
Sepulang dari kerja sekaligus makan malam, Iqbal dan Jenny masuk ke kamar masing-masing. Keduanya langsung membersihkan diri lalu beristirahat. Karena seharian bekerja telah membuat fisik keduanya begitu lelah.
Mata Jenny bahkan sudah tidak tahan lagi untuk segera tidur. Jika sebelum bekerja dulu, dia selalu memainkan ponselnya sebelum tidur, kini dia seolah melupakan aktivitas tersebut. Dan tidak menunggu lama lagi, terdengar dengkuran halus yang keluar dari bibir perempuan berparas cantik itu.
Sementara Iqbal yang sudah terbiasa bekerja, meskipun lelah tetapi matanya masih enggan tertutup. Dia melirik jam dinding kamarnya masih menunjukkan pukul setengah Sembilan malam. lalu terdengar notif pesan masuk dari grup temannya yang mengajaknya untuk ngopi di tempat biasa. Akhirnya Iqbal pun datang kesana.
Iqbal mengambil jaket yang menggantung di kamarnya dan bergegas keluar kamar. awalnya Iqbal akan berpamitan pada Jenny, namun kamar perempuan itu tampak tertutup rapat. Iqbal mencoba mengetuknya barangkali Jenny masih belum tidur. Namun tidak ada sahutan dari dalam kamarnya, akhirnya Iqbal memutuskan untuk keluar tanpa berpamitan.
Iqbal mengendari motornya menuju café hanya memerlukan waktu kurang lebih selama dua puluh menit. Sesampainya di cefe, Iqbal sudah melihat dua orang temannya yaitu Felix dan Galang sudah duduk sambil menyesap kopinya.
“Dari tadi ?” tanya Iqbal pada dua orang temannya.
“Nggak, baru lima menit yang lalu.” Jawab Galang.
Iqbal menelisik Felix yang sejak tadi terlihat diam saja. Padahal ciri khas laki-laki itu selalu jelalatan dan tidak pernah bisa diam. Iqbal sangat penasaran karena tidak biasanya hari jumat seperti ini teman-temannya mengajak hang out.
“Hai, sorry telat nih. Apa acaranya sudah dimulai?” tanya Haidar yang baru saja datang.
“Acara?” tanya Iqbal bingung.
“Ah kamu sih terlalu asyik menikmati peran jadi suami sampai tidak tahu kabar duka dari Felix.” Jawab Haidar.
Iqbal semakin bingung. Kabar duka apa yang dimaksud oleh Haidar. Siapa yang telah meninggal. Apakah dirinya sesibuk itu sampai tidak peduli lagi dengan kabar sahabatnya. Lalu dia melirik Galang yang sejak tadi terlihat biasa saja.
“Sorry, Lix. Aku nggak dengar kalau kamu sedang berduka. Siapa yang meninggal? Aku turut berduka ya.” Ucap Iqbal tulus hingga membuat Galang dan Haidar tergelak.
Iqbal semakin tidak mengerti dengan apa yang terjadi pada Felix. Sementara Felix yang menjadi tersangka pun tampak mencebik saat Haidar dan Galang menertawakan nasibnya.
“Yang meninggal itu kebebasan Felix, Bal. kamu tahu nggak sebentar lagi sahabat kita ini akan mengikuti jejak kamu. Dia akan married.” Ucap Galang menjelaskan.
“Oh, selamat ya Lix.” Ucap Iqbal dan lagi-lagi membuat Haidar dan Galang tergelak.
__ADS_1
“Kalian ini kenapa? Sejak tadi menertawakan Felix. Harusnya kita juga ikut senang karena dia akan menikah.” Tanya Iqbal.
“Dia itu menikah mendadak karena ceweknya hamil duluan. Kamu tahu kan kalau Felix itu playboy kelas wahid. Kalau sebentar lagi menikah itu tandanya masa kebebasannya akan pensiun.” Ucap Haidar sambil melirik Felix yang sejak tadi wajahnya tampak kusut.
Iqbal lalu melirik Felix. Dia membandingkan dirinya dengan Felix. Jika Felix harus mempertanggung jawabkan perbuatan yang benar-benar dia lakukan, berbeda halnya dengan dirinya yang disuruh bertanggung jawab atas perbuatan yang tidak ia lakukan. Lebih tepatnya menutup aib. Kalau dipikir-pikir lebih baik Felix daripada dirinya. Setidaknya status Felix sama ceweknya sama-sama saling suka.
“Mendingan juga jadi jomlo kayak aku. udah tenang nggak perluy ribet ngurusin perempuan.” Ucap Galang tanpa beban.
“Yang benar itu lebih baik setia kayak aku. satu saja cukup. Dan dijaga dengan benar.” Sahut Haidar bangga.
