
"Um, apakah itu tak menjadi masalah bagi kamu? Aku tidak mau merepotkan orang lain," jawab Risa dengan khawatir dan hati yang tak enak.
Risa bukan orang yang mudah meminta tolong, apabila ada sesuatu urusan yang sekiranya masih bisa dia lakukan, Risa pantang untuk meminta bantuan orang lain.
Akan tetapi, jika tahu orang yang ingin membantunya adalah Ryzel, dia rasa itu tidak masalah baginya.
"Kalau aku keberatan, aku takkan mengeluarkan ajakan tadi." Ryzel tersenyum kepada Risa sambil sedikit menggelengkan kepalanya.
Mendengar ini, Risa menepuk dahinya, apa yang diucapkan Ryzel masuk di akal.
Setelah berpikir dan termenung sejenak, Risa memilih untuk pergi bersama Ryzel menuju ke rumah nenek yang ada di Yogyakarta.
Keduanya keluar restoran dan pergi ke mobil yang terparkir tak jauh dari restoran.
Saat Risa melihat mobil ini, dirinya terkejut hampir jatuh, dia adalah seorang yang kerap berhubungan bisnis dengan orang yang terbilang kaya. Biasanya, mereka yang bertemu dengannya itu selalu membawa mobil mewah, dan secara otomatis Risa tahu beberapa merek mobil mewah.
"Koenigsegg?" gumam Risa tidak sadar.
"Benar." Ryzel mengangguk begitu mendengar ucapan Risa.
Tanpa melihat banyak orang yang menatapnya, Ryzel membuka pintu dan berkata, "Masuklah, aku akan mengantarkan kamu ke rumah."
"Baik."
Segera, mereka berdua masuk ke dalam mobil di dalam penglihatan banyak orang yang adalah seorang pecinta mobil.
Gemera termasuk mobil yang mewah dan banyak orang yang tahu tentang mobil ini, terlebih para pecinta mobil yang biasanya tidak asing dengan mobil-mobil mewah.
Broom!
Knalpot mobil mengeluarkan raungan yang nyaring dan garang.
Bersamaan dengan pedal gas yang diinjak, mobil hitam yang keren ini melaju cepat dan bergabung dengan mobil lain di jalan raya.
Mereka berdua pergi ke rumah Risa yang jaraknya bisa dikatakan dekat kalau menaiki kendaraan.
Risa bilang dia sering makan di tempat tadi mereka berdua makan, soal jarak yang lumayan jauh jika ditempuh dengan memakai kaki, bukan masalah apabila restoran tersebut enak dan nyaman.
Ryzel tidak heran dengan ini, pantas saja Risa mau pergi ke tempat yang jauh dari rumahnya ini hanya untuk makan.
"Sudah jam berapa?" Ryzel melirik sekilas Risa yang duduk di sebelah kursi pengemudi.
Dengan sigap, Risa melihat ke arah jam tangannya. "Sebentar lagi jam sepuluh."
"Tidak apa-apa jika kita berdua pergi di jam sekarang?" tanya Ryzel memastikan rencana kepergian mereka berdua.
Pertanyaan Ryzel membuat Risa bingung karena dia belum pernah pergi menggunakan mobil untuk pergi ke rumah nenek.
__ADS_1
Biasanya dia menggunakan kereta atau kendaraan yang lain.
Jari telunjuk Risa menyentuh ke bagian pipi yang gatak dan dia menjawab, "Menurut Gugel, kita akan baik-baik saja jika pergi di jam ini. Waktu yang akan kita tempuh menuju Kota Yogyakarta kurang dari sepuluh jam, berarti kita sampai di malam hari. Untungnya, tidak begitu larut."
"Baiklah, sebentar lagi kita akan sampai."
Ryzel sebenarnya tidak mempermasalahkan waktu, durasi yang diberikan oleh Sistem untuk menyelesaikan lumayan lama.
Hal yang jadi permasalahan adalah Risa sendiri, dia tidak enak jika membawa seorang wanita sendirian di dalam mobilnya.
Takut sesuatu hal terjadi.
Maka dari itu, dia bertanya dan memastikan kembali pilihan Risa, dan jawabannya seperti barusan.
Begitu sampai di rumah Risa, wanita ini langsung membawa koper yang sudah disediakan. Sebelum pergi makan di restoran, dia sudah membereskan banyak baju dan memilih barang yang ingin dibawa ke rumah nenek.
Tidak aneh kalau Risa keluar rumah begitu cepat.
Dengan begitu, mereka berdua secara resmi memulai perjalanan jauhnya menuju Kota Yogyakarta yang jaraknya ratusan kilometer.
Di dalam mobil, Risa tampak sangat norak dan heboh, beberapa fitur mobil dia coba karena ini adalah pertama kalinya menaiki mobil mewah ini.
