Suami Yang (Tak) Dianggap

Suami Yang (Tak) Dianggap
Eps 160


__ADS_3

Sudah dua bulan lebih Gita menjalani terapinya dengan dokter Julian. Banyak perkembagan yang signifikan yang ditunjukkan oleh Gita. Dokter Julian tidak hanya melakukan terapi di rumah saja. Dia juga seringkali mengajak Gita pergi ke luar dengan cara bergabung dengan beberapa kegiatan sosial seperti yang dulu pernah Gita lakukan dengan Dimas. Bahkan Dimas dan Inez juga terkadang ikut kegiatan itu, semata-mata membantu kesembuhan Gita.


“Apa kamu lelah?” tanya dokter Julian saat baaru saja selesai mengikuti bakti sosial di sebuah rumah sakit.


“Tidak, Dok. Terima kasih.” Ucap Gita setelah menerima air minum pemberian dokter Julian.


Setelah itu dokter Julian mengajak Gita makan siang di sebuah restaurant yang berada di depan rumah sakit. Selain untuk mengajak makan, dokter Julian juga akan menanyakan beberapa hal yang dirasakan Gita selama ini. jika Gita sudah merasa baik-baik saja, dan rasa percaya dirinya sudah kembali, maka terapinya bisa dihentikan.


Dan kabar ini membuat Iqbal dan Jenny sangat bahagia. Dia sangat berterima kasih pada dokter Julian yang telah banyak membantu. Jadi, mereka berdua akan mempercepat keberangkatannya ke luar negeri untuk menemui keluarga Felix.


Iqbal ingin meluruskan semua masalah yang tengah dihadapi oleh anak dan menantunya. Iqbal juga akan meminta maaf atas semua kesalahan Gita pada Axel selama pernikahannya. Dan Iqbal berharap anak menantunya bisa memperbaiki rumah tangganya.


Rencana keberangkatan Iqbal ke luar negeri dua minggu lagi. Karena Iqbal harus menyelesaikan beberapa pekerjaannya terlebih dulu. Sekalian nanti dia akan berlibur di sana. Dan Gita juga sudah mulai lagi kembali ke kantor membantu Papanya.


“Git, nanti malam ada acara nggak? Kita makan malam yuk!” ajak Dimas saat sedang makan siang bersama Gita.


Gita menghentikan kegiatan makannya. Dia masih menimbang ajakan Dimas untuk makan malam. bagaimanapun juga statusnya sudah menjadi menikah dan tidak begitu mudahnya menerima ajakan seorang laki-laki.


“Kamu jangan khawatir aku mengajak kamu saja. Kamu bisa mengajak Inez juga agar tidak terjadi fitnah.” Sambung Dimas seolah mengerti apa yang sedang dipikirkan oleh Gita.


“Baiklah, Kak. Nanti aku akan menghubungi Inez, dan akan berangkat bersamanya.” Jawab Gita kemudian.


Selesai makan siang, mereka berdua kembali melanjutkan pekerjaannya. Tak lupa Gita menghubungi Inez untuk diajak makan malam bersama Dimas nanti. Inez pun dengan cepat membalas pesan Gita dan akan menjemputnya nanti malam.


Selama Gita menjalani terapi, Dimas dan Inez juga ikut andil dalam membantu Gita. bahkan saking sering bertemu, Dimas juga semakin akrab dengan Inez.


Malam pun tiba, Gita sudah bersiap akan pergi. Dia sudah keluar kamar dan menunggu kedatangan Inez menjemputnya.


“Mau kemana anak Mama sudah cantik begini?” tanya Jenny.


“Gita mau pergi saama Inez dan juga Kak Dimas, Ma. Jadi Gita tidak ikut makan malam di rumah.” jawab Gita.


“Ya sudah hati-hati di jalan.” Pesan Jenny.


Tak lama kemudian Inez sudah datang. Mereka segera pergi menuju restaurant dimana Dimas sudah menunggunya. Beberapa saat kemudian mereka sudah tiba. Dan Dimas sudah menunggu di salah satu meja yang sudah ia pesan.


“Sudah lama, Kak?” tanya Gita.


“Nggak. Baru saja sampai. Silakan kalian pesan dulu.” Jawab Dimas sambil menyodorkan buku menu pada Gita dan Inez.

__ADS_1


Selesai memesan makanan. Mereka bertiga berbincang santai. Gita mengatakan pada Dimas dan Inez kalau dua minggu lagi akan pergi ke luar negeri, untuk menemui Axel.


“Aku senang mendengarnya. Semoga hubungan kalian berdua kembali membaik.” Ucap Inez dengan tulus.


Gita menggenggam tangan Inez dan mengucapkan terima kasih. Sedangkan Dimas juga ikut terharu melihat kedekatan dua sahabat yang ada di depannya.


“Tapi maaf, Git aku tidak bisa mengantar keberangkatanmu ke bandara.” Ucap Inez dengan nada bersalah.


“Yah, padahal aku ingin sekali kamu antar. Ya sudah nggak apa-apa.” Jawab Gita.


