
Hari sudah malam
Tapi Nuna malah mengajak Cio jalan-jalan halaman mansion nya
"Maaf yah aku berani nya jalan-jalan disini aja kalau malam" Ujar Cio
"Gak papa" Jawab Nuna sambil terus berjalan memeluk tangan Cio dengan manjanya
"Waktu kecil aku suka banget sama malam karena bisa liat bulan dan bintang" Ujar Nuna
"Aku pernah mikir dulu kalau di bulan itu ada manusia kaya kita juga tapi selalu gede kok aku bodoh banget yah dulu Berci, kamu dulu pernah mikir apa tentang malam? " Tanya nuna
"Mengerikan" Jawab Cio
"Hanya gelap yang ku pikirkan jika malam" Sambung Cio
"Jadi korban pengeroyokan bahkan penculikan itu masih buat aku teringat sampai sekarang tapi di biarkan di gelapan itu yang buat aku gak bisa lupa kejadian itu" Ucap Cio lagi
"Mereka jahat" Ujar Nuna
"Kalau boleh tau jika seandainya kamu gak sama aku pasti bakal sama lisa kan? " Ucap Nuna
"Jelaslah" Jawab Cio dia tertawa
"Kamu sangat baik tapi bukannya kata kamu dia sudah pernah hamil tapi kemana anaknya? " Tanya Nuna
"Dia melakukan Aborsi sebelum" Jawab Cio
"Aku baru tau juga sih karena dia sudah tolongin aku kemarin kami jadi teman" Ujar Cio
"Kamu gak papa kan? " Tanya Cio
"Aku percaya kamu kok" Jawab Nuna lalu dia tersenyum pada Cio
"Kamu gak cemburu kaya dulu lagi kan? " Tanya Cio dan Nuna mengangguk
"Ngapain cemburu sih? kamu aja sama dia gak ngapa-ngapain kan? santai aja aku" Ujar Nuna
"Iyah" Ucap Cio
Nuna menghentikan langkah lalu dia melongak menatap langit, Cio mengikuti Nuna dengan ikut menatap langit
"Terimakasih tuhan karena sudah menghadirkan laki-laki yang sedang menggenggam tangan ku ini dan juga putri kecil yang sedang ku kandung ini ke dalam hidup ku yang selalu di penuhi kesepian" Ujar Nuna
"Aku hanya meminta padamu sedikit lagi" Ujar Nuna dan dia menatap Cio, tatapan mereka bertemu
"Kebahagiaan saja yang menghadiri kehidupan kami sampai maut yang memisahkan kami" Ucap Nuna dan dia tersenyum
Cio menatap langit lagi "Terimakasih untuk tuhan pencipta alam semesta yang menciptakan semuanya dengan tangannya yang hebat" Ujar Cio
__ADS_1
"Dan juga menciptakan wanita cantik dan hebat yang sedang ku genggam tangannya dan putri kecil yang sedang di kandung nya" Ucap Cio
"Kami sudah terlalu banyak di uji sampai sini dan aku juga meminta pada mu, sisanya hanyalah kebahagiaan dan keharmonisan dalam rumah tangga kami" Ucap Cio dan dia menatap Nuna
"Jangan ambil mereka dari ku karena engkau tahu apa yang paling membuatku menderita" Ucap Cio lagi
"Love you suamiku Arbercio Dirgantara Wijaksono"Ujar Nuna
" Love you more istriku Nuna Brisia Dirgantara Wijaksono "Jawab Cio dan mereka berpelukan di bawah bulan yang sedang bersinar dengan terangnya
Disisi Serena
Serena seharian di kamarnya dan ketika dia ingin membuka pintu dia terkejut bukan main karena melihat seseorang yang berdiri didepannya
Dia adalah King bahkan dia membawa sebuket bunga di pelukannya
"Kaka beneran pulang? " Ujar Serena tak percaya
"Demi kamu" Ucap King dan Serena ingin menutup pintunya tapi King menahannya
"Jangan di tutup! " Larang King dengan wajah seriusnys
