
Sebelumnya Billal sudah diberitahu oleh Jenny kalau pulang hari ini. jadi sore ini sepulang kerja Billal langsung mengajak istrinya ke bandara untuk menjemput Jenny beserta suami dan anaknya.
Setelah mendengar teriakan Gita, gadis kecil yang sangat ia rindukan. Billal segera menggendong gadis imut itu dengan menghujani beberapa ciuman di pipi gembulnya. Lidya juga begitu, karena memang sebelumnya Gita sudah sangat dekat dengannya, dia juga bergantian menggendong Gita.
“Terima kasih, Om. Sudah menyempatkan waktu untuk menjemput kami.” Ucap Jenny sambil berjalan menuju parkiran mobil.
“Nggak masalah. Aku sudah tidak sabar ingin bertemu gadisku ini.” jawab Billal sambil mencubit pipi Gita yang sedang dalam gendongan Lidya.
“Memangnya yang sedang gendong Gita sudah tidak gadis lagi, ya?” ucap Jenny frontal.
“Memang bukan.” Jawab Billal datar sambil merangkul pundak istrinya.
Jenny hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah pasangan beda usia di depannya seperti remaja yang baru saja mengalami pubertas. Terlebih Omnya. Tapi jujur Jenny sangat bahagia akhirnya Omnya sudah bisa melabuhkan hatinya pada seseorang yang sangat tepat.
Kini mereka semua sudah berada di mobil Billal. Billal tidak langsung mengantar Iqbal dan Jenny pulang, melainkan mengajaknya makan malam terlebih dulu. Sejak tadi Gita juga masih betah dalam gendongan Lidya. Mungkin anak itu juga sangat merindukan Lidya karena sudah lama tidak bertemu.
“Apa Om tidak berencana mengadakan pesta pernikahan?” tanya Jenny saat mereka sedang menunggu pesanan makanannya datang.
“Menurutku tidak perlu, lagipula ini juga bukan pernikahanku yang pertama. Yang terpenting aku sangat bahagia bisa bersanding dengan wanita seperti Lidya.” Jawab Billal sambil memegang lembut tangan istrinya.
Sebenarnya bukan itu alasan Billal tidak mengadakan pesta pernikahan. Tetapi Lidya sendiri yang tidak mau. Wanita yang terbiasa hidup sederhana itu tidak ingin mengadakan pesta pernikahan megah. Yang terpenting baginya adalah kehidupannya menjalani rumah tangga yang bahagia.
“Ya sudah, kami juga selalu mendoakan kebahagiaan untuk kebahagiaan rumah tangga kalian.” Iqbal menimpali.
Kini pesanan makanan mereka sudah datang. Mereka berempat segera menikmati makanan itu. Sedangkan Gita hanya asyik menonton film anak pada ponsel Daddy-nya.
Selesai makan, Billal mengantar Iqbal dan Jenny pulang ke rumahnya. Dia pun segera pulang ke apartemennya tanpa ikut masuk dulu ke rumah Iqbal, karena Billal tahu kalau keponakannya pasti kelelahan setelah melakukan perjalanan jauh.
Sekarang Billal dan Lidya sudah tiba di apartemennya. Lidya segera menyiapkan air hangat untuk suaminya, karena memang Billal tadi belum mandi sepulang dari kantor.
“Mas, air hangatnya sudah aku siapkan.” Ucap Lidya pada Billal yang sedang sibuk membalas pesan dengan seseorang.
__ADS_1
“Mas mau mandi sekarang atau nanti?” tanya Lidya karena Billal masih sibuk dengan ponselnya.
“Eh, iya ada apa? Maaf aku sedang membalas pesan asistenku.” Tanya Billal sembari meletakkan ponselnya dan berdiri menghampiri Lidya.
Sontak saja Lidya memundurkan kakinya pelan saat melihat suaminya terus menatap matanya dengan intens. Jujur sampai saat ini Lidya masih gugup jika memandang mata sang suami secara langsung seperti itu.
“Kenapa kamu gugup? Apa kamu tidak keberatan jika memandikan suamimu ini?” bisik Billal sambil menyibak pelan rambut Lidya yang menutupi telinga.
“Ak..aku sudah mandi, Mas. Nanti bajuku basah.” Jawab Lidya sambil membuang muka.
“Nggak usah pakai baju, Sayang.” Jawab Billal lalu mengecup bibir Lidya.
Billal segera membopong tubuh mungil istrinya dan masuk ke kamar mandi. dengan gerakan cepat Billal melepas bajunya sendiri setelah itu baju Lidya. Setelah itu dia mulai melumaat bibir Lidya dengan posisi masih berdiri di samping bathtub.
