Suami Yang (Tak) Dianggap

Suami Yang (Tak) Dianggap
Eps 67


__ADS_3

Sejak dua tahun yang lalu perusahaan Billal telah membuka cabang baru di kota B. walau Billal tidak tinggal menetap di kota itu, namun dia memiliki apartemen untuk tempat dia singgah jika sedang kunjungan pada perusahaan cabangnya.


Sebenarnya bukan hanya itu saja kenapa Billal harus membeli apartemen di kota B. tapi itu semua saran dari sepupunya yang tak lain adalah Vito. Vito meminta Billal agar selalu memantau putrinya yang memilih tinggal di kota B sejak kelahiran Brigita. Billal pun dengan senang hati menuruti kainginan sepupunya.


Perasaan Billal pada Jenny kini sudah tidak seperti dulu lagi. Dia sangat menyayangi Jenny sebagai keponakannya. Walau sikap Jenny masih sedikit dingin padanya. Billal sendiri tidak tahu menahu tentang urusan pribadi Jenny termasuk mengenai rumah tangganya. Karena baik Jenny sendiri maupun kedua orang tuanya tidak pernah menceritakan itu semua.


***


Setelah puas bermain dengan Gita. Billal memutuskan untuk kembali ke apartemennya. Dia merasakan badannya lelah setelah pulang dari perjalanan bisnis ke luar negeri. Namun saat akan melangkahkan kakinya keluar tiba-tiba ada suara seseorang yang memanggilnya.


“Iya, Jen ada apa?” tanya Billal.


“Terima kasih Om. Terima kasih selama ini telah menyayangi Gita.” Ucap Jenny.


“Jangan bilang seperti itu. Gita sudah aku anggap seperti anakku sendiri.” Jawab Billal.


“Meskipun begitu, aku haraap Om tahu batasan.” Ucap Jenny ketus karena entah kenapa dia merasa kalau Billal seperti masih mengharapkannya.


“Kamu jangan khawatir soal itu. Aku tahu yang kamu pikirkan terhadapku. Saranku lebih baik segera katakan pada Gita tentang siapa ayahnya yang sebenarnya.” Ucap Billal lalu pergi begitu saja meninggalkan Jenny yang masih terdiam.


Sepeninggal Billal, Jenny langsung terduduk lemas di sofa ruang tamu. Memang benar yang dikatakan oleh Billal benar kalau Gita harus mengetahui siapa ayahnya yang sebenarnya. Tapi Jenny sendiri pun belum siap untuk menghadapi kenyataan jika anaknya nanti menanyakan keberadaan ayah kandungnya. Karena dia sendiri pun sampai saat ini tidak tahu dimana ayah kandung berada.


“Nyonya, maaf saya harus kembali ke butik karena baru saja mendapat telepon dari Reni kalau ada pelanggan yang memesan gaun.” Ucap Lidya.


“Iya. Apakah Gita sudah tidur?” tanya Jenny.


“Sudah Nyonya. Setelah minum obat, Non Gita langsung tidur.” Jawab Lidya.

__ADS_1


***


Sementara itu sore ini Iqbal sedang berada di dalam rumahnya. Setelah kedatangan Farah yang membahas tentang ART yang akan tinggal menetap di rumahnya, Iqbal merasa sedikit lega karena rumah tidak akan sepi lagi.


Iqbal melangkahkan kakinya menuju lantai atas. Entah kenapa tiba-tiba dia merasa sangat rindu dengan kamarnya dulu. Entah rindu pada kamarnya atau dengan sosok penghuni kamar itu. Perlahan Iqbal membuka ruangan di sebelah kamarnya yang masih tampak kosong. Ruangan yang dulu sempat diimpikan Jenny untuk ruang kerjanya. Namun semua itu sirna begitu saja setelah ada badai dalam rumah tangganya hingga membuat dirinya dan Jenny harus berpisah.


Setelah itu Iqbal membuka pintu kamarnya. Kamar yang sempat ia huni beberapa kali bersama sang istri. Kini hanya tinggal kenangan. Tiba-tiba rasa rindu menyerang hati Iqbal begitu kuat. Dia sangat ingin bertemu dengan wanita itu walau hanya sekadar bertegur sapa.


