Suami Yang (Tak) Dianggap

Suami Yang (Tak) Dianggap
Eps 8


__ADS_3

Setelah mengatakan itu, Iqbal langsung pergi keluar rumah. dia berjalan dan mencari taksi untuk membawanya ke suatu tempat. Tempat dimana dulu dia dan teman-temannya berkumpul.


Beberapa saat kemudian Iqbal sudah sampai di café langganannya. Café yang tidak banyak mengalami perubahan. Sama seperti saat dirinya masih menimba ilmu dulu. Perlu diketahui bahwa Iqbal dulu pernah tinggal bersama kakeknya selama kurang lebih 4 tahun. Iqbal menjalani studi sarjananya di kota ini dan tinggal bersama sang kakek setelah ditinggal pergi oleh neneknya. Saat Iqbal akan wisuda, ternyata kakeknya pergi menyusul neneknya. Alhasil setelah lulus kuliah, Iqbal diminta kedua orang tuanya untuk pulang ke kota J.


Iqbal kini sedang duduk di salah satu kursi pengunjung. Dan tak lama kemudian datanglah Galang yang sebelumnya sudah dia hubungi saat dalam perjalanan tadi.


“Baru juga kamu sampai kota ini, sudah ngajak ketemuan lagi. Nggak kasihan sama istri kamu di rumah sendirian?” cerocos Galang.


“Pesan saja minuman apa yang kamu inginkan.” Ucap Iqbal mengabaikan pertanyaan Galang.


Galang hanya mendengus kesal saat tak mendapat jawaban dari Iqbal. Padahal dia sudah tahu bagaimana sikap temannya itu. Masih saja dirinya berusaha menanyakan hal yang tidak mungkin mendapat jawaban.


“Felix sama Haidar tadi sudah aku kasih tahu, mungkin sebentar lagi mereka akan kesini.” Ucap Galang sambil memilih minuman dan makanan ringan yang akan dia pesan.


“Hmm. Bisa nggak cariin aku motor second. Aku bingung mau kemana-mana nggak ada kendaraan.” Ucap Iqbal.


“Bisa. Nanti coba aku hubungi temanku.” Jawab Galang.


Tak lama kemudian muncullah sosok dua pemuda tampan yang sempat mencuri perhatian beberapa pengunjung café khususnya kaum hawa. Meskipun Iqbal dan Galang juga tak kalah tampan dari Felix dan Haidar, namun sosok Felix yang terkenal playboy justru menjadi daya Tarik tersendiri bagi kaum hawa yang melihatnya.


Iqbal, Felix, dan Haidar sama-sama berusia 25 tahun. Mereka bertiga sudah akrab sejak duduk di bangku kuliah. Dan ditambah Galang yang usianya dua tahun di atas mereka bertiga namun tetap membuatnya mereka berempat semakin kompak. Galang masuk ke dalam gank Iqbal dan kawan-kawan dulu saat sedang menjalani bimbingan skripsi. Galang yang menunda kuliahnya 2 semester akhirnya bisa bertemu dengan teman-teman yang sangat baik baginya yaitu Iqbal, Felix, dan Haidar.


“Hai Bro!! apa kabar nih?” tanya Felix yang baru saja duduk.

__ADS_1


Felix dan Haidar bertos tangan dengan Iqbal secara bergantian. Lalu Felix dan Haidar memesan minuman.


“Denger-denger ada yang sudah tidak lajang lagi nih.” Ucap Felix tiba-tiba.


“Siapa?” tanya Haidar sambil melirik Iqbal.


Felix dan Haidar memang sudah diberitahu perihal pernikahan Iqbal, namun tidak menceritakan semuanya. Sedangkan Iqbal yang merasa sebagai bahan pembicaraan hanya bersikap datar dan tidak menanggapi ocehan kedua temannya itu.


Karena sampai saat ini Iqbal masih teringat dengan ucapan Jenny beberapa saat yang lalu yang meminta untuk menjalani pernikahannya selama satu tahun, setelah itu bercerai. Iqbal tidak habis pikir dengan Jenny yang dengan mudahnya mempermainkan sebuah ikatan suci. Tidak bisakah dia mencoba untuk menjalani pernikahan ini dulu, meski baginya tidak ada kata cinta. Karena Iqbal sangat yakin hanya Tuhan yang bisa membolak-balikkan isi hati seseorang.


