
Hari ini adalah hari pertama kalinya Iqbal menyandang status sebagai asisten Ceo di sebuah perusahaan. Iqbal yang sudah pernah bekerja sebagai seorang asisten, baginya bukan hal yang sulit lagi untuk memulai pekerjaan barunya ini. Nyonya Sarah juga bisa melihat kinerja Iqbal yang sangat baik meski baru hari pertama.
Waktu sudah sore, Iqbal sudah bersiap untuk pulang. Dan saat di parkiran, Iqbal bertemu dengan Jojo yang kebetulan juga akan mengambil motornya.
“Bal selamat ya. Aku nggak nyangka kalau kamu diangkat menjadi asisten Ceo.” Ucap jojo.
“Terima kasih Bang. Kalau bukan karena Bang Jojo yang mengajakku bekerja disini, tidak mungkin aku bisa seperti yang sekarang.” ucap Iqbal.
“Itu sudah rejeki kamu Bal. kamu layak mendapatkan pekerjaan yang sesuai.” Jawab Jojo.
Setelah itu keduanya langsung pulang ke rumah masing-masing. Dalam perjalanan Iqbal tampak menyunggingkan senyumnya atas rejekinya hari ini. dia berencana nanti malam akan mengaja Jenny makan malam di luar untuk merayakan status pekerjaan barunya.
“Sudah pulang, Kak?’ sapa Jenny saat Iqbal baru saja memarkirkan motornya.
“Hmm. Bersiaplah Jen, setelah ini aku akan mengajak kamu makan di luar.” Ucap Iqbal.
“Tumben Kak. Katanya besok kita keluar sekaligus belanja?” tanya Jenny.
“Nggak apa-apa aku hanya ingin merayakan sesuatu saja. Besok aku akan tetap mengajak kamu keluar. Ya sudah, aku mau mandi dulu.” Ucap Iqbal.
Setelah itu Jenny pun ikut masuk ke dalam rumah. dia juga akan bersiap diri sebelum keluar bersama Iqbal. Tidak lama kemudian, mereka berdua sudah siap untuk pergi. Iqbal akan mengajak Jenny makan malam di salah satu restaurant yang cukup terkenal di kota. Restaurant itu bukan kategori mewah, hanya saja kebanyakan yang datang adalah kaum muda mudi.
Kini Iqbal dan Jenny sudah duduk di salah satu meja pengunjung yang letaknya paling pojok dengan view langsung menghadap jalanan. Seorang pelayan restaurant datang membawakan buku menu. Lalu Iqbal memesan makanan dan minuman untuk dirinya sendiri dan juga Jenny.
“Dalam rangka apa Kak Iqbal mengajakku makan malam?” tanya Jenny penasaran.
“Nggak ada. Aku hanya bersyukur aja atas rejekiku hari ini.” jawab Iqbal.
“Oh Kak Iqbal gajian? Wah aku ikut senang Kak.” Ucap Jenny.
“Bukan. Aku hanya naik jabatan saja, Jen. Dan aku bersyukur akan hal itu.” Ucap Iqbal.
__ADS_1
Jenny yang semakin penasaran dengan pekerjaan apa yang dilakukan Iqbal selama ini, akhirnya gadis itu menanyakan semuanya. Iqbal pun tidak keberatan untuk menjelaskan semuanya. Mulai dari bekerja di gudang, lalu berhasil mengungkap kecurangan karyawan hingga membuatnya naik jabatan langsung diangkat menjadi asisten Ceo. Jenny ikut bangga mendengarnya. Sedikit banyak Jenny sudah tahu pekerjaan Iqbal dulu saat menjadi asisten Kakaknya. Jadi jika sekarang Iqbal kembali menjadi asisten Ceo, hal itu sudah pantas dan sewajarnya didapatkan oleh Iqbal. Karena sesuai dengan kemampuannya.
Beberapa saat kemudian pelayang restaurant datang dengan membawa pesanan makanan mereka. Iqbal dan Jenny langsung menikmati makan malamnya. Tiba-tiba saja saat sedang makan, ponsel Jenny berdering yang menandakan ada panggilan masuk. Jenny melihat id pemanggil itu dari Xavier. Tapi dia tidak enak mau mengangkatnya. Karena sedang bersama Iqbal. Dan Iqbal pun tahu kalau panggilan itu pasti dari Xavier.
“Angkat saja. Kasihan dia nanti mengkhawatirkanmu.” Ucap Iqbal dan Jenny mengangguk samar.
Akhirnya Jenny pun menerima panggilan dari Xavier. Sebenarnya Jenny merasa sedikit tidak nyaman saat bicara dengan Xavier di hadapan Iqbal. Entah kenapa dia seperti menjaga perasaan Iqbal. Tapi tidak ada lagi yang bisa dilakukan. Nanti akan membuat Xavier semakin cemas jika dirinya tak segera menerima panggilan itu.
