
Mendengar ucapan dari wanita ini, Amanda menatap mata wanita yang arogan ini sesaat, kemudian dia kembali duduk di kursinya dengan hati yang dongkol.
Wajahnya terlihat kesal, tetapi itu tidak terlalu kelihatan lantaran pencahayaan yang kurang.
Adapun alasan Amanda kembali duduk, dia tidak ingin mengganggu orang lain yang sedang fokus menikmati film yang sedang ditayangkan di layar lebar. Lebih baik mengalah dan mengabaikan tindakan yang begitu risih dari wanita yang duduk di belakangnya daripada membuat orang lain terganggu.
Walaupun sudah ditegur oleh Amanda, wanita ini masih tidak menurunkan kakinya dan dengan santai menonton film tanpa merasa bersalah atas tindakannya yang tidak sopan.
Banyak orang yang menyadari dan melihat tingkah wanita tersebut, tetapi mereka tidak berani untuk menegur secara terang-terangan dan langsung di depan muka.
Alasannya film masih diputar dan itu mengganggu diri sendiri serta orang lain.
Selain Amanda, Ryzel dan lainnya pun tidak senang melihat tingkah wanita tersebut, tetapi Ryzel pribadi tak menegurnya dan fokus ke film.
Untungnya, itu kursi Zia dan tubuh Zia yang kecil tidak sampai ke atas sandaran kursi sehingga kaki lancang tersebut tidak mengenai kepalanya, tidak begitu terganggu.
Bersabar dengan perilaku buruk yang diterima oleh mereka, Ryzel dan lainnya terus menonton sampai di akhir cerita ingin tiba.
Namun, tepat ketika mereka sedang fokus dan terbawa ke dalam suasana film, sebuah gerakan yang secara bertubi-tubi terasa di antara kursi mereka.
Ryzel, Amanda, Laurel, Sinta, dan Zia serta beberapa orang yang ada di kursi kiri dan kanan mereka terasa digoyang-goyang, seperti ada sesuatu yang menggerakkan sandaran kursi mereka ke depan dan belakang.
Mereka semua terombang-ambing mengikuti sandaran yang berguncang.
Kaki Ryzel yang sedang santai dan lemas segera menegang untuk menahan kursi supaya tidak bergoyang.
Dalam sekejap kursi yang Ryzel duduki berhenti berguncang karena ditahan oleh kedua kaki yang menahan ke alas bioskop dengan kuat bagaikan tiang beton di sebuah gedung.
Kaki wanita tersebut ikut berhenti secara paksa dan itu membuat kakinya sakit. "Aduh! Sakit!"
Sebuah jeritan keras terdengar di dalam bioskop membuat orang-orang yang sedang serius menonton layar lebar yang ada di depan langsung menoleh ke arah di mana suara itu muncul.
Mata semua orang seketika membidik wanita yang duduk di belakang Ryzel. Dari mata mereka semua terlihat jelas perasaan yang tidak senang dengan apa yang dilakukan oleh wanita tersebut.
__ADS_1
Pandangan mata orang-orang begitu tajam, bahkan lebih tajam daripada pisau dapur.
Melihat pemandangan ini, wanita yang tengil dan bertingkah tersebut menurunkan kedua kakinya yang masih sakit dan menurunkan wajahnya agar tidak dilihat oleh mereka semua yang ada di dalam bioskop.
Sebuah senyuman timbul di wajah tampan Ryzel ketika melihat wanita yang sangat membuatnya kesal mendapatkan sorotan tajam dari semua orang. Sebuah balasan yang pantas didapatkan oleh wanita tersebut, tetapi itu masih kurang.
Mengintip ke belakang, Ryzel masih melihat wanita ini menundukkan kepalanya tanpa ingin melihat orang-orang, tetapi seorang pria tidak takut dengan tatapan semua orang, dia melototi balik semua orang dengan mata yang hampir keluar.
Ryzel pun sempat dipelototi oleh pria ini. Bukannya Ryzel takut, melainkan tertawa kecil ketika berbalik melanjutkan film di depannya.
Amanda dan dua wanita lainnya pun tertawa kecil, mulut mereka ditutup agar tawanya terdengar oleh orang-orang yang menyebalkan dan membuat risih orang.
