Sistem Masuk Perjalanan

Sistem Masuk Perjalanan
Bab 83: Sarapan dengan Anak Kecil


__ADS_3

Dia menggunakan tangannya untuk menepuk-nepuk pipinya, Linh sedang menyingkirkan pikirannya yang aneh.


Setelah itu, Linh memakai baju yang tadi dengan tampilan yang berbeda, bajunya agak terangkat karena ada tambahan bola besar yang mengangkat bajunya.


Berbaring kembali di atas kasur, Linh memainkan ponselnya sejenak untuk melihat-lihat pesan dari teman-temannya di tempat tinggal orang tuanya.


Linh tidak memiliki rumah sendiri, dia masih tinggal bersama orang tua. Jika dia punya rumah, mungkin rumahnya ada di kota ini. Linh lebih suka di daerah perkotaan dibandingkan dengan di perkampungan, faktor ini karena pekerjaannya, lebih mudah untuk mencari barang keperluan, terutama yang menyangkut tentang baju cosplay.


“Sekarang dia sedang apa, ya?“ gumam Linh sambil melihat langit-langit kamar.


Pada saat ini, Ryzel sedang mengobrol dengan Maly melalui panggilan video.


Di dalam layar terdapat wajah Maly yang sudah biasa dilihat oleh Ryzel.


Mereka berdua sedang sibuk mengobrol tentang pribadi.


“Kamu sedang di hotel? Tidak bersama wanita, kan?“


“Tidak, aku sendiri di hotel. Kamu tidak boleh berpikir kotor.“


“Siapa tahu ada wanita yang naksir kamu lalu mengajak kamu melakukan hal itu.“


Ryzel menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Maly yang sangat berprasangka tidak baik. Dia menatap Maly daan berkata dengan serius, “Tidak, Maly. Tak ada wanita yang mengajak aku seperti itu di sini. Lagi pula, mereka tahu bahwa aku orang asing, tidak semudah itu untuk dekat.“


“Mungkin saja belum.“ Maly tersenyum di sana ke arah layar ponselnya. “Siapa tahu ada wanita yang berani seperti diriku.“


“Kamu jangan berpikir aneh-aneh. Hanya kamu saja yang berani menyerang, wanita di sini takkan seperti itu.“


“Jadi, aku adalah wanita pertama dan wanita yang mengambil keperjakaan kamu?“ Maly malah terfokus dengan kalimat pada ucapan Ryzel yang satunya.


Tangan Ryzel menggaruk-garuk pipinya dan mengangguk kaku. “Emm, ya.“


“Aku tidak menyangka kamu perjaka! Aaaa, aku merasa senang hari ini!“


Di dalam layar Maly tampak senang ia berdiri dan melompat sambil memperlihatkan tubuhnya yang panas dengan memakai pakaian seksi.


Menghela napas, Ryzel tidak tahu apa yang dipikirkan oleh wanita ini.


Mereka berdua mengobrol sampai berjam-jam di malam hari ini. Pembicaraan makin ke arah dewasa, Maly juga sudah memperlihatkan sisi manja dan nakalnya kepada Ryzel. Dengan tanpa rasa malu, ia menunjukkan bola besar kepada Ryzel di layar ponsel.


Jujur saja, bola besar Maly makin menggoda dan luar bisa indah, membuat adik kecil Ryzel menjadi terbangun dan bertambah besar.


Akan tetapi, Ryzel tidak memperlihatkan adik kecilnya, dia hanya menampilkan otot bagian tubuh atas kepada Maly.


Wajahnya Maly memerah sepanjang mereka menelepon di menit-menit terakhir panggilan akan berakhir. Tubuh Ryzel lebih menggoda dari tubuhnya, dia menjadi terbayang dengan peristiwa pada malam itu. Dia ingin sekali merasakannya lagi.


“Ryzel, kalau kamu pergi ke Kamboja lagi, kamu langsung hubungi aku, ya. Aku sangat merindukanmu,” ucap Maly yang sudah sangat rindu dengan dekapan Ryzel. Suaranya begitu lembut dan penuh harapan.


Ryzel merespons dengan anggukan, ia pasti akan menghubungi Maly jika mereka masih berteman baik.


Setelah menelepon sampai jam setengah 12, Ryzel mengakhiri panggilan setelah melihat Maly tertidur di dalam layar ponsel.


Maly sudah mengenakan pakaiannya atas suruhan Ryzel, ia berbaring di atas kasur dan mengarahkan kamera ponsel ke wajahnya.


Terlihat wajah Maly yang sudah memejamkan matanya dengan suara napas yang stabil yang terdengar dari lubang suara ponsel.


