
Saat ini Gita bersama dengan kedua orang tuanya sudah berada dalam pesawat yang sedang membawanya pulang ke kampung halaman. Ada rasa lega sekaligus sesak yang datang bersamaan dalam hati Gita. Lega akhirnya bisa mengirup udara bebas setelah berhari-hari terkurung di rumah sakit. Sedangkan rasa sesak yang menghinggapi hatinya, karena kepulangannya tidak mendapatkan sambutan baik dari sang suami.
Mungkin bagi Gita terlambat menyadari bahwa dirinya sangat membutuhkan Axel untuk berada terus di sisinya. Karena kenyataannya sekarang dia merasa sangat kehilangan sosok Axel yang selalu ada untuknya dan selalu sabar menghadapi sikapnya seperti dulu.
“Sayang, kamu baik-baik saja?” Tanya Jenny yang saat ini sedang duduk di samping Gita.
Sejak tadi Jenny melihat Gita terus terdiam. Berbeda dengan saat mengetahui kabar kalau sudah diperbolehkan pulang oleh dokter. wajah Gita terlihat berbinar. Namun semenjak memasuki pesawat, sikap Gita berubah menjadi pendiam.
“Ma, bagaimana keadaan Kak Axel sekarang?” bukannya menjawab pertanyaan Jenny, Gita justru menanyakan keadaan Axel.
Jenny kini bisa menyimpulkan kalau sejak tadi diamnya Gita karena memikirkan Axel. Siapaun di dunia pasti akan memikirkan hal yang sama dengan Gita jika sedang berjauhan dengan pasangannya. Jenny pun tidak tahu pasti bagaimana keadaan menantunya saat ini. tapi dia berusaha untuk meyakinkan Gita dengan memberikan jawaban terbaik.
“Axel pasti baik-baik saja, Sayang. Kamu harus semangat untuk sembuh, pasti Axel juga sangat senang nanti jika kalian berdua dipertemukan dalam keadaan sama-sama sehat dan bahagia.” Ucap Jenny sambil mengusap lembut kepala Gita.
“Gita menyesal, Ma” ucapnya sambil memandang keluar jendela.
Gita menarik nafasnya dalam untuk mengurangi sedikit rasa sesak dalam dadanya saat mengingat wajah Axel. Kemudian dia menceritakan semuanya pada Mamanya. Semua tentang perjalanan rumah tangganya yang selama ini tidak diketahui oleh orang lain.
“Selama menikah dengan Kak Axel, Gita tidak pernah menghargai dia sebagai suami Gita, Ma. Gita telah berdosa, Ma. Namun Kak Axel selalu sabar dan terus bertahan. Bahkan saat Gita mengatakan kalau akan membenci dia selamanya berharap Kak Axel menyerah dan akhirnya menceraikan Gita, tapi dia tetap pada pendiriannya dan akan selalu mencintai Gita, Ma.” Gita berkata sambil menyeka air matanya.
Jenny terkejut mendengar cerita Gita tentang rumah tangganya selama ini. tapi dia berusaha bersikap tenang sebagai pendengar yang baik untuk anaknya saat ini. lalu Gita kembali melanjutkan ceritanya.
“Bermula dari kejadian malam itu Gita sangat membenci Kak Axel, Ma. Selain menganggap Kak Axel telah memanfaatkan kesempatan itu dengan alasan cinta, Gita juga sangat membenci diri Gita sendiri, Ma. Gita jijik melihat diri ini yang begitu murahan….” Gita kembali terisak ketika mengingat kejadian itu.
“Sudah, Sayang. Jangan diteruskan lagi. Tidak baik untuk kesehatan kamu. Sekarang yang terpenting kamu harus semangat untuk sembuh agar bisa memperbaiki rumah tangga kalian.” Jawab Jenny sambil memeluk Gita.
__ADS_1
“Iya, Ma. Beberapa waktu sebelum ada kejaadian penculikan itu, Gita perlahan sudah bisa membuka hati untuk Kak Axel, meski Gita belum bisa membalas cintanya. Kak Axel pun berjanji akan sabar menanti dan akan selalu berada di samping Gita bagaimana pun keadaannya.” Lanjut Gita.
“Mama senang mendengarnya. Untuk saat ini kamu harus fokus dengan kesehatan diri kamu sendiri. Dan untuk Axel yang juga sedang menjalani perawatan di sana, kita cukup mendoakan saja semoga cepat diberi kesehatan, biar kalian berdua segera bertemu kembali.” Ucap Jenny, dan Gita mengangguk.