"Kenapa? ini pintu kamar ku kenapa kaka larang aku? " Ujar Serena
"Kamu alasan saya pulang Serena, kenapa kamu malah seperti ini" Tanya King kecewa
King tak mau ambil pusing ucapan Serena dia tetap tersenyum sambil menyerahkan buket bunga yang memang dia bawa sejak tadi
"Terima baru saja akan pergi" Ujar King
"Aku gak butuh bunga! " Ucap Serena tapi King tetap memaksa Serena mengambilnya
Serena pun mengambilnya dan menatap King yang tersenyum tipis
"Kalau gitu saya permisi" Ijin King dan dia sudah ingin pergi tapi Serena menahannya
"Kaka ngapain lakuin semua ini? aku bakal terus tolak kaka kalau kaka jadikan aku pelampiasan" Ucap Serena dan King membalik tubuhnya karena dia membelakangi Serena
"Saya tidak menjadikan kamu pelampiasan Serena, saya hanya melakukan hal yang saya ingin kan" Jawab King
Serena diam menatap wajah King yang ada di depannya dan King mengelus rambut Serena
"Oh yah Serena kamu kan mau saya belikan mansion dengan komplek nya sekalian? saya sudah dapatkan dan saya akan pulang untuk membicarakan tentang apa yang saya bicarakan ke kamu di telpon tadi dengan keluarga saya" Ujar King dan Serena melotot sempurna bahkan biji matanya ingin keluar karena sangkin terkejut nya
"Kaka gak ngelawak kan? " Tanya Serena tak percaya
"Mau berkenalan lagi dengan ku?apa kamu masih tidak percaya dengan ku? " Tanya King
"Aku baru 19 tahun dan gak mungkin kalau aku menikah sebab aku belum siap" Ujar Serena
__ADS_1
"Saya akan tunggu sampai kamu siap" Ucap King
"Gak akan siap! aku gak mau nikah sama kaka apalagi kaka itu keluarga ku sendiri" Ucap Serena
"Aku juga bilang begitu kemarin tapi sekarang kita memang harus buat keluarga baru " Ucap King
"Kaka terlalu berpikir jauh, aku masih polos jangan rusak aku" Ucap Serena dan King tertawa sampai ter geleng-geleng
"Saya permisi" Ujar King lagi dan dia benar-benar pergi meninggalkan Serena yang masih terdiam
King bertemu dengan Daddy Rio dan Mommy Intan di belakang King ada Serena yang sedang berlari mengejar King
"Bagaimana King? " Tanya Daddy Rio
"Bunga ku di terima om" Jawab King dan Serena sampai, dia berdiri di samping dengan bunga yang masih di pelukannya
"Mansion kita akan sepi Ay karena anak-anak kita akan tinggal dengan pasangannya" Ujar Daddy Rio
"Apa maksud Daddy? jangan bilang Daddy juga mengiyakan apa yang di rencana kan Ka King? " Tanya Serena
"Memangnya kenapa? bukannya ini memang keinginan kita sejak lama? " Ujar Mommy Intan
"Mommy! Daddy" Rengek Serena seperti anak kecil
"Aku gamau nikah sekarang" Tolak Serena
"Tunangan saja dulu " Ujar King
"Kaka diam! " Suruh Serena
"Pokoknya gak mau ada ikatan sama ka King" Tolak Serena
"Memangnya kenapa?Bukankah saya lebih baik dari Di go mantan kekasih kamu itu" Ujar King
"Kaka jangan kepedean" Ucap Serena
"Saya pede karena saya benar" Ujar King
"Daddy jangan restuin aku sama ka King " Rengek Serena
"Kita liat nanti saja Serena" Ucal Daddy Rio
"Daddyyyyyyyy" Rengek Serena
"Gak mau" Ujar Serena
King tersenyum menatap Serena dengan tatapan hangatnya
"Jangan menatap ku seperti itu" Ujar Serena dan King hanya terkekeh pelan
__ADS_1