
Perjalanan udara yang ditempuh selama kurang lebih 4 jam itu membuat Iqbal hanya mampu terdiam. Semanjak pesawat yang ditumpanginya take off, pria berusia 28 tahun itu tampak memikirkan sesuatu yang tak seorang pun tahu termasuk Farah.
Iqbal menghembuskan nafasnya pelan. Dia sudah bertekat akan melanjutkan hidupnya, meniti masa depannya di negara asalnya. Mungkin awalnya akan sulit, mengingat banyak kenangan manis bercampur pahit yang pernah terukir disana, terlebih bersama seseorang yang sampai saat ini masih setia memenuhi relung hatinya yaitu, Jenny.
Iqbal memilih kembali ke kota B karena dia tidak ingin bertemu kembali dengan Jenny jika masih tinggal di kota J. Iqbal sudah bertekat akan menempati kembali rumah pemberian mendiang Nyonya Sarah dan akan kembali ke perusahaan.
Farah yang duduk di samping Iqbal sesekali melirik pria itu yang masih tampak melamun. Farah tahu kalau Iqbal masih berusaha menata hatinya. Jadi dia memilih membiarkan Iqbal menyendiri.
Farah tahu tidak mudah bagi Iqbal untuk mau pulang kembali ke negaranya. Namun menurut Farah, Iqbal tidak boleh terus-terusan terpuruk seperti itu. Dia dan Galang akan berusaha membuat Iqbal kembali seperti dulu. Farah juga tahu selama keluarga Iqbal tinggal di luar negeri, mereka sengaja menutup semua informasi yeng berhubungan dengan keluarga Jenny. Entah apapun alasannya, Farah tidak mau ikut campur terlalu jauh.
Dulu saat pertama kali Farah mengetahui Iqbal koma, dia sempat menanyakan keberadaan Jenny yang tak lain istri Iqbal. namun kedua orang tua Iqbal hanya mengatakan kalau Iqbal dan Jenny telah berpisah dan Jenny sudah menikah dengan pria lain. Saat Farah menyangkalnya, kedua orang tua Iqbal tetap tidak percaya karena Bram dan Desy sudah mendapatkan bukti akurat dari Xavier.
“Kamu baik-baik saja?” tanya Farah.
“Iya. Aku baik-baik saja.” Jawab Iqbal tanpa melihat Farah.
“Kamu nanti boleh tinggal di rumahku saja, Bal.” ucap farah tiba-tiba.
“Maaf, aku sudah memutuskan untuk tingggal di rumah pemberian Mami kamu saja.” Jawab Iqbal dan membuat Farah terkejut.
“Apa kamu nggak apa-apa tinggal disana? Ehm, maksudku bukankah disana kamu dulu-“
“Nggak apa-apa. Lagi pula aku dulu menempati rumah itu bersama dia hanya beberapa hari saja. Jadi tidak terlalu banyak kenangan yang terukir disana. Daripada di rumah mendiang kakekku.” Jawab Iqbal.
“Kamu boleh kok Bal jika ingin beli rumah baru lagi.” Tawar Farah.
“Nggak perlu, Far. Kamu jangan khawatir. Aku sudah mantap tinggal disana saja.” Jawab Iqbal sambil tersenyum tipis agar Farah tak lagi mengkhawatirkannya.
Kini peswat yang ditumpangi oleh Iqbal dan Farah sudah mendarat. Keduanya segera turun dan ternyata disana sudah ada seseorang yang sudah menunggunya.
“Hai my brother!! Aku kangen banget sama kamu.” Ucap Galang lalu memeluk Iqbal.
Iqbal dan Galang saling berpelukan melepas rindu. Keduanya sangat bahagia bisa bertemu kembali setelah beberapa tahun terpisah. Galang tidak seperti Farah yang sering mengunjungi Iqbal. dia yang ditugasi mengurus perusahaan, membuat Galang hanya memliki sedikit waktu bertemu langsung dengan sahabatnya selama di luar negeri. Namun kali ini tidak. Mereka berdua akan lebih sering bertemu lagi seperti dulu.
“Bagaimana kabar kamu?” tanya Iqbal.
__ADS_1
“Mengenaskan semenjak kamu tinggal.” Jawab Galang pura-pura sedih.
Hal itu sontak membuat Iqbal memukul perut sahabatnya. Mereka berdua tertawa bersama. Sedangkan Farah yang sejak tadi mengamati kedua pria di depannya itu juga ikut mengulas senyum.
Setelah itu mereka bertiga langsung masuk ke dalam mobil. Galang tidak langsung pulang, melainkan mengajak Iqbal dan Farah untuk makan malam terlebih dulu di sebuah restaurant.
