
Makan malam itu akhirnya gagal. Iqbal segera mengajak istri dan anaknya pulang, karena pintu kamar Billal tak kunjung terbuka saat Jenny akan meminta maaf pada Lidya atas kesalah pahaman yang dia lakukan. Begitu juga dengan Iqbal. dia masih marah melihat istrinya kembali memeluk Billal.
“Mas, maafkan aku. aku kira tadi itu kamu, karena Om Billal memkai parfum kamu.” Ucap Jenny sambil tertunduk.
“Ck, bahkan postur tubuhku dengan tubuh Om Billal sangat bisa dibedakan. Dan sejak kapan kamu mulai menyukai bau parfumku lagi?” tanya Iqbal datar.
“Maaf, aku juga nggak tahu kenap-“
“Cukup! Aku nggak mau dengar alasan kamu lagi.” Ucap Iqbal penuh penekanan.
Jenny hanya bisa diam. Selain memang sangat susah menjelaskan pada suaminya, dia juga tidak mau bertengkar dengan suaminya dengan disaksikan Gita yang sedang duduk di atas pangkuannya.
Beberapa saat kemudian, mobil Iqbal sudah memasuki halaman rumah. tanpa banyak bicara Iqbal segera keluar dari mobil meninggalkan istri dan anaknya yang masih berada dalam mobil. Jenny pun mengajak Gita keluar dan segera mengajaknya makan, karena anak kecil itu belm sempat makan.
Jenny dan Gita makan berdua saja. Entah Iqbal sekarang sedang apa, Jenny ingin sekali menghampiri suaminya.
“Papa mana, Ma?” tanya Gita dengan celotehannya.
“Ehm, Papa sedang sibuk. Ayo Gita makan dulu ya!” jawab Jenny mengalihkan perhatiannya.
Selesai menyapi Gita, Jenny membiarkan anaknya bermain. Dia tidak ikut makan karena nafsu mekannya sudah hilang. Namun saat Jenny berdiri hendak menghampiri Gita, tiba-tiba perutnya terasa sangat mual. Dan ini adalah pertama kalinya Jenny merasakan mual semenjak masa kehamilannya.
Huuueek
Huuueek
Jenny memuntahkan isi perutnya pada wastafel yang ada di dapur. Bi Lasmi yang melihat segera membantu Jenny dengan memijit pelan tengkuk Jenny. Namun rasa mual itu tak kunjung reda, bahkan sampai tidak ada lagi yang dikeluarkan.
“Nyonya duduk dulu, ya. Biar saya buatkan minuman hangat.” Ucapnya sambil memapah Jenny duduk kembali di kursi yang ada di ruang makan.
“Iya, Bi. Terima kasih.” Jawab Jenny.
Tubuh Jenny sangat lemas. Kepalanya berkunang-kunang. Untung saja dia segera duduk, kalau tidak mungkin dia sudah tumbang. Beberapa saat kemudian, Bi Lasmi membawakan minuman hangat itu agar segera diminum oleh Jenny. Seketika perutnya menghangat dan rasa mualnya pun perlahan menghilang.
“Bi, tolong bawa Gita masuk ke kamarnya dan temani dia tidur. Mungkin aku nanti akan tidur di kamar tamu saja karena badanku masih sangat lemas.” Ucap Jenny.
__ADS_1
“Baik, Nyonya.” Jawab si art.
“Dan nanti jika Bibi bertemu dengan Papanya Gita, Bibi bilang kalau aku tidur di kamar tamu.” Lanjut Jenny.
Setelah Bi Lasmi membawa Gita ke kamar dan menemaninya tidur, Jenny segera masuk ke kamar tamu yang ada di lantai satu. Badannya yang masih sedikit lemas membuat Jenny ingin segera tidur.
***
Sementara itu kini Lidya sedang berbaring di atas ranjangnya seorang diri. Entah kemana suaminya sekarang dia juga tidak tahu. Tadi setelah kejadian di ruang tengah, Lidya memilih bungkam dan tidak mau mendengarkan penjelasan suaminya.
“Maafkan aku. yang kamu lihat itu hanya salah paham.” Ucap Billal sambil memeluk.
“Pergilah, Mas! Saat ini aku ingin sendiri.” Jawab Lidya dan berusaha melepaskan diri dari pelukan Billal.
“Please, Sayang. Jangan siksa aku seperti ini. aku tadi juga tidak tahu kalau yang memelukku itu Jenny.” Ucap Billal.
