
Cio mendudukan Nuna dengan perlahan lalu dia berjongkok di depan Nuna
"Aku mual" Ujar Nuna dengan ekspresi menahan mual
"Mual? " Ujar Cio lalu Nuna menarik nafas dan kemudian menghela nafas nya
"Udah gak kok" Ujar Nuna lalu Cio berdiri lagi dan mencium pipi Nuna dan duduk di kursinya
Makanan langsung di siapkan oleh pelayannya dan Nuna menggengam tangan Cio
"Kenapa? " Tanya Cio yang melihat Nuna menatapnya dengan tatapan penuh arti
"Perasaan aku gak enak aja, mungkin gara-gara ke guncang tadi" Ujar Nuna
"Aku minta maaf yah" Ucap Cio sambil mengelus punggung tangan Nuna dengan jempolnya
Nuna menganggukkan kepalanya lalu Nuna malah mendekatkan kursinya lalu memeluk Cio tanpa perduli ada pelayan disana
"Kenapa? " Tanya Cio yang heran dengan Nuna bersikap manja padanya
"Gak mau jauh-jauh sama kamu" Jawab Cio dengan manjanya
"Aku heran sama tingkah kamu Chagiii, cuma hari ini loh kamu bertingkah sangat manja ke aku" Ucap Cio lalu menengok Nuna
"Kenapa? emangnya gak boleh?" Tanya Nuna pada Cio
"Gak kok, kita makan dulu yah nanti kita pelukan nya di kamar" Ucap Nuna dan Nuna melepaskan pelukan nya
Nuna membenarkan duduknya lagi lalu fokus pada makanannya
Cio menyodorkan sesendok makanan ke Nuna tapi Nuna terdiam sejenak sambil menatap sendok Cio
"Mau di manja kan? makannya aku suapin yah" Ujar Cio lalu Cio mengulum senyumnya dan menerima suapan suaminya
Nuna bahkan tidak menghiraukan lagi makanannya karena dia hanya menerima suapan suaminya
Cio ingin menyuapi Nuna lagi tapi tatapan tertuju pada kalung yang di pakai Nuna
"Kalung dari siapa? aku gak pernah kasih kalung itu" Ujar Cio lalu ingin mengambil kalung yang ada di leher Nuna
Nuna buru-buru menepisnya takut Cio akan menarik kalungnya
__ADS_1
"Ini kalung pemberian Mamah Figo, kemarin aku ketemu dia terus dia kasih ini, katanya ini kalung petanda kalau aku putri keturunan Figo" Ucap Nuna
"Kamu sudah menerima mereka? sampai menggantikan kalung pemberian ku" Ucap Cio
"Mamah maksa aku pakai, aku awalnya nolak takut kamu marah nantinya tapi pas aku tolak kelihatan banget kalau Mamah kecewa makanya aku Terima" Ucap Nuna
Cio tersenyum dan mencubit kecil pipi Nuna "Kamu gak marah kan Berci? " Tanya Nuna
"Gak kok, misalnya Pak tua itu yang paksa kamu pakai kalung itu pasti aku bakal marah tapi kalau Mamah enggak kok" Jawab Cio
"Tapi kenapa kamu gak bilang kronologi hilangnya aku? " Tanya Nuna
"Aku mau cerita bahkan udah lama Chagiii, tapi kayanya aku gak ada hak buat cerita itu ke kamu makanya aku cerita ke Mamah dan syukur nya Mamah udah cerita kan ke kamu" Jawab Cio
"Kapan kamu ketemu sama Mamah? " Tanya Nuna lagi
"Sebulan yang lalu aku ngirim pesan ke dia tanpa ketemu karena pasti pak tua itu akan ikut" Jawab Cio
Nuna mengerti maksud Cio dan tidak menyalahkan suaminya tapi dia malah berterima kasih
"Pantas aja aku tunggu kabar kamu tapi kamu kaya udah gak cari tau lagi" Ujar Nuna
"Semuanya sudah jelas Chagiii, mulai belajar Terima Mamah yah, kalau pa tua itu terserah kamu" Suruh Cio tapi Nuna malah tertawa dengan ucapan Cio
Cio kembali menyuapi Nuna sampai mereka makan sepiring berdua tapi yang lebih banyak makan adalah Nuna
"Oh Iyah aku punya kejutan buat kamu yang sudah aku janjikan ke kamu" Ujar Cio
"Besok aja yah aku mau tidur aja Berci" Ucap Nuna
"Kenapa besok? aku buatnya mahal" Ujar Cio
"Gak mau! Aku mau kekamar aja" Tolak Nuna dan Cio hanya bisa mengelus dada karena penolakan suaminya
"Kita kekamar Berciii" Rengek Nuna sambil memegangi tangan Cio bahkan menggoyangkan nya
"Iyah-iyah kita kekamar" Dan Cio mengikuti Nuna karena dia menarik tangan nya menuju kamar
Mereka sudah sampai di kamar dan Nuna tidak mengajak nya langsung tidur tapi malah ke balkon kamar mereka
"Katanya tidur" Ujar Cio
__ADS_1
"Kata Syifa malam ini bulan purnama dan aku mau liat nya sama kamu" Jawab Nuna yang menatap langit lalu Cio juga ikut menatap langit
"Kamu suka bulan? " Tanya Cio
"Sangat suka" Jawab Cio
"Andai aku bisa beli bulan itu buat kamu Chagiii" Ucap Cio
"Andai pun bisa di beli emangnya bulannya bisa dibawa? " Tanya Nuna
"Coba kamu lihat deh Berciii" Suruh Nuna dan Cio mengangguk
"Banyak orang yang sedang jatuh cinta atau bahkan patah hati pasti melihat dia, mengadu ke dia, seakan-akan dia bisa dengar dan bisa jawab gitu" Ujar Nuna
Cio tertawa kecil karena dia pernah melakukan itu ketika dia ditinggalkan Lisa pergi
"Kamu pernah yah? " Tanya Nuna dan Cio mengangguk
"Kenapa orang lebih suka bulan ketimbang matahari? " Tanya Nuna lagi
"Matahari gak bisa lihat karena terlalu terang sedangkan bulan masih sama bersinar tapi dia bersinar dengan keindahan nya" Jawab Cio lalu Nuna menatap Suaminya
"Kamu adalah bulan Chagiii buat aku" Ujar Cio lagi
"Aku bakal jadi malam supaya bisa menjadi background kamu" Ujar Cio
Nuna mendekat dirinya ke Cio lalu memeluknya dari samping
"Janji yah Berci jangan bertindak sesuatu yang bisa membuat kamu dalam masalah, aku gak mau kamu punya masalah" Ujar Nuna
"Kamu kenapa Chagiii? mood kamu lagi sedih yah? " Tanya Cio
"Mungkin, soalnya mood ku naik turun" Jawab Nuna
"Kamu berpotensi selingkuh gak Berci? " Tanya Nuna
"Kenapa tanya itu? " Ujar Nuna
"Aku takut di selingkuhin aja, apalagi umur kamu masih 18 tahun, jelas kan masih mencari jati diri" Jawab Nuna
"Mencari jati diri? apa yang ku cari? sedangkan aku sudah memiliki semuanya tanpa harus bersusah payah" Ucap Cio
__ADS_1
"Aku percaya kamu gak selingkuh" Ucap Nuna membuat Cio tertawa kecil lalu memeluk erat istrinya
Mereka berdua hanyut sambil menatap bulan yang sedang purmana bahkan Nuna tidak mau lepas seinci pun dari suaminya