
Cukup lama Inez menghabiskan waktunya bersama Gita di dalam kamar. bahkan mereka juga makan bersama di dalam kamar. Inez sebenarnya ingin sekali menemui Axel untuk memberitahu keadaan Gita. Namun sepertinya akan sulit. Lagi pula keadaan Gita saat ini sudah membaik dan sudah kembali tampak ceria seperti yang Inez lihat biasanya.
“Kita jalan yuk! bosan nih Git.” Kata Inez.
Wajah yang sedang ceria kini berubah murung lagi saat mendengar ajakan Inez untuk keluar. Entah kenapa Gita jadi seperti takut untuk bertemu dengan orang.
“Kamu pulanglah kalau bosan disini. Aku nyaman disini, Nez.” Ucap Gita.
“Eh bukan begitu maksudku, Git. Ya sudah aku akan tetap disini menemanimu.” Ucap Inez merasa tak enak.
Pukul 5 sore akhirnya Inez berpamitan untuk pulang. Gita juga terlihat capek dan sepertinya butuh istirahat.
“Aku pulang dulu ya. Kalau ada apa-apa hubungi aku saja, nggak perlu sungkan.” Pamit Inez.
“Iya. Terima kasih banyak ya, Nez. Hati-hati pulangnya.” Jawab Gita.
Inez keluar kamar Gita sambil matanya memindai mencari keberadaan Axel. Namun apartemen itu rupanya tampak sepi. Karena memang Axel pergi sejak kedatangan Inez tadi pagi. akhirnya Inez memutuskan untuk pulang saja. Mungkin lain kali akan mencoba bicara empat mata dengan Axel.
“Kamu baru pulang?” tanya seseorang yang sedang berada di basement.
“Axel? Iya aku baru pulang. maaf seharian Gita menahanku dan tidak memperbolehkan aku pulang.” jawab Inez.
Tiba-tiba wajah Axel berubah sendu. Dia sedih mendengar kalau istrinya lebih nyaman bersama dengan temannya, daripada dengan dirinya yang berstatus sebagai suaminya.
“Axel, aku harus segera pulang. tapi sebelumnya, bolehkah aku meminta no ponsel kamu?” tanya Inez dan membuat Axel sempat berpikiran buruk.
“Maaf, jangan berpikir macam-macam. Aku ingin memberitahu sesuatu tentang Gita.” Inez memperjelas maksudnya.
Akhirnya Axel paham. Kemudian dia memberikan no penselnya pada Inez. Setelah itu Inez berpamitan pulang. sedangkan Axel segera masuk ke unit apartemennya sambi membawa paper bag yang berisi makanan.
Sesampainya di unit apartemennya, Axel melihat Gita sedang duduk santai sambil nonton Tv. Hati Axel sedikit lega karena Gita akhirnya mau keluar kamar. tidak masalah jika sikapnya masih dingin seperti biasa.
Setelah itu Axel masuk dapur untuk menyiapkan makanan yang dia bawa tadi. dia ingin mengajak Gita makan bersama. Mungkin saja perempuan itu mau.
“Makan yuk! Pasti kamu belum makan kan?” ajak Axel dan mencoba bersikap seperti biasa.
__ADS_1
Gita masih diam dan sibuk menyimak acara tv yang sedang ia tonton. Namun Axel tidak pantang menyerah. Dia terus membujuk Gita agar mau menemaninya makan. Lama-lama Gita mau dan akhirnya dia mengambil makanan yang diletakkan Axel di atas meja lalu memakannya. Senyum merekah terbit di bibir Axel. Dia sangat senang sekali melihat Gita mau makan.
Perasaan Gita sudah kembali seperti biasanya. Tidak seperti saat baru bertemu dengan Inez tadi pagi. walau masih dingin terhadap Axel, setidaknya laki-laki itu merasa lega kalau istrinya baik-baik saja.
Keesokan paginya Gita terbangun lebih pagi. dia merasa badannya tidak enak dan kepalanya pusing. akhirnya hari ini memutuskan untuk tidak masuk kerja. Dia mengirim pesan pada Axel agar tak menungggunya, karena sedang tidak enak badan.
Tok tok tok
Axel sangat khawatir setelah membaca pesan Gita yang dikirim tadi pagi yang mengatakan kalau sedang tidak enak badan. Dia takut terjadi sesuatu dengan perempuan itu.
