
Hari sudah semakin sore bahkan malam lalu Nuna mengajak Cio pulang padahal sejak tadi Cio mengajak pulang tapi tidak di gubris olehnya
Cio menyetir mobilnya sendiri sedangkan Nuna ada di sampingnya
"Berci lampu kapan? " Tanya Nuna
"200 meter lagi lampu merah tapi gak tau nanti kita lewatin lampu merahnya atau hijau" Jawab Cio
"Oke! " Jawab Nuna lalu tersenyum sambil menggoyangkan kepalanya ke kiri dan ke kanan
Cio yang melihat istrinya seperti itu mengerucutkan alisnya lalu mencubit pipinya
"Kamu kenapa? " Tanya Cio tapi Nuna tidak menjawab nya
"Chagiii aku tanya kok gak di jawab sih? " Tanya Cio lembut pada Nuna
Di depan mereka ada lampu merah dan pas sekali jika lampu baru saja berubah menjadi merah
Cio menghentikan mobilnya lalu Nuna langsung memeluk Cio dengan eratnya, Cio yang di peluk seerat itu oleh Nuna jadi aneh
"Tumben manja gini? " Tanya Cio lalu membalas pelukannya Nuna
"Kangen kamu Berciiii" Jawab Nuna dengan manja
"Kamu gak malu kan aku peluk gini? " Tanya Nuna
"Malu kenapa? "Ujar Cio yang malah berbalik bertanya
" Kita pulang ke mansion kita yah"Ajak Nuna
"Nanti yah, kan kita belum nyampe seminggu di sana" Jawab Cio
"Tapi aku kangen rumah kita" Ujar Nuna
"Nurut yah, soalnya aku gak enak sama Mommy dan Daddy" Ujar Cio lalu Nuna mengangguk pelan dan melepas kan pelukannya karena lampunya sudah menjadi hijau lagi
"Berciiiiii kapan-kapan kita nginep di kos-kosan temen ku tadi yuk! " Ajak Nuna
"Ngapain? gak mau aku" Jawab Cio cepat
"Aku mau temenan sama mereka atau gak kamu ijinin aku buat nginap di sana yah" Tawar Nuna
"Gak boleh" Jawab Cio sambil geleng-geleng kepala
"Ih Berciiii... terus jalan keluar gimana? " Tanya Nuna sambil menatap Cio dengan tatapan puppy yang menggemaskan
"Boleh tapi harus bawa Serena biar kamu gak macam-macam" Ujar Cio dan Nuna benar-benar tidak percaya jika suaminya mengijinkannya
"Kamu gak lagi kenapa-napa kan? kok bisa ijinin aku secepat itu? " Tanya Nuna tak percaya
"Sama Serena" Tegas Cio
"Sama kamu juga boleh, kan aku punya kamar disana jadinya kita bisa tidur berdua" Ucap Nuna
"Aku cowo sendiri disana ngapain ikut disitu? " Tanya Cio
__ADS_1
"Dih! kan kamu suami aku Berci, kenapa kayagitu emangnya warga situ bakal gerbek kita kalau kita macam-macam? " Tanya Nuna
"Sama kamu aja yah tapi kalau Serena di ajak kayanya juga seru" Sambung Nuna
"Aku gak mau jauh-jauh sama kamu Berciiii sayang" Ucap Nuna dengan manjanya pada suaminya
"Chagiii aku lagi nyetir" Ujar Cio
"Kenapa?" Tanya Nuna
"Jangan kaya gitu nanti aku nyetirnya oleng" Tegur Cio
"Aku ngapain emang? perasaan aku cuma diam aja" Ujar Nuna
"Mau ke mall? " Tawar Cio mengalihkan pembicaraan juga
"Ngapain? kamu emangnya gak cape? " Tanya Nuna
"Kan tinggal ngecas nanti ke kamu kalau cape"Jawab Cio lalu dia tersenyum nakal membuat Nuna geleng-geleng
" Mau gak? "Tanya Cio lagi
" Terserah kamu"Jawab Nuna
"Berciii" Panggil Nuna
"Hmmm? " Jawab Cio
"Kamu punya trauma? " Tanya Nuna
"Kamu gak mau cerita? " Tanya Nuna
"Misalnya kamu tahu tentang aku. bukankah sebaiknya kamu jaga jangan kamu ungkit" Jawab Cio
"Maaf" Ujar Nuna pelan
"Maaf buat apa? Kamu gak salah" Ujar Cio lalu mengelus rambut Nuna
