Suami Yang (Tak) Dianggap

Suami Yang (Tak) Dianggap
Eps 22


__ADS_3

“Pak Uwais, bisakah anda membuka rekaman cctv di pintu belakang gudang pada hari…….” Ucap Iqbal pada asisten Pak Halim.


Seketika Adrian dan dua orang temannya sangat terkejut.


Pak Halim pun melirik pada asistennya untuk melakukan apa yang diucapkan oleh Iqbal baru saja. Meski dia juga bingung ada apa dalam rekaman itu. Dan pak Halim juga melihat gelagat aneh dari Adrian dan dua orang temannya.


“Coba kamu perbesar lagi gambarnya.” Perintah Pak Halim dengan suara tegasnya.


Dalam rekaman cctv itu terlihat ada sebuah mobil box yang terparkir di pintu belakang gudang. Setelah itu ada dua orang yang keluar masuk gudang sambil membawa beberapa kardus barang dan berjalan mengendap-endap. Dan tidak hanya itu, setelah dua orang berjalan keluar masuk membawa kardus, tampak terlihat seseorang sedang bertransaksi dengan sopir mobil box tersebut. Dan saat gambar wajah itu diperbesar oleh Pak Uwais, tampaklah wajah Adrian disana.


“Panggil polisi sekarang juga!” teriak Pak Halim dengan tatapan tajam.


Adrian dan dua orang temannya dengan gesit melarikan diri menuju pintu keluar. Tapi tanpa mereka sadari, ternyata Iqbal sudah berada di depan pintu yang sudah ia kunci. Alhasil Adrian dan dua orang temannya tidak bisa lagi berkutik. Dan tak lama kemudian polisi datang.


Kedatangan polisi cukup membuat keramaian orang-orang yang sedang berada di gudang. Terlebih polisi masuk ke ruangan Pak Halim. Jojo yang sejak tadi berada di luar ikut khawatir jika terjadi sesuatu dengan Iqbal.


Semua orang yang ada di gudang sangat terkejut saat melihat Adrian dan dua orang temannya berhasil dibekuk polisi. Kemudian Iqbal bersama Pak Halim, dan Pak Uwais mengikutinya dari belakang untuk pergi ke kantor polisi guna dimintai keterangan sebagai saksi.


Iqbal di kantor polisi menceritakan semuanya dengan tenang dan berdasarkan bukti yang ada. Jadi semua barang-barang yang hilang itu bukan kesalahan Iqbal, melainkan Adrian. Dan karena Adrian tidak mampu menggantikan kerugian, terpaksa dia harus menjalani proses hukum yang berlaku.


“Iqbal, maafkan saya sudah menuduh kamu dan sempat termakan omongan Adrian.” Ucap Pak Halim tulus.


“Iya Pak.” Jawab Iqbal tersenyum tipis.


“Saya sangat penasaran sama kamu. Sepertinya kamu memang bukan orang sembarangan.” Ucap Pak Halim.


“Saya hanya karyawan biasa Pak.” Jawab Iqbal.


Tapi Pak Halim sangat penasaran. Dia berniat akan melaporkan kejadian ini pada CEO perusahaan langsung agar mempertimbangkan Iqbal untuk tidak lagi ditempatkan di gudang.


***

__ADS_1


Sementara itu hari ini Jenny sedang menggambar beberapa sketsa baju yang nantinya akan dia promosikan di laman akun media sosialnya. Biasanya Jenny melakukan pekerjaan itu malam hari, kini tidak lagi. Bahkan pagi, siang atau sore jika moodnya sedang bagus pasti dia akan menggoreskan penanya.


Sebenarnya mood Jenny sejak kemarin kurang begitu bagus. Terlebih setelah ucapan Iqbal yang melarangnya melakukan pekerjaan rumah. jenny heran kenapa yang dibicarakan Xavier padanya seolah direspon oleh Iqbal. Padahal selama ini Iqbal tidak mengetahui hubungannya dengan dengan Xavier.


Tapi bukan itu sebenarnya yang mambuat mood Jenny kacau. Sikap Iqbal yang kembali dingin telah membuatnya tidak nyaman. Bahkan laki-laki itu sangat irit bicara atau lebih terkesan menghindar.


Dan untuk masalah membersihkan rumah, Jenny akan ttetap melakukannya jika Iqbal sedang bekerja. Bagaimana pun juga dirinya tidak ingin ongkang-ongkang kaki saja di rumah ini. jenny juga berniat akan belajar memasak. Dia tahu kalau uang simpanannya masih ada tapi suatu saat pasti juga akan habis. Meski Iqbal sudah memberikan kartu atm tapi Jenny tidak ingin menghamburkannya.


