
Risa adalah salah satu wanita yang punya pola pikir yang baik dari kebanyakan wanita zaman sekarang yang sudah di luar nalar. Saking pintarnya mereka, logikanya ditinggalkan dan akal sehatnya dilupakan.
Apabila pria bilang bahwa wanita harus bisa masak, mereka akan menyebut pria tersebut sebagai seorang patriarki brengsek. Sangat-sangat mengocok emosi, Ryzel gatal ingin menyadarkan mereka.
Pada dasarnya, mengapa pria ingin memiliki pasangan atau istri yang pintar masak karena seorang anak pasti lebih dekat ke ibunya dan otomatis kebutuhan anak akan dipinta kepada ibunya, termasuk makanan.
Kalau seandainya ada seorang ibu yang tidak pintar masak, apakah dia harus terus-menerus membeli makanan di luar? Jika memang seperti itu, anak tersebut sangat kasihan karena tidak merasakan betapa enaknya masakan ibu yang di masa depan nanti akan dirindukannya.
Ibu yang tak bisa masak takkan dikenang masakannya yang membuat si anak bahagia semasa kecil.
Alasan pria adalah seperti itu, bukan semata-mata pria adalah makhluk malas yang tak mau masak. Jikalau memang benar, mengapa banyak pria yang pintar masak? Bahkan di banyak keluarga punya seorang ayah yang jarang masak, tetapi sekali masak dia membuat makanan yang paling enak, makanan ibu yang biasa dibuat pun kalah.
Wanita zaman sekarang tidak memikirkan tentang itu, mereka sudah tercemar oleh ideologi ataupun pola pikir luar yang ingin wanita itu disamakan dengan pria, kesetaraan gender.
Ryzel pusing dengan wanita-wanita zaman sekarang. Namun, setiap kali ia bertemu wanita, wanita ini memiliki kesadaran betapa pentingnya mempunyai kemampuan memasak.
Tak perlu disebutkan lagi contohnya, wanita ini bahkan sedang berusaha memasak makanan gudeg dengan baik dan benar.
Dalam sekejap mata, Ryzel sudah tinggal di rumah Nenek Risa 4 hari dan 3 malam.
Hari ini adalah tanggal 7 bulan Januari di mana waktunya mereka pergi kembali ke Bandung untuk mengantarkan Risa pulang ke tempat tinggalnya yang ada di Bandung.
Waktu liburan Risa hanya 5 hari saja, besok di tanggal 8 Januari dia harus bekerja kembali. Maka dari itu, Ryzel dan Risa ke Bandung agar tidak libur kelebihan.
Selama beberapa hari terakhir di rumah Nenek Risa, Ryzel dan Risa jalan-jalan di tempat wisata yang dekat dari rumah Nenek Risa, termasuk Candi Prambanan dan candi-candi lainnya. Selain itu juga, ada beberapa tempat wisata yang menarik dan mereka kunjungi.
Banyak kenangan yang Ryzel buat bersama Risa dan keluarganya.
Jujur saja, Ryzel mendapatkan perasaan hangat dan seru selama tinggal bersama Risa dan keluarganya beberapa hari ini. Dia sangat bersyukur bisa ikut dengan Risa berjumpa nenek dan sanak saudara di Yogyakarta.
Ketika melakukan perpisahan dengan Nenek Risa itu atmosfer di sekeliling rumah terasa begitu menyedihkan, sangat-sangat sedih. Nenek Risa tak menahan Isak tangisnya ketika Ryzel berbicara ingin pamit.
Secara pribadi, Nenek Risa sudah menganggap Ryzel sebagai cucunya sendiri, bisa dilihat perlakuannya kepada Ryzel yang terlihat hangat dan penuh perhatian.
Sampai-sampai Risa cemburu dengan Ryzel karena neneknya lebih menyayangi Ryzel ketimbang cucunya sendiri.
Ryzel pun meneteskan air mata saat berpamitan. Dia sendiri sudah menganggap Nenek Risa sebagai neneknya sendiri karena perlakuannya begitu baik.
Mirip sekali dengan neneknya waktu kecil yang selalu menyayanginya dan melindunginya.
Nenek Risa memiliki bayangan neneknya sendiri bagi Ryzel dan ini membuat Ryzel merasa sayang kepada Nenek Risa. Nenek yang sangat baik dan penuh kehangatan hati.