Risa tahu harga mobil ini melalui Gugel, dan reaksinya adalah terkejut berat hingga dia merasa pusing.
Tak pernah sekali pun Risa bermimpi bertemu seorang pria yang kaya dan memikirkan mobil miliaran rupiah.
Tatapan Risa kepada Ryzel makin intens dengan rasa seduktif yang samar-samar.
Ryzel mengetahui dirinya sedang ditatap oleh Risa, dan tatapannya ini sama dengan tatapan yang pernah dilempar oleh banyak wanita yang sekarang berteman dengannya.
Mudah baginya untuk mengambil dan menarik perhatian wanita, bermodalkan diam duduk di atas kursi pengemudi, dia dalam sekejap mendapatkan seorang wanita manis.
Jujur saja, Ryzel merasa malu ditatap seperti itu oleh Risa, membuatnya menjadi tak konsentrasi dalam berkendara dan itu berbahaya.
"Anu, bolehkah kamu membantuku?" celetuk Ryzel yang meminta bantuan.
Ekspresi nympho Risa menghilang seketika dan dia menatap wajah Ryzel dengan serius, berkata dengan rasa penasaran, "Bantuan apa?"
"Bantu aku mengaktifkan siaran langsung, dan rekam keindahan alam saat pergi ke Yogyakarta."
Ryzel masih ingat dengan pekerjaan aslinya, dan itu tidak akan pernah lupa.
Oleh sebab itu, Ryzel meminta bantuan Risa mengaktifkan siaran langsung, sangat bagus momentumnya, dia bisa memperkenalkan banyak beberapa pemandangan yang akan mereka lewati.
Siapa tahu saja dari banyak orang yang ingin berlibur juga setelah menonton siaran langsungnya.
Permintaan Ryzel diterima, dan Risa memegang tas Ryzel untuk membantu Ryzel mengeluarkan benda atau alat-alat siaran langsung.
__ADS_1
Selain itu juga, Risa membantu memasang ponsel Ryzel ke tongkat gimbal dan siaran langsung baru pun dimulai.
Namun, semua orang terkejut ketika masuk ke dalam ruang siaran langsung mereka disuguhkan penampilan Ryzel yang keren dan tampan sedang mengendarai mobil.
Dalam sekejap, banyak sekali pertanyaan tentang siapa yang memegang ponsel ini.
Dan Ryzel menjawab bahwa itu dipegang oleh teman pria.
Risa tidak mau diperkenalkan oleh Ryzel kepada ratusan ribu penonton lantaran tidak percaya diri.
Jelas sekali bahwa sosok Risa sangat bagus, ditambah dengan wajahnya yang cantik, semua pria suka dengan tampilan Risa.
Terkadang, orang yang tampan dan cantik tidak mengakui dirinya memiliki kecantikan yang tinggi.
Apakah orang tampan semuanya bodoh? Tidak bisa memanfaatkan keindahannya untuk suatu tujuan yang bagus.
Untuk sesi pertama, Risa memberhentikan siaran langsung setelah 2 jam melakukan siaran.
Selain siaran langsung, mobil Ryzel harus beristirahat sejenak, serta Ryzel dan Risa pergi ke toilet untuk buang air kecil.
Mereka singgah di salah satu pom bensin terbesar yang biasanya menyediakan toilet umum.
Tak lebih dari 15 menit mereka berhenti di perjalanan, mereka akhirnya melanjutkan lagi perjalanan menggunakan mobil.
Dengan kemampuan berkendara Ryzel yang bagus, mereka berdua sampai di Kota Yogyakarta di malam hari di jam 8 malam, tetapi cuaca tidak bagus dan hujan besar turun.
Dikarenakan hujan turun, mereka berdua sepakat untuk pergi ke hotel terlebih dahulu.
Mereka memesan hotel yang harganya lumayan mahal dengan fasilitas yang bagus untuk dua kamar.
Sayang sekali, kamar hanya tinggal satu dan itu hanya untuk pasangan.
Dengan demikian, mereka berdua terpaksa berpura-pura menjadi seorang pasangan, bukan suami-istri.
Untungnya, pihak hotel memperbolehkan sehingga keduanya tidur di kamar yang sama.
Pada saat ini, Ryzel dan Risa duduk di atas kasur untuk pasangan, keduanya diam dan bingung harus berbuat apa.
"Em, kayaknya aku harus tidur di bawah saja sekarang," kata Ryzel yang mengalah sebagai seorang pria sigma.
Ryzel bergerak dan hendak turun dari kasur.
"Jangan."
Tiba-tiba tangan Risa menahan Ryzel yang ingin pergi.
Mata Ryzel yang terkejut dan mata Risa yang malu serta enggan bertemu, kedua pasang mata tersebut saling memandang beberapa waktu yang lama, kemudian sesuatu perasaan aneh muncul di keduanya.
__ADS_1