
Rina dan Rani tiba-tiba berdiri di depan Ryzel. Keduanya mencengkeram dua tangan Ryzel begitu erat dan menatap Ryzel dengan wajah yang penuh harap.
Ryzel yang membelakangi meja makan benar-benar terkejut dengan tingkah laku mereka berdua.
Ditinggal beberapa hari sudah terlihat aneh, seolah mereka berdua kerasukan sesuatu tak kasat mata dan mengubah kepribadiannya.
Rani yang pemalu dan terkesan cuek sekejap berubah menjadi seperti kakaknya, yaitu Rina yang berani dan terus terang.
Sudah lama Ryzel rasakan keanehan dari mereka berdua sejak tiba di rumah ini. Mereka berdua memang tampak tak seperti biasanya.
Dengan wajah yang bingung, Ryzel bertanya, "Apakah ada sesuatu yang salah pada kalian berdua? Aku perhatikan kalian berdua agak aneh."
Mendengar pertanyaan Ryzel, keduanya tampak bingung dan saling berpandangan. Mereka berdua tidak mengerti apa yang ditanyakan oleh Ryzel, keduanya merasa baik-baik saja.
"Tidak, kami berdua sehat sentosa dan tak ada masalah yang kami hadapi," jawab Rina dengan wajah yang jujur.
Rani mengangguk kecil membenarkan ucapan saudarinya.
Jawaban mereka berdua berbeda dengan tanggapan Ryzel. Jelas-jelas mereka berdua aneh dan ganjil, Ryzel tahu betul sifat mereka.
Sesuatu yang Ryzel tahu tentang keduanya, mereka berdua tak pernah begitu dekat bahkan kesannya seperti terlalu dekat seolah ingin merayunya. Selain itu, mereka juga wanita yang baik dan bukan wanita yang nakal.
Dari sifat mereka, Ryzel bisa identifikasikan bahwa mereka berdua tipe orang yang sulit untuk dekat dengan lelaki.
Malam ini, mereka berdua berubah total. Dimulai dengan memeluknya, memegang tangannya, menatapnya dengan mata yang berbeda, dan sekarang mereka meminta dirinya pergi ke kamar Rina yang sudah bisa ditebak sangat mencurigakan.
"Jangan berbohong, kalian berdua sangat terlihat berbeda malam ini, kalian sebelumnya belum pernah seperti ini kepadaku." Ryzel menatap kedua wanita kembar cantik ini.
Setelah Ryzel mengatakan itu, keduanya tertunduk dan masih memegang tangan Ryzel tanpa ada tanda-tanda ingin dilepaskan.
Mengangkat kepalanya untuk melihat wajah Ryzel yang tampan, Rina berkata dengan mimik yang serius, "Kalau kamu mau tahu mengapa kami berdua seperti ini, kamu harus ikut ke kamarku."
"Apa tidak ada pilihan lain?"
"Tidak."
Rina menggelengkan kepalanya dengan kejam dan wajah yang dalam.
Menatap keduanya, Ryzel menghembuskan napas dan mengangguk. "Baiklah, aku akan mengikuti kemauan kalian."
Wajah Ryzel menunjukkan ekspresi pasrah. Dia tidak bisa menolak permintaan mereka berdua, dikhawatirkan akan ada pertengkaran di antara mereka.
Dengan jawaban Ryzel yang seperti itu, Rina dan Rani menarik tangan Ryzel menuju lantai dua rumah, tepatnya ke kamar Rina yang ada di lantai atas.
Setibanya di dalam kamar, Ryzel disuruh untuk duduk di atas kasur dengan kaki ikut diangkat ke atas kasur.
Di depan Ryzel, keduanya berdiri diam dengan pandangan mata terfokus pada wajah Ryzel.
Tingkah mereka makin aneh. Ryzel membalas menatap mereka berdua dengan alis terangkat naik.
__ADS_1
Pada saat ini, mereka bertiga tampak seperti orang-orang bodoh yang saling memandang.
Tidak ada yang mereka lakukan selama hampir dari 1 menit, pandangan Ryzel bolak-balik ke wajah Rina dan Rani secara bergantian.
Lama-kelamaan, kedua wanita ini memperlihatkan mulut datarnya berangsur-angsur naik, pipinya yang putih menjadi merah.
"Pftt– ... hahaha!"
Rina dan Rani tiba-tiba tertawa tanpa alasan yang jelas, membuat Ryzel yang melihat mereka berdua menjadi bingung dan heran.
Keduanya terus tertawa dan membalikkan tubuhnya, mereka tidak mau menampilkan wajahnya saat tertawa kepada Ryzel.
"Sebenarnya, apa tujuan kalian membawaku ke sini?" tanya Ryzel yang sangat bingung sambil memiringkan kepala.
Tawa kedua wanita kembar ini mengecil sampai akhirnya berhenti.
Kembali menghadap Ryzel, Rina menjawab dengan wajah yang serius, "Kami berdua ingin mengatakan sesuatu."
"Cepat katakan, jangan bertele-tele, ini sudah malam," pinta Ryzel yang sudah tidak sabar.
Sebelum mengatakan sesuatu yang ingin mereka beri tahu kepada Ryzel, Rina dan Rani saling menatap satu sama lain seolah sedang memberi kode.
