
Selama Jenny beristirahat total sesuai dengan saran yang diberikan dokter, selama itu juga Iqbal sangat protektif terhadap istrinya. Jenny tidak diperbolehkan mengerjakan pekerjaan apapun. Bahkan untuk urusan butik juga. sedangkan Gita berada dalam pengawasan Bi Lasmi ARTnya yang sekarang merangkap tugas sebagai baby sitter. Dan Iqbal juga menambah satu lagi ART. Semua itu ia lakukan demi sang buah hati yang sedang dalam kandungan Jenny.
Terkadang sesekali Lidya juga datang ke rumah Jenny untuk menemani Gita bermain, karena kehamilannya tidak mengganggu aktivitasnya. Billal juga tidak mempermasalahkannya.
“Sayang, bagaimana keadaan kamu?” tanya Iqbal saat dia akan berangkat ke kantor.
“Aku sudah baik-baik saja, Mas. Aku bosan sekali tiap hari harus tiduran begini.” Keluh Jenny.
“Sayang, ini semua demi anak kita loh. Kamu yang sabar ya. Besok kita periksa ya?” ucap Iqbal menenangkan istrinya.
Sudah satu minggu lebih Jenny harus bedrest. Dia sama sekali tidak pernah keluar dari kamarnya karena keseharian Jenny hanya tiduran. Dan hari ini adalah obat terakhir dari resep yang diberikan dokter. besok Jenny harus kembali ke rumah sakit untuk memeriksakan kandungannya lagi.
Tok tok tok
Terdengar suara ketukan pintu dari luar kamar. Iqbal segera membukakannya, disana ada Gita bersama baby sitternya.
“Duh, anak Papa! Sini Sayang!” ucap Iqbal membawa Gita masuk ke dalam kamar.
“Maaf, Tuan. Saya ingin memberitahu kalau di bawah sedang ada tamu.” ucap Bi Lasmi.
“Siapa, Bi?” tanya Iqbal heran karena tidak merasa punya janji dengan seseorang.
“Teman Tuan Iqbal katanya. Mereka jumlahnya banyak, dua pasang suami istri dan ada anak kecilnya.” Jawab Bi Lasmi.
Setelah itu Iqbal mengajak Gita turun untuk melihat siapa tamu yang berkunjung ke rumahnya. Sedangkan Jenny masih istirahat di dalam kamarnya.
Ternyata tamu yang datang adalah Galang bersama istrinya, dan juga Felix bersama istri dan anaknya. sedangkan Haidar tidak ikut karena istrinya baru saja melahirkan beberapa hari yang lalu. mereka datang karena ingin menjenguk Jenny. Akhirnya Iqbal mengajak istrinya turun untuk menemui teman-temannya.
“Kamu nggak apa-apa kan Sayang turun ke bawah?” tanya Iqbal.
“Iya, Mas beneran aku sudah baik-baik saja.” Jawab Jenny.
“Baiklah hati-hati jalannya. Setelah ini kita akan pindah di kamar bawah saja. Karena sebentar lagi perut kamu juga semakin membesar.” Ucap Iqbal dan diangguki oleh Jenny.
Sesampainya di ruang tamu, Jenny dan Iqbal ikut bergabung dengan para teman dekat suaminya. Nia, istri Felix meminta maaf pada Jenny karena baru sempat menjenguknya. Sedangkan Farah yang juga sedang hamil besar juga baru sempat hari ini bisa menjenguk Jenny.
__ADS_1
“Nggak apa-apa. Aku justru yang nggak enak sama kalian semua, sudah merepotkan.” Jawab Jenny.
“Tidak, jangan bilang seperti itu. Kita semua sahabat. Jadi sudah kewajiban kita saling berinteraksi dengan baik, terlebih seperti saat ini.” Felix ikut menimpali.
Mereka kini terlibat perbincangan santai sambil menikmati hidangan yang tersedia. Jenny merasa sedikit terhibur dengan hadirnya orang-orang baik di sekitarnya. Mereka juga sesekali tertawa saat melihat keasyikan dua bocah kecil yang sedang bermain.
“Boleh nggak nih Gita aku anggap anakku?” celetuk Nia tiba-tiba.
Entah apa maksud perkataan dari istri Felix itu setelah melihat Gita dan Axel tampak akrab bermain.
“Tuh Jen, sudah diminta langsung sama calon besan.” Sahut Farah diiringi gelak tawa.
“Bukan seperti itu maksudku, Jen. Jujur saja aku ingin punya anak perempuan, tapi apa daya Tuhan hanya mempercayakan aku satu anak laki-laki saja. Aku hanya ingin menganggap Gita seperti anakku saja. Kalau masalah jodoh tetap kita serahkan sama yng di atas.” Jawab Nia bijak.