“Setelah ini langsung antar aku pulang saja, Lang. aku capek ingin segera istirahat.” Ucap Iqbal sambil memilih menu makanan.
“Baiklah. Ke rumah mana?” tanya Galang hati-hati.
“Rumah Iqbal sendiri.” Jawab Farah cepat dan Galang hanya mengangguk.
“Kapan kalian akan menikah?” tanya Iqbal.
“Secepatnya. Mungkin dalam waktu dekat.” Jawab Galang sambil tersenyum karena sudah tidak sabar menanti hari bahagianya.
“Ish, kita kan belum persiapan apa-apa. Belum fitting baju pengantin, dan lain-lainnya.” Gerutu Farah.
“Tenang saja. Semuanya akan beres dalam sekejap. Dan untuk gaun pengantin, kita pasrahkan pada butik tanteku. Bagaimana?” tanya Galang.
“Kalau aku menolak bagaimana? Sebelumnya aku sudah mendapatkan rekomendasi butik dari temanku.” Ucap Farah.
Iqbal hanya mendengarkan perdebatan kecil antara dua orang yang sebentar lagi akan menikah. Jauh dalam lubuk hati Iqbal, dia sangat senang akhirnya Farah dan Galang akan menikah. Entah bagaimana perjalanan cinta mereka berdua hingga bisa memiliki komitmen untuk menikah.
Tak lama kemudian pesanan makanan mereka datang. Mereka bertiga segera menyantap makanannya masing-masing.
Setelah makan malam mereka selesai, mereka segera pulang. Iqbal juga sudah sangat lelah dan ingin segera beristirahat.
Bruk
Tiba-tiba ada seorang anak perempuan kecil berlari dan menabrak Iqbal. anak itu berlari tanpa sambil membawa satu cup es krim strawberi. Alhasil es krim itu tumpah mengenai celana Iqbal.
“Dik, pelan-pelan jalannya. Tuhkan es krim kamu mengenai celana Om.” Ucap Farah sedikit kesal.
Anak itu tidak berani menatap wajah Farah yang terdengar seperti memarahinya. Justru dia menangis karena takut.
__ADS_1
“Sudahlah, Far. Aku nggak apa-apa.” Ucap Iqbal.
“Kemana orang tua kamu?” tanya Iqbal yang kini sudah mensejajarkan tubuhnya dengan anak kecil itu.
Anak kecil itu masih terisak dan sepertinya belum paham dengan pertanyaan Iqbal. karena usianya masih sekitar dua tahunan. Lalu anak kecil itu mendongakkan kepalanya melihat Iqbal dengan mata yang masih basah.
Deg
Iqbal segera berdiri dan memutuskan untuk pergi meninggalkan restaurant. Entah kenapa melihat wajah sendu anak kecil itu membuatnya teringat dengan seseorang.
Farah dan Galang pun dibuat bingung dengan sikap Iqbal yang sangat aneh. Tiba-tiba saja ada seorang wanita datang yang sepertinya sejak tadi mencari anak kecil itu.
“Mbak jaga dong anaknya. dia tadi menumpahkan es krimnya dan mengenai celana teman saya.” Ucap Farah kesal.
“Maaf.” Ucap wanita itu lirih lalu mengajak anak kecil itu pergi.
“Sudahlah, jangan seperti itu sama anak kecil. Dia kan tidak sengaja. Ya sudah ayo Iqbal sudah menunggu.” Ucap Galang.
“Iya, tapi gara-gara anak tadi Iqbal jadi pergi begitu saja kan. Pasti dia kesal terkena tumpahan es krim.” Jawab Farah sambil berjalan menghampiri Iqbal yang sudah menungggu di dalam mobil.
Setelah dari restaurant, kini Galang akan mengantar Iqbal pulang ke rumahnya. Semenjak dari restaurant, Iqbal tampak diam tak mengucapkan sepatah kata pun. Galang dan Farah mengira kalau Iqbal sangat lelah dan butuh istirahat.
“Kalian langsung pulang saja. Aku juga langsung istirahat.” Ucap Iqbal dan segera masuk ke dalam rumah sambil mendorong kopernya.
Iqbal masuk ke dalam rumah itu dengan bebagai perasaan yang berkecamuk. Rumah yang sudah ia tinggalkan tiga tahun lalu maslsih tampak sama dan tidak ada yang berubah. Rumah itu juga masih dalam keadaan bersih karena setiap hari Farah menyuruh seseorang untuk membersihkannya.
Iqbal masuk ke dalam kamar yang ada di lantai bawah. Dia tidak ingin tidur di kamar lantai atas yang dulu pernah ia tempati bersama Jenny. Meski hanya beberapa hari saja.
.
.
.
*TBC
__ADS_1
Nah...nah...nah.... kan😁😁🤗🤗
Happy Reading‼️