“Maaf, karena kebetulan hari itu juga aku akan bertunangan.”


Uhukk


Tiba-tiba saja Dimas terbatuk saat mendengar Inez akan bertunangan. Namun dia segera bersikap biasa saja.


“Pelan-pelan dong, Kak!” ucap Gita.


Dimas hanya mengangguk lalu mengambil tisu untuk membersihkan mulutnya. Namun tanpa sengaja pandangannya bersitatap dengan mata Inez. Entah kenapa rasanya dua orang itu seolah sedang menyampaikan sesuatu melalui sorot mata.


Gita pun cukup terkejut mendengar kabar pertunangan Inez yang menurutnya mendadak. Bahkan Inez sama sekali tidak pernah menceritakan hubungan asmaranya selama ini. namun Gita sedikit curiga dengan sikap Inez yang sama sekali tidak menampakkan kebahagiaan karena akan bertunangan.


“Semoga acaranya nanti lancar ya, Nez. Maaf aku tidak bisa hadir.” Ucap Gita da diangguki oleh Inez.


***


Keberangkatan Gita ke luar negeri tinggal empat hari lagi. Dia sudah tidak sabar ingin segera bertemu dengan Axel. Gita sudah berencana, jika nanti saat bertemu dengan suaminya, selain ingin meminta maaf, dia juga akan menyatakan perasaannya pada Axel bahwa dia sudah jatuh cinta pada laki-laki itu. Bahkan sudah lama sebelum mereka berdua menikah.


Mungkin Gita terlambat menyadari perasaannya pada Axel selama ini. sejak dulu dia selalu nyaman berada dekat dengan Axel. Hanya saja dia tidak bisa menyimpulkan arti perasaannya.


Pagi ini Gita tidak pergi ke kantor. dia akan berbelanja beberapa baju baru. Dia sudah terbiasa pergi sendiri meski diantar oleh sopir. Selain berbelanja baju, Gita juga ingin membeli kado ulang tahun untuk Axel. Kebetulan nanti saat dia ke luar negeri bertepatan dengan hari ulang tahun Axel yang ke 24. Gita akan memberikan kejutan untuk suaminya.


Saat sedang berada di sebuah outlet penjual jam tangan, tanpa sengaja Gita bertemu dengan dokter Julian.


“Gita, bagaimana kabar kamu?” tanya dokter itu dengan ramah.


“Baik, Dok. Dokter juga ingin membeli jam tangan?” tanya Gita.


“Iya. Tapi bingung mau pilih yang mana. Kamu bisa bantuin nggak? Ini aku mau cari kado untuk ulang tahun adik perempuanku.” Ucap dokter Julian.

__ADS_1


Gita pun dengan senang hati membantunya, karena mereka berdua juga sudah cukup akrab selama ini.


“Terima kasih ya. Aku balik duluan ya, ini ada urusan urgen banget. Lain kali aku traktir deh sebagai gantinya karena membantuku memilihkan jam tangan.” Ucap Dokter Julian.


“Baiklah, Dok. Aku tunggu deh traktirannya.” Jawab Gita sambil tersenyum simpul.


***


Besok adalah hari yang sangat dinanti oleh Gita, karena dia akan terbang menemui sang pujaan hati. Perasaan Gita sangat gugup akan bertemu dengan Axel. Dia berharap sikap Axel masih sama seperti dulu, begitu juga dengan perasaannya.


“Sayang, kamu sudah mempersiapkan semuanya untuk keberangkatan kita besok pagi?” tanya Jenny saat sedang sarapan bersama.


“Sudah, Ma. Baju-baju Gita dan keperluan lainnya sudah masuk koper semua.” Jawab Gita.


Selesai sarapan, Gita terlebih dulu meninggalkan ruang makan. Dia ingin mengambil ponselnya untuk mengajak sahabatnya bertemu sebelum pergi ke luar negeri. entah kenapa perasaan Gita tidak enak saat mendengar kabar pertunangan Inez yang terkesan mendadak.


Namun sebelum masuk ke kamarnya, Gita melihat pembantunya yang baru saja menerima sebuah surat yang baru saja dikirim oleh kurir.


“Non, ini ada surat buat Non Gita.” ucapnya dan Gita langsung menerima surat itu.


Gita heran, karena tidak biasanya dia menerima surat. Akhirnya dia penasaran dan membuka isi surat yang berbalut dalam amplop coklat itu. Tangan Gita gemetar saat membaca alamat pengirim surat itu. Dengan cepat dia membukanya, lalu membaca isi surat itu.


“Tidakkkk!” gumam Gita dengan bibir bergetar. Bahkan tubuhnya merosot begitu saja setelah membaca isi surat itu.


Brukkk


.


.


.


*TBC


😂😂😂✌️✌️


Tahan emosi... lagi puasa...😁😁🙏🙏


Yg blm follow akun ig othor yukk follow guys @dee_k9191

__ADS_1


sp tahu di instastory ada bocoran dikit ttg Axel & Gita🤗🤗


Happy Reading‼️


__ADS_2