Pada saat Ryzel menginjak pedal gas mobil pun itu terasa begitu berat seakan dosa para pembaca ditimpa atau dibebankan di kaki Ryzel sehingga Ryzel tak kuasa menekan pedal gas karena kesakitan.
Mobil Ryzel melaju meninggalkan kawasan perumahan Nenek Risa, saudari dan saudara yang tinggal di rumah Nenek Risa memandang mobil Ryzel penuh dengan rasa sedih, sedangkan Nenek Risa tersenyum sembari mengeluarkan air mata yang menetes di pipinya yang sudah kendur.
Penampakkan belakang mobil Ryzel menghilang tak lama mereka saksikan, Nenek Risa dan saudara Risa masuk ke dalam rumah dengan hati yang masygul atau sedih.
Tidak tahu mengapa rumah menjadi sepi telah mereka berdua pergi, Nenek Risa merasa kehilangan kembali, seperti ada yang hilang di rumah ini.
Namun, dia sadar bahwa segala pertemuan pasti akan ada perpisahan.
Nenek Risa tidak mau bersedih begitu lama, dia mengajak cucunya untuk membuat makanan.
Di dalam mobil, Ryzel dan Risa terdiam beberapa saat setelah meninggalkan rumah Nenek. Masing-masing mereka terlihat murung, terlintas perasaan sedih di mata mereka.
Tidak lama berselang, Risa menangis tersedu-sedu dan berkata bahwa dirinya berat meninggalkan neneknya di sana.
Bagaimana tidak berat kalau waktu kecil sudah dekat dan akrab dengan nenek.
Sayangnya, tidak ada yang bisa Risa lakukan, dia harus bekerja untuk masa depannya juga.
Di dalam hatinya, Risa memutuskan untuk lebih sering mengunjungi neneknya. Melihat keadaan Nenek yang sudah tua, hati Risa menjadi khawatir.
Orang yang sudah tua tidak baik jika tak diawasi dan dijaga, mereka renta dan rapuh, tidak lagi mudah yang kuat dan berenergi.
Nenek Risa sudah begitu tua dan harus dijaga demi kesehatan juga keselamatannya.
Cucu mana yang tidak mau neneknya sehat dan panjang umur? Jika ada cucu yang rela neneknya meninggal, itu merupakan cucu bajingan.
__ADS_1
Terlepas dari kesedihan yang dirasakan oleh Ryzel, dia mendapatkan sebuah informasi yang penting dari Nenek Risa.
Tidak bukan dan tidak lain ialah informasi mengenai gelang Akar Bahar peninggalan Kakek Risa.
Nenek Risa menjelaskan bahwa gelang ini memiliki suatu energi atau sebuah keberuntungan yang entah bagaimana dengan gelang ini Kakek Risa punya kemampuan penyembuhan tubuh yang kuat.
Awalnya, Nenek Risa tidak sadar akan hal ini, setelah suaminya meninggal, Nenek Risa sadar bahwa setelah suaminya tak lagi memakai gelang ini, kemampuan penyembuhannya tidak kuat seperti sebelumnya.
Penyakitnya yang biasanya sembuh hanya dalam beberapa hari saja, kini setelah melepaskan gelang dari tangannya bisa berbulan-untuk sembuh dari penyakit yang diderita.
Tahu tentang kehebatan gelang ini, Nenek Risa menyimpan gelang untuk diberikan ke orang yang tepat.
Orang itu adalah Ryzel.
Alasan mengapa Nenek Risa memberikan benda yang ajaib tersebut kepada Ryzel lantaran selain mirip dengan suaminya, sikap dan sifat Ryzel sangat baik.
Penampilannya membuat Nenek Risa yakin untuk menyerahkan barang yang sangat berharga kepada Ryzel.
Ryzel merasa hormat menerima gelang peninggalan Kakek Risa, dia akan menyimpan gelang yang memiliki sejarah ini dengan baik.
Mungkin suatu saat nanti, dia akan memberikan gelang ini keturunannya. Barang warisan yang sangat hebat dan luar biasa.
Hanya itu saja informasi yang diberikan Nenek Risa, beliau tidak memberikan informasi yang lebih detail lagi karena memang tak tahu.
Asal-usul Kakek Risa bisa punya gelang ini pun tidak ingat jelas atau mungkin tidak diberitahukan kepada Nenek Risa.
Sebuah benda ajaib yang seharusnya masuk ke kategori Keajaiban Dunia.