“Wanita yang lucu, dia ketiduran ketika panggilan video masih berlangsung.“ Ryzel tersenyum memikirkan wajah Maly yang tertidur barusan, sangat lucu.


Melihat sudah jam setengah 12, Ryzel berpikir untuk menunggu tugas masuk dari Sistem.


Ryzel menunggu sambil bermain gim santai kucing yang memasak. Sangat cocok untuk menunggu sambil bersantai dan menikmati waktu.


Namun, saat jam di ponsel sudah menunjukkan pukul jam 12 malam, suara Sistem yang Ryzel tunggu tak kunjung datang.


“Sistem, di mana tugas masuk? Mengapa kamu belum mengeluarkan tugas masuk?“ Ryzel bertanya kepada Sistem di dalam benaknya.


[Ding! Maaf, Sistem tidak memberikan informasi bahwa tugas masuk akan dirilis malam ini.]


“Hah?“ Ryzel terkejut. “Mengapa tidak bilang dari tadi pagi, Sistem?!“


[Ding! Anda tidak bertanya.]


Ryzel merasa waktunya terbuang sia-sia. Dia kira tugas masuk akan dirilis malam ini. Dia lupa tidak menanyakan tentang hal ini kepada Sistem.


“Ya sudah. Mau bagaimana lagi, aku lebih baik tidur sekarang.“

__ADS_1


Dengan pikiran seperti itu, Ryzel mencuci wajah, tangan, dan kakinya di kamar mandi, kemudian masuk ke dalam selimut dan siap untuk pergi tidur.


Beberapa detik dia terbaring di atas kasur, Ryzel tertidur dengan senyuman di wajahnya. Hari ini keluhannya hari yang baik bagi Ryzel sehingga ia mendapatkan mimpi yang indah.


Keesokan harinya, Ryzel terbangun oleh alarm yang sudah lama diatur olehnya.


Ryzel menggosok tubuhnya di kamar mandi sampai bersih. Berdiri di depan cermin kamar mandi, Ryzel melihat sosoknya yang tampan.


Penampilannya yang sekarang masih terasa asing bagi Ryzel sendiri. Dia masih merasa sedang melihat tubuh orang lain.


Selama beberapa menit di depan cermin, Ryzel akhirnya berhasil mengubah pandangan dan pikirannya bahwa inilah dirinya sekarang, pria tampan bertubuh sempurna.


Tubuh Ryzel bisa dikatakan sempurna jika ditempatkan di antara manusia biasa. Sebetulnya, tubuh Ryzel masih jauh dari kata “Sempurna” yang sesungguhnya.


Dari segi penampilan memang sudah sangat indah dan mampu membuat para wanita jatuh cinta hanya dengan melihat tubuhnya, berbeda dari segi kekuatan yang masih kurang kuat. Hanya 2 kali lebih kuat dibandingkan manusia biasa. Belum cukup kuat.


Ryzel berjalan keluar dari kamar hotel dengan pakaian santai, yaitu celana olahraga hitam dan baju putih. Meski sederhana, itu tampak mewah apabila dipakai oleh Ryzel.


Ceklek!


Lagi-lagi suara pintu dari tempat lain terdengar saat Ryzel keluar dari kamar hotel.


Kepala Ryzel menoleh ke sekitar untuk melihat di mana sumber suara, ternyata ia melihat sosok Linh, wanita kecil dan pendek sedang menutup pintu kamarnya sendiri.


Begitu Ryzel menoleh, Linh juga tidak lama ikut menoleh, mereka berdua saling bertatapan mata selama beberapa saat.


“Mengapa menatapku seperti itu, Pria Aneh?!“


Suara Linh terdengar di telinga Ryzel. Kalimat ini membuat pagi Ryzel yang tenang dan damai langsung hancur seketika.


“Siapa yang menatap dirimu? Aku sedang melihat sesuatu yang ada di ujung lorong sana,” kata Ryzel dengan santai. Dia memasukkan kunci kamar ke dalam saku celana.


“Sesuatu?“


Wajah Linh menunjukkan ekspresi tidak mengerti, kemudian ia menoleh ke arah ujung lorong hotel karena penasaran. Alhasil, ia tidak melihat sesuatu.


Segera, rasa takut memenuhi tubuhnya dan ia mengalihkan kepalanya lagi ke arah Ryzel. Namun, sosok Ryzel sudah tidak ada di dekatnya, Ryzel sedang berjalan dan ada di kejauhan.


“Ryzel! Tunggu aku!“


Sebuah senyuman kecil terbentuk di mulut Ryzel begitu mendengar teriakan Linh. Wanita kecil ini ternyata takut dengan hantu.


