Suami Yang (Tak) Dianggap

Suami Yang (Tak) Dianggap
Eps 111


__ADS_3

Iqbal masih menunggu istrinya di dalam kamar. dan tak lama kemudian, wanita itu mulai mengerjapkan matanya namun kepalanya masih pusing.


“Mas!” lirih Jenny saat melihat suaminya sedang duduk di sofa tak jauh dari ranjang.


Iqbal mendekat namun aura wajahnya masih datar dan dingin. Pria itu masih marah saat melihat dengan mata kepalanya sendiri istrinya berada dalam gendongan sang mantan.


“Ada apa denganku, Mas?” tanya Jenny.


“Memangnya kamu nggak ingat tadi kenapa?” bukannya menjawab, Iqbal justru memberi pertanyaan pada istrinya.


“Ada apa memangnya, Mas? Aku hanya ingat kalau tadi setelah dari makam, badanku terasa nggak enak dan kepalaku pusing.” jawab Jenny.


Iqbal hanya terdiam dan mulai mengacuhkan istrinya. Padahal Jenny tidak tahu apa-apa, namun seolah dialah yang sedang bersalah.


“Mas, aku haus. Ambilkan minum itu!” pinta Jenny dan Iqbal langsung mengambilkannya.


Selesai minum, Jenny kembali merebahkan tubuhnya. Sedangkan Iqbal memilih keluar dari kamar untuk mencari keberadaan anaknya. namun dengan cepat Jenny menghentikian langkahnya.


“Mas, kamu kenapa? Kenapa sikapmu seperti itu lagi? Apa salahku kali ini hingga dengan mudahnya kamu mengacuhkanku?” tanya Jenny.


“Aku mau menemui Gita. Lebih baik kamu istirahat saja, kalau badan kamu masih tidak enak.” Jawab Iqbal dan segera keluar dari kamar.


Perasaan Jenny sangat sensitif, dia mulai bersedih lagi melihat perubahan sikap suaminya. Dan lagi-lagi rasa mual pada perutnya muncul begitu saja. Dengan langkah cepat, Jenny berjalan menuju kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya.


Beruntungnya Kay saat itu kembali masuk ke kamar Jenny untuk membawakan makan. Karena dia ingat kalau Jenny sejak tadi belum makan. Dan Kay mendengar suara anaknya sedang muntah di dalam kamar mandi.


“Sayang! Kamu nggak apa-apa? Apa tiap hari seperti ini?” tanya Kay sembari memijit tengkuk Jenny.


Jenny belum bisa menjawab pertanyaan mamanya. Karena perutnya masih terasa diaduk-aduk. Dan keringat dingin mulai membasahi tubuhnya.


Bruk


Jenny kembali pingsan. Dan kali ini Kay dengan cepat menangkap tubuh ankanya lalu membawanya kembali ke tempat tidur. Meskipun hal ini wajar dialami oleh kebanyakan ibu hamil, namun Kay tetap khawatir melihat keadaan anaknya. terlebih Jenny sudah pingsan dua kali.


Kay menuruni anak tangga dengan tergesa-gesa. Di ruang tengah tampak ada Iqbal bersama Gita dan juga Barra beserta anak istrinya.

__ADS_1


“Ada apa sih, Ma kok panik begitu?” tanya Barra.


“Itu Jenny pingsan lagi. Apa kita bawa ke rumah sakit saja? atau dipanggilkan dokter keluarga?” Kay tampak bingung karena suasana di rumahnya masih berduka. Dan beberapa tamu masih datang silih berganti.


Iqbal yang mendengar kalau istrinya kembali pingsan, dengan cepat dia berlari menaiki anak tangga. Dia tak kalah cemasnya saat mendengar istrinya pingsan. Dan lagi-lagi Iqbal baru sadar kalau ini semua ulahnya.


“Sayang, maafkan aku.” ucapnya lirih sambil menggenggam tangan Jenny.


“Apa perlu dibawa ke rumah sakit, Bal?” tanya Barra yang kini sudah ikut masuk ke dalam kamar.


“Ehm, nggak perlu. Dipanggilkan dokter keluarga saja.” Jawab Iqbal.


Barra hanya mengangguk pelan lalu meraih ponselnya dan segera menghubungi salah satu dokter kandungan yng memang ditugaskan sebagi dokter pribadi keluarga Al Vito. Barra juga ikut cemas melihat kondisi adiknya yang tampak pucat.


“Bagaimana keadaan istri saya, Dok?” tanya Iqbal setelah dokter itu selesai memeriksa keadaan Jenny.


