
Meskipun hanya akad nikah saja dan dihadiri oleh keluarga inti dan kerabat terdekat, namun Kay tetap mempersiapkan segala sesuatunya tanpa ada yang terlewati. Lidya, asisten Jenny yang kebetulan tinggal di rumah Jenny juga ikut sibuk membantunya. Sementara Iqbal sejak tadi pagi sangat sibuk mempersiapkan berkas-berkas yang dibutuhkan untuk pernikahannya nanti.
Akhirnya waktu yang ditunggu-tunggu tiba. Saat ini Iqbal dan kedua orang tuanya sudah tiba di kediaman Jenny. Sedangkan Jenny sudah cantik dengan kebaya warna putih dan riasan yang terlihat tampak anggun. Namun sejak tadi dirinya diliputi rasa gugup. Entah kenapa padahal setiap hari juga sudah sering bertemu dengan suaminya, namun hal itu tak mampu menghilangkan kegugupannya.
Tok tok tok
“Ya, masuk!” ucap Jenny.
“Sayang, ayo kita keluar. Suami kamu sudah menunggu.” Ajak Kay.
“Jenny gugup sekali Ma.” Ucap Jenny sambil berdiri tidak tenang.
“Wajar kalau kamu gugup. Sekarang tarik nafas dulu, buat serileks mungkin agar tidak gugup lagi. Mama sangat senang akhirnya anak Mama menemui kebahagiaannya.” Ucap Kay sambil membelai pipi Jenny.
“Terima kasih Ma.”
Setelah itu Jenny turun bersama Mamanya untuk segera melakukan akad nikah. Iqbal yang sedang duduk menunggu kedatangan Jenny sebenarnya diliputi kegugupan juga. hanya saja dia bisa mengontrolnya. Dan saat melihat Jenny sudah memasuki ruang keluarga dengan digandeng Kay, mata Iqbal tidak bisa lepas dari pesona Jenny yang sangat cantik.
“Ehm, akad dulu baru lihat sepuasnya.” Ucap seorang pria yang sedang menggendong Gita.
Iqbal hanya meliriknya sekilas tanpa menjawab ucapan Billal. Sedangkan Billal sendiri juga tak peduli dengan sikap dingin Iqbal yang hampir sama dengan Bram.
Tidak hanya Iqbal yang mengakui kecantikan Jenny, melainkan semua semua keluarga yang ada dalam ruangan itu juga menilai bahwa Jenny sangat cantik.
Kini Iqbal dan Jenny sudah duduk berdampingan di hadapan penghulu. Keduanya melakukan prosesi sakral pernikahan dengan khidmad dan disaksikan oleh kedua orang tua masing-masing.
Setelah proses yang tidak terlalu panjang itu, akhirnya kata “Sah” terucap serentak dari seluruh anggota keluarga dan kerabat yang hadir disana. Setelah itu Iqbal menyematkan cincin pernikahan di jari manis Jenny dan bergantian. Lalu Jenny mencium tangan Iqbal dengan takzim, sedangkan Iqbal mengecup kening Jenny.
Semua orang terharu akhirnya bisa menyaksikan kebahagiaan Iqbal dan Jenny. Mengingat dulu saat mereka berdua menikah dadakan dan tidak ada cinta diantara keduanya. Namun sekarang beda. Justru dari kejadian itulah yang membawa hikmah besar yaitu datangnya rasa cinta dari Jenny khususnya.
Selesai acara sakral itu, Iqbal dan Jenny mendapat ucapan selamat dari kedua orang tuanya dan juga kerabat yang ikut hadir. Dan setelah itu semua tamu dituntun menuju ruang perjamuan untuk menikmati hidangan yang sudah tersedia.
Galang dan Farah datang terlambat saat acara inti sudah selesai. mereka berdua menghampiri Iqbal dan Jenny yang sedang duduk berdua.
“Selamat ya buat kalian berdua. Semoga selalu bahagia sampai akhir hayat nanti.” Ucap Galang sambil bersalaman pada Jenny dan Iqbal bergantian.
__ADS_1
“Terima kasih Kak Galang doanya.” Ucap Jenny, sedangkan Iqbal hanya tersenyum tipis.
“Jen, selamat ya. Maafkan atas sikapku kemarin.” Ucap Farah sambil memeluk Jenny dengan erat.
“Iya. Nggak apa-apa Far. Aku sudah memaafkanmu.” Jawab Jenny.
Lalu Farah mengucapkan selamat pada Iqbal. namun Iqbal hanya menyambut uluran tangan Farah saja tanpa mengucapkan sesuatu. Farah mengerti kalau Iqbal masih marah padanya.
