
Iqbal tidak bisa lagi membendung rasa bahagianya saat mengetahui fakta bahwa dirinya telah memiliki seorang anak dari wanita yang sangat dia cintai. Dia langsung merengkuh tubuh Jenny dan memeluknya dengan erat. Bahkan tanpa sadar air matanya mengalir begitu saja. Jenny pun dapat merasakan kembali pelukan hangat dari pria yang telah lama dia rindukan.
“Maafkan aku, Kak. Semua salahku, hingga Kak Iqbal menderita bertahun-tahun.” Ucap Jenny di sela-sela isakannya.
“Ssttt… kamu jangan bicara seperti itu. Mungkin ini semua rencana Tuhan untuk menguji cinta kita.” Ucap Iqbal menenangkan.
Jenny mengendurkan pelukannya dan berusaha melepaskan diri. Dia melihat mata Iqbal yang basah ikut terenyuh. Lalu kedua tangannya terulur mengusap sisa air mata di pipi Iqbal.
“Aku sangat merindukanmu. Rasaku tak pernah hilang dan masih tetap sama.” Ucap Iqbal memandang kedua mata Jenny dengan intens.
“Aku juga Kak. Aku masih mencintaimu sejak dulu sampai nanti.” Jawab Jenny dengan lelehan air mata yang kembali tumpah.
Iqbal kembali merengkuh tubuh wanita yang dicintainya. Dia masih merasa seperti mimipi bisa bertemu kembali dengan Jenny. Ternyata kepulangannya sebulan yang lalu dan memutuskan untuk tinggal di kota ini seperti sudah menjadi sebuah petunjuk untuk dirinya dipertemukan kembali dengan Jenny. Bahkan bukan hanya Jenny saja melainkan Brigita, putri kecilnya.
“Lalu bagaimana status kita, Kak? Bukankah kita sudah bercerai?” tanya Jenny sendu.
“Kamu jangan khawatir. Aku tidak pernah mengucapkan kata cerai, dan nanti akan aku tanyakan pada pengacara. Lagi pula perceraian tidak akan sah jika kamu sedang mengandung. terlebih lagi tuduhan itu tidak terbukti, melainkan hanya kesalah pahaman” Ucap Iqbal dan Jenny mengangguk lega.
Setelah itu Iqbal mengajak Jenny pulang. dia tidak sabar ingin bertemu dengan Gita. Jenny pun sangat bahagia melihat Iqbal yang tidak sabar ingin bertemu dan memeluk Gita. Sepanjang perjalanan pulang, Iqbal tak henti-hentinya menggenggam lembut tangan Jenny. Bahkan sesekali mengecupnya.
Pukul 7 malam mobil Iqbal sudah berhenti tepan di depan rumah Jenny. Mereka berdua segera masuk untuk menemui Gita.
“Ayo Dediiii, kejal Gita!” terdengar suara tawa Gita yang sepertinya sedang asyik bermain.
Deg
Wajah Iqbal tiba-tiba murung mendengar anaknya memanggil seseorang dengan sebutan Daddy. Iqbal juga teringat saat pertama kali bertemu dengan Gita di taman dulu, ada seorang wanita yang mengatakan kalau Daddy-nya sudah pulang. siapa pria yang dipanggil Daddy oleh anaknya. bagitu banyak pertanyaan dalam benak Iqbal. dan tak lama kemudian muncullah sosok pria yang beberapa hari yang lalu dia temui. Dan diikuti langkah kecil putrinya yang terlihat sedang mengejar pria itu.
“Jen! Ada hubungan apa kamu dengan baji**an itu?” tanya Iqbal.
“Ah sepertinya sedang ada tamu. Gita ayo main sama tante Lidya dulu ya.” Ucap Billal tanpa dosa.
“Oh, dia itu Om Billal Kak. Ceritanya panjang. Nanti aku jelasin.” Jawab Jenny.
“Kita bertemu lagi ternyata. Kenapa terkejut? Mau hajar aku lagi? Silakan! Tapi jangan harap kamu bisa bertemu dengan Jenny dan Gita anak kamu.” Ucap Billal menantang.
Jenny membelalakkan matanya terkejut. Bagaimana Billal bisa tahu kalau Gita adalah anak Iqbal. sementara itu wajah Iqbal semakin tampak merah padam setelah mendengar penuturan Billal.
__ADS_1
“Om please jangan memperkeruh suasana.” Ucap Jenny.
“Baiklah. Selesaikan urusan kalian.” Jawab Billal dan segera pergi meninggalkan rumah Jenny.
Sepeninggal Billal, Jenny mengajak Iqbal masuk ke ruang tengah untuk menemui Gita. Namun langkahnya terhenti saat tangannya dicekal oleh Iqbal.