Cklek
Gita membukakan pintu namun hanya kepalanya saja yang terlihat. Dan disana ada Axel yang sedang berdiri dengan wajah cemasnya.
“Kamu sakit? Apa perlu ke rumah sakit?” tanya Axel.
“Nggak. Kepalaku hanya pusing saja. Pergilah. Aku akan istirahat saja.” Tolak Gita.
“Tapi kamu terlihat puc-“
Blamm
Axel mengusap dadanya pelan. Padahal semalam dia sudah tampak sedikit senang melihat Gita meresponnya. Tapi tidak untuk pagi ini. istrinya kembali ke mode menyebalkan lagi.
***
Hari berganti. Kini usia pernikahan Axel dan Gita sudah berjalan lima bulan. Dan sampai saat ini hubungan mereka masih tidak ada perkembangan. Axel juga masih tidak putus asa untuk mendapatkan hati Gita. Bahkan laki-laki itu sangat sabar. Sementara Gita masih saja dingin dan lebih memilih fokus dengan pekerjaannya. Karena perusahaan Papanya juga sedang sangat sibuk semenjak menerima kerjasama dengan perusahaan besar yang bergerak di bidang multi nasional itu.
“Gita, nanti ikut meeting dengan Dimas ya. Papa ada meeting dengan klien baru.” Ucap Iqbal.
“Kenapa harus Gita sih, Pa? Gita kan bagian divisi pemasaran. Nggak perlu ikut meeting juga.” tolak Gita karena merasa tidak nyaman jika hanya berdua dengan Dimas.
“Tapi Tuan Andreas yang meminta salah satu karyawan baagian divisi pemasaran juga ikut. Sebenarnya Papa juga ikut hadir, tapi ini tadi tiba-tiba Tuan Lucky mengubah jadwal.” Jawab Iqbal.
Akhirnya mau tidak mau Gita mengiyakan perintah Papanya. Dan siang nanti dia terpaksa pergi bersama Dimas.
__ADS_1
***
Malam harinya, Axel berpamitan pada Gita untuk keluar. Walau ia tahu dengan respon Gita, setidaknya dia berusaha menunjukkan sikap pedulinya.
Dan sekarang Axel sedang berada di sebuah café. Dia meminum kopinya sembari menunggu Chandra. Orang yang mengajaknya bertemu. Axel juga masih belum tahu maksud Chandra mengajaknya bertemu berdua saja di café.
“Sorry, aku telat.” Ucap Chandra yang baru saja datang.
“Nggak apa-apa. Pesanlah minuman dulu.” Jawab Axel.
Setelah pesanan minumannya datang, Chandra mengutarakan maksudnya ingin mengajak Axel bicara berdua. Chandra mengatakan kalau pria yang sempat mencuri laptopnya yang ada di dalam mobil kala itu, siang tadi bunuh diri di dalam penjara setelah menenggak cairan pembersih lantai.
Chandra, Iqbal, bahkan Axel juga tahu kalau pria itu adalah salah satu komplotan penjahat yang akan menculik Gita. Sewaktu Chandra dimintai keterangan di kantor polisi saat itu, Chandra dan Iqbal sangat mengenali wajah pria itu yakni wajah yang terekam kamera cctv. Namun saat polisi mengintrogasinya, pria itu bungkam. Dia seolah takut jika mengatakan siapa orang yang menyuruhnya akan berdampak pada anak istrinya. Akhirnya Iqbal meminta untuk tetap menahan pria itu dan menunggu sampai dia mau mengatakan yang sebenarnya.
“Jadi kita tidak bisa mendapatkan petunjuk?” tanya Axel frustasi.
“Aku tadi sudah mendatangi Lapas setelah mendapat kabar kalau dia sudah tewas bunuh diri. Dan salah satu sipir mengatakan, sebelum pria itu menghembuskan nafasnya yang terakhir, dia menyebut sebuah nama yaitu “Malik”. Apa kamu pernah mendengar nama itu? Uncle Iqbal pun tidak mengenalnya.
“Tidak. Aku tidak pernah mendengar nama itu. Apakah nama itu adalah nama dalang dibalik penculikan Gita?” Axel ingin memastikan.
“Aku juga belum tahu pasti. Setidaknya kita sudah menemukan kata kunci untuk mengungkap semuanya.” Ucap Chandra.
“Aku akan meminta bantuan Mikko dan Jendra.”
“Baiklah. Aku juga akan menghubungi Ayah.”
.
.
.
*TBC
Happy Reading‼️
__ADS_1