Iqbal yang duduknya terpisah dengan anak istrinya sejak tadi mengamati kedekatan anak dan istrinya. Walau dia tidak tahu apa yang sedang dibicarakan, setidaknya Gita sudah mau berbicara lagi.
Beberapa saat kemudian, peswat yang mereka tumpangi sudah tiba di andara kota B. mereka bertiga sudah disambut kedatangannya oleh Daniel. Gita langsung memeluk adiknya dengan erat karena sudah lama tidak pernah bertemu.
“Akhirnya kakakku yang bawel pulang juga.” ucap Daniel mencoba menghibur Gita.
Gita hanya tersenyum tipis menanggapinya. Kemudian mereka bergegas masuk ke mobil dan pulang.
Iqbal memutuskan untuk mengajak Gita tinggal di rumah saja daripada di apartemen, agar dia bisa langsung mengawasi perkembangan kesehatan anaknya secara langsung. daripada harus tinggal di apartemen seorang diri yang akaan semakin membuatnya terpuruk karena memikirkan Axel.
Kedua orang tua Gita termasuk Daniel dan juga Chandra telah sepakat untuk membantu Gita sembuh dengan memberikan dukungan dan semangat. Iqbal berencana akan membawa Gita ke psikiater untuk menangani masalah yang sedang dialaminya.
“Ma, kenapa kamar Gita disini?” tanyanya heran.
“Mama nggak ingin kamu kelelahan naik turun tangga. Nanti kalau kesehatan kamu sudah membaik, kamu boleh kembali lagi ke kamar kamu di lantai dua.” Jawab Jenny bohong.
Jenny memindahkan kamar Gita di lantai bawah karena dia tidak ingin selama masa penyembuhan anaknya justru akan semakin teringat dengan Axel jika berada dalam kamarnya sendiri. Gita pun tidak bertanya lagi walau sebenarnya keadaan fisiknya baik-baik saja.
Malam harinya Gita dan semua keluarganya sedang duduk di ruang makan untuk makan malam bersama. Candaan Chandra mampu membuat Gita mengukir senyumnya.
“Sayang, besok kita pergi ke dokter ya untuk berkonsultasi.” Ucap Jenny di sela-sela kegiatan makannya.
__ADS_1
Gita menghentikan kegiatan makannya sejenak, “Ma, Gita nggak gila kan?” tanyanya.
“Astaga, Sayang! Apa kalau orang yang pergi ke psikiater harus identik dengan orang yang sedang mengalami gangguan jiwa? Tidak. Kami semua melakukan itu demi kebaikan kamu. Jangan berpikir yang macam-macam, bukankah kamu sudah berjanji mau cepat sembuh?” tanya Jenny.
“Iya, Ma. Gita mau segera bertemu dengan Kak Ax-“
“Ya sudah ayo lanjutkan lagi makannya.” Potong Iqbal dengan cepat.
Mereka pun kembali melanjutkan makannya. Selesai makan Jenny mengajak Gita bersantai di ruang keluarga. Sebenarnya Gita ingin masuk ke kamarnya namun Jenny mencegahnya. Karena dia tahu kalau Gita sendirian di kamar pasti akan semakin mengingat Axel. Dan itu tidak baik pada kesehatannya yang akan membuat Gita kembali melamun dan berhalusinasi. Jadi sebisa mungkin Jenny tidak memberi peluang Gita dalam posisi sendirian selain tidur.
“Uncle, ada yang ingin Chandra bicarakan sebentar.” Ucap Chandra tiba-tiba.
“Baiklah, ayo ke ruang kerja Uncle saja.” Jawab Iqbal lalu mengajak Chandra masuk ke ruang kerjanya.
“Lusa sidang putusan pengadilan kasus penculikan Gita. Om dihadirkan sebagai saksi. Harusnya ada tiga orang saksi, yaitu Uncle, Dimas, dan Axel. Tapi sayangnya Axel tidak bisa.” Ucap Chandra.
Iqbal mengetatkan rahangya saat mengingat kejahatan Marvin. Dia besok akan hadir dan menuntut hukuman yang seberat-beratnya pada pria yang telah mengahncurkan keluarganya.
“Nanti Uncle akan hadir dengan Dimas saja sudah cukup. Terima kasih atas informasinya.” Jawab Iqbal.
.
.
.
__ADS_1
*TBC
Happy Reading‼️