
Malam berganti pagi
Nuna membuka matanya dan dia membalik tubuhnya tapi dia tidak menemukan Cio ada di sampingnya
Nuna mencoba duduk tapi badan nya terasa sangat sakit bahkan sangat pegal-pegal menurutnya
"Berciiii" Panggil Nuna karena Nuna takut jika Cio akan pergi
Nuna menggerakkan kakinya tapi dia langsung mengaduh karena selangkangannya sangat perih membuatnya tersentak
Nuna kembali merebahkan tubuhnya karena dia memang merasa sakit sekarang
Cio keluar dari ruang belajarnya karena dia tertidur disitu tadi malam, sambil mengucek-ucek matanya dia berjalan
Ketika matanya sudah terbuka dengan sempurna dia melihat Nuna yang sedang meringis di balik selimut, dia yang melihat itu pun langsung berlari menghampiri nya ,Cio sangat panik melihat Nuna seperti itu
"Chagiii kamu kenapa?" Tanya Cio dengan panik
"Chagiiiii" Panggil Cio karena Nuna tidak menjawabnya
"Badan ku sakit semua apalagi ************ ku" Jawab Nuna sambil kembali meringis,Cio mengusap wajahnya lalu mencium kening Nuna
"Maafin aku Chagiii" Ujar Cio
"Gara-gara aku kamu harus sakit fisik dan hati" Sambung Cio dan Nuna hanya menganggukkan kepalanya dengan pelan sambil memejamkan matanya
"Kamu gak siap-siap kuliah? " Tanya Nuna yang masih sempat nya menanyai Cio padahal dia sedang merasa sakit
"Masih lama Chagiii, aku masih bisa temenin kamu disini" Ujar Cio lembut dan dia memasukkan Nuna kedalam pelukkan nya
Cio menepuk-nepuk kepala Nuna dengan lembut supaya Nuna juga tenang
"Mau mendengarkan tentang Lisa? " Tanya Cio tiba-tiba
Nuna yang tadinya memejamkan matanya sekarang langsung melongak menatap Cio dan menganggukan kepalanya
"Tapi sudah mendingan belum sakitnya? atau mau aku panggil dokter? " Tanya Cio dan Nuna langsung menarik kuat baju Cio
"Mau cerita atau mau buat aku penasaran aja? " Tanya Nuna sambil menarik baju Cio membuat nya tertawa
"Se penasaran itu Chagiii? padahal menurutku ini bukan hal yang penting" Ujar Cio
"Bukan hal yang penting menurut kamu tapi aku cuma mau tau supaya gak ada terjadi sesuatu nantinya" Ujar Nuna
"Memangnya nanti akan terjadi apa? " Tanya Cio sambil terus mengelus rambut Nuna
__ADS_1
"Kamu memang niat cerita atau gak sih? " Ujar Nuna
"Dari tadi muter-muter aja! " Ucap Nuna dan Cio malah memejamkan matanya membuat Nuna merengek pada Cio sedangkan dia hanya tertawa
"Aku kira kamu akan marah lama dengan ku Chagii ternyata kamu sudah melupakannya" Batin Cio
"Cepat cerita malah bengong" Ujar Nuna yang pada hal dia mendengar nya
" Lisa hanya teman sekelas ku yang cerdas dan cantik "Ucap Cio membuat Nuna memanyunkan bibirnya
"Dia cantik? " Tanya Nuna membuat Cio tersenyum
"Cantikkk" Jawab Cio dan Nuna menyipitkan matanya sambil terus memanyunkan bibirnya
"Tapi lebih cantik Serena kan? " Tanya Nuna lagi
"Kenapa malah tanya Serena? kenapa gak tanya kamu? " Ujar Cio
"Aku pasti kalah sama dia" Ujar Nuna
"Tapi Lisa itu kenapa tolak kamu? " Tanya Nuna
"Mungkin aku gak asik, kan aku terlalu kaku"Jawab Cio
" Itu betul "Jawab Nuna
" Udah sampai situ aja! aku gak kuat buat tahu banyak tentang dia, biarin masa lalu itu berlalu, ya kan"Ujar Nuna membuat Cio tersenyum lagi
