Suami Yang (Tak) Dianggap

Suami Yang (Tak) Dianggap
Eps 104


__ADS_3

Hari ini Iqbal sangat pusing. namun bukan pusing yang sesungguhnya. Iqbal semakin heran dengan sikap istrinya yang menurutnya telah berubah 180 derajat. Seperti pagi ini, sebelum dirinya pergi ke kantor, Jenny tiba-tiba meminta agar suaminya mengganti kemeja dan juga jasnya. Iqbal yang sudah terburu-buru terpaksa harus menahan kekesalannya. Dan harus mengikuti permintaan sang istri daripada Jenny marah-marah yang berujung dirinya tidak mendapatkan hak dan kewajibannya seperti dua hari yang lalu.


“Mulai sekarang Mas jangan lagi memakai parfum ini. kenapa masih dipakai sih? Bukannya aku sudah bilang, aku nggak suka bau parfum ini, Mas?” ucap Jenny sambil membantu memakaikan kemeja untuk Iqbal.


“Iya, maaf. Nanti pulang dari kantor aku akan beli parfum baru.” Jawab Iqbal.


“Tidak. Tidak boleh. Mas harus memakai parfum yang sama dengan milikku. Dan semua parfum kamu ini akan aku berikan pada Om Billal.” Jawab Jenny penuh penekanan.


Iqbal lagi-lagi harus menahan kekesalannya. Bagaimana mungkin dia memakai parfum milik istrinya yang baunya sangat feminim itu. Bahkan pernah sekali dia sempat ditertawakan oleh Galang saat pria itu tak sengaja mencium bau parfum yang melekat pada kemejanya.


“Kenapa Mas diam saja? Mas nggak suka dengan bau parfumku?” tanya Jenny dengan suara sendu, bahkan air matanya sudah keluar begitu saja.


“Nggak gitu, Sayang. Aku suka kok dengan bau parfum kamu. Sudah, ya jangan nangis begini. Maafkan aku.” ucap Iqbal sembari memeluk tubuh Jenny dan menenangkannya.


Akhirnya Iqbal pergi ke kantor dengan kemeja baru dan pastinya dengan bau parfum milik istrinya. Iqbal yang pembawaannya dingin dan datar jika berhadapan dengan orang lain, hal itu dia manfaatkan untuk tetap menjaga imagenya walau orang lain akan menertawakannya karena bau parfumnya khas milik wanita.


“Ya sudah aku berangkat dulu ya, Sayang.” Pamit Iqbal mengecup kening istrinya.


“Ingat, nanti pulangnya jangan telat. Karena malam ini aku mengundang Om Billal dan istrinya untuk makan malam bersama.” Ucap Jenny dengan suara yang lagi-lagi menurut Iqbal penuh dengan ancaman.


“Iya, Sayang. Aku akan pulang tepat waktu.” Jawab Iqbal tersenyum.


Iqbal pun segera pergi ke kantornya. Pagi ini dia terpaksa mengundur jadwqal meetingnya dengan beberapa staff penting di perusahaannya karena ada gangguan sedikit dari sang istri.


Sesampainya di kantor, Iqbal langsung masuk ke ruangan meeting. Disana sudah ada beberapa karyawannya yang sudah menunggu kedatangannya. Termasuk Galang, yang kini sedang menajlin kerjasama dengan perusahaan Iqbal.


Galang menahan tawanya saat melihat Iqbal baru saja duduk di kursi tepat di sebelahnya. Galang lagi-lagi mencium aroma parfum wanita yang menempel pada kemaja yang dikenakan oleh Iqbal. mungkin beberapa orang yang lain juga mencium bau yang sama seperti yang dirasakan oleh Galang. Namun mereka hanya bisa tertawa dalam hati saja.


“Bisa kita mulai sekarang meetingnya?” tanya Iqbal denagn suara tegas.


Setelah itu Iqbal mulai meeting membahas perkembangan perusahaannya. Memang perusahaannya belum lama berdiri, tetapi sudah menunjukkan perkembangan yang cukup signifikan. Selain dia menjalin kerjasama dengan beberapa perusahaan bonafit, Iqbal yang sejak dulu sudah terkenal dengan kinerjanya yang sangat bagus dalam memimpin perusahaan, maka tidak salah jika kini perkembangan perusahaannya sudah meningkat.


“Parfum kamu baru ya, Bal?” tanya Galang meledek saat meeting sudah selesai.


Iqbal hanya berdecak sebal mendapat ledekan dari sahabatnya. Lalu Iqbal menceritakan drama paginya saat sebelum pergi ke kantor. Iqbal mengeluh dengan sikap istrinya yang menurutnya akhir-akhir ini berubah.

__ADS_1


“Apa kamu nggak ingin memeriksakan Jenny saja? Siapa tahu telah terjadi sesuatu dengannya?” saran Galang.


“Ada-ada saja kamu ini. memangnya apanya yang diperiksa. Istriku keadaannya baik-baik saja dan tidak sedang sakit.” Tanya Iqbal.