Jenny tersenyum tipis menanggapi perkataan istri Felix. Dia sama sekali tidak keberatan dengan permintaan Nia. lagi pula apa salahnya jika banyak yang menyayangi anaknya, terlebih itu temannya sendiri. Dan mengenai jodoh, jika mereka sudah dewasa, biarlah mereka sendiri yang menentukan kebahagiaannya.
“Ya, aku setuju. Biar Axel juga belajar menjadi seorang kakak yang baik, karena selama ini dia cukup manja karena tidak memiliki saudara.” Timpal Felix, dan Iqbal pun tidak keberatan.
Setelah cukup berbincang-bincang, akhirnya mereka berpamitan untuk pulang. Gita yang akan ditinggal pulang oleh Axel, seketika anak itu menangis dan minta ikut. Felix pun akhirnya sedikit memaksa Iqbal agar memperbolehkan Gita diajak pulang bersamanya. Biar Gita puas bermain dengan Axel.
**
Keesokan harinya Iqbal menemani Jenny memeriksakan kandungannya. Dan masih dokter Satria yang melakukan pemeriksaan itu.
Berdasarkan hasil pemeriksaan, keadaan Jenny sudah membaik. Janinnya pun dalam keadaan sehat. Semua itu karena Jenny mengikuti saran dokter dengan baik, yaitu bedrest total.
“Terima kasih banyak, Dok!” ucap Iqbal yang kini sudah bersikap ramah pada dokter tampan itu.
“Sama-sama Tuan. Semoga nanti Nyonya Jenny diberi kelancaran saat persalinannya.” Jawab dokter Satria.
***
Beberapa bulan berlalu. Kini usia kandungan Jenny sudah 7 bulan. Janin yang diprediksi berjenis kelamin laki-laki itu tumbuh sehat dalam Rahim mamanya, walau terkadang masih membuat sang Papa kesal akibat ngidamnya Jenny.
“Sayang, kamu di rumah saja ya biar aku yang jemput Mama dan Papa di bandara.” Pamit Iqbal.
__ADS_1
Ya, hari ini Desy dan Bram akn pulang ke Indonesia setelah beberapa minggu yang lalu, Arsha adik kandung Iqbal wisuda. Desy dan Bram memutuskan akan tinggal bersama Iqbal untuk sementara waktu sampai Jenny melahirkan.
“Jemput Mama dan Papa saja harus berpakaian rapi seperti itu ya, Mas?” tanya Jenny penuh selidik.
“Astaga, Sayang! Aku hanya memakai kaos dan celana jeans biasa. Rapi dari mana juga?” ucap Iqbal yang mulai jengah karena istrinya kembali mencurigainya.
“Pakai jaket, Mas. Dan juga pakai masker. Biar nanti di bandara tidak dilirik perempuan cantik.” Perintah Jenny.
Iqbal hanya mendengus. Percuma saja kalau dia menolak, ujung-ujungnya Jenny nanti akan menangis seperti sebelumnya. Setelah itu memakai jaket dan masker, Iqbal segera berangkat ke bandara. Namun lagi-lagi Jenny mencegahnya.
“Apa lagi?” tanya Iqbal.
“Gita mana? Ajak Gita sekalian, Mas. Pasti Mama nanti sangat senang saat bertemu dengan cucunya.” jawab Jenny dan segera mencari anaknya yang sedang bermain.
Akhirnya Iqbal menjemput kedua orang tuanya dengan mengajak Gita. Anak itu tampak senang saat diberitahu akan menjemput Oma dan Opanya.
Beberapa saat kemudian, Iqbal sudah sampai di bandara. Dia berjalan sambil menggendong Gita. Dan tampak dari jauh Desy dan Bram sudah menunggunya. Seketika pasangan kakek dan nenek itu langsung berjalan cepat menghampiri cucunya. Mereka bergantian menciumi pipi Gita yang menggemaskan.
“Bagaimana kabar menantu Mama? Apakah kandungannya baik-baik saja?” tanya Desy saat sudah berada dalam mobil.
“Baik, Ma. Kandungannya juga sehat. Hanya saja ngidamnya yang sedikit memusingkan.” Ucap Iqbal jujur.
“Jangan mengeluh seperti itu. Ingat, dulu saat Jenny hamil Gita, dia sendirian tidak ada suami yang menemani.” Ucap Desy mengingatkan.
“Iya, Ma maaf. Iqbal tidak bermaksud seperti itu.” Jawab Iqbal merasa bersalah.
.
.
.
*TBC
Happy Reading‼️
__ADS_1