Suami Yang (Tak) Dianggap

Suami Yang (Tak) Dianggap
Eps 97


__ADS_3

“Tuan, ijinkan saya menunaikan kewajiban sebagai seorang istri.” Ucap Lidya sambil tertunduk.


Billal mengerutkan keningnya bingung. Dia tidak tahu apa maksud perkataan Lidya. Lalu dia berbalik badan dan mendekati Lidya yang masih tertunduk.


“Apa maksud kamu, Lidya?” tanya Billal.


“Ijinkan saya menjadi istri anda seutuhnya, sebelum anda berniat menceraikan saya nanti. Setidaknya saya sudah menggugurkan kewajiban saya sebagai seorang istri.” Jawab Lidya dengan suara bergetar.


“Sa..saya tahu kalau niat anda menikah hanya untuk menolong saya dari perjodohan itu. Tapi ikatan pernikahan ini sudah sah di mata hukum dan agama. Setidaknya Ayah saya tidak berdosa jika saya menjadi anak yang patuh terhadap suaminya dan menjalani kewajibannya.” Ucap Lidya dengan air mata yang sudah menetes membasahi pipinya.


Entah apa yang membuat Lidya berani berkata seperti itu di hadapan suaminya. Biarlah Billal menganggapnya dia wanita murahan yang dengan berani menawarkan tubuhnya.


Sementara Billal hatinya terasa ngilu saat mendengar kata cerai yang keluar dari mulut perempuan yang entah sejak kapan sudah membuatnya jatuh hati.


“Lakukanlah, Tuan! Saya sudah siap lahir batin.” Lidya kembali berucap.


Billal tak kuasa melihat air mata Lidya yang semakin deras mengalir. Dengan cepat dia merengkuh tubuh mungil perempuan itu untuk meredakan tangisnya.


“Ssttt… jangan menangis lagi. Dan jangan bicara tentang perceraian.” Ucap Billal sambil mengurai pelukannya dan mengusap pipi basah Lidya.


“Aku melakukan itu semua bukan karena menolong kamu. Tapi karena aku mencintai kamu, Lidya.” Ucap Billal memandang intens mata Lidya yang masih berkaca-kaca.


“Iya, maafkan aku yang diam-diam sudah mencintaimu. Selama ini kita tidur terpisah karena aku merasa tidak pantas untuk kamu. Aku ini pria brengsekk dengan masa lalu yang sangat buruk.” Ucap Billal.


“Apakah anda berniat membawa saya kembali ke masa lalu anda?” tanya Lidya.


Billal menggelengkan kepalanya pelan. Dia mencerna kata demi kata yang terucap dari bibir Lidya. Apakah perkataan Lidya itu berarti perempuan itu sudah menerima semua kekurangannya.


“Setiap orang pasti memiliki masa lalu, Tuan. Tapi itu bukan berarti menjadi penghalang untuk meraih masa depan yang lebih cerah, bukan?” ucap Lidya dan Billal menganggukan kepalanya.


“Lakukanlah, Mas. Aku sudah siap lahir batin menjadi istrimu seutuhnya.” Ucap Lidya sambil menunduk malu karena perubahan panggilannya terhadap Billal.


Jantung Billal berdegup kencang. Dia merasa seperti anak muda yang baru saja puber saat bertemu dengan cinta pertamanya. Meskipun begitu, dia berusaha untuk tetap tenang. Lalu dia meraih dagu Lidya agar menghadap padanya.


Cup

__ADS_1


Billal mengecup bibir Lidya sekilas untuk menetralisir degupan jantungnya yang sempat menggila. Namun, kecupan itu justru membuat jantung Lidya yang semakin tak karuan.


“Apa kamu sudah benar-benar siap?” tanya Billal memastikan, dan Lidya mengangguk.


Dengan gerakan pelan, Billal mendorong tubuh Lidya hingga terjerembab di atas kasur. Lalu dia mengulangi mengecup bibir istrinya yang terasa manis. Kecupan itu kini berubah menjadi ciuman yang memabukkan. Bahkan sudah bukan lagi bibir yang menjadi sasaran Billal, melainkan leher jenjang Lidya.


Billal merasakan hal yang berbeda saat dia kembali mencumbui tubuh perempuan yang kini sudah sah menjai istrinya. Mengingat status Billal yang sudah lama menduda.


Billal melakukan pemanasan itu dengan sangat lembut agar membuat istrinya merasa rileks dan nyaman. Sedangkan Lidya merasakan hal yang sangat aneh saat tubuhnya disentuh oleh pria untuk pertama kalinya.


Kini mereka berdua sudah tak saling memakai baju. Lidya bisa merasakan hangat kulit suaminya yang sedang mengungkungnya samkbil terus meluumat bibirnya.


“Aku akan melakukannya sekarang. mungkin awalnya akan terasa sakit. Kamu tahan, ya?’ ucap Billal sebelum melakukan penyatuannya.