"Ryzel, kamu ingin pergi lagi?"
Setelah menangis, Risa bertanya pada Ryzel tentang kepergiannya usai mengantarkan dirinya ke Bandung.
Benar, Ryzel memiliki Tugas Masuk yang baru dirilis oleh Sistem dan itu mengharuskan Ryzel pergi ke suatu tempat.
Ryzel mengangguk sembari mengendalikan setirnya dan menjawab, "Ya, aku akan pergi jauh dari sini. Kamu jaga baik-baik di sini, jangan terlalu kelelahan dan jangan lupa untuk makan."
"Um, baik." Risa mengangguk dengan cepat beberapa kali. "Namun ... bolehkah kamu diam di Bandung beberapa hari? Aku masih ingin menghabiskan waktu denganmu."
"Kamu ikut aku kerja," kata Risa dengan mudah.
Mulut Ryzel membentuk senyuman dan dia menggelengkan kepala. "Tidak bisa kalau aku harus tinggal beberapa hari. Akan tetapi, hari ini aku masih bisa tinggal denganmu, besok aku akan berangkat, masih ada waktu."
"Benarkah?" Mata Risa menyala, dia terkejut dengan ucapan Ryzel.
"Benar." Ryzel mengangguk tegas. "Kalau begitu, aku akan mengajakmu ke suatu tempat."
"Ke mana?"
"Rahasia."
Setelah mengatakan itu, Ryzel sudah membuat rencana untuk mengajak Risa ke suatu tempat di Bandung.
Tempat ini pun belum pernah Ryzel kunjungi sebelumnya.
Setelah berjam-jam mereka di jalan raya dan jalan besar, mereka akhirnya sampai di suatu tempat di Bandung pada sore hari yang memiliki langit yang sudah mulai redup.
Rumah besar dengan segala kemewahan berdiri tegak di depan keduanya, ini sebuah rumah mewah yang diberikan oleh Sistem yang memiliki nilai sekitar 100 Miliar Rupiah.
Risa terkejut saat tahu Ryzel memiliki rumah mewah yang besar seperti ini.
Setelah dipikir-pikir lagi, wajar untuk Ryzel punya rumah mewah seperti ini, mobilnya saja tidak main-main harganya. Dia yakin harga rumah ini miliaran.
Di sana, mereka berdua berkeliling rumah ditemani oleh pembantu rumah yang ternyata sudah satu paket dengan rumah, masalah gaji sudah ditanggung oleh Sistem. Jadi, Ryzel tidak pusing-pusing memikirkan tentang gaji mereka semua.
Total ada 9 pembantu profesional, salah satu dari mereka adalah kepala pembantu yang mempunyai banyak kemampuan yang bisa digunakan dan diandalkan.
Sangat keren dan hebat, tetapi gaji mereka bisa mengalahkan banyak pekerjaan.
Ryzel tidak peduli karena semua ditanggung oleh Sistemnya dan dia tak akan mengeluarkan sepeser pun uang untuk gaji mereka, kecuali memang Ryzel ingin melebihkan stok makanan untuk suatu acara.
__ADS_1
Makanan dan lainnya yang merupakan kebutuhan mereka sudah dibayar oleh Sistem secara otomatis tiap akhir bulan.
Rekening masing-masing mereka akan dikirimkan sejumlah uang sesuai dengan perjanjian. Tentu saja, Sistem tidak menyebutkan dirinya sebagai Sistem, pasti ada seorang perantara.
Keberadaan Sistem sangatlah tersembunyi dan hanya Ryzel yang tahu.
Luas rumah ini sebesar 1.500 meter persegi di mana banyak sekali fasilitas dan terbilang lengkap dengan segala bahan yang premium dan khusus.
Fasilitas mewah, seperti kolam renang, bioskop kecil, tempat bermain anak, ruang kerja besar, belasan kamar, tempat pesta khusus, dan lainnya. Hampir semuanya ada, bahkan tempat untuk helikopter mendapat pun ada. Namun, memang ukurannya tidak begitu besar, mungkin tipe atau jenis helikopter khusus yang bisa disimpan di tempat mendarat helikopter atau helipad.
Penampilan dalam atau interior rumah tak kalah mewahnya dengan bagian luar atau ekterior.
Secara keseluruhan Ryzel sangat menyukai rumah ini.
