Suami Yang (Tak) Dianggap

Suami Yang (Tak) Dianggap
Eps 167


__ADS_3

Saat ini Axel hanya mendengus kesal sambil menutup wajahnya dengan bantal. Bagaimana tidak kesal, saat dia akan mencium istrinya malah digagalkan oleh Mamanya sendiri. Dan entah sedang apa istri dan Mamanya sekarang. sudah hampir satu jam Gita tak kunjung balik ke kamarnya. Lelah menunggu, akhirnya Axel tertidur.


Beberapa saat kemudian Gita masuk ke kamar. dia melihat suaminya sedang tidur sambil menutup wajahnya dengan bantal, lalu dia memutuskan untuk mengambil bantal tersebut agar Axel bisa tidur dengan nyaman.


Grep


Bantal sudah berhasil Gita ambil, namun ternyata Axel tidak tidur. Dia justru menarik Gita hingga jatuh ke dalam pelukannya. Gita yang terkejut hampir saja memekik keras kalau Axel tidak membekap mulutnya dengan tangan.


“Maaf!” ucap Axel setelah melepas telapak tangannya dari mulut Gita.


“Mas, aku kira kamu tidur.” Jawab Gita kemudian.


“Iya tadi tidur sebentar karena lelah nunggu kamu nggak balik balik. Tapi pas kamu membuka pintu, aku terbangun. Memangnya ngapain saja sama Mama, hmmm?” tanya Axel sambil mengeratkan pelukannya.


“Oh, itu Mama ngajak masak dan nyiapin makan siang.” Jawab Gita gugup karena hembusan nafas Axel terasa hangat di ceruk lehernya.


Axel merubah posisi Gita yang tadinya membelakangi, kini berubah menghadap. Lalu dia merapikan rambut Gita yang berantakan, hingga tampaklah wajah cantiknya.


Cup


Axel mengecup kening Gita dengan lembut. Kemudian turun ke pipi kanan kirinya. Gita semakin gugup. Dia yakin pasti suaminya akan melanjutkan yang tadi.


“Aku mencintaimu.” Ucap Axel sambil menempelkan hidungnya dengan hidung Gita. bahkan dia menggesekkan pelan ujung hidungnya.


“Aku juga mencintaimu, Mas.” Jawab Gita dengan mata terpejam seolah sudah siap jika Axel akan mencium bibirnya. dan benar saja, Gita merasa ada sesuatu yang basah sedang menempel di bibirnya. Axel menciumnya. Memberikan lummatan lembut penuh kasih sayang. Tanpa sadar tangan Gita sudah mengalung ke leher Axel untuk memperdalam ciumannya.


Gita sangat menikmati ciuman yang diberikan Axel. Perlahan dia juga membalas ciuman Axel meski masih kaku. Namun baik Axel dan Gita dapat merasakan dari ciumaan itu membuktikan bahwa cinta mereka sama-sama besar.


Axel melepas pagutannya setelah keduanya hampir kehabisan pasokan oksigen. Nafas Gita terengah dengan bibir yang masih basah. Lalu Axel mengusapnya dengan lembut.


“Aku nggak akan minta hakku sekarang. kamu baru saja sembuh. Tapi suatu saat jika aku meminta hakku, apakah kamu ikhlas memberinya, Sayang?” tanya Axel.


“Kapanpun aku siap, Mas. Aku ikhlas memberikan semua jiwa dan ragaku hanya untukmu seorang. Kamu minta sekarang pun aku siap.” Jawab Gita dengan mantap.

__ADS_1


“Terima kasih, Sayang. Tapi aku nggak meminta sekarang. masih banyak waktu untuk melakukan itu.” Ucap Axel.


Mereka berdua kembali berpelukan. Namun tiba-tiba saat keduanya masih menikmati pelukan itu, tiba-tiba terdengar suara perut Axel yang sedang berkampanye. Mereka berdua pun tergelak.


“Padahal tadi aku mau mengajak kamu makan siang loh, Mas. Karena aku dan Mama sudah menyiapkan. Ya sudah ayo kita turun.” Ajak Gita kemudian.


Mereka berdua akhirnya turun untuk makan siang bersama. Mungkin saking lamanya Gita dan Axel di dalam kamar, mereka lupa kalau Mama dan Papanya sudah menunggu di ruang makan. Dan saat Gita dan Axel turun, Felix dan Nia baru saja menyelesaikan makan siangnya.


“Ma, maaf.” Ucap Gita merasa tak enak.


“Nggak apa-apa. Mama mengerti kok. Ya sudah kalian buruan makan, dan Gita jangan lupa minum obatnya.” Jawab Nia.