Lidya mengangguk. Dan tak lama kemudian milik Billal mulai memasuki liang milih Lidya. Billal merasa kesusahan melakukan itu semua. Karena jujur saja ini adalah pengalaman pertamanya menjebol gawang perawan.


Lidya berusaha menahan kesakitan pada inti tubuhnya saat Billal semakin mencoba mendorong benda pusakanya masuk. Dan terpaksa Billal menghentakkan miliknya dengan sekali dorongan, hingga membuat Lidya menjerit kesakitan sambil tangannya mencakar punggung suaminya.


“Maafkan, aku!” ucap Billal menenangkan istrinya yang mungkin merasakan perih pada bagian intinya.


Lidya juga kini sudah tidak merasakan sakit lagi, melainkan rasa nikmat yang sangat sulit dia gambarkan. Bahkan kalau boleh jujur, dia sangat menikmati kegiatan ini dan berharap tidak segera berakhir.


Setelah keduanya sama-sama mencapai puncak kenikmatan, Billal segera merengkuh tubuh Lidya agar bersandar pada dada bidangnya.


“Aku mencintaimu, Lidya.” Ucap Billal seraya mengecup kening Lidya.


“Apa kamu tidak mencintaiku?” tanya Billal dengan nada kecewa karena tidak mendapatkan balasan dari Lidya.


“Bukankah setelah kata “sah” kewajiban istri adalah selalu melayani suaminya secara lahir dan batin. Dan mulai saat itulah hati ini sudah bertekat untuk terus berlabuh padamu, Mas.” Ucap Lidya tersenyum menatap mata Billal.


“Terima kasih. Ya sudah sekarang tidurlah. Atau kamu mau mengulangi kegiatan panas itu lagi?” ucap Billal tersenyum. Lidya meenggelengkan kepalanya dan segera menutup mata sambil memeluk erat tubuh sang suami.


***


Sementara itu kini Iqbal sedang tidur bersama sang istri setelah melakukan malam panasnya yang panjang. Untung saja Gita tidur bersama tantenya, jadi tidak mengganggu kegiatan enak-enaknya bersama sang istri untuk segera launching Iqbal junior.

__ADS_1


Pagi harinya Iqbal mengajak istrinya berjalan-jalan di pantai sambil menikmati indahnya matahari yang baru saja terbit. Mereka berdua sangat menikmati kebersamaan itu, tanpa mengkhawatirkan Gita. Karena gadis kecil nan menggemaskan itu sudah berada dalam kekuasaan Oma dan Opanya.


“Pantainya indah sekali ya, Mas kalau pagi seperti ini?” ucap Jenny.


“Iya, sangat indah. Dan baru kali ini aku juga bisa menikmati keindahan pantai ini. karena selama 3 tahun tinggal disini, hatiku hampa tanpa hadirnya kamu di sisiku, walau pantai ini selalu menampakkan keindahannya.” Jawab Iqbal sambil memandang jauh ke hamparan pasir putih yang luas itu.


“Maafkan aku, Mas. Semua ini karena aku. sekarang aku berjanji akan selalu ada di sisi kamu baik dalam keadaan suka maupun duka.” Ucap Jenny sambil menggenggam erat tangan suaminya.


“Terima kasih, Sayang.”


Setelah puas jalan-jalan di pantai, Iqbal mengajak istrinya kembali ke rumah. mereka akan sarapan bersama dengan keluarga. Sesampainya di rumah, Jenny melihat Gita sudah terlihat cantik dan sedang bermain boneka.


Iqbal dan Jenny masuk ke kamar terlebih dulu untuk mandi sebentar seblum bergabung di meja makan. Sebelum keluar kamar Iqbal berbicara sebentar pada istrinya.


“Sayang, nanti setelah kita pulang dari sini, aku ingin menyerahkan perusahaan ke tangan Galang. Karena dia yang lebih berhak atas jabatan itu.” Ucap Iqbal.


“Apapun keputusan Mas, aku akan selalu dukung.” Jawab Jenny.


“Dan aku berencana akan membangun usaha sendiri, walaupun awalnya masih kecil-kecilan. Dan nanti aku akan meminta bantuan Papa, karena sebentar lagi Arsha juga lulus kuliah dan Papa Mama akan kembali lagi ke Indonesia.” Ucap Iqbal.


“Aku senang mendengarnya, Mas. Aku akan selalu di sampingmu.” Jawab Jenny sambil tersenyum.


.


.


.


*TBC


Bagaimana...bagaimana...bagaimana?😂😂😂


Eh sorry sebelumnya, othor mampunya hanya up 2eps per hari ya.. karena othor juga punya kesibukan di dunia nyata😁🙏🙏 kecuali pas benar-benar free akan diusahain up 3eps. trims atas pengertiannya.🙏


Happy Reading‼️

__ADS_1


__ADS_2