“Sudahlah, kalian jangan bahas hal yang tidak penting. Kita kumpul disini untuk melepas rindu sama teman kita yang baru datang di kota ini sekaligus akan tinggal menetap disini.” Ucap Galang menengahi.


Akhirnya Felix dan Haidar pun bisa mengerti, meski dalam hati mereka berdua sangat penasaran tentang sesuatu hal yang terjadi dengan Iqbal. Mungkin mereka berdua belum saatnya tahu dana pa yang dikatakan oleh Galang benar. Malam ini adalah malam pertemuan dengan sahabatnya yang sudah lama tidak pernah tampak batang hidungnya, karena memang tinggal di beda kota.


Mereka berempat pun berbincang-bincang santai sambil menikmati alunan music band yang sedang menghibur pengunjung café. Hati Iqbal sedikit menghangat setelah pertemuannya dengan para sahabatnya. Bahkan saat ini dia tidak mempedulikan Jenny yang sedang sendirian di rumah.


“Mau kerja di bidang apa? Biar nanti aku coba carikan info.” Tanya Felix.


“Setahuku dia menjadi seorang asisten pribadi. Ya mungkin sejenis itulah. Bukan begitu Bal?” tanya Haidar menimpali.


“Apa sajalah yang penting halal.” Jawab Iqbal singkat.


“Baiklah, nanti kita akan kabari kalau sudah dapat info lowongan pekerjaan.” Ucap Galang.

__ADS_1


Tanpa terasa obrolan mereka sangat asyik dan sampai lupa waktu. Akhirnya Iqbal memutuskan untuk pulang karena waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam. karena hanya Iqbal sendiri yang datang dengan naik taksi, akhirnya Galang mengantar Iqbal pulang dengan mobilnya. Karena hanya Galang yang jarak rumahnya paling dekat dengan rumah Iqbal.


Sementara itu Jenny yang sejak tadi ditinggal pergi oleh Iqbal yang tak tahu kemana, tidak bisa memejamkan matanya sama sekali. Dia masih memikirkan tentang ucapan Iqbal sebelum pergi meninggalkan rumah. Jenny bingung, apa maksud Iqbal dengan tidak mau bemain-main dengan pernikahan ini. apakah dia tatap mempertahankan pernikahan ini meski tidak saling mencintai. konyol sekali menurut Jenny.


Tiba-tiba saja perut Jenny merasa lapar. Dia baru ingat kalau sejak tadi dia belum makan malam. karena moodnya sudah berantakan sejak mendengar ucapan konyol Iqbal. Kemudian Jenny melirik jam yang menggantung di dinding kamarnya menunjukkan pukul 11 malam. akhirnya dia keluar dari kamar dan menuju dapur. Dia ingin memastikan apa masih ada makanan yang bisa dimakan sebagai pengganjal perutnya.


Jenny melihat ada satu box makanan yang masih utuh. Dia tahu kalau Iqbal tadi mengajaknya makan malam dan pasti makanan yang masih utuh itu buat dirinya.


Jenny duduk di kursi makan itu lalu membuka box makanan. Dia segera memakannya karena perutnya sudah sangat lapar. Jenny tidak memperhatikan sekelilingnya saking asyiknya menikmati makanan itu. Bahkan sejak tadi Iqbal terus memperhatikan dirinya yang sedang makan seperti orang kelaparan.


Saat Jenny mengunyah makanannya sambil mendongakkan kepalanya, tanpa sengaja matanya melihat sosok Iqbal yang sedang berdiri dekat dengan dapur.


Uhuk uhuk…


Dengan cepat Iqbal mengambilkan segelas air putih dan langsung memberikannya pada Jenny. Jenny pun dengan cepat menerimanya lalu meminumnya dengan sekali tegukan.


“Terim-“ ucapan Jenny menggantung begitu saja saat tak melihat Iqbal lagi.


Pria itu seperti jin yang dengan cepat menghilang. Akhirnya Jenny menghentikan kegiatan makannya setelah tersedak tadi. karena perutnya sudah cukup kenyang. Setelah itu dia masuk ke dalam kamarnya.


Sementara itu Iqbal yang sudah berada di dalam kamarnya, langsung mengganti pakaiannya dan segera pergi menuju alam mimpi. Karena hari ini cukup membuat tubuh dan hatinya lelah.


.

__ADS_1


.


.TBC


__ADS_2