
Didalam mobil Cio hanya diam melamun sambil menepuk ponselnya ke telapak tangannya
"Kenapa gua lupa buat kasih tahu sih kalau Lisa ada ngechat gua" Ujar Cio lalu memukul dahi nya
Lalu dia membuka ponselnya dan dia baru sadar jika Serena ada mengirim pesan pada nya karena dia sejak tadi tidak membuka ponselnya
Awalnya Cio tersenyum karena Serena ada mengirim pesan padanya tapi senyum itu perlahan menghilang karena isi pesannya
"Kaka! Lisa datang ke rumah sakit tempat aku dirawat, aku gak tau apa dia bakal ke indo juga"Tulis Serena
" Tapi dia bilang cuma jengkungin aku tapi gak pulang ke indo karena dia bakal pulang pas kenaikan semester "Sambung nya lagi
Cio terdiam membaca pesan dari Serena itu bahkan dia menghela nafas berat
" Gua takut pas Lisa datang, Nuna akan selalu salah paham sama gua"Batin Cio
"Siapa yang bisa bantu gua? sedangkan Serena aja masih di Singapura" Batin Cio lagi
Di sisi Nuna
Nuna masih tiduran seperti di tinggal Cio tadi sambil menahan sakit di perutnya
Nuna lalu mengambil ponselnya dan menelpon Pritta untuk menyuruhnya datang ke mansion nya
"Pritt lagi ngapain? terus dimana" Tanya Nuna lewat seberang telpon
"Aku di kos-kostan lah, kan hari ini libur buat jaga toko" Jawab Pritta
"Bisa ke mansion ku gak! ajak aja Syifa dan Wati biar seru"Ajak Nuna pada Pritta
" Mansion apaan? kamu gak tinggal di rumah? "Tanya Pritta dengan polos karena tidak tahu apa itu mansion
" Nanti aku kirim alamatnya, kamu kesini aja"Suruh Nuna tanpa menjawab pertanyaan Pritta tadi
"Oke deh, aku kesitu tunggu 1 jam lagi meluncur kok" Jawab Pritta lalu ponsel mereka mati
Nuna duduk karena dia ingin mandi lalu berjalan secara perlahan menuju kamar mandi
Sejak tadi pelayan mengetuk kamar Nuna tapi dia malah menolak semua tawaran bantuan para pelayan karena suasana hati yang sedang tidak baik
1 jam berlalu
Pritta dan 2 temannya datang, mereka padahal sudah 3 kali berputar di perumahan elit nya Nuna karena tidak percaya dengan alamat yang di berikan Nuna
Apalagi melihat mansion yang bak istana pikir mereka
"Ini beneran rumah Nuna?" Tanya Pritta
__ADS_1
"Gak tau! enggak mungkin dia kasih alamat orang? " Jawab Syifa
"Rumah suami Nuna kaya istana" Sahut Wati yang mansion besar milik Cio
"Kita tanya aja dulu" Ajak Pritta lalu dia turun dari motor nya dan mendekati pagar besar mansion Nuna
"Permisi! " Teriak Pritta dan dia terkejut bukan main ketika bodyguard tiba-tiba muncul di samping nya
"Kalian siapa? " Tanya Bodyguard pada Pritta
"Ini beneran rumah nya Nuna? " Tanya Pritta
"Benar! kalian siapa? untuk apa kesini? jika tidak berkepentingan lebih baik pergi sebelum saya usir secara tidak hormat" Suruhnya pada Pritta
"Nona muda kami tidak akan menerima tamu seperti kalian" Sambungnya
"Dih! kami malah tamu penting karena Nuna yang menyuruh kami datang" Jawab Syifa bahkan dia maju ke hadapan bodyguard itu
"Apa buktinya? " Tanya Nya
Pritta memperlihatkan bukti nomor ponsel Nuna padanya dan bahkan chat-chat mereka
5 bodyguard datang lagi dan mereka adalah bodyguard yang selalu ikut Nuna ke kos-kostan mereka
"Robbi! suruh mereka masuk! " Suruh 5 orang bodyguard yang baru datang
"Mereka sangat mencurigakan, kenapa harus disuruh masuk? " Tanya Bodyguard itu yang masih tidak percaya dengan mereka bertiga