“Terima kasih, Ma.” Jawab Gita.


Setelah itu Gita mengambilkan makanan untuk Axel. Lalu mengambil untuk dirinya sendiri. Mereka berdua menikmati makan siang dengan khidmat. Axel merasa bahagia mendapatkan pelayanan dari sang istri dengan tulus. Tidak seperti dulu yang hanya sandiwara.


“Kenapa, Mas?” tanya Gita saat melihat Axel melamun.


“Nggak apa-apa, Sayang. Aku sangat senang kamu melayaniku seperti ini dengan cinta.” Jawab Axel.


“Maafkan aku, Mas.” Lirih Gita sambil menundukkan kepalanya.


Axel merasa bersalah. Niat hati ingin mengungkapkan rasa bahagianya justru seperti mengungkit kenangan masa lalunya yang sangat pahit.


“Maaf…maaf. Aku tidak bermaksud seperti itu, Sayang. Aku hanya ingin mengungkapkan rasa bahagiaku. Sudah ya, jangan bersedih lagi. Ayo kita lanjutkan makannya. Nanti keburu dingin.” Ucap Axel kemudian.


***


Sementara itu saat ini seorang pemuda sedang duduk di ruang kerjanya. Layar laptop di depannya masih menyala namun pandangan matanya tidak fokus pada pekerjaan.


Sejak semalam, tepatnya setelah mendengar curhatan Inez, sampai saat ini Dimas masih memikirkan perempuan itu. Entah sejak kapan Dimas mulai menaruh perhatian terhadap sahabat Gita itu. Apa karena mereka sering bertemu saat membantu mengatasi masalah Gita, hingga tanpa sadar tumbuhlah benih cinta dalam hatinya.


Wajah Dimas memerah menahan marah kala mengingat satu nama yang sering menyakiti fisik perempuan yang dicintainya. Bagaimana bisa Inez bisa menerima laki-laki yang suka melakukan kekerasan fisik untuk dijadikan suaminya. Walau statusnya masih bertunangan. Rasanya Dimas harus melakukan sesuatu agar Inez tidak semakin terluka oleh baji***n itu.

__ADS_1


Tak lama kemudian Dimas kembali melanjutkan pekerjaannya. Namun tiba-tiba saja ponselnya bergetar dan ada notif pesan masuk. Dimas membaca pesan itu. Pesan dari seseorang yang mengaku bernama Raihan yang merupakan pengacara Malik.


Raihan mengirim pesan dan memintanya untuk bertemu di Lapas, dimana Malik saat ini sedang ditahan. Dimas mendesaah pelan. Entah dia mau datang atau tidak, karena sampai saat ini dia masih belum bisa menerima kenyataan bahwa Papanya adalah seorang mafia dan kini sedang mendekam di penjara akibat perbuatannya.


Dimas sudah lama nyaman hidup sendirian. Bahkan dia tidak pernah sedikitpun terbayang untuk mencari keberadaan orang tuanya. Walaupun suatu saat nanti ternyata dia masih memiliki orang tua, Dimas berharap dipertemukan dalam keadaan bahagia. Tapi sayangnya takdir berkata lain.


Cklek


Dimas terkejut dari lamunannya saat tiba-tiba atasannya memasuki ruangannya. Dia segera berdiri dan menyambut kedatangan Iqbal.


“Maaf, Tuan. Ada yang bisa saya bantu?” tanya Dimas dengan sopan.


“Aku kira tadi kamu sedang di luar, karena aku mengetuk pintu tak juga mendapat sahutan.” Ucap Iqbal.


“Maaf Tuan.” Jawab Dimas sambil menunduk mengakui kelalaiannya.


Iqbal melihat wajah Dimas seolah sedang dalam masalah. Akhirnya dia memintanya untuk datang ke ruangannya dengan alasan pekerjaan.


“Baik, Tuan. Saya akan segera kesana.” Ucap Dimas.


Tak lama kemudian Dimas masuk ke ruangan Iqbal. Iqbal sudah memberikan beberapa dokumen dalam sebuah map dan meminta Dimas memeriksa data tersebut sudah benar atau belum. Namun Iqbal meminta Dimas melakukannya di dalam ruangan itu.


“Masalah apa yang sedang kamu hadapi, Dim?” tanya Iqbal to do point.


“Tuan. Apakah anda akan memecat saya karena saya anak kandung dari seorang mafia?” tanya Dimas setelah lama terdiam.


.


.


.


*TBC

__ADS_1


Happy Reading‼️


__ADS_2