“Tekanan darah Nyonya Jenny sangat rendah. Ditambah lagi Nyonya juga sedang kelelahan. Saya berikan vitamin penambah darah saja. Tapi jangan lupa agar tetap menjaga pola makannya yang teratur. Dan satu lagi, usahakan jangan membuatnya sters. Karena keadaan Nyonya yang sedang hamil muda sangat rentan.” Jawab dokter panjang lebar.


“Baik, Dok. Terima kasih.” Jawab Iqbal.


Setelah dokter berpamitan pulang, kini hanya ada Iqbal dan Jenny yang berada dalam kamar. dan tak lama kemudian Jenny sudah sadar dari pingsannya.


Jenny hanya diam tak menjawab. Namun dia juga menerima suapan nasi yang diberikan oleh suaminya. Setelah makan, Iqbal mengambilkan vitamin untuk segera diminum oleh istrinya.


“Maafkan aku. sekali lagi maafkan aku. karena keegoisanku, kalian harus menderita lagi seperti ini.” ucap Iqbal sambil menggenggam tangan istrinya.


“Kalau kamu seperti ini lagi, lebih baik aku tinggal bersama Mama saja disini Mas.” Ucap Jenny sambil membuang muka.


“Tapi aku tidak membiarkan itu semua terjadi. Maafkan aku. aku janji tidak akan seperti ini lagi. Aku kembali cemburu saat melihat kamu pingsan dalam pelukan Xavier.” Ucap Iqbal.


Jenny juga terkejut mendengar alasan suaminya yang sempat mengacuhkannya. Karena dia sama sekali tidak tahu kalau orang yang menolongnya saat pingsan tadi adalah Xavier. Pantas saja suaminya cemburu.


“Jujur aku juga nggak mau berjauhan dengan kamu, Mas. Maka dari itu mengertilah. Tidak ada lagi pria di hatiku selain kamu.” Ucap Jenny meyakinkan.


“Iya, Sayang. Maafkan aku.”

__ADS_1


***


Sementara itu malam harinya semua keluarga besar Vito sedang berkumpul di ruang keluarga setelah menyelesaikan makan malamnya. Keadaan Jenny juga sudah membaik.


Sejak tadi baik Kay maupun Vito sudah tidak tahan untuk menanyakan perihal hubungan sepupunya dengan asisten pribadi Jenny. Sedangkan Billal tampak biasa saja.


“Ada hubungan apa kamu dengan Lidya?” tanya Vito to do point.


“Kamu jangan sembarangan membawa pergi anak gadis orang


ya, Bil!” Kay ikut memberikan ultimatum sebelum Billal sempat menjawab pertanyaan Vito.


“Ck, kalian ini. sekarang sudah menjadi hakku mau membawa Lidya kemanapun. Apalagi dia sedang mengandung anakku.” Jawab Billal santai.


“Apa? Kamu menghamili Lidya? Jenny, kenapa kamu membiarkan Lidya bersama Om mu yang brengs-“


“Lidya dan Om Billal sudah menikah Ma, Pa.” potong Iqbal dengan cepat saat papa mertuanya akan mengeluarkan kata yang tidak pantas didengar.


“Apa? Kalian berdua sudah menikah?” ucap Kay terkejut.


Billal hanya berdecak sebal. Namun akhirnya dia mengenalkan Lidya yang secara resmi sudah menjadi istrinya. Billal juga mengatakan kalau Lidya juga sedang mengandung dan usia kehamilannya hampir sama dengan Jenny. Hanya selisih satu minggu saja.


“Aku ikut senang mendengarnya. Semoga rumah tangga kalian berdua selalu diberi kebahagiaan sampai akhir hayat. Dan semoga ini pernikahan kamu yang terakhir.” Ucap Vito.


“Kamu tenang saja. Kami saling mencintai. dan Lidya adalah wanita hebat yang mau menerima semua masa laluku yang buruk.” Ucap Billal sambil memegang tangan istrinya yang sejak tadi tampak gugup.


“Ciee Om Billal seperti remaja yang baru saja puber nih. Pasti setan bucinnya tak mau pindah dari diri Om nih.” Celetuk Barra mencairkan suasana.


Sontak saja semua orang yang ada dalam ruangan itu tertawa. Meskipun mereka sedang berduka setelah meninggalnya Gio, namun kesedihan itu juga diiringi dengan kabar bahagia yang datang dari kedua pasang suami istri yaitu Iqbal, Jenny dan Billal, Lidya.


.


.


.

__ADS_1


*TBC


Happy Reading‼️


__ADS_2