
Nuna masuk ke kamar kosnya yang sudah lama dia tinggalkan dan dia menatap sekitar dan langsung duduk di ranjang kamarnya
Tatapan kosong memikirkan ucapan Pritta dan dia menatap dirinya di kaca yang memang bersebrangan dengan dirinya
"Aku sudah putus dengan Jordi dan aku sekarang adalah istri dari Berci, apa yang harus ku lakukan, aku tidak mau berlama-lama menjadi istrinya" Ucap Nuna
"Jordi dan Mamah nya juga sudah tau semuanya jika aku adalah istrinya Berci, apa yang harus ku lakukan Tuhan" Ujar Nuna lagi
"Aku benar-benar ingin bebas seutuhnya seperti dulu" Ujar Nuna dan dia merebahkan tubuh nya di ranjang nya menatap langit-langit kamarnya
"Dia bertindak dan berkata-kata seakan-akan aku yang salah padahal kenyataan nya dia yang sudah membuat semua kekacauan ini" Ujar Nuna
Nuna mulai memejamkan matanya dan dia malah tertidur pulas diatas ranjang kosannya
Disisi Cio
Cio baru saja sampai ke mansion nya dia berniat ingin pergi ke kampus dan Setelah selesai siap-siap Cio pergi lagi menuju kampsunya karena dia masuk pagi hari ini
20 menit perjalanan dia pun sampai di kampusnya, wajahnya Cio sangat datar tidak ada senyum yang singgah di bibir tipisnya dia terus berjalan menuju kelasnya ketika sudah sampai dia mencari kursi yang dekat dengan jendela, ketika sudah menemukannya dia pun duduk sambil menatap jendela
"*Baru tadi malam Nuna kamu mengakatakan ingin belajar percaya dengan ku tapi pagi ini kamu malah pergi" Batin Cio
"Apa yang kurangnya aku Nuna? Aku sudah lembut bahkan dengan cara kasar pun sudah tapi tetap kamu masih memilih Jordi itu? " Sambung Cio*
Cio tiba-tiba memukul meja dengan kuatnya sampai yang lain nya tekejut oleh sikap Cio tapi dia tidak memperdulikan sekitar nya
"Dengan hebatnya kamu hancurkan kebahagiaan ku Nuna tanpa berpikir panjang" Batin Cio
"Tapi aku juga bodoh,memaksa nya menikahi ku padahal sudah jelas di hatinya sudah ada orang lain yang pasti itu akan membuat ku sakit hati, tapi aku sudah optimis jika aku mencintai maka aku harus berani sakit hati dan patah hati" Cio membatin lagi
"Apa aku bisa membuatnya benar-benar luluh nantinya? " Tanya Cio pada dirinya sendiri
__ADS_1
Dia terus menerus membatin sampai dosen datang ke kelasnya dan dia mulai memfokuskan dirinya untuk belajar
Disisi Nuna
Nuna terbangun dari tidur pulasnya dan sekarang jam sudah menunjukkan pukul 13.09
Nuna terbangun karena perutnya lapar tapi dia baru ingat jika dia tidak memiliki uang sepeserpun
Nuna hanya tiduran sambil memegangi perutnya tapi kamarnya di ketuk oleh Pritta dan Nuna menyuruh nya masuk karena memang tidak di kunci olehnya
"Kamu dari tadi pagi tidur terus? makan dulu yuk" Ajak Pritta
"Aku gak punya uang" Jawab Nuna jujur bahkan wajahnya juga pucat
"Masih mikirin begituan? udah kaya sama siapa aja" Jawab Pritta dan dia menarik tangan Nuna agar mau duduk dan dia pun mau duduk
"Makanan disini? " Tanya Nuna lemas
"Kemana? " Tanya Nuna
"Didekat sini aja, kalau jauh-jauh bisa-bisa kamu pingsan" Ujar Pritta
"Ayok cepat Nuna" Ajak Pritta sambil menarik tangannya Nuna
"Iyah-iyah" Jawab Nuna dan mereka pun pergi berdua menuju rumah makan terdekat
Sepanjang perjalanan Nuna memeluk tangan Pritta sambil sesekali meletakkan dagunya di bahunya Pritta
10 menit berjalan dan mereka sampai ditempat makan sederhana
Nuna langsung memesan makanan yang dia mau dan duduk di kursinya sedangkan Pritta masih memesan setelahnya dia duduk
__ADS_1
Nuna sangat senang bahkan seperti anak kecil melihat makanannya sudah datang membuat Pritta tertawa melihat sikap sahabatnya itu
Pritta melihat jika ada merah-merah di leher Nuna yang baru dia sadari walaupun sudah ingin menghilang tapi tahu itu bekas apa
"Nuna leher kamu bekas apa? " Tanya Pritta pura-pura tidak tahu dan Nuna meraba lehernya
"Aku habis masuk angin terus kerokan" Jawab Nuna bohong tapi Pritta tahu jika Nuna berbohong pun tersenyum
"Kerokan? Masa bekasnya kaya bulat-bulat gitu? seharusnya kan garis-garis? " Tanya Pritta
"Kamu kemana Nuna selama hampir sebulan ini? jangan bilang kamu jadi simpanan om-om" Ujar Pritta
"Aku simpanan Om-om? kalau aku simpanan om-om pasti aku gak bakal gini" Ucap Nuna
Pritta melihat cincin yang ada di jari manis Nuna dan dia langsung meraihnya menatap nya secara dekat
"Cincin apa ini Nuna? ini berlian kan? " Tanya Pritta dan Nuna buru-buru menyembunyikan tangannya dari Pritta
"Itu cincin biasa kok bukan berlian, mana sanggup aku beli berlian" Jawab Nuna dan wajahnya terlihat sangat gugup
"Kamu bohong kan? " Tanya Pritta
"Apa sih yang buat kamu bohong? jawab aja sejujurnya" Ucap Pritta
"Aku gak bohong kok" Jawab Nuna
"Kamu mau bohongin aku tentang ini? ya sudahlah ini kan privasi kamu" Ucap Pritta dan dia kembali fokus pada makanannya yang dia cueki sejak tadi
"Misalnya dia simpanan Om-om pasti dia bakal tinggal di apartemen bukan di kos-kosan" Batin Pritta
"Tapi bekas di lehernya dan cincin itu!? apa dia sudah nikah? tapi sama siapa? kata dia ,dia sudah putuskan sama Jordi" Batin Pritta
__ADS_1
"Aku masih belum siap buat ngomong ini kesiapa pun termasuk kamu Pritta" Batin Nuna