Suami Yang (Tak) Dianggap

Suami Yang (Tak) Dianggap
Eps 177


__ADS_3

Malam ini Axel dan Gita sedang berkumpul di ruang makan bersama semua keluarga, termasuk Chandra juga ada disana. Jenny dan Iqbal sangat senang melihat hiubungan anak dan menantunya sudah membaik.


Di sela-sela kegiatan makannya, Gita menyampaikan pada Mama dan Papanya kalau bulan depan akan pergi ke luar negeri. lebih tepatnya akan menetap disana. Seketika wajah Jenny tampak murung.


“Kenapa mendadak?” tanya Jenny.


“Maaf, Ma. Mas Axel juga mulai bulan depan kuliahnya.” Jawab Gita.


Jenny terdiam sambil menundukkan kepalanya. Rasanya dia begitu berat melepas anak perempuannya untuk tinggal jauh darinya. Mungkin kalau masih tinggal di dekatnya, dia bisa kapan pun datang jika merindukan Gita.


“Sayang, biarkan mereka menjalani kehidupan rumah tangganya disana. Lagi pula Axel juga mempunyai tanggung jawab pada perusahaan Opanya yang ada disana. Nanti kalau kita merindukan Gita, kita bisa pergi kesana.” Ucap Iqbal mencoba memberi pengertian pada istrinya.


“Tapi kalian harus janji pada Mama untuk selalu memberi kabar.” Jenny akhirnya mengerti, meski harus memberi ultimatum pada Gita dan Axel untuk selalu memberikan kabar.


Pasalnya Jenny tidak ingin ada kejadian seperti dulu. Dimana dia tidak pernah mengetahui kabar tentang rumah tangga anaknya karena merasa sangat yakin kalau hubungan Gita dan Axel baik-baik saja. Namun ternyata salah, bahkan hubungan rumah tangga mereka hampir di ujung tanduk.


“Iya. Mama tenang saja. Kita akan selalu memberikan kabar untuk Mama dan Papa.” Jawab Axel.


Selesai makan, mereka berkumpul di ruang keluarga untuk melanjutkan obrolan santai mereka. Kecuali Daniel dan Chandra yang lebih memilih masuk kamar masing-masing.


Saat ini Gita sedang tiduran di sofa dengan meletakkan


kepalanya pada pangkuan Mamanya. Jenny pun tak segan-segan mengusap kepala Gita seperti anak kecil. Sedangkan Axel hanya bisa tersenyum melihat tingkah manja istrinya.


“Sudah punya suami tapi kelakuannya masih manja kayak anak kecil begini. Bagaimana kalau sudah ada anak kecilnya?” ucap Iqbal yang juga keheranan melihat tingkah anak sulungnya yang masih suka manja.


Gita hanya nyengir tanpa menjawab ucapan Papanya. Begitu juga dengan Jenny hanya tersenyum menanggapi ucapan suaminya.


“Apakah kalian berencana akan menunda punya anak? Mengingat Axel juga akan melanjutkan kuliahnya sambil mengurus perusahaan.” Tanya Jenny.


“Nggak, Ma. Sedikasihnya saja sama yang di atas. Mama dan Papa doakan saja.” Jawab Axel.

__ADS_1


Iqbal dan Jenny mengangguk. Apapun demi kebahagiaan anak dan menantunya, mereka selalu mendoakan yang terbaik. Berbeda dengan Gita, mendengar pertanyaan Mamanya mengenai anak, entah kenapa Gita masih belum siap jika harus hamil dalam waktu dekat ini.


Waktu sudah malam. Jenny mempersilakan Gita dan Axel agar segera istirahat. Dan saat ini mereka sudah ada di dalam kamar. Gita tampak melamun karena memikirkan ucapan Mamanya tadi. sementara Axel masih di kamar mandi.


“Ada apa hmmm?” tanya Axel yang kini sudah bergabung dengan istrinya.


Gita hanya tersenyum. Dia ingin membahas masalah anak dengan suaminya, tapi dia takut kalau suaminya akan marah.


“Nggak apa-apa kok, Mas. Ya sudah ayo tidur.” Ajak Gita kemudian.


“Aku nggak akan tidur sebelum kamu bicara apa yang sedang mengganjal hatimu. Please, Sayang jangan menyembunyikan sesuatu dariku.” Ucap Axel dengan nada lembut agar istrinya tidak tersinggung.


“Mas janji jangan marah, ya?” pinta Gita sebelum mengungkapkan kegelisahan hatinya.


“Iya, aku janji.” Jawab Axel.


