
Di dalam kamar mereka bertiga terjadi sebuah peristiwa yang menegangkan burung. Aruny yang memiliki bola besar yang hampir sama ukurannya dengan Maly, sedang menyerang bibir Ryzel menggunakan kedua bola besarnya dan bibirnya.
Duduk di pangkuan Ryzel, Aruny menjejali mulut Ryzel dengan kedua puncak bola besarnya, membuat Ryzel mau tak mau mengisap puncak tersebut dengan bibir dan lidahnya.
Gerakan Ryzel yang mahir memberikan kenikmatan luar biasa kepada Aruny. Dirinya merasa kedua bolanya benar-benar diberi perlakuan manja dan kenikmatan dunia.
Akan tetapi, ketika Aruny ingin membuka celana Ryzel, tiba-tiba saja pintu vila terbuka, sosok Maly dan Putrea masuk ke dalam rumah.
Mengetahui ini, Ryzel terkejut dan ia menahan Aruny untuk tidak membuka celananya, bahkan Ryzel menutup bola besar Aruny dengan tubuhnya.
Dengan wajah yang panik, Ryzel berkata dan menjelaskan kepada Maly dan Putrea apa yang sebenarnya terjadi.
“Ini tidak seperti yang kalian lihat, aku dan Aruny sedang—”
“Aku sudah tahu, Ryzel.“
Maly dan Putrea mendekati Ryzel, kedua tangan mereka berdua membelai otot tubuh Ryzel yang kokoh dan mengagumkan.
“Kami bertiga sudah merencanakan ini, dan kamu tidak bisa lepas dari cengkeraman kami bertiga.“ Maly menatap Ryzel penuh godaan dan tangannya turun ke tempat adik kecil Ryzel bertengger.
Pupil mata Ryzel membesar ketika mendengar ucapan Maly. Dia menatap mereka berdua yang datang ini dengan sorot mata yang panik dan terkejut.
Menelan ludah, tubuh Ryzel menjadi tegang, ia berkata di dalam hatinya dengan perasaan yang gelisah dan enggan, “Tidak! Aku harus pergi dari sini! Aku tak boleh berlama-lama di sini.“
Begitu Ryzel hendak bergerak, ia merasakan sebuah sentuhan lembut dari sebuah benda bulat besar di punggung belakangnya disusul oleh sentuhan halus dari sebuah tangan di otot perutnya.
Ryzel tahu siapa yang melakukan perbuatan ini, tak salah lagi itu adalah Aruny.
“Glup!“ Ryzel menelan ludah, keringatnya sudah membasahi dahinya, tubuhnya sangat tegang dan adiknya pun sama.
Otak menyuruhnya untuk melarikan diri, tetapi tubuhnya tak bisa diperintahkan untuk bergerak, otak dan tubuh tidak sinkron, bagaikan bukan satu tubuh.
Melihat wajah Ryzel yang panik dan kebingungan, mereka bertiga langsung memulai operasi rencana selanjutnya.
Maly, Aruny, dan Putrea mendorong tubuh Ryzel ke atas kasur, kemudian mereka bertiga naik ke atas kasur dengan wajah yang penuh rayuan.
Maly naik ke tubuh Ryzel, dan mendaratkan tubuh bagian bawahnya di atas otot perut Ryzel yang kokoh.
Sementara itu, Aruny dan Putrea duduk dan menindih kedua tangan Ryzel yang telentang di atas kasur.
Di detik berikutnya, mereka bertiga membuka baju secara bersamaan dan bola-bola yang mereka miliki ditunjukkan kepada Ryzel.
“Waktunya minum susu.“ Maly menyeringai dan menundukkan tubuhnya.
Kepala Ryzel dihantam oleh tiga pasang bola besar dalam sekejap, Ryzel mengisap puncak bola-bola ini secara bergantian.
__ADS_1
Di belakang Maly, dirinya merasakan ada sesuatu yang menabrak bokongnya, Maly menoleh ke belakang dan melihat sebuah gundukan besar yang menonjol di celana Ryzel.
Mengetahui benda yang menonjol tersebut, Maly memberhentikan menyusui Ryzel dan ia berdiri serta membalikkan badan membelakangi kepala Ryzel yang tengah mengisap bola-bola milik temannya.
Kedua temannya yang cantik ini mengeluarkan suara kegirangan, tubuh kedua wanita tersebut bergetar liar mengeluarkan keringat dari sekujur tubuhnya.
Jari-jemari Maly bergerak ke sela-sela celana Ryzel. Setelah itu, Maly membuka celana Ryzel dan membebaskan sebuah benda besar yang ia dambakan.
Benda besar yang panjang dan berurat ini berkedut-kedut, kepalanya telah berwarna merah.
Maly tidak bisa menahan nafsunya dan ia segera menjepit ular ini dengan bola besar miliknya, kemudian bola besar tersebut digerakkan atas bawah, seperti gerakan mengocok sesuatu.
Merasakan sensasi luar biasa ini, kedua kaki Ryzel menegang dan sedikit gemetar, tanpa sadar Ryzel mengeluarkan suara aneh selagi dirinya mengisap bola-bola besar milik Aruny dan Putrea.
Gerakan mereka bertahan hingga setengah jam, dan berhenti setelah Aruny menyuruh Ryzel untuk tidak melanjutkan isapan mautnya.
Ketika kedua wanita ini berpindah tempat, Ryzel melihat bahwa tempat di mana mereka duduk itu sudah basah oleh suatu cairan. Ryzel mengabaikan ini karena mereka bertiga menariknya untuk duduk.