“Sudahlah, Mas. Mungkin kalau dulu kamu tidak pernah menyukai Jenny, aku akan percaya dengan kesalah pahaman ini. Tapi tidak untuk sekarang. aku yakin, pasti sampai saat ini kamu masih menyimpan perasaan itu. Terlihat dari kamu sangat menikmati pelukan Jenny.” Ucap Lidya.
“Astaga, Sayang. Percayalah! Aku hanya menganggap Jenny sebagi keponakan. Tidak lebih. Mungkin dia tadi hanya mencium aroma parfum suaminya yang sedang aku pakai.” Ucap Billal.
Billal segera menjauhi istrinya yang sedang berdiri di balkon. Lalu langkah kakinya terhenti tepat di depan meja rias dimana ada box parfum pemberian Jenny tempo hari. Seketika amarah Billal meluap. Karena parfum itu, membuat istrinya marah besar.
Pyar
Pyar
Billal melempar beberapa parfum itu dan menghantamkannya tepat mengenai kaca rias itu. Dia sangat menyesal menerima parfum pemberian Jenny. Setelah semua perfume itu habis dia pecahkan, tangan Billal meninju cermin yang sudah pecah itu.
Pyar
Lidya yang mendengar suara pecahan dari dalam kamarnya hanya bisa diam. Membiarkan sang suami meluapkan amarahnya. Dan setelah tak terdengar lagi suara, Lidya melangkahkan kakinya masuk ke kamar. dia tidak mau melihat kaca rias yang sudah tak berbentuk itu.
Tengah malam Lidya terbangun dari tidurnya. Dia merasakan perutnya sangat lapar karena tadi belum sempat makan. Lalu dia bangun dan di sampingnya tidak ada sang suami.
Lidya melihat beberapa serpihan cermin pecah akibat ulah suaminya tadi. dan disana ada noda darah yang menempel. Seketika itu Lidya sangat terkejut. Karena sudah dapat dipastikan kalau darah itu adalah darah yang mengalir dari tangan suaminya.
__ADS_1
Bukan dapur yang dituju Lidya saat ini, melainkan ruang kerja suaminya. Hati Lidya sakit melihat Billal tertidur di atas sofa. Dan di tangan Billal ada bekas luka dengan darah yang sudah mengering. Lidya bergegas mengambil kotak obat. Dia membersihkan luka Billal lalu mengobatinya.
Billal merasa ada yang perih di tangannya, lalu perlahan matanya mengerjap. Ternyata ada istrinya yang sedang duduk di bawah sofa sambil mengobati lukanya.
“Maafkan aku!” ucap Billal memegang tangan Lidya.
“Lebih baik Mas tidur di kamar saja.” Ucap Lidya lalu dia mengembalikan kotak obat itu.
Billal segera berdiri dan dengan cepat memeluk istrinya. Dia tidak bisa jika diacuhkan terlalu lama oleh wanita itu. Bagaimana pun caranya Billal harus mendapatkan maaf dari Lidya.
“Sayang, aku mohon maafkan aku. semua itu hanya salah paham. Aku hanya mencintai kamu. Percayalah!” Billal memohon.
“Sudah, lupakan kejadian tadi. lebih baik Mas tidur di kamar. aku mau membereskan serpihan kaca.” Ucap Lidya.
Billal sadar akan ulahnya, dia melarang istrinya membereskan pecahan kaca itu. Namun tangannya juga sedang terluka. Akhirnya tetap Lidya yang membersihkannya.
Saat ini Lidya sedang duduk di meja makan. Karena perutnya sangat lapar. Billal yang sejak tadi duduk di hadapan Lidya hanya terdiam melihat sang istri makan sambil menundukkan kepalanya.
Krrukk
Terdengar suara keroncongan dari perut Billal. Ternyata pria itu juga belum makan sejak tadi. Lidya pun segera mengambilkan makan untuk suaminya. Namun lagi-lagi Billal hanya terdiam saat piring itu sudah ada di hadapannya.
“Kalau Mas nggak suka dengan masakanku, lebih baik tidur saja sana!” ucap Lidya jutek.
“Bagaimana aku bisa makan dengan tangan kanan yang habis kamu perban?” Jawab Billal dan berharap istrinya mau menyuapinya.
.
.
.
*TBC
Dasar modus!!!😂😂😂
__ADS_1
Happy Reading‼️