Usai wanita tersebut tak lagi bertingkah, kondisi di dalam bioskop menjadi damai dan tenang, seperti sedang di dalam hutan yang nyaman.
Semua orang yang ada di dalam bioskop dapat menonton sampai film tersebut habis tanpa ada gangguan.
Layar tipis yang lebar di depan mereka semua menjadi gelap dan mati menandakan film yang diputar sudah berakhir.
Orang-orang pergi untuk meninggalkan auditorium bioskop secara tertib tanpa ada yang dorong-dorongan.
"Ayo cepat keluar! Haha!"
Wanita yang memakai jaket hitam dengan rambut berponi dan diikat kuda sedang asyik mendorong teman-temannya yang berbaris untuk keluar dari area tempat duduk.
Kelihatan sekali bahwa wanita ini senang melakukan hal yang membuat orang kesal.
Teman-temannya yang didorong tersebut menabrak orang-orang yang ikut antre keluar dari ruang bioskop.
Dan itu juga berdampak kepada Ryzel dan Amanda yang juga berbaris untuk keluar.
"Aaa!"
"Aduh!"
__ADS_1
Merasakan ada yang aneh dari belakangnya, Ryzel segera memasang badan untuk menahan Zia yang sedang asyik menuruni tangga area tempat duduk.
Amanda yang terdorong dari belakang langsung menghantam punggung besar Ryzel, tubuh bagian depannya tak sengaja menempel pada punggung kuat Ryzel, membuat Ryzel dapat merasakan sesuatu yang bulat dan kenyal menghimpit punggung belakangnya.
Aksi dorong-dorongan terhenti di Ryzel dan orang-orang yang ada di belakangnya dapat kembali bangkit dan berdiri dengan normal.
Melihat Zia yang aman, Ryzel tersenyum lega, kemudian dia membantu Amanda yang memeluk tubuhnya dari belakang untuk berdiri.
"Yeay! Aku berhasil turun, Abang!" Zia berdiri di depan tempat area duduk dan berseru senang ke arah Ryzel dan lainnya.
Tepat ketika Zia melihat Ryzel, dia terlihat bingung dengan apa yang dilakukan Ryzel dan Amanda lantaran terlihat seperti orang yang sedang berpacaran.
Mengabaikan tatapan Zia, Ryzel fokus membuat Amanda berdiri dan tidak lagi memeluk tubuhnya begitu erat.
Butuh belasan detik untuk melepaskan pelukan Amanda, dan itu berhasil meski harus ada sesuatu yang terbangun.
Laurel dan Sinta juga kembali berdiri dengan saling membantu sama lain, orang-orang yang ada di belakang mereka pun sama.
Usai semuanya berdiri, mereka semua secara berbarengan menoleh untuk melihat ke lingkaran pertemanan wanita yang membuat semua orang terganggu tersebut.
Merasakan tatapan mereka semua yang menunjuk ke arahnya, wanita ini tidak takut lagi dan malah dia menatap kembali semua orang.
Temannya yang ada 4 orang, 2 pria dan 2 wanita ini juga membantu wanita yang berwajah menyebalkan melototi semua orang.
"Ada apa? Kalian tidak senang? Ingin bertarung?" Dengan arogannya kedua pria yang adalah temannya wanita yang selalu bertingkah ini menantang semua orang.
Fisik keduanya yang tinggi membuat dua pria ini berlagak mendominasi tanpa mengetahui siapa yang mereka tantang.
Mendengar tantangan ini, Ryzel segera melototi mereka berdua dengan niat bertarungnya.
Kedua pria tersebut sempat melihat tatapan tajam Ryzel, keringat segera keluar dan membasahi kening mereka. Mereka berusaha untuk menghindari kontak mata dengan Ryzel karena takut dengan sorot mata yang sangat mencekam.
Ryzel kira pria-pria ini keras, baru saja ditatap belasan detik, mereka berdua langsung meninggalkan teman-teman wanitanya dan keluar dari ruang bioskop melalui jalur lain yang seharusnya tidak boleh dilewati. Alasannya karena sulit dilalui.
__ADS_1
"Kukira keras, ternyata ...."