
Jam sudah menunjukkan pukul 22.01 Nuna berlari sambil menarik tangan Cio untuk membeli kembang api karena memang moment ini yang dia tunggu sejak tadi
Cio mengikut saja begitupun dengan ketiga temannya
Nuna membeli beberapa kembang api setelah nya dia mencari tempat duduk berdua dengan Cio sedangkan Syifa, Pritta dan Wati memisah tapi jaraknya masih dekat
"Gimana cara hidupin nya? " Tanya Cio yang bingung sambil memegang kembang api
Anak buah Cio datang lalu menghidupkan nya untuk Cio padahal Nuna bisa saja tapi Cio memilih untuk meminta bantuan pada anak buahnya
Nuna tertawa melihat Cio yang ketakutan dengan kembang api ditangannya karena dia takut terkena percikan nya
"Itu gak papa Berciii, gak sakit kok" Ujar Nuna
"Api pasti nyakitin Chagiii, mana ada api gak nyakitin? " Ujar Cio berusaha menjauhkan kembang apinya
"Gak papa kok" Ujar Nuna lalu menarik tangan Cio agar kembang apinya dekat
Dan benar saja jika percikan nya sama sekali tidak sakit dan Cio keheranan
"Gak sakit kan? " Tanya Nuna
"Kok bisa gini? " Tanya Cio yang baru tahu
"Kamu sih ngeyel" Ujar Nuna dan Cio mulai menikmati kembang api yang ada di tangannya begitu pun dengan Nuna
Nuna menyandarkan kepalanya di bahu suaminya sambil tersenyum menatap Cio
"Apabila gak sama kamu kaya dunia gak ada indah Berciii" Ujar Cio
"Benarkah?" Tanya Cio tersipu malu
Nuna mencium pipi Cio di depan umum itu dan Cio tertawa saja dengan sikap Nuna
Wajah Cio memerah karena ulah Nuna yang menciumnya
Syifa, Wati dan Pritta melihat kemesraan Cio dan Nuna hanya tersenyum masing-masing
"Ngerasa gak kalau Nuna emang bahagia? " Tanya Pritta
"Begitupun suaminya, kaya mereka sederhana tapi saling melengkapi, bisa buat ke bahagian bersama gitu" Ujar Syifa
"Aku sering ikut Nuna dengan Jordi dulu tapi gak kaya gini, malah disini Nuna kelihatan banget agresif nya kaya dia gak ada rasa canggung apalagi takut buat ngungkapin perasaannya buat suaminya" Sambung Wati
"Gua senang liat Nuna kaya gini gak kaya dulu, dia selalu ngelamun bahkan nangis" Ucap Syifa
__ADS_1
"Tapi tunggu, aku udah gak pernah liat Jordi lagi loh, bahkan di tempat tongkrongan nya kan gak jauh dari tempat kerja ku" Ucap Pritta
"Mungkin dia nge hilang pas dengar Nuna udah nikah" Ucap Syifa tapi matanya masih menatap kemesraan Cio dengan Nuna
"Nuna juga hampir gak pernah nyebutin Jordi lagi, dia benar move on dari Jordi? wah hebat dong" Ujar Wati
"Emangnya apa sulitnya buat lupain Jordi? apalagi dia udah dapat gantinya kaya Qio" Ujar Syifa
"Cioooo" Ujar Pritta dan Wati bersama-sama membenarkan kata-kata Syifa
"Iyah itu"Jawab Syifa
Disisi Nuna
" Bercii kalau kita berantem hebat kaya dulu bisa gak kamu jangan pergi tapi kamu bujuk aku sampai aku berhenti marah"Ujar Nuna yang awal menatap langit lalu menatap Cio
"Memangnya kita akan berantem? " Tanya Cio menatap Nuna dengan kepala miring
"Bahkan hampir setiap hari aja yang kita debatkan"Ujar Nuna
" Aku takut nanti kamu pergi dengan keadaan marah terus malah kamu kenapa-napa"Sambung Nuna
"Kenapa-napa gimana?" Tanya Cio