"Tapi nanti kalau kamu tahu sesuatu tentang Lisa kamu jangan marah yah" Ucap Cio
"Semoga gak! " Jawab Nuna dengan tatapan dalam menatap Cio
"Ada satu hal lagi yang buat aku sangat terpukul dengan Lisa, Nuna tapi aku gak bisa kasih tahu kamu" Ujar Cio dalam hati
"Masih ada yang mau kamu ceritakan? " Tanya Nuna tapi Cio hanya diam
"Maaf yah tentang pertengkaran kita tadi malam" Ujar Cio mengalihkan pembicaraan
"Gak ada kata selesai dan damai kalau salah satunya gak ada yang mau mengalah" Ujar Nuna
"Maafkan aku Chagiii" Ujar Cio lembut dan semakin memeluk Nuna
"Dewasalah Berci! dan mulai belajar tentang berbagi juga. jangan selalu menyimpan semuanya sendiri, karena kamu punya aku sekarang" Ucap Nuna
Dia menghela nafasnya dan menganggukan kepalanya pelan
__ADS_1
"Tadi malam jika seandainya aku bisa pergi, aku akan pergi dari kamu Berci! karena kamu sudah sangat mengecewakan menurutku, tapi aku menahan perasaan itu karena tidak ada gunanya juga, karena aku sudah di ciptakan untuk kamu" Ujar Nuna tapi Cio hanya diam menatap Nuna
"Ucapan kamu sangat menampar wajah ku! tapi maafkan aku rasa belum siap ku memiliki anak masih belum bisa luntur" Jawab Cio
"Apa sebab nya Berci? apa ini ada hubungan dengan Lisa? " Tanya Nuna dan dia terdiam
Sampai pintu kamarnya di ketuk, yang mengetuk adalah Intan yang menyuruh mereka turun untuk sarapan bersama
"Kita sarapan yah! aku ambilin aja" Ucap Cio dan dia ingin turun tapi dia tahan oleh Nuna
"Apa kamu masih belum mau menceritakan nya sebelum aku tahu dari orang lain dan semua ceritanya di rekayasa" Ucap Nuna
"Beri aku waktu Chagiii, aku janji akan menceritakan semuanya" Ucap Cio dan dia menepis tangan Nuna pelan dan lalu turun pergi menuju ruang makan
Cio bertemu dengan Serena dan kedua orang tuanya dan Serena yang baru datang dapur pun langsung berdiri menghalangi langkah Cio sambil celingak-celinguk di belakang Cio
"Ngapain? " Tanya Cio
"Ka Nuna mana? Kok gak ada, dia gak mau makan bareng kita? " Tanya Serena sambil mengangkat alisnya
Cio menunduk untuk membisikkan sesuatu ke Serena
"Dia gak bisa jalan! bahkan dia gak bisa bangun dari tempat tidur"Bisik Cio membuat Serena melotot karena paham maksud kaka nya
" Bisik apa sih? cepat makan sini"Ajak Intan pada kedua anaknya
Serena ingin berlari naik ke lantai atas tapi Cio dengan sigap menahan baju adiknya
"Mau kemana? " Tanya Cio
"Aku mau liat ka Nuna" Jawab Serena
"Ngapain? dia masih belum bangun jangan ganggu istirahat nya" Tegur Cio
"Masih pagi sayang, kenapa harus pada berantem sih? " Tanya Intan sambil geleng-geleng kepala
"Arbercio mana istri kamu? " Tanya Rio
"Masih di kamar Dad! biasalah kan pengantin baru pisah" Jawab Cio santai membuat Rio terkekeh sedangkan Intan hanya tersenyum
"Mom! Dad! Kaka Nuna kayanya harus di bawa kerumah sakit" Ujar Serena
"Panggil aja Hellen paling-paling dia akan tertawa nanti" Ujar Rio
"Yang dia alami Nuna wajar Serena, karena dia kan pengantin baru nanti kamu juga merasakan" Sambung Intan membuat Serena menatap tajam Cio
__ADS_1
"Main kasar ke istri itu di larang" Ucap Serena pelan pada Cio
"Kalau gak kasar gak berasa" Jawab Cio tanpa dosa tapi Serena berjalan menuju meja makan sambil menutup telinganya