“Jenny, sampai kapanpun aku tetap mencintaimu walau saat ini kamu sudah hidup bahagia bersama suami kamu.” Lirih Iqbal.


Iqbal lalu melangkahkan kakinya menuju balkon kamarnya. Dia membuka pintu lalu melihat pemandangan luar dari balkon. Iqbal menarik nafasnya dalam agar dadanya tidak terlalu sesak karena sangat merindukan sosok yang sangat dicintainya.


Pandangan mata Iqbal menoleh ke rumah yang berdiri tepat di sebelahnya. Iqbal terkejut saat melihat ada anak perempuan kecil sedang bermain boneka di sana. Dan anak itu adalah anak yang pernah ia temui beberapa kali.


Iqbal menarik sudut bibirnya ke atas saat melihat anak itu bermain sangat asyik walau sendirian. Dia terus mengamati anak itu. Namun tiba-tiba saja anak itu masuk ke dalam dengan memanggil nama mamanya. Setelah itu Iqbal pun memutuskan untuk masuk ke dalam.


Jenny yang jarang keluar rumah dan tidak pernah berinteraksi dengan siapapun, dia tidak tahu kalau rumah yang berada di sebelah rumahnya sudah kembali ada yang menghuni. Baginya yang terpenting dia merasa aman tinggal di sebelah rumah mantan suaminya.


***


Malam hari Iqbal hendak keluar rumah untuk makan malam bersama Farah dan Galang. Dia sudah bersiap menuju restaurant dengan menggunakan mobilnya. Namun saat Iqbal keluar dari gerbang rumahnya dia melihat rumah di sebalahnya ada seorang pria yang baru saja masuk ke dalam mobil. Iqbal berpikir kalau pria itu pasti ayah dari anak kecil yang ia temui sedang bermain di balkon tadi. lalu Iqbal melajukan mobilnya menuju restaurant.


Sesampainya di restaurant, Iqbal melihat Farah dan Galang sudah duduk disana. Namun ada lagi sosok wanita yang tampak asyik berbicang dengan Farah.


“Hai, Bal! ayo sini duduk.” Ucap Farah dan Iqbal hanya mengangguk samar.


“Kenalkan dia temanku, Danisa.” Ucap Farah.

__ADS_1


Iqbal pun menerima uluran dari tangan perempuan yang bernama Danisa. Setelah itu mereka berempat duduk bersama sambil menunggu pesanan makanan datang.


Iqbal berbincang-bincang dengan Galang. Sementara Farah dengan Danisa. Sejak tadi Danisa tidak henti-hentinya mencuri pandang terhadap Iqbal. perempuan cantik itu sepertinya sangat tertarik dengan Iqbal. namun Iqbal tampak tidak peduli.


Sementara Galang merasa tidak enak dengan sahabatnya. Dia tahu kalau Iqbal sangat tidak nyaman dengan keberadaan Danisa. Padahal sebelumnya Galang sudah melarang Farah yang akan mendekatkan Iqbal dengan Danisa. Namun Farah tetap tidak peduli. Farah ingin mendekatkan Iqbal dengan Danisa agar Iqbal bisa sedikit melupakan masa lalunya.


“Bal, kamu tahu nggak kalau ayah Danisa ini juga termasuk partner bisnis di perusahaan kita?” ucap Farah.


Iqbal hanya diam sambil tersenyum samar pada Farah.


“Jadi nanti kalau meeting, kamu bisa meeting langsung dengan Danisa. Karena biasanya Danisa yang diminta Papanya untuk meeting dengan beberapa kliennya.” Ucap Farah lagi.


Iqbal yang seolah tahu maksud Farah, dia memilih untuk pergi meninggalkan makan malam terlebih dulu walau makanannya masih belum ia sentuh.


“Mau kemana?” tanya Galang.


“Sorry, aku masih ada keperluan. Kalian lanjutkanlah makan malamnya.” Jawab Iqbal tanpa melihat Danisa dan Farah.


.


.


.


*TBC


Happy Reading‼️

__ADS_1


__ADS_2