Iqbal tampak tenang menikmati makanannya. Meskipun telinganya sedikit panas saat mendengar kata-kata mesra yang samar-samar dia dengar dari balik sambungan telepon Jenny. Sedangkan Jenny hanya berbicara seperlunya saja dengan Xavier. Tepatnya, dia hanya menjawab pertanyaan Xavier. Jenny pun mengatakan kalau saat ini dirinya sedang diajak makan malam sama Iqbal. Awalnya laki-laki itu terkejut, namun Jenny mengatakan kalau menganggap Iqbal seperti kakaknya sendiri.
Beberapa saat kemudian, Jenny sudah mengakhiri pembicaraannya dengan Xavier. Lalu dia melanjutkan makan malamnya yang sempat terhenti.
“Maaf ya Kak.” Ucap Jenny.
“Hmmm nggak masalah. Santai saja. Oh iya bagaimana hasil design baju kamu yang sudah kamu posting di akun medsos kamu, Jen?” tanya Iqbal mencairkan suasana.
“Awalnya tidak ada yang tertarik Kak. Lama-lama ada yang tertarik dan beberapa pemilik butik ada yang sempat menanyakan harga jual hasil designku. Tapi ada salah satu diantara mereka yang memintaku untuk menjadi designer di butiknya.” Jawab Jenny.
“Aku bingung Kak. Sebenarnya aku tertarik, tapi aku tidak tahu arah jalan daerah sini. aku takut jika harus naik taksi sendirian.” Jawab Jenny.
“Kalau hanya itu kendala kamu, lebih baik kamu terima saja. Untuk berangkatnya, nanti aku bisa antar kamu.” Ucap Iqbal.
“Tapi Kak Iqbal kan juga bekerja. Apa nggak akan kerepotan nanti?” tanya Jenny.
“Nggak. Sekarang kan aku sudah bekerja di kantor. jadi berangkatnya tidak sepagi biasanya. Aku bisa antar kamu dulu, dan pulangnya aku juga bisa jemput kamu.” Jawab Iqbal.
Jenny tampak berpikir setelah mendengar saran dari Iqbal. Lagi pula jika dia hanya mengandalkan menjual designnya secara online, belum tentu juga menghasilkan. Jadi lebih baik menerima tawaran itu saja.
“Baiklah Kak. Coba aku hubungi dulu contact personnya, siapa tahu masih bisa menerimaku.” Ucap Jenny lalu mengambil ponselnya.
Iqbal tampak tersenyum mendengarnya. Dia sangat berterima kasih pada Galang karena semua itu tak lepas dari campur tangan Galang.
__ADS_1
Ya, tadi Iqbal sudah mendapat informasi dari Galang kalau butik milik tantenya sedang membutuhkan seorang designer. Galang sengaja menghubungi Jenny melalui kontak ponsel yang tertera di akun media sosialnya. Jadi seolah-olah itu semua murni tidak ada campur tangan dari Iqbal.
“Sudah dibalas Kak. Dan aku diminta datang hari sabtu besok.” Ucap Jenny senang.
“Baiklah besok aku akan mengantar kamu kesana.” ucap Iqbal.
“Terima kasih ya Kak.” Jawab Jenny antusias sambil memegang tangan Iqbal dengan erat.
***
“Apa kamu tidak salah dengan informasi yang kamu dapatkan?” tanya Billal pada asistennya.
“Benar Tuan. Laki-laki yang bernama Iqbal itu sudah menikah dengan Nona Jenny.” Jawab Sean.
Billal memijat keningnya yang sedikit berdenyut setelah mendapat kabar bahwa perempuan yang dia incar sudah menikah. Lebih parahnya lagi menikah dengan laki-laki yang sudah menghajarnya.
“Apakah mereka berdua sebelumnya memiliki hubungan khusus? Bagaimana bisa mereka menikah?” tanya Billal masih tak percaya.
“Mereka menikah dadakan Tuan. Setelah kejadian malam itu, mereka tertangkap basah berada dalam kamar hotel. Apa anda ingat kalau saat Iqbal meghajar anda, di saat itu juga saya langsung memukulnya hingga pingsan. Kemungkinan dari kejadian itulah yang membuat mereka harus menikah karena beberapa pegawai hotel ada yang melihatnya.” Terang Sean.
“Lalu kemana mereka berdua sekarang?” tanya Billal.
“Saya tidak tahu Taun. Karena sangat sulit mendapatkan informasinya.” Jawab Sean.
.
.
.
*TBC
__ADS_1