Beberapa menit berselang, keduanya kini telah sampai di restoran tempat di mana mereka makan malam semalam.


Mereka berdua sedang menunggu makanan yang mereka pesan datang. Makanan yang Ryzel pesan ada yang berbeda, makanan Pho masih Ryzel pesan, tetapi ada 1 makanan lain, yaitu roti lapis khas Vietnam.


Setelah pelayan pergi usai mencatat pesanan mereka berdua, mata Ryzel mengarah ke sosok Linh. Hari ini dia terlihat lucu dan imut. Rambunya masih sama, pakaiannya berbeda, dia tidak memakai gaun anak kecil lagi, melainkan memakai kaos dan jaket yang tidak ditutup, masih terlihat rata di bagian dada, persis dengan tubuh anak kecil.


“Mata kamu melihat ke arah mana?“


Tiba-tiba suara imut Linh yang terdengar dingin muncul di telinga Ryzel.


Pandangan mata Ryzel naik, dan ia melihat wajah Linh yang sudah memasang ekspresi yang marah.


“Aku sedang melihat pakaian kamu di pagi hari ini, terlihat lucu dan cantik,” kata Ryzel tanpa ragu dan terlihat meyakinkan.


Ekspresi marah Linh mereda begitu Ryzel mengatakan itu. Matanya memindai wajah Ryzel untuk mencari tanda-tanda kebohongan dari perkataannya.


Sayangnya, Linh tidak bisa menemukan kebohongan dari wajah Ryzel. Muka Ryzel sangat santai dan terlihat meyakinkan saat mengatakan kalimat tersebut.


“Jangan melihat aku dengan tatapan seperti itu, aku merasa seperti seorang penjahat yang tengah diinterogasi oleh polisi.“


“Kamu memang penjahat, makanya aku harus mewaspadai kamu,” dengus Linh kepada Ryzel.


Ryzel tersenyum kecut. “Jika aku seorang penjahat, kamu sudah aku culik dari kemarin.“


“Memangnya kamu berani menculik aku?!“ Linh memandang Ryzel dengan mata yang tajam.


“Aku bukan seorang penjahat. Jadi, aku tidak berani menculik kamu. Dan lagi, untuk apa aku menculik kamu?“ Ryzel membalas tatapan mata Linh dengan mata yang menyipit.


“Aku cantik, bisa saja aku dimanfaatkan oleh kamu. Selain itu, bisa saja kamu menjadikan aku bahan pelampiasan nafsu bejat kamu!“


Alis Ryzel terangkat naik mendengar ucapan Linh. Dia tersenyum menahan tawa dan berkata, “Tubuh kamu seperti anak kecil, aku merasa tidak berperikemanusiaan jika menggunakan kamu sebagai bahan itu. Minim fitur.“


“Minim fitur?“ Linh memiringkan kepalanya bertanya kepada Ryzel. Dia belum tahu apa artinya ini, dan sekarang dirinya sedang berpikir.

__ADS_1


Ryzel tidak menjawab dia hanya tersenyum penuh arti, ia mengangkat ponselnya dan bermain ponsel.


Beberapa saat kemudian, Linh mengetahui artinya, dia pernah mendengar kata-kata ini, itu menjurus ke arah sana.


Bam!


Wajah Linh kembali merah dan panas, kemudian ia memukul meja satu kali.


Gerakan ini membuat Ryzel terkejut, dia langsung melirik Linh dengan wajah yang ngeri.


Melihat wajah Linh yang memerah karena marah, Ryzel meliriknya sebentar lalu dia mencolok pipi merah Linh, memastikan apakah itu pipi atau apel yang matang. Sebenarnya, Ryzel hanya bercanda.


Merasakan jari telunjuk Ryzel mendarat di pipinya, pipi merah Linh makin bertambah merah merang, tetapi dengan emosi yang berbeda.


Pupil mata Linh yang melotot langsung menjadi lemah, kemudian ia menundukkan pandangan dan kepalanya ke bawah.


Postur tubuhnya yang seperti orang marah secara perlahan berubah menjadi seorang gadis kecil yang pemalu.


“Sebenarnya, aku tidak minim fitur,” kata Linh dengan suara yang kecil tanpa berani melihat ke arah Ryzel. Kedua kakinya saling menggosok karena terlalu malu untuk mengatakan kalimat tersebut.


Telinga Ryzel sedikit bergerak, dia mendengar ucapan kecil Linh. Dalam hatinya dia sangat terkejut, tetapi dia juga ragu dengan apa yang didengarnya.