Selagi dia duduk di atas kasur, ketiga wanita ini berjongkok di lantai, ketiganya mengelilingi adik besarnya dan hendak melakukan sesuatu.
Dengan wajah yang ngeri, Ryzel pun bergumam dengan pasrah di dalam hatinya, “Malam ini aku akan dikuras habis.“
Malam ini, malam yang berat bagi Ryzel. Seorang diri melawan tiga pasang bola yang besar dan bertubi-tubi menghantamnya.
Beruntungnya, Ryzel memiliki ketahanan tubuh hingga dirinya hanya sekali memuntahkan cairan putih kental dalam satu malam itu di atas tiga pasang bola besar tersebut.
Tampaknya mereka terlalu bernafsu dan terangsang oleh gerakan tangan Ryzel sehingga mereka kewalahan dan kalah dalam pertempuran.
“Fiuhh … ternyata aku hanya memuntahkan sekali cairanku, aku pikir aku akan dikuras habis. Kurasa ketiga wanita ini terlalu kelelahan.“ Ryzel menatap ketiga wanita ini yang tidur di atas kasur saling bersampingan.
Melihat ini, Ryzel segera berbalik dan keluar dari vila milik ketiga wanita ini, berjalan perlahan ke tempat vila miliknya berada.
Ryzel melihat jam di layar telepon yang sudah menunjukkan pukul jam 1 malam. Menengadahkan kepalanya ke atas untuk melihat langit malam, ini benar-benar gelap dan sepi.
Menengok ke sekelilingnya, itu tak ada siapa-siapa, mereka semua turis yang tinggal di sini sudah tidur di jam sekarang ini.
Namun, restoran masih buka sehingga Ryzel memesan satu porsi makanan dan minuman.
Kegiatan barusan membuat tubuhnya menguras tenaga, ia butuh asupan yang dapat mengembalikan energinya yang hilang.
Mata Ryzel memperhatikan tatapan tiga orang yang bekerja di restoran, mereka tampaknya tahu apa yang Ryzel lakukan.
Jarak vila milik Maly bisa dilihat dari restoran ini sehingga saat dirinya keluar dari vila wanita-wanita tersebut terpantau oleh orang-orang di restoran ini.
“Kamu sangat beruntung, Kawan. Dengan wajahmu yang tampan, kamu dengan mudahnya mendapatkan ketiga wanita cantik dan seksi itu. Aku iri padamu.“
__ADS_1
Ketika Ryzel membayar tagihan makanan, tiba-tiba saja salah satu karyawan restoran mengucapkan kalimat tersebut kepada Ryzel dengan wajah yang penuh senyuman.
Ryzel tidak tahu harus membalas apa, ia membalas tersenyum dan mengangguk canggung.
“Terima kasih makanannya.“ Ryzel berjalan dan meninggalkan orang-orang di restoran.
Di vila, Ryzel tidak langsung tidur, memainkan gim sambil menunggu jam 2 malam.
Ingin rasanya mandi, tetapi sekarang terlalu malam, Ryzel takut terkena rematik dan bronkitis akut.
Setelah main gim, Ryzel tidur hingga jam 7 pagi.
Ryzel mandi di pagi hari sesaat selepas ia bangun dari tidur, dilanjutkan dengan kegiatan merapikan kasur.
Tririring!
Tiba-tiba ponsel Ryzel yang ada di atas meja berbunyi dan Ryzel dengan cepat mengambil ponselnya untuk mengangkat panggilan yang datang.
“Ryzel, kamu ikut dengan kami atau tidak? Kita ingin pergi ke salah satu wisata yang di sini.“
Suara Maly terdengar dari ponsel Ryzel dan menginformasikan kepada Ryzel tentang sesuatu.
“Ke mana? Apakah harus check-out dari vila?“ tanya Ryzel yang tertarik.
Ryzel menyisihkan tentang peristiwa yang terjadi di malam hari tadi.
“Tidak perlu, jaraknya tidak terlalu jauh dari vila, ada di Desa Koh Tui. Jarak tempuh beberapa menit saja dari area vila menggunakan sepeda motor. Bagaimana, mau ikut?“
“Oke, aku akan ikut.“ Ryzel mengangguk setuju setelah berpikir sejenak.
“Bawa sepasang baju ganti dan satu tas, kita di sana kemungkinan besar akan berkeringat.“
“Emm … oke.“
“…”
Setelah beberapa patah kata, panggilan dimatikan oleh Ryzel, kemudian dengan lekas dirinya membereskan barang-barang untuk pergi bersama Maly dan kawan-kawan.
Peralatan siaran langsung tidak pernah lupa Ryzel bawa. Ryzel keluar dari vila dengan pakaian yang sederhana, kaos pendek polos hitam dan celana pendek penuh kantong yang melebihi bawah lutut, serta tas yang berisi baju dan peralatan siaran.
Ryzel melihat Maly, Aruny, dan Putrea berdiri di depan vila mereka. Wajah mereka mulai memerah begitu Ryzel makin mendekat dengan mereka bertiga.
Maly yang berani dan menyingkirkan rasa malunya ikut berjalan menghampiri Ryzel dan memeluk Ryzel tanpa berkata sama sekali.
Sebelum Ryzel bisa bereaksi, kedua temannya ikut memeluk tubuh Ryzel dengan perasaan yang hangat.
__ADS_1
Adik kecil Ryzel terasa hangat dan sedang berancang-ancang ingin berubah.