
Malam harinya, di ruangan ICU Axel masih belum sadarkan diri. Sejak tadi Nia terus menangis melihat keadaan anaknya. lalu dia memasuki ruangan itu setelah meminta ijin pada perawat jaga. Nia berharap dengan kedatanganya, Axel bisa membuka matanya.
“Sayang, bangunlah Nak!” ucap Nia sambil memegang lembut tangan Axel.
Nia kembali meneteskan air matanya saat tidak melihat reaksi dari tubuh Axel. Sebelumnya dokter sudah mengatakan kalau secara keseluruhan tubuh Axel sudah tidak ada masalah. Kepalanya juga sudah membaik setelah operasi tadi. namun pihak keluarga tetap disuruh untuk bersabar karena memang sangat lama pemulihan untuk paasien setelah melakukan operasi cedera otak.
“Sayang, kamu tahu nggak kenapa kamu bisa sampai seperti ini. kamu sudah mempertaruhkan nyawa kamu hanya demi perempuan yang tidak pernah mencintaimu. Bangunlah, Nak! perempuan tidak hanya dia saja.” Ucap Nia dengan suara lirih namun penuh amarah saat mengingat Gita.
Jari-jemari Axel bergerak perlahan. Nia yang melihatnya sangat tidak percaya namun juga senang karena akhirnya Axel sadar. Kemudian Nia memencet tombol nurse call. Setelah beberapa saat perawat datang bersama seorang dokter.
mereka meminta Nia agar keluar terlebih dulu.
Felix yng baru saja datang melihat wajah istrinya yang tampak berbeda.
“Sayang, kenapa?” tanyanya.
“Mas, Axel sudah sadar. Tadi saat aku masuk, dia sudah bisa menggerakkan tangannya.” jawab Nia dengan haru.
Felix pun ikut senang mendengarnya. Dia juga berharap setelah ini keadaan Axel segera pulih kembali. Kemudian Felix menanyakan ponselnya pada Nia yang tadi ketinggalan saat dia pulang sejenak untuk berganti pakaian.
Nia memberikan ponsel itu dengan sedikit gugup karena takut suaminya akan mengetahui kalau no ponsel Iqbal telah ia blokir. Dan benar saja, Felix tampak mengotak-atik ponselnya seperti mencari sesuatu. Dan beruntungnya dokter keluar dari ruangan Axel setelah selesai melakukan pemeriksaan.
“Bagaimana keadaan anak saya, Dok?” tanya Nia.
“Keadaan pasien belum sepenuhnya satabil. Masih perlu beberapa waktu. Saya sarankan agar keluarga tidak terlalu menekan keadaannya untuk segera sadar. Dan satu lagi, pasien tadi sempat menyebut nama “Gita”. Mungkin saat ini nama itu yang sedang dalam pikiran pasien.” Terang dokter panjang lebar.
“Terima kasih, Dok. Apakah kami bisa masuk sekarang?” tanya Nia kemudian.
“Silakan. Asal tidak lebih dari sepuluh menit. Agar pasien bisa kembali beristirahat.” Jawab dokter setelah itu pergi meninggalkan Fellix dan Nia.
Felix dan Nia sudah masuk ke dalam ruangan Axel. Mereka lega setelah mendengar keadaan anaknya yang mulai pulih. Nia mengusap lembut tangan Axel yang masih menutup matanya. Felix pun juga melakukan hal yang sama.
“Gita” lirih Axel dengan mata terpejam.
__ADS_1
Felix dan Nia sama-sama terdiam saat anaknya mencari istrinya. Felix ikut sedih karena belum bisa mempertemukan anaknya dengan Gita. Karena sampai saat ini dia juga belum tahu pasti bagaimana keadaan menantunya saat ini.
Berbeda dengan Nia. justru dia sangat marah. Kenapa saat anaknya baru saja sadar justru nama Gita yang dipanggil. Padahal sejak tadi yang setia menungguinya adalah Mama dan Papanya.
“Gitaa, kamu dimana?” Axel kembali mencari keberadaan Gita, bahkan matanya sudah perlahan terbuka.
“Kamu harus sembuh dulu, nanti pasti akan bertemu dengan istri kamu.” Jawab Felix.
“Bagiamana keadaan Gita, Pa?” tanya Axel lagi.
“Gita baik-baik saja. Kamu harus sembuh dulu.” Jawab Felix.