Bagaimana dia tidak puas, sedangkan dia belum pernah masuk ke dalam rumah yang mewah seperti ini. Seumur hidupnya, dia tinggal di rumah yang begitu sederhana. Sebelumnya, tempat tinggalnya pun hanya berupa kamar kecil dengan segala keterbatasannya dan kekurangannya.
Kamar kosan yang dia sewa sangat minum fitur. Jika dibandingkan antara tempat tinggal dia sebelumnya dan rumah mewah ini bagaikan Matahari dan Black Hole.
Mereka berdua duduk di ruang keluarga yang punya ruangan yang besar dengan banyak barang, contohnya televisi besar, sofa empuk, dan berbagai hiasan mahal.
Risa yang duduk di atas sofa merasa dirinya sedang berada di kehidupan yang berbeda.
Pandangannya ke Ryzel makin tinggi. Selain tampan, pintar masak, dan lihai dalam ranjang, pria ini punya masa depan yang sangat cerah. Siapa pun yang menjadi istrinya pasti akan bahagia.
Dari segala aspek Ryzel merupakan pria yang sempurna dan pasti diidam-idamkan oleh banyak wanita.
Mau itu aspek sifat, sikap, masalah ranjang, ketampanan, kekayaan, dan tinggi tubuh, semuanya sangat tinggi.
Apa yang kurang dari Ryzel? Risa sama sekali belum menemukannya.
Mungkin ada satu, yaitu Ryzel belum bisa menerimanya sebagai pasangan hidup. Risa merasa wajar akan keputusan Ryzel yang tidak bisa menjawab pertanyaan tentang menjadi pasangan hidup. Sebab, percintaan bukanlah sebuah permainan, terlebih yang menyangkut hubungan suami-istri.
Lagi pula, Ryzel adalah pria yang dia idamkan. Dengan kata lain, Ryzel memiliki kendali besar dibandingkan Risa.
Ryzel tidak begitu memerlukan Risa, sedangkan Risa butuh Ryzel.
"Berapa harga rumah mewah ini, Ryzel?" tanya Risa yang penasaran dengan matanya yang melihat-lihat interior rumah.
Ryzel tersenyum dan memandangi televisi besar di depannya, terdapat siaran televisi yang memutar film kartun masa kecil, yakni Upil dan Ipil yang tak pernah besar.
Berikutnya, dia mengalihkan kepalanya dan menjawab dengan santai, "Aku mendapatkan rumah ini dengan harga seratus."
"Seratus juta?" Risa menebak harganya.
Ryzel menggelengkan kepalanya dan berkata, "Seratus miliar."
Sesuai dengan dugaan sebenarnya Risa, harganya miliaran, tepatnya ratusan miliar dan itu merupakan sesuatu yang sulit Risa capai.
Neneknya saja tidak punya kekayaan sebesar itu, paman dan bibinya pun sama, kekayaan mereka masih berkisar ratusan juta mendekati miliaran.
Mata Risa membulat dengan mulut terbuka lebar. "Kamu tidak bercanda, kan? Rumah ini sangat mahal."
Mengangkat tubuh Risa ke pangkuannya, Ryzel menampilkan senyumannya. "Untuk apa aku bercanda? Ada surat kepemilikan rumah ini di kamar utama."
"Apakah memiliki saham akan membuat kaya seperti kamu?"
"Tergantung perusahan apa yang kita pegang sahamnya. Aku ingatkan kepadamu jangan main-main dalam bermain saham jika tak punya ilmunya," kata Ryzel dengan serius.
Tanggapan Risa adalah anggukan kepalanya dengan wajah yang penurut.
"Kamu ingin melihat surat-surat kepemilikan rumah ini?"
"Boleh, aku ingin tahu seperti apa bentuknya."
Dengan cepat Risa menerima ajakan Ryzel. Dia penasaran bagaimana bentuk surat kepemilikan rumah mewah ini, apakah sama dengan surat perizinan atau tidak. Maka dari itu, dia ingin melihatnya.
Setelahnya, Ryzel menggendong Risa seperti bayi yang berumur 5 tahun ke atas, kaki Risa melingkari pinggang Ryzel dan secara otomatis lubangnya menempel dengan adik kecil Ryzel.
Gesekan yang ditimbulkan ketika Ryzel berjalan membuat celana Ryzel menjadi besar di bagian tempat adik besarnya berada.
__ADS_1
Risa merasakan ada sesuatu yang menonjol, dan dia langsung tahu benda apa yang menonjol keras tersebut.