Lalu mereka berlima lah yang membukakan pagar untuk mereka bertiga
"Kalian masuk saja, biar motor kalian kami yang urus" Suruh bodyguard yang memang sudah mengenal mereka
Syifa menjulurkan lidahnya pada Robbi yang sudah melarang mereka masuk tadi
"Makanya jangan liat penampilan Om" Tegur Wati yang sejak tadi diam
Ketika mereka masuk, mereka ternganga melihat mansion tempat tinggal Nuna
Halaman yang sangat besar seluas mata memandang berbeda dengan gang sempit kos-kostan mereka
Banyak mobil, motor mahal yang terparkir rapi yang tidak jauh dari mereka
Banyak pelayan yang sedang menyirami bunga bahkan sejak tadi bodyguard Nuna berlalu lalang melewati mereka
"Ini tempat tinggal? berarti Nuna tinggal di istana selama ini? " Tanya Wati dan Pritta, Syifa hanya mengangguk pelan
Pelayan datang untuk mengantar mereka langsung ke kamar Nuna
__ADS_1
"Mari saya antar ke kamar Nona, tapi kalian harus bersihkan kaki, tangan kalian terlebih dahulu" Suruh Mereka pada mereka
"Karena kalian harus steril sebelum bertemu Nona kami" Sambung pelayan satunya
Mereka hanya angguk-angguk saja tanda mengerti lalu mengikuti pelayan menuju ruangan kebersihan
Disisi Nuna lagi
Nuna baru saja selesai mengenakan baju santai nya tapi dia masih merasa sakit di perutnya
Pintu kamar Nuna di ketuk dan Nuna mempersilahkan masuk dan ternyata teman-temannya yang datang dengan pelayan
"Kalian jangan buat Nona semakin sakit nantinya karena kami bisa saja mengusir kalian" Tegur bodyguard yang juga ikut mengantar mereka masuk
Nuna tersenyum melihat ketiga temannya seperti tertekan lalu pelayan dan bodyguard pergi meninggalkan mereka di kamar Nuna
"Kenapa? " Tanya Nuna yang melihat teman-temannya hanya diam
"Ini yang namanya mansion? " Tanya Pritta lalu Nuna menganggukkan kepalanya
"Trauma Nuna kami kesini, seakan-akan pejahat kami di buat mereka" Ujar Syifa
"Mereka emang gitu kalau sama orang yang baru pertama kali kesini, nanti kalian biasa, mereka gak akan kaya gitu kok" Ucap Nuna
"Kalian sudah sarapan atau makan? " Tanya Nuna lalu mereka menggeleng
"Kita makan yuk! aku juga belum makan" Ajak Nuna lalu berjalan menggandeng tangan temannya
Ketiga temannya kembali diam mengikuti Nuna karena masih kagum dengan tempat tinggal Nuna yang seperti di istana
Mereka duduk dan pelayan langsung datang untuk melayani mereka berempat
Nuna tersenyum melihat ekpresi teman-temannya yang hanya diam melihat pelayan datang meletakkan sendok di sisi piring mereka
"Silahkan di makan" Suruh Nuna pada teman-temannya
Apalagi makanan yang tersaji bukan makanan seperti yang biasa mereka,Kebanyakan Daging-dagingan
"Tumis kangkung gak ada Nuna? " Tanya Pritta
"Maaf menu kami tidak menyediakan makanan seperti itu untuk Tuan dan Nona" Jawab pelayan
"Mau makan yang mana biar saya ambilkan" Tawarnya
"Aku bisa ambil sendiri" Tolak Pritta
Syifa dan Wati sudah menunjuk macam-macam makanan dan pelayan dengan tenang mengambilkan nya untuk mereka
__ADS_1
Nuna tersenyum melihat teman-temannya yang mulai berbaur tapi memang seperti itu sifat mereka yang mudah berbaur dengan lingkungan tempat mereka berada
Nuna hanya memakan roti saja karena selera makan kurang ada