“Ya sudah kalian masuklah ke dalam untuk menikmati perjamuannya.” Ucap Jenny karena merasa tidak enak melihat sikap suaminya cuek terhadap Farah.
Akhirnya Galang mengajak Farah untuk masuk. Dan kini tinggallah Iqbal dan Jenny kembali duduk berdua. Iqbal masih menampakkan wajah kesal karena teringat ucapan Farah pada istrinya tempo hari.
“Sudahlah, Mas maafkan saja sikap Farah kemarin.” Ucap Jenny.
“Tapi dia kan,- tunggu! Kamu panggil aku apa?” tanya Iqbal.
“Mas? Kenapa? Memang salah? Mama sama Papa juga begitu manggilnya.” Jawab Jenny.
“Sayang. Panggil Sayang. Mau ya?” tawar Iqbal sambil merengek seperti anak kecil.
“Apaan tuh Kanebo Kering? Nggak ada hubungannya dan nggak ada romantis-romantisnya.” Tanya Iqbal dengan muka masam.
“Tahu kan Kanebo kering itu bagaimana? Kaku. Nah seperti muka kam-“
Belum sempat Jenny menyelesaikan ucapannya, Iqbal sudah menggelitiki tubuh Jenny sampai wanita itu tertawa kegelian.
Dan tak jauh dari mereka berada, Lidya sejak tadi melihat kebersamaan Jenny dan suaminya juga ikut tersenyum bahagia.
“Nggak usah dilihatin terus, sana buruan nyusul!” ucap Billal yang tiba-tiba muncul di belakang Lidya.
“Eh Tuan, maaf!” ucap Lidya sambil menunduk malu karena ketahuan melihat kemesraan pengantin baru.
Akhirnya Lidya memutuskan untuk kembali masuk dan bergabung dengan keluarga besar Jenny dan Iqbal. namun langkahnya terhenti saat pergelangan tangannya dicekal oleh Billal.
“Apa kamu sudah memiliki kekasih?” tanya Billal dan Lidya hanya menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
“Ya sudahlah kalau begitu.” Ucap Billal lalu melepaskan cekalan tangannya.
Waktu beramah tamah sudah selesai. Galang dan Farah sudah berpamitan pulang. begitu juga dengan Billal. Kini hanya tinggal keluarga inti saja. Dan mulai saat ini Jenny akan tinggal di rumah Iqbal. rumah yang dulu pernah Jenny tempati bersama Iqbal juga.
“Biarkan Gita malam ini disini sama Mama.” Ucap Kay sebelum Jenny pulang ke rumah suaminya.
“Tapi, bagaimana nanti jika Gita terbangun tengah malam Ma? Biasanya Jenny melihat Gita seperti itu walau sudah tidur sendiri.” Ucap Jenny.
“Nggak apa-apa. Biar nanti tidur sama Mama. Lagi pula juga ada Lidya. Atau kamu mau nanti dia malah mengganggu malam kalian berdua?” tanya Kay sambil tersenyum menggoda.
“Iya, Ma. Iqbal setuju dengan ide Mama.” Celetuk Iqbal tiba-tiba.
Dan sontak saja semua orang tergelak mendengar perkataan Iqbal yang sepertinya sudah tidak sabar menikmati malamnya bersama sang istri dan takut diganggu oleh anaknya.
“Mas ih, dia itu anak kamu loh!” gerutu Jenny.
“Ya sementara Sayang. Besok baru diajak ke rumah kita.” Jawab Iqbal.
Desy dan Bram hanya menggelengkan kepalanya melihat sikap anaknya. namun mereka senang karena bisa melihat wajah ceria Iqbal setelah beberapa tahun cenderung murung lantaran terpisah dengan wanita yang dicintainya.
Akhirnya malam itu Jenny pulang ke rumah suaminya. Gita yang sudah tidur lebih dulu membuat Jenny merasa lega untuk ditinggalkan sementara.
Sekarang Jenny diajak Iqbal menuju kamar yang ada di lantai dua. Kamar yang dulu pernah ia tempati bersama. Dan kamar itu terlihat sangat rapi dan bersih.
“Kamu nggak pernah nempatin kamar ini, Mas?” tanya Jenny.
“Tidak. Aku memakai kamar di lantai bawah karena aku tidak ingin mengingat masa laluku tentang kamu yang semakin membuatku tersiksa. Namun sekarang aku akan kembali ke kamar ini dengan wanita yang sama dan cinta yang sama.” Ucap Iqbal sambil memeluk Jenny dari belakang.
.
.
.
*TBC
__ADS_1
Happy Reading‼️