"Tapi ucapan kamu kaya marah tadi" Ucap Nuna sambil memanyunkan bibirnya
"Engga Chagiii" Jawab Cio lembut
"Berci kamu bakal marah kalau ngapain? " Tanya Nuna lalu mengembungkan pipinya
"Jangan pernah pergi dari aku Chagii karena aku bakal marah" Jawab Cio
"Aku gak akan pernah bisa marah ke kamu kayanya tapi kamu jangan pergi yah" Sambungnya Cio lagi lalu dia menoleh menatap Nuna sebentar dan kembali menatap jalan lagi
"Misalnya aku selingkuh kamu gak marah? " Tanya Nuna dengan polosnya
"Selingkuh dengan siapa? selingkuh aja tapi kamu harus bisa cari yang lebih dari aku" Ujar Cio lalu dia tertawa kecil
"Itu aku gak bisa lakuin" Ucap Nuna dan Cio langsung tertawa sampai matanya menghilang karena tertutup kelopak matanya
"Aaaaaa Berciii hentiiin mobilnya" Suruh Nuna dengan manja bahkan menarik-narik celananya Cio
__ADS_1
"Ngapain? " Tanya Cio
"Hentiiii Berciiii" Suruh Nuna dan Cio mau tidak mau menepikan mobilnya lalu Nuna langsung memeluknya dari samping bahkan sambil memejamkan matanya
"Aku pergi kemana? aku selingkuh dengan siapa Berciiii? 2 hal yang bisa aku lakukan dulu tapi sekarang engga karena aku udah terikat dengan kamu" Ujar Nuna
"Tunggu! Ini beneran istriku? " Tanya Cio tak percaya lalu Nuna melongak menatap Cio
"Emangnya siapa? Lisa? " Jawab Nuna lalu Cio memeluk kepala Nuna sambil tertawa
"Kok ke Lisa sih? aku kan cuma tanya, Oh yah kamu terikat kenapa? " Tanya Cio mengalihkan pembicaraan
"Kamu berhasil buat aku luluh Berci tapi sayangnya kamu belum bisa buat kita makin bahagia" Ujar Nuna
"Emangnya ke bahagiaan kita kurang? coba bilang apa? " Tanya Cio
"Aku mau punya bayi" Jawab Nuna
"Mau bayi? sedangkan aku dekat sama anak kecil tadi aja kamu cemburu apalagi nanti udah punya anak" Ujar Cio
"Ihh gak kok, kan anak kita ngapain juga cemburu sih" Ujar Nuna
"Kita jalanin dulu yah" Ucap Cio
"Sampai kapan? " Tanya Nuna cepat tapi Cio diam lalu Nuna mencubit dada Cio dengan kuatnya sampai dia mengaduh ke sakitan
"Chagiiii kok di cubit? " Tanya Cio sambil mengelus bekas cubitan Nuna
"Kamu ngeselin, aku tanya malah diam" Ujar Nuna
"Genapin pernikahan kita 1 tahun yah nanti kita rundingin lagi" Ucap Cio
"Gak bisa" Ucap Nuna sambil geleng-geleng kepala
"Aku mau hamil" Pinta Nuna seperti anak kecil
"Aku mau hamil Berciiiu" Rengek Nuna seperti anak kecil
"Ngapain punya bayi lagi sih? kalau depan ku aja ada bayi yang lagi ngerengek" Ujar Cio sambil tersenyum
"Bikin aku hamil aja gak mau, ngeselin" Ucap Nuna lalu melepaskan pelukannya dan bersandar di bangku mobil
Cio mendekat kan wajahnya ke telinga Nuna "Karna kamu cantik kan ku beri segalanya apa yang ku punya" Nyanyi Cio sampai Nuna tersenyum mendengar nyanyian Cio
"Cieee senyum" Ejek Cio lalu mentoel pipi Nuna
"Udah gede masa kaya anak kecil? " Ujar Cio
"Ngeselin" Jawab Nuna
"Sayanggggggg" Panggil Cio dengan lembut tapi pelan di telinga Nuna sampai dia merinding mendengar suara Cio
Nuna menoleh dengan perlahan menatap Cio di sampingnya dengan tatapan tak percaya
"1 tahun lagi kita bakal punya anak yah" Pinta Cio lalu dia mencium pipi Nuna tapi Nuna tetap diam
__ADS_1
"Gimana mau marah atau ngambek sedangkan suaranya aja kaya gitu bikin gak bisa marah" Batin Nuna