Sore harinya Iqbal sudah pulang bekerja. Wajahnya terlihat sangat lelah. Jenny yang sedang duduk di sofa ruang tengah tidak berani melihatnya, tapi ada rasa iba saat melihat Iqbal tampak lelah.


Setelah Iqbal masuk ke kamarnya, Jenny memasuki dapur. Dia tadi sempat membuka tutorial membuat nasi goreng. Dan Jenny akan mempraktekkannya langsung. nanti hasilnya akan dia gunakan sebagai menu makan malamnya bersama Iqbal.


Meski dapur tampak kacau akibat ulah Jenny yang baru saja belajar memasak, tetapi semangatnya tidak surut.


Berulangkali dia mencicipi rasa nasi goreng itu sampai benar-benar pas. Setelah selesai dan menyajikannya di atas meja makan, Jenny membersihkan beberapa bahan yang sempat tercecer di lantai. Setelah itu dia memanggil Iqbal.


Belum sempat Jenny mengetuk pintu kamar Iqbal, laki-laki itu sudah nyembul keluar dan membuat Jenny sedikit terkejut.


“Kak Iqbal mau kemana?” tanya Jenny sambil menelisik pakaian Iqbal yang sepertinya akan pergi ke suatu tempat.


“Kak Iqbal nggak makan malam dulu?” tanya Jenny yang mengikuti langkah kaki Iqbal.


“Aku makan di luar saja.” Jawab Iqbal tanpa melihat wajah Jenny.


Jenny sedikit kecewa karena sudah bersusah payah memasak untuk makan malam berdua, tapi Iqbal justru akan makan malam di luar.


“Kak, tadi aku belajar memasak nasi goreng buat makan malam. tapi kalau Kak Iqbal mau makan di luar ya sudah nggak apa-apa.” Ucap Jenny lirih.


Iqbal yang akan memakai helmnya pun ia urungkan. Lalu dia berjalan memasuki rumah menuju dapur. Ternyata di atas meja makan sudah tersaji dua piring nasi goreng. Tanpa mengucapkan sesuatu Iqbal langsung memakannya. Jenny pun tersenyum kemudian ikut bergabung.


“Gimana Kak rasanya? Apakah enak?” tanya Jenny antusias.

__ADS_1


“Hmm” jawab Iqbal singkat.


Jenny kurang puas mendengar jawab Iqbal. Padahal dia sudah susah memasak tapi jawaban Iqbal tidak menyenangkan. Sementara Iqbal yang baru pertama kalinya mencoba masakan Jenny, menurutnya masakan itu rasanya tidak terlalu buruk. Walau dia tidak tahu bagaimana tadi prosesnya. Iqbal menghabiskan nasi goreng itu tanpa sisa. Dan hal itu membuat Jenny tersenyum puas.


Setelah makan, Iqbal meminum segelas air putih yang sudah disiapkan Jenny. Lalu dia beranjak dan pergi meninggalkan dapur.


“Terima kasih.” Ucap Iqbal singkat.


“Sama-sama Kak. Besok aku akan memasak menu yang lain lagi.” Jawab Jenny antusias.


“Aku sudah bilang, jangan lagi melakukan pekerjaan apa pun. Dan ini yang terakhir kamu melakukannya.” Ucap Iqbal kesal karena mengingat ucapan Xavier tempo hari.


“Aku nggak peduli meskipun Kak Iqbal melarangku. Aku tetap melakukannya.” Teriak Jenny kesal lalu berlari masuk ke kamarnya.


Iqbal menghembuskan nafasnya kasar karena sadar telah melukai perasaan Jenny. Lalu dia tetap keluar rumah untuk meredam emosinya.


Kini Iqbal sudah berada di café langganannya. Wajahnya tampak kusut karena kepikiran tentang Jenny. Dan tak lama kemudian Galang datang.


“Ada apa? Wajah kamu kusut banget.” Tanya Galang.


“Bisakah kamu mencarikan pekerjaan untuk Jenny?” tanya Iqbal.


“Nanti aku carikan. Di butik milik Tanteku mungkin ada lowongan.” Ucap Galang.


Iqbal hanya mengangguk. Niat Iqbal mencarikan Jenny pekerjaan secara diam-diam agar Jenny tidak lagi melakukan pekerjaan rumah. selain itu, dengan bekerja akan mengurangi interaksi Jenny dengan Xavier.


“Maafkan jika aku egois Jen.” Gumam Iqbal dalam hati.


.


.

__ADS_1


.


*TBC


__ADS_2