Akhirnya Gita mengungkapkan sesuatu yang sejak tadi mengganjal hatinya. Yaitu mengenai momongan. Bukannya dia tidak mau memiliki anak. Hanya saja Gita berpikir bahwa hubungan rumah tangganya baru saja membaik. Dia tidak ingin secepat itu memiliki anak, karena masih ingin menikmati kebersamaannya dengan Axel. Setelah mengucapkan itu, Gita menundukkan kepalanya karena takut Axel tidak setuju dengan keinginannya.


Axel mengerti dengan perasaan istrinya saat ini. memang benar yang diucapkan oleh Gita. namun dia juga tidak menolak jika memang sudah diberi kepercayaan oleh yang maha kuasa untuk diberi momongan.


“Nggak, Mas. Aku tidak mau memakai alat kontrasepsi.” Jawab Gita.


Axel bersyukur mendengar jawaban istrinya. “Sayang, kita pasrahkan semua sama yang maha kuasa. Tuhan pasti tahu yang terbaik untuk hambanya. siapa tahu jika kita diberi kepercayaan anak dengan cepat, akan semakin mempererat hubungan kita. Atau memang kita diberi waktu untuk memperbaiki hubungan kita terlebih dulu sebelum diberi kepercayaan seorang anak. Kita sama-sama tidak tahu. Kita hanya bisa pasrah. namun yang pasti, kita harus siap menerimanya kapanpun dia akan tumbuh ke rahim kamu.” Ucap Axel dengan bijak.


“Iya, Mas. Maafkan aku.” jawab Gita merasa bersalah.


“Stt… jangan meminta maaf. Kamu tidak salah. Aku sangat paham dengan yang kamu pikirkan.” Ucap Axel.


Setelah itu Axel mengajak Gita segera tidur. Karena waktu sudah malam, Gita juga sepertinya sangat lelah. Dan malam ini Axel sengaja tidak mengajak istrinya bertempur. Dia hanya tidur sambil memeluk Gita dengan erat.


Keesokan paginya Gita terbangun lebih dulu. Dia segera turun untuk membantu mamanya memasak. Sedangkan Axel masih nyenyak dalam mimpinya.

__ADS_1


Selesai memasak dan menyajikan makanannya di meja makan, semua penghuni rumah sudah berkumpul di ruang makan untuk melakukan sarapan bersama. Dan pgi ini Axel juga harus datang ke kantor Papanya, sedangkan Gita diminta untuk tetap tinggal di rumah mamanya.


***


Pagi ini Dimas tampak cemas menanti kedatangan atasannya. Karena hari ini juga Dimas akan memberikan surat pengunduran dirinya pada Iqbal. entah bagaimana reaksi Iqbal nanti saat mengetahui dirinya akan resign.


Beberapa saat menunggu, kini Dimas sudah memasuki ruangan Iqbal setelah melihat Iqbal baru saja datang.


“Ada apa, Dim? Apakah pagi ini ada jadwal meeting?” tanya Iqbal.


“Maaf, Tuan. Saya hanya ingin memberikan ini.” ucap Dimas sambil memberikan surat pengunduran dirinya.


Iqbal tampak terkejut setelah membaca isi surat yanbg baru saja diberikan Dimas. Namun dia mencoba untuk tenang, setelah itu menanyakan alasannya pada Dimas.


“Kenapa mendadak seperti ini? kamu tahu perusahaan saat ini sedang sibuk.” Tanya Iqbal.


Dimas pun mengatakan alasan dirinya resign. Yaitu harus menangani perusahaan milik Papanya yang sedang membutuhkan seorang pemimpin. Dimas juga mengatakan kalau sebenarnya dia sudah menolak, namun Papanya terus memaksa. Perlahan Iqbal pun mengerti. Dan dengan terpaksa dia harus merelakan kepergian Dimas dari perusahaannya. Bahkan dengan senang hati Iqbal menawarkan kerjasama dengan Dimas.


“Terima kasih banyak, Tuan. Saya juga tidak akan menolak untuk bekerja sama dengan perusahaan Tuan Iqbal.” ucap Dimas.


Dimas merasa lega. Setelah itu dia pamit undur diri untuk pergi ke perusahaan milik Papanya. Secepatnya dia harus menyusun strategi demi menyelamatkan sekaligus mendapatkan perempuan yang dia cintai.


Ya, alasan utama Dimas menerima mengelola perusahaan milik Papanya adalah demi Inez. Setelah beberapa waktu yang lalu mengintai Jerry, akhirnya jalan inilah yang akan Dimas tempuh untuk menggagalkan pernikahan Inez dengan Jerry.


.


.


.


*TBC

__ADS_1


Happy Reading‼️


__ADS_2