“Ke psikiater lah.” Jawab Galang tanpa beban.


“Kamu pikir istriku gila apa?” ucap Iqbal dengan mode marah.


“Sorry, bukan seperti maksudku, Bal. siapa tahu saja istri kamu sedang mengalami banyak masalah namun tidak bisa mengungkapkannya. Jadi ada baiknya kamu ajak berkosultasi ke psikiater.” Jawab Galang.


Iqbal hanya diam saja. Tapi dia masih tidak setuju dengan saran yang diberikan oleh Galang. Apa jadinya jika dia benar-benar membawa Jenny ke psikiater, yang ada akan terjadi perang dunia ketiga.


***


Sementara itu siang ini Billal sedang duduk lemas di kursi kerjanya. Pria itu baru saja memuntahkan isi perutnya. Entah kenapa akhir-akhir ini kesehatannya sedikit terganggu. Lidya yang sudah memaksanya untuk periksa ke dokter, Billal selalu menolaknya. Karena obatnya hanya satu. Cukup dengan memeluk tubuh istrinya, keadaannya sudah pulih kembali.


Dan saat ini Billal sedang menunggu kedatangan istrinya ke kantor yang akan membawakan bekal makan siang untuknya. Walau itu semua hanya alasannya saja.


Tak lama kemudian Lidya sudah datang. Wanita itu sangat khawatir melihat wajah lemas sang suami yang sedang duduk sambil memijit kepalanya.


“Iya. Kepalaku juga sangat pusing.” jawab Billal mendrama.


“Ayolah Mas, aku antar periksa ke dokter. aku takut kamu kenapa-napa.” Ucap Lidya.


Billal tak menjawab. Justru dia berdiri dan mengajak istrinya duduk di sofa, lalu meminta Lidya duduk di pangkuannya. Kemudian Billal memeluk erat tubuh istrinya sambil menenggelamkan kepalanya ke ceruk leher Lidya. Lidya sangat geli sekaligus cemas jika tiba-tiba saja ada seseorang yang masuk ke ruangan suaminya.


“Mas, jangan begini. Bagaimana nanti jika ada orang masuk?” ucap Lidya.


Billal menulikan pendengarannya. Justru Billal semakin asyik dengan kegiatannya. Bahkan sekarang tangannya sudah menelusup ke dalam baju Lidya untuk mencari sesuatu yang kenyal yang telah menjadi candunya.


“Mas!!!” Panggil Lidya dengan suara menahan gairaah.


Cklek


“Maaf, maaf Tuan saya tidak berniat mengganggu anda.” Ucap Sean yang tiba-tiba saja masuk ke ruangan Billal dan sontak saja menghentikan kegiatan sepasang suami istri itu.

__ADS_1


“Apa kamu nggak bisa mengetuk pintu terlebih dulu sebelum masuk?” tanya Billal dengan suara dinginnya.


“Maaf, Tuan. Saya tadi sudah mengetuk pintu beberapa kali. Dan saya terpaksa masuk karena saya takut terjadi sesuatu dengan anda.” Jawab Sean menundukkan kepalanya.


“Keluarlah! Aku baik-baik saja.” Jawab Billal.


Lidya juga sejak tadi tampak menundukkan kepalanya karena sangat malu. Dia juga sedang mengancingkan bajunya yang sempat terlepas akibat ulah suaminya.


“Kita lanjutkan nanti saat di rumah saja.” Ucap Billal karena sudah kehilangan moodnya.


“Iya, Mas. Tapi Mas jangan lupa kalau nanti kita akan pergi makan malam ke rumah Jenny.” Lidya mengingatkan dan Billal hanya mengangguk. Lalu keduanya menikmati makan siang yang sudah dibawakan oleh Lidya.


***


Malam ini Billal dan Lidya sudah tiba di rumah Iqbal dan Jenny untuk makan bersama. Billal sedang memangku Gita yang sedang bermain boneka. Pria itu juga sesekali menciumi pipi gembul Gita yang semakin menggemaskan.


“Nih, Om!” ucap Jenny yang baru saja memasuki ruang tengah sambil membawa sekotak parfum milik Iqbal.


“Apa ini?” tanya Billal bingung.


“Ini parfum milik Mas Iqbal. aku sengaja berikan untuk Om, karena Mas Iqbal lebih suka memakai parfum milikku.” Jawab Jenny dengan tersenyum tanpa dosa.


Billal dan Lidya terkejut mendengar penuturan Jenny. Bahkan mereka berdua sekarang mulai berpikir kalau Iqbal sudah kesambet setan bucin. Karena begitu bucinnya dengan Jenny, sampai-sampai pria itu menginginkan parfum yang sama dengan istrinya.


Sedangkan Iqbal hanya bisa mencebik kesal. Kalau dia menyanggah ucapan istrinya, yang ada Jenny malah semakin menampakkan taringnya.


.


.


.


*TBC


Wah...wah...wah... para suami sedang menderita nih😂😂😂

__ADS_1


Happy Reading‼️


__ADS_2