis dirasakan oleh Ryzel.
Matanya melebar, makanan ini sangat lezat.
__ADS_1
“Nam khao tod ini sepertinya berbeda dengan Nam Khao Tod yang lain, lebih enak,” ucap Ryzel kepada Haimi yang duduk di sebelahnya.
“Memang,” jawab Haimi dengan senyuman yang memiliki sesuatu arti, “makanan ini paling direkomendasikan oleh pihak restoran, bukannya kamu lihat mereka menyarankan kita memilih beberapa makanan yang mereka sediakan?“
“Benar. Tidak heran mereka sangat percaya diri merekomendasikan makanan-makanan ini pada kita.“ Ryzel mengangguk lalu melanjutkan makannya. “Rasanya memang lezat dna juara.“
Ryzel tidak menyadari bahwa dirinya memakan Nam Khao Tod milik Haimi menggunakan sendok Haimi sendiri.
Pipi Haimi sudah memerah sejak Ryzel melahap suapan yang disodorkan olehnya.
Haimi menganggap bahwa dirinya telah melakukan ciuman tidak langsung dengan Ryzel melalui sendok makan.
Kenyang dengan makanan, mereka berdua kembali ke hotel dan masuk ke dalam kamar sendiri-sendiri.
Sikap Haimi kepada Ryzel makin berubah setelah pulang dari restoran, bukan hanya makin lengket, Haimi bahkan berani untuk memeluk lengan Ryzel.
Sebelumnya, Ryzel memperbolehkan Haimi memeluk tangannya karena memang sedang menangis, tidak mungkin dirinya melarang Haimi saat sedih, hal itu akan membuatnya makin menangis sedih. Pada kasus ini berbeda, Haimi tidak malu untuk memeluk lengan Ryzel dan menjepitnya di antara buah besar.
Bisa dikatakan, Ryzel telah kalah oleh kelembutan dua buah besar milik Haimi. Sebetulnya, ia ingin menghindar dan melarang Haimi, tetapi karena telah merakan nikmatnya dihimpit oleh kedua barang besar dan kenyal, ia tidak dapat mengeluarkan perintah melarang Haimi.
Saat ini, Ryzel masih merindukan kelembutan benda itu.
“Sangat kenyal dan lembut, aku jadi kecanduan, mirip rasanya dengan punya Gina, tetapi ukurannya lebih besar dan kekencangan serta kekenyalan mudah dirasakan,” gumam Ryzel dengan matanya melirik ke langit-langit kamar. “Tunggu, mengapa aku menjadi seperti ini?!“
Ryzel bangun dari kasur dan menatap dirinya di depan cermin sejenak, kemudian ia menggelengkan kepalanya dengan cepat. “Jauhkan pikiranmu dari hal negatif seperti itu, Ryzel. Itu bukan sesuatu yang baik.“
Bakso konci! Bakso konci!
Nada dering panggilan telepon berbunyi, kepala Ryzel menoleh dengan cepat melihat ponselnya yang diletakkan di atas meja.
__ADS_1
“Siapa yang menelepon? Apakah itu Dea? Gina? Atau Rina?“
Daripada bertanya-tanya, Ryzel berjalan ke tepi kasur dan mengambil ponsel untuk mengangkat panggilan.