Suami Yang (Tak) Dianggap

Suami Yang (Tak) Dianggap
Eps 120


__ADS_3

Dentuman musik yang sangat memekakkan telinga sudah biasa terdengar bagi kebanyakan mereka yang sering datang ke tempat hiburan malam. Namun tidak bagi Gita. Perempuan itu sangat tidak nyaman dengan suara musik yang sangat keras itu. Tapi demi menghadiri acara ulang tahun temannya, dia harus datang ke tempat itu. Dan beruntungnya Patricia menyewa satu ruangan khusus untuk acaranya, dimana ruangan itu sangat tertutup bahkan kedap suara.


"Selamat ulang tahun ya!" ucap Gita sambil memeluk Patricia lalu mereka berdua cipika-cipiki.


"Thanks ya Git sudah datang." jawab Patricia lalu mempersilakan Gita menikmati acaranya.


Gita memilih duduk di sofa bersama Fathia dan juga Inez. Karena yang diundang dalam acara tersebut tidak hanya teman-teman kampusnya, melainkan teman-teman kakak Patricia yang kebanyakan laki-laki.


"Aku ke toilet sebentar ya, Nez!" Pamit Gita dan diangguki oleh Inez.


Sementara itu malam ini Axel ijin tidak melakukan pengintaian pada Gita. Karena selain dia masih galau dengan hubungan Gita dan Dimas, malam ini salah satu teman Axel yang baru datang dari luar negeri mengajaknya hang out ke sebuah Club. Dan ternyata Club yang sama dimana Gita sedang menghadiri acara ulang tahun Patricia.


Saat Axel sedang berbincang dengan teman-temannya, sekelebatan dia melihat seseorang yang sangat mirip dengan postur tubuh Gita. Namun setelah itu dia menggelengkan kepalanya, karena tidak mungkin Gita nongkrong di tempat seperti ini.


"Nih!! Cobalah, Xel sekali-sekali!"


Jendra, salah satu teman Axel mengeluarkan beberapa bungkus barang yang menyerupai bungkusan permen namun isinya adalah alat pengaman berbahan latex dengan tekstur basah dan mengeluarkan bau yang harum.


Axel mencebik kesal karena lagi-lagi temannya menawarkan benda itu padanya. Padahal berulang kali, dia sudah menolaknya.


"Axel suka main polosan bro!" seloroh Mikko diiringi gelak tawa.


"Atau jangan-jangan kamu nggak normal?" tambah Jendra dengan wajah pura-pura bergidik ngeri.


Sekali lagi Axel tidak peduli. Dia dengan santainya meminum cocktail yang ada di hadapannya.


Memang teman-teman Axel kebanyakan akan memakai jasa dari wanita penghibur yang ada di Club itu setelah cukup menghabiskan banyak minuman. Kecuali Axel. Dia selalu pulang, jika teman-temannya mulai menggandeng wanita bayarannya.


Mata Axel tiba-tiba menyorot dengan jelas pada sosok perempuan yang sejak tadi membuatnya penasaran. Dan benar, meski penerangan dalam Club itu agak remang-remang, tapi dia sangat yakin kalau peremouan itu adalah Gita.


Axel masih terus mengawasi Gita yang mulai masuk ke dalam ruangan khusus yang dia tahu ruangan itu memang untuk acara tertentu. Dan tidak jauh dari ruangan itu, terlihat dua orang pria saling berbisik sambil menunjuk Gita. Lalu salah satu pria itu masuk ke dalam ruangan itu dengan membawa nampan berisi minuman.


Pikiran Axel sudah tidak tenang lagi. Dia segera berdiri untuk menghampiri salah satu pria itu.


"Mau kemana?" tanya Jendra namun Axel mengabaikannya.


Axel mendekati pria itu, namun salah satu pria yang membawa nampan minuman itu baru saja keluar dari ruangan dimana ada Gita disana. Pria itu memberi kode dengan acungan jempol tanda misinya berhasil.


Bugh


Axel langsung memberi bogem mentah pada salah satu pria itu lalu menyeretnya menuju tempat yang sedikit sepi.


"Apa yang kamu berikan pada minuman itu?" tanya Axel.

__ADS_1


"Hei apa maksud kamu? Itu bukan urusanmu" jawab pria itu dengan tenang walau dia sangat ketakutan.