Ryzel melihat isyarat di pandangan keduanya.
Benar saja dugaannya, Rina tiba-tiba menatapnya dengan penuh keseriusan, dan berkata, "Kami berdua menyukaimu."
Rina dan Rani serempak mengangguk kepalanya. "Iya, kamu berdua menyukaimu!"
Secara bersamaan keduanya mengatakan hal yang sama untuk penegasan.
Berikutnya, Ryzel terkejut sambil menatap keduanya dengan pandangan yang bingung.
Dia tidak tahu harus bagaimana, tak tahu merespons perasaan mereka berdua. Pasalnya, Ryzel menganggap mereka sekadar teman.
Keduanya sudah membantu Ryzel di Bandung, memberikan kesan asyik dan seru saat berkunjung di Bandung. Ryzel tidak memiliki perasaan suka kepada mereka berdua.
Melihat wajah Ryzel, mereka berdua yang malu perlahan-lahan berubah menjadi bingung dan muram.
Mereka melihat Ryzel hanya terkejut dan tidak membalas ucapan mereka.
"Maaf, aku belum bisa menyukai kalian berdua. Maaf sebesar-besarnya!"
Ryzel meminta maaf kepada keduanya dan mengungkapkan apa yang dia rasakan saat ini.
Dalam sekejap, pupil keduanya mengecil wajahnya yang kecewa terlihat terkejut sesaat, kemudian mereka berdua berbalik dan bergegas ke luar kamar sambil berpegangan tangan.
Melihat sosok mereka berdua menghilang, Ryzel menjadi merasa bersalah atas ucapannya tadi, tetapi dia tidak bisa bohong akan perasaannya sendiri.
'Sial! Masalah bertambah lagi. Memang benar, wanita dan pria tidak bisa sepenuhnya berteman, pasti ada salah satu dari keduanya yang memendam perasaan,' gumam Ryzel dengan hati yang runyam tak karuan.
__ADS_1
Ryzel bingung harus apa sekarang, dia ditinggalkan oleh kedua wanita itu di kamar ini.
Melihat ke sekelilingnya, Ryzel bisa melihat ada beberapa hal yang dimodifikasi dan diperbagus oleh Rina pada kamar ini.
Wangi harum yang lembut dan manis di hidung bisa dicium di seluruh ruangan ini.
Selain itu, kebersihan di dalam kamar ini sangat terjaga, semua tertata rapi, dari rak buku, tempat tidur, meja kerja, lemari, meja samping tempat tidur, dan yang lainnya.
Tepat ketika Ryzel sedang memandangi dalam ruangan ini, kedua wanita yang kembar tersebut kembali lagi ke dalam kamar dengan wajah yang penuh ketegasan.
Ryzel terkejut melihat mereka berdua kembali, sekaligus agak aneh.
Rina dan Rani terus berjalan hingga berhenti di depan Ryzel yang menatap mereka secara terang-terangan.
"Kalian baik-baik saja, kan? Aku minta maaf masalah tadi, aku benar-benar belum bisa—mmhh?!"
Mulut Ryzel yang sedang berbicara ditahan oleh mulut Rina tanpa aba-aba.
Menaiki pangkuan Ryzel, tangan Rina melingkari leher Ryzel dan terus menciumnya dengan teknik yang kasar.
Ryzel yang terpana segera membalas ciuman ini dan dia menuntun Rina secara tidak langsung.
Menyaksikan keduanya yang tengah berciuman, Rani menutup mulutnya sambil menatap mereka yang berciuman makin intens.
Baru pertama kali Rani melihat orang yang berciuman dan dia tidak jijik, melainkan ingin mencobanya juga.
Tepat ketika dia asyik menonton kegiatan Rina dan Ryan. Tangan Rina menyambar tangan Rani dan menariknya ikut ke dalam kegiatan mereka.
Setelahnya, suara aneh yang menggoda memenuhi ruangan.
Terdengar dua suara wanita yang berbeda memanggil nama Ryzel dan memohon ampun seolah sedang disiksa.
Suara tersebut keluar sampai jam 1 malam, sebelum akhirnya pintu kamar Rina yang tertutup menjadi terbuka dan sosok Ryzel keluar dengan senyum lebar di wajahnya.
"Pengalaman yang bagus."
Di pagi hari selanjutnya, sosok Rina, Rani, dan Ryzel sedang berdiri di dekat pintu keluar masuk rumah.
Rina dan Rani memeluk Ryzel penuh kemanjaan dan rasa sayang.
"Kalau ada apa-apa bilang kami berdua, oke?" Rina menengadahkan kepalanya dan menatap wajah Ryzel sangat dekat.
Ryzel tersenyum dan mengelus rambut mereka berdua dengan lembut. "Iya, aku mengerti. Sebaiknya, kalian pergi sekarang, ini sudah mau jam tujuh pagi."
"Ya, tetapi aku mau ciuman darimu sebelum berangkat."
Mendengar permintaan Rina, Ryzel hanya bisa bergumam di hatinya, 'Mengapa wanita ini menjadi sangat berani?'
"Anu, aku juga mau ciuman kamu."
__ADS_1