Ryzel bertanya dengan wajah yang pura-pura tidak tahu, “Kamu bicara apa tadi?“


“Anu, tidak ada. Aku tidak mengatakan apa-apa,” Linh menjawab panik sambil menggelengkan kepalanya dengan cepat.


“Sungguh? Aku mendengar kamu tadi berbicara sesuatu.“ Ryzel menatap wajah panik Linh.


“Tidak, aku sama sekali tidak berbicara. Kamu salah mendengar, suara itu bukan dari aku.“ Linh masih menggelengkan kepalanya, berusaha memasang wajah yang dapat dipercaya.


“Hmmm ….“ Ryzel memicingkan matanya dan melihat wajah kecil Linh beberapa detik, kemudian dia mengembalikan pandangan matanya ke layar ponsel.


Melihat Ryzel yang sepertinya percaya kepadanya, Linh mengelus dadanya dan mengeluarkan napas singkat.


Tak lama berselang, pelayan restoran datang bersama dengan makanan-makanan yang mereka pesan.


Aroma makanan lezat tercium di hidung keduanya dan mereka sudah tidak sabar untuk makan pagi.


Selepas semua makanan diletakkan, mereka berdua mengucapkan selamat makan dalam bahasa Inggris dan langsung memulai makannya.


Mereka masih tidak sadar bahwa mereka mengobrol selalu menggunakan bahasa Inggris.


Linh lebih dahulu menghabiskan makanannya, dia hanya memesan 1 porsi makanan, 1 gelas minuman susu, dan 1 porsi makanan penutup yang manis. Wajar saja, Linh lebih cepat menyelesaikan sarapannya ketimbang Ryzel.


Untuk menyelesaikan sarapan pagi, Ryzel harus menghabiskan 3 roti lapis daging, 2 porsi Pho, dan 2 minuman, serta beberapa makanan kecil. Makan Ryzel memilik porsi yang besar, sebab tenaga yang ia butuhkan juga besar.


Salah satu yang membuat Linh bingung adalah porsi makan Ryzel, padahal ia melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa Ryzel makan dalam porsi yang begitu banyak, tetapi tubuhnya tidak gemuk.


Jujur, Linh iri dengan tubuh Ryzel, dia juga ingin memiliki tubuh yang seperti itu, meski banyak makan tubuh tetap ramping, malah tambah sehat dan tidak obesitas.


“Hari ini kamu jadi ikut aku ke Sungai Saigon?“ Linh bertanya sambil memutarkan sedotan di dalam gelas.


Ryzel mengelap bibirnya dengan tisu dan mengangguk. Dia sudah membuat keputusan untuk ikut. Sistem tidak memberinya tugas masuk, dia bebas untuk ke mana saja hari ini.


“Boleh. Memangnya, kapan kita berangkat?“


“Jam setengah sembilan atau jam delapan. Di jam itu cocok untuk menikmati suasana indahnya air sungai.“


“Oke, aku ikut.“ Ryzel tidak keberatan pergi di jam tersebut. Tak ada kegiatan sama sekali.


Kurva terbentuk di mulut Linh dan ia mengangguk. “Baiklah, nanti aku akak mengetuk pintu kamar kamu kalau mau berangkat. Ingat! Kamu harus sudah siap saat itu.“


“Oke-oke.“


Setelah sarapan pagi di restoran hotel, mereka berdua pergi ke kamar masing-masing untuk menyiapkan diri karena ingin pergi jalan-jalan.


Di dalam kamar, Ryzel berencana memakai busana bergaya santai, tetapi terlihat elegan. Jadi, Ryzel akan mengenakan baju putih ini lalu ditutupi kemeja hitam lengan panjang, dan celananya cuma celana bahan panjang berwarna hitam, sepatunya yang sering dipakai untuk pergi ke bandara.


Melihat tampilannya di cermin, Ryzel merasa sangat tampan. Bergaya santai, tetapi tetap keren dan elegan. Kemeja hitam ini sengaja tidak Ryzel dikancingkan, baju putih yang ada di dalam dibiarkan terekspos.


Setelah semuanya sudah rapi, Ryzel mengambil salah satu tasnya dan menempatkan peralatan siaran langsung dan beberapa barang ke dalam.


Berikutnya, Ryzel keluar dari kamar dan berniat untuk menunggu Linh.


Tepat ketika Ryzel membuka pintu, dia melihat seorang gadis kecil memakai gaun hitam dan topi pantai yang didominasi oleh warna hitam, kedua tangan kecil itu memakai gelang hitam dan putih. Ini terlalu imut.

__ADS_1


“Apa kamu sudah selesai, Ryzel?“


__ADS_2