"Misalnya masuk kerumah janda pirang gitu" Jawab Cio dengan ekspresi wajahnya yang menggemaskan bagi Cio
"Aku emang suka yang lebih tua tapi gak harus janda juga kan" Ujar Cio lalu dia mencubit kedua pipi Nuna dengan gemas
"Aku takut Chagiii malah takut kamu yang akan pergi nanti" Batin Cio
"Aku gak akan pergi ke mana-mana" Ujar Nuna menjawab suara hati Cio
"Kamu dengar? " Tanya Cio
"Aku dengar" Jawab Nuna yang masih memeluk Cio
"Seperti nya aku harus hati-hati bicara nanti" Ujar Cio tapi Nuna hanya mengangguk pelan bahkan matanya terpejam
"Cuma ngangguk? " Tanya Cio lalu menengok Nuna
"Kamu ngantuk? " Tanya Cio sambil merapikan anak rambut Nuna
"Hmmm" Jawab Nuna
"Kita pulang yah" Ajak Cio
"Iyah"Jawab Nuna
" Gendong Berciii "Pinta Nuna dengan manja pada suaminya
__ADS_1
Cio langsung menggedong Nuna seperti monyet sedangkan Nuna menyandarkan kepalanya di bahu Cio
Cio berjalan cepat menuju mobil dia juga meminta di setirkan oleh anak buahnya karena Nuna tidak mungkin tidur di kursi depan
Sedangkan teman-temannya Nuna juga di antar oleh anak buahnya Cio karena mereka datang dengan ojek online
Nuna masih belum sepenuhnya tidur tapi sudah terpejam dengan rapat
"Sudah tidur? " Tanya Cio
"Belumm"Jawab Nuna dengan pelan, Cio tersenyum melihat Nuna
" 2 hari lagi kita pulang ke mansion kita atau ke mansion Mamah Figo? "Tanya Cio dan Nuna yang mendengar itu membuka matanya secara perlahan
" Jika kita kesana pasti pak tua itu akan berusaha buat kita pisah"Ujar Nuna
"Aku dengar semu rencananya pas kita ketemu malam itu" Sambung Nuna
"Kalau mau, mereka aja yang nginep di mansion kita dan itu juga cuma Mamah bukan buat pak tua itu" Tambah Nuna lagi
"Gitu yah? Syukurlah ke mampuan kamu bisa jadi pencegah" Ucap Cio tapi Nuna kembali memejamkan matanya
Cio memeluk Nuna dengan sambil sesekali mencium pucuk kepala Nuna
"Apa aku gak baik sampai pak tua itu ingin memisahkan kita? " Batin Cio
"Kamu terbaik Bercii" Jawab Nuna pelan
"Tidur aja gak usah jawabin aku" Suruh Cio tersenyum
"Gimana mau tidur kalau kamu berisik banget" Ucap Nuna
"Iyah-iyah aku diam" Ucap Cio mengalah
45 menitan di perjalanan, mereka pun sampai di mansion Mommy Intan dan Daddynya Rio
Cio menggedong Nuna yang memang sudah tertidur dengan lelapnya, bahkan dia berlari kecil menuju kamarnya
Dia sampai di kamar lalu Cio meletakkan dengan perlahan bahkan takut Nuna akan terbangun
Cio melepaskan jaket dan sepatu Nuna lalu menyelimuti nya, dia juga memberikan ciuman selamat tidur pada Nuna
"Good night istriku" Ujar Cio lalu dia kekamar mandi untuk membersihkan dirinya karena memang dia belum mandi sejak dia datang kuliah tadi
Cio berdiri di depan cermin besar yang ada di kamar mandinya
"Aku mencintai Nuna tapi aku takut jika Lisa datang" Ujar Cio
"Yang di katakan Nuna benar, ketakutan ku memiliki anak itu karena aku belum bisa menerima semua kenyataan yang di buat lisa, dan sama saja jika aku masih menyimpan lisa di hati ku" Ujar Cio lagi
__ADS_1
"Aku harus bisa melupakan Lisa gak boleh tersisa dan gua juga harus jadi suami yang baik buat keluarga gua" Ujar Cio lalu dia mencuci wajahnya