Bugh


Saat Axel akan memukul kembali pria itu, ternyata dia mendapat pukulan tepat mengenai tengkuknya.


"Cepat keluarlah! Yang penting minuman itu sudah mengenai target." ucap pria satunya.


Axel yang masih kesakitan dan pura-pura pingsan mendengar semuanya itu. Dan pria yang masih membawa bungkusan obat perangsangg itu segera lari keluar.


"Xel, kamu kenapa?" tanya Jendra dan Mikko yang sudah menghampiri Axel.


"Cepat kalian tangkap dua pria tadi!" perintah Axel pada Jendra dan Mikko.


Sedangkan Axel berjalan memasuki ruangan dimana ada Gita disana. Ruangan itu cukup ramai dan kebanyakan orang yang ada disana tampak sedang menikmati sebuah pesta ulang tahun.


Mata Axel menelisik mencari keberadaan Gita. Namun dia tidak menemukannya. Dengan cepat Axel keluar dari ruangan itu dan benar saja, ada dua orang yang sedang berjalan cepat sambil memapah seorang perempuan.


"Hei berhenti kalian!" teriak Axel.


Salah satu orang yang memapah Gita berhenti dan terlibat pertempuran sengit dengan Axel.


Bugh


Bugh


Bugh


Saat Axel lengah, pria yang ia pukuli tadi dengan cepat menendang kaki Axel hingga jatuh tersungkur.


"Sialann!!!" Axel bangun dengan mata memerah dipenuhi amarah.


Dorrr


Tiba-tiba pria itu mengeluarkan sebuah pistol dari saku jaketnya dan menembakkannya ke udara sebagai tanda peringatan pada Axel.


Alunan musik Club yang berhenti sejenak bertepatan dengan suara tembakan itu seketika membuyarkan semua orang yang ada dalam club.


"Kalau kamu berani maju, akan aku tembakkan peluru ini tepat ke jantungmu." ancamnya lagi hingga membuat Axel terdiam sejenak.


Pria itu bangun dengan tangan masih memegang pistol yang diarahkan pada Axel. Sedangkan Axel masih berusaha keras mencari celah bagaimana membuat pria itu melepaskan pistolnya, karena posisinya saat ini jauh dari keramaian pengunjung club.


Tak lama kemudian terdengar suara sirine mobil polisi, pria itu tampak terkejut dan Axel segera menendang tangannya hingga pistol itu jatuh.

__ADS_1


Bugh


Bugh


Axel memukulnya lagi sampai pria itu tidak mampu untuk bangun. Dia segera berlari mengejar Gita.


Tampak dari jauh Gita berjalan terseok dengan seorang pria dan akan memasuki sebuah mobil. Axel berlari dengan cepat lalu memukul tengkuk pria itu sampai pingsan.


Grep


Axel menangkap tubuh Gita yang hampir saja jatuh. Lalu dia membawanya masuk ke dalam mobilnya walau Gita terus meronta.


"Git, kamu baik-baik saja?" tanya Axel yang kini sudah berada dalam mobil.


"Kak Axel! Panas Kak. Tolong aku, aku nggak kuat." ucap Gita lirih dengan tangannya mulai melepas kancing bajunya.


Axel terkejut ternyata Gita sedang dalam pengaruh obat perangsaang. Dengan cepat dia menyalakan mesin mobilnya dan membawa Gita pergi ke apartemennya, karena yang paling dekat dengan club.


"Tenang Git, sabar ya!" ucap Axel tanpa melihat Gita. Karena saat ini Gita sudah berhasil meloloskan bajunya.


Tangan Axel bergerak menambah suhu dingin ac mobilnya agar mengurangi rasa panas dalam tubuh Gita.


"Kak. Tolong aku! Panas Kak!" ucap Gita dengan tangan yang kini sudah mengusap paha Axel.


Sesampainya di basement apartemen, Axel membuka sweaternya untuk menutupi tubuh Gita. Lalu membawanya masuk ke dalam unit apartemennya.


Gita semakin meronta dan ingin melepas semua bajunya. Namun Axel masih menahannya.


Axel dengan cepat mengisi air hangat dalam bathtub untuk merendam tubuh Gita.


Byurrrrr


Gita menarik kuat tubuh Axel hingga ikut terjatuh dalam bathtub.


.


.


.


*TBC


Happy Reading‼️

__ADS_1


__ADS_2