Kini keduanya sudah berada di dalam bathtub. Semua yang dikatakan oleh Billal yang meminta istrinya untuk memandikannya hanyalah kebohongan belaka. Pria itu justru yang memandikan istrinya. Lebih tapatnya memandikan sambil melakukan sesuatu yang bisa membuat istrinya hanyut dalam kenikmatan.
Lidya selalu merasakan gejolak yang aneh dari tubuhnya setiap kali Billal mennyentuhnya. Billal benar-benar pemain yang handal jika berhubungan dengan hal seperti itu.
“Mas!!!” rintih Lidya dengan nafas pendek saat dia sudah mulai akan mencapai klimaksnya.
******* panjang akhirnya lolos juga dari bibir Lidya diiringi dengan keluarnya cairannya yang kini bercampur dengan air hangat dalam bathtub itu. Billal memberi lumattan singkat pada bibir Lidya lalu segera mengangkat tubuhnya dan membawanya ke bawah guyuran air shower.
Mereka berdua berpacu dalam kenikmatan dengan gaya dan posisi berganti-ganti. Lidya yang awam berusaha menyeimbangi permainan sang suami. Billal juga dengan sabar mengajari sang istri.
“Tidurlah, pasti kamu sangat capek!” ucap Billal sambil menyelimuti tubuh istrinya setelah menyelesaikan pergumulan panjang itu.
“Kamu mau kemana, Mas?” tanya Lidya saat melihat Billal beranjak dari tidurnya.
“Aku akan ke ruang kerja sebentar.” Jawab Billal, namun tangannya berhasil dicekal oleh Lidya.
“Jangan kemana-mana. Disini saja temani aku tidur.” Ucap Lidya dengan suara manja nan lirih.
__ADS_1
Billal pun akhirnya menuruti kemauan istrinya. Dia juga sangat gemas melihat tingkah manja sang istri yang jarang sekali Lidya tampakkan. Akhirnya Billal ikut tidur sambil memeluk istrinya.
***
Pagi ini Iqbal sudah mulai beraktivitas kembali ke kantor setelah seminggu mengambil cuti liburan ke luar negeri. Dan hari ini juga ia akan memberitahukan pada Farah dan Galang ikalau kepemimpinan perusahaan akan ia serahkan pada Galang. Iqbal sudah mantap akan membangun usahanya sendiri mulai dari nol dengan dukungan dan doa dari istrinya.
“Sayang, aku berangkat dulu ya. Kamu di rumah saja kan hari ini?” ucap Iqbal sebelum pergi ke kantor.
“Iya, Mas. Hari ini aku akan di rumah saja menemani Gita.” Jawab Jenny.
Setelah itu Iqbal mencium kening istrinya dan segera pergi ke kantor.
Beberapa saat kemudian mobil Iqbal sudah sampai di depan kantor. namun dia melihat kerumunan beberapa satpam dan beberapa karyawannya. Iqbal tidak terlalu mau tahu. Dia segera melajukan mobilnya menuju basement. Namun tanpa dia sadari saat dirinya sudah keluar dari mobil, ada seseorag yang tiba-tiba memeluknya dengan erat.
“Iqbal!! Iqbal, Sayang. Aku kangen banget sama kamu. Aku sampai gila mencari keberadaan kamu.” Ucap seorang waanita yang Iqbal sangat hafal dengan suara itu.
Iqbal menutup hidungnya rapat saat dia sudah melepaskan diri dari pelukan Danisa dan melihat wanita itu.
Baju lusuh, rambut berantakan, wajah kusam, dan bau badan yang sangat menyengat. Iqbal ikut prihatin melihat keadaan Danisa yang sudah berubah drastis. Wanita itu ingin memeluk Iqbal kembali namun dengan cepat seorang satpam berhasil mengamankannya.
“Saya minta maaf, Tuan. Wanita gila ini seringkali berdiri di depan gerbang kantor dan selalu berteriak minta masuk.” Ucap satpam itu.
“Cepat bawa pergi dia dari sini. jangan sampai kembali lagi masuk kantor ini. aku nggak mau kejadian seperti ini terulang kembali.” Ucap Iqbal dengan nada tegas, lalu meninggalkan satpam itu yang masih kesusahan mengamankan Danisa.
“Iqbal! aku cinta kamu. Jangan pergi Iqbal!!” teriak Danisa diiringi dengan tawa yang begitu nyaring, namun Iqbal mengabaikannya.
.
.
.
__ADS_1
*TBC
Happy Reading‼️