“Kamu mempunyai hutang penjelasan.” Ucap Iqbal dan Jenny mengangguk paham.
Setelah itu keduanya menuju ruang tengah. Disana tampak Gita sedang asyik bermain ditemani oleh Lidya. Lidya sangat terkejut saat melihat Iqbal yang pernah ia temui beberapa kali. Dan kini dia semakin penasaran dengan maksud kedatangan pria yang memiliki kemiripan wajah dengan Gita.
“Gita, sayang sini ada yang ingin bertemu dengan Gita.” Panggi Jenny.
Namun gadis kecil itu masih tampak asyik dengan mainannya. Alhasil Jenny menghampirinya lalu menggendongnya.
“Aloo Om!” sapa Gita dengan senyum merekah.
“Haloo Gita.” Jawab Iqbal miris karena dipanggil “Om” oleh anaknya sendiri.
“Gita, mulai sekarang jangan panggil Om lagi ya. Tapi panggil Papa. Karena Om itu adalah Papanya Gita. Mengerti?” ucap Jenny dan Gita mengangggukkan kepalanya.
“Anak pintar. Coba sekarang panggil Papa!” ucap Jenny lagi.
Iqbal pun tidak tahan dan langsung mengambil alih Gita dari gendongan Jenny. Gita pun tampak senang sambil memukul-mukul lengan Iqbal. Iqbal juga menciumi wajah Gita dengan haru. Jenny melihatnya ikut bahagia.
Sementara itu Lidya yang sejak tadi menyaksikan kebersamaan keluarga kecil di depannya juga ikut terharu. Lidya baru bisa menyimpulkan kalau selama ini atasannya telah berpisah lama dengan suaminya. Tapi untuk alasan pastinya Lidya tidak tahu.
Jenny membiarkan Gita menikmati waktunya bersama Papanya. Dia meminta bantuan Lidya untuk menyiapkan makan malam. sejak tadi Lidya menyunggingkan senyumnya saat melihat binar wajah Jenny yang tak pernah pupus.
“Jadi Tuan itu Papanya Non Gita ya Nyonya?” tanya Lidya.
“Iya. Kamu sudah tahu?” tanya balik Jenny.
“Ya beberapa kali saya pernah melihatnya. Dulu waktu nemenin Non Gita main di taman bertemu dengan Tuan itu tapi wajahnya tidak begitu jelas. Dan saat di pesta pernikahan Nona farah saya juga bertemu. Terakhir tadi di bandara.” Ucap Lidya panjang lebar.
“Yang benar kamu, Lid? Kenapa nggak cerita sama aku?” ucap Jenny terkejut.
“Ya mana saya tahu Nyonya kalau Tuan itu adalah papa Non Gita.” Jawab Lidya.
__ADS_1
“Benar juga” batin Jenny.
Setelah selesai menyiapkan makan malamnya, Jenny
memanggil Iqbal dan Gita untuk segera makan malam. Gita juga ikut makan disana karena sudah disediakan kursi kecil yang biasanya dia pakai untuk makan bersama.
“Apa kamu yang memasak semuanya?” tanya Iqbal saat menikmati makanannya.
“Iya, Kak. Sejak saat itu aku terus belajar memasak dan akhirnya terbiasa.” Jawab Jenny.
“Tidak buruk.” Ucap Iqbal sambil teus mengunyah makanannya.
Setelah selesai makan malam, Jenny meminta Lidya agar membawanya masuk ke dalam kamar untuk persiapan tidur. Sementara itu dia akan berbicara dengan Iqbal.
“Sekarang coba jelaskan tentang pria brengsek itu.” Ucap Iqbal yang sepertinya sejak tadi sudah tidak sabar.
Akhirnya Jenny menjelaskan semuanya. Termasuk Billal lah yang berhasil mengungkap pelaku penculikan terhadap dirinya dan yang menabrak Iqbal saat itu.
“Apa kamu yakin dia sudah tidak seperti dulu lagi?” tanya Iqbal.
“Selama kurang lebih 3 tahun Om Billal berusaha menebus kesalahannya, Kak. Bahkan Gita sendiri sangat dekat dengannya.” Jawab Jenny meyakinkan.
“Lalu bagaimana dengan status kita, Kak?” tanya Jenny.
“Nanti akan aku bicarakan sama Mama dan Papa. Dan sementara ini kita tinggal terpisah dulu. Kamu nggak keberatan kan?” ucap Iqbal.
“Iya, Kak. Nggak apa-apa. Nanti aku juga akan mengabarkan pada Mama dan Papa.”
.
.
.
*TBC
Nothing yo say, just happy....🤗
__ADS_1
..
Happy Reading‼️