Memang diantara keempat laki-laki itu hanya nasib Haidar lah yang mujur. Meski dia belum menikah tetapi Haidar sangat setia dengan satu perempuan saja. Berbeda dengan Felix, Galang, dan Iqbal. Yang tidak mempunyai nasib mujur jika berurusan dengan perempuan.
Ketiga teman Iqbal pun sudah tahu bagaimana hubungannya dengan Jenny. Tapi mereka tidak saling mengejek atau mencela, meski terlihat dari obrolannya tadi yang seolah mengejek keterpurukan Felix, namun sebenarnya mereka juga saling mendukung. Begitu juga pada hubungan Iqbal dengan Jenny.
Cukup lama keempat pria itu menghabiskan waktu di café langganannya. Iqbal, Haidar, dan Galang pun memberikan dukungan pada Felix agar tidak terlalu memikirkan masalahnya. Justru mereka bertiga sangat bersyukur dengan kejadian yang dialami oleh Felix. Karena setelah ini Felix akan berhenti total dari dunia malamnya yang selalu dikelilingi oleh wanita malam.
Felix pun juga merasa sedikit lega hatinya setelah bertemu dan mendapat saran dari para sahabatnya. Laki-laki itu mengatakan kalau pernikahannya akan dilaksanakan minggu depan sebelum perut calon istrinya membesar dan diketahui banyak orang. Mengingat status orang tua Felix yang merupakan pengusaha sukses dan terkenal.
Setelah pembicaraan yang cukup panjang itu, akhirnya mereka memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing. Begitu juga dengan Iqbal. Dia melajukan motornya dengan kecepatan sedang. Lalu lalang kendaraan di malam hari tidak begitu padat, terpaan angin malam membuatnya betah dan ingin berlama-lama di jalan. Entah kenapa tiba-tiba perasaan Iqbal menjadi resah ketika mengingat hubungannya dengan Jenny. Sampai kapan hubungannya akan seperti ini. dia juga tidak bisa memaksakan perasaan Jenny untuk menerima dirinya sebagai seorang suami. Namun dirinya juga tidak bisa untuk melepas Jenny begitu saja pada pria lain.
Iqbal melihat keadaan rumah sangat gelap. Meski penghuni rumah sedang tidur, biasanya ada salah satu lampu yang masih dia nyalakan. Pikirnya mungkin tadi lupa.
Saat Iqbal akan masuk kamarnya, sayup-sayup dia mendengar seseorang yang sedang menangis. Lalu Iqbal mendekat ke kamar Jenny. Dan benar suara itu bersumber dari kamar Jenny. Iqbal takut jika Jenny sedang sakit seperti tempo hari. Lalu dia mengetuk pintu kamarnya.
Tok tok tok
“Jen!”
“Jen, buka pintunya!” teriak Iqbal.
Karena suasana sangat gelap, Iqbal mencari saklar lampu yang ada di ruang tengah. Ternyata lampu tidak menyala. Dari situ Iqbal baru sadar kalau saat ini listrik sedang padam.
__ADS_1
“Jenny? Kamu baik-baik saja?” tanya Iqbal sambil terus mengetuk pintunya.
“Gelap, Kak! Aku takut.” Terdengar sahutan lirih dari balik kamar Jenny.
“Nggak apa-apa. Aku disini, kamu buka ya pintunya.” Ucap Iqbal.
Dan tak lama kemudian terdengar langkah pelan kaki Jenny membuka pintu. Setelah itu pintu terbuka. Jenny langsung berhambur ke pelukan Iqbal. Dan Iqbal pun dengan cepat merengkuh tubuh Jenny yang tampak bergetar dan keringat membasahi tubuhnya.
“Kak Iqbal kemana saja sejak tadi?” tanya Jenny lirih masih dalam pelukan Iqbal.
“Maaf, aku tadi keluar sebentar. Apa lampunya padam sejak tadi?” tanya Iqbal dan Jenny mengangguk.
“Aku takut Kak. Aku nggak bisa hubungi Kak Iqbal karena ponselku lowbat.” Ucap Jenny.
“Iya, maafkan aku.” jawab Iqbal merasa sangat bersalah.
“Jangan tinggalin aku Kak.” Ucap Jenny sambil mendongakkan kepalanya menghadap wajah Iqbal.
Kedua pasang mata itu saling menatap dalam kegelapan. mereka juga saling merasakan hembusan nafas hangat yang menyapu wajah. tiba-tiba,
Cup
.
.
.
*TBC
😘😘😂😂 cap cip cup 🤣✌️
__ADS_1
Yuhhuuuu jangan lupa tinggalkan like dan komentarnya ya🤗🤗 vote sama gift nya juga dong🙏✌️
Happy reading!!