“Sudahlah, Mas. Jangan lagi memberikan harapan palsu.” Celetuk Nia tiba-tiba.
“Apa maksud kamu?” tanya Felix tak mengerti.
Belum sempat mendengar jawaban dari istrinya, Felix melihat Axel tiba-tiba mengeluarkan air matanya. dia sangat panik lalu memanggil dokter.
“Apa maksud kamu bilang seperti itu?” tanya Felix.
“Bukankah sudah cukup jelas seperti yang aku katakan kalau Axel seperti ini karena Gita. Aku tidak akan mengizinkan Axel bertemu dengan Gita. Mas nggak tahu yang sebenarnya. Selama ini mereka tinggal satu rumah namun rumah tangga mereka sangat tidak bahagia. Aku sendiri yang melihatnya saat menginap di apartemen mereka dulu. Memang mereka tidur satu kamar, namun itu hanya sandiwara, karena aku melihat beberapa baju Gita masih ada di lemari kamar yang aku pakai. Tidak hanya itu juga, awal pernikahan mereka Axel sempat mengatakan padaku kalau Gita sangat membencinya karena kejadian malam itu. Sungguh aku tidak menyangka dengan sikap Gita yang seperti itu pada Axel. Axel sudah cukup menderita selama ini, Mas.” Jawab Nia.
Felix terdiam. Dia bingung apa benar yang dikatakan oleh istrinya. Memang dia tidak terlalu ikut campur dengan urusan rumah tangga anaknya. tapi dia juga pernah melihat anaknya keluar kantor untuk makan siang bersama Gita. Apakah itu benar atau hanya kebohongan Axel.
“Dan tadi kata Mas, kalau saat kejadian tadi Gita hanya pingsan dan tidak mendapat luka tembak. Lantas kemana dia sekarang? sudah jelas bukan kalau Gita memang tidak pernah mencintai Axel. Nanti saat Axel sudah benar-benar sembuh, aku akan memintanya untuk menceraikan Gita.” Nia kembali berucap.
“Tunggu dulu, kita juga belum bisa melihat sendiri-“
Ucapan Felix terpotong saat baru saja melihat dokter selesai memerika Axel. Kemudian mereka berdua segera menghampiri dokter itu.
“Tuan, Nyonya bukankah sudah saya peringatkan agar tidak terlalu menekan pasien untuk segera sadar. Butuh waktu lama pemulihannya. Saya hara panda bisa bersabar. Tadi pasien sudah saya beri obat agar bisa beristirahat dengan tenang.” Ucap Dokter dengan raut wajah yang serius.
“Maafkan saya, Dok.” Ucap Felix. Setelah itu dokter meninggalkan mereka berdua.
__ADS_1
***
Sementara itu di rumah sakit yang sama dengan Axel namun ruangannya berbeda, ada seseorang yang berbaring lemah setelah beberapa jam yang lalu juga baru sadar pasca operasinya. disamping brankar ada seorang laki-laki yang merupakan teman baiknya.
“Apa kamu butuh sesuatu?” tanya Elvan pada Dimas.
Dimas hanya menggelengkan kepalanya. Dia terdiam memikirkan rasa bersalahnya karena gagal menyelamatkan Gita dari penculikan itu.
“Apa ada yang sakit?” tanya Elvan lagi.
“Nggak. Apa kamu tahu bagaimana keadaan Gita saat ini?” tanya Dimas akhirnya.
“Lebih baik fokuslah dulu dengan kesehatan kamu biar bisa segera sembuh. Gita pasti baik-baik saja dan mendapatkan pengobatan terbaik.” Jawab Elvan.
Dimas heran dengan jawaban Elvan yang mengatakan kalau Gita pasti mendapat pengobatan terbaik. Apa maksudnya.
“Memangnya apa yang terjadi dengan Gita?” tanya Dimas.
“Gita saat ini sedang dibawa ke rumah sakit yang ada di kota J. tadi Daniel, adik dari Gita sempat menceritakan sedikit kalau kakaknya mendapat suntikan yang mengandung zat psikotropika yang dilakukan oleh penculik itu. Jadi dokter menyarankan agar Gita dibawa ke rumah sakit yang fasilitasnya lebih memadai.
Dimas sangat terkejut mendengarnya. Dan juga rasa bersalahnya kembali muncul.
“Maafkan aku, Gita.” Lirih Dimas.
.
.
.
*TBC
Happy Reading‼️
__ADS_1