Suami Yang (Tak) Dianggap

Suami Yang (Tak) Dianggap
Eps 92


__ADS_3

Pagi ini kebetulan weekend, Billal menyempatkan diri untuk pergi ke rumah Jenny. Entah kenapa tiba-tiba saja pria berumur 43 tahun itu sangat merindukan Gita. Apakah karena selama semingguan lebih ini dia disibukkan dengan pekerjaan kantor, jadi tidak sempat mengetahui kabar tentang gadis kecil nan menggemaskan itu?.


Billal menghentikan mobilnya tepat di depan rumah Iqbal. di sana sedang terlihat Gita sedang bermain lempar bola dengan Papanya. Lalu Billal segera menghampiri keduanya.


“Dediiii!!” teriak Gita saat pandangannya tak sengaja melihat Billal datang.


Billal merentangkan kedua tangannya bersiap untuk memeluk Gita dan menggendongnya. Anak itu sangat kegirangan saat bertemu dengan Daddy-nya yang beberapa hari ini tidak pernah ia jumpai. Sedangkan Iqbal meletakkan bola mainan Jenny di tempatnya, lalu duduk di teras rumah diikuti oleh Billal.


“Kemana istri kamu? Apakah dia sudah benar-benar sembuh?” tanya Billal basa-basi.


“Sedang di dapur membuat kue. Jenny sudah sehat dan tidak ada keluhan apapun.” Jawab Iqbal.


“Dediii… ayo main dediii. Ayo main cama tate idia.” Ucap Gita sambil memainkan baju Billal.


“Iya, Sayang. Nanti kita main sama Mama, Papa, dan Daddy ya!” sahut Iqbal cepat.


Iqbal khawatir Gita menanyakan keberadaan Lidya lagi. Jadi dia dengan cepat mengalihkan perhatiannya agar tidak mencari Lidya.


“Cama tate idia juga Papa.” Ucap Gita.


“Iya, nanti kita main sama Daddy dan Tante Lidya juga. memangnya Gita mau main kemana sih?” tanya Billal yang belum mengerti keberadaan Lidya.


“Lidya sudah resign kemarin. Jadi Gita tidak tahu, dan kali ini saja dia menanyakan keberadaan Lidya.” Iqbal memberi tahu.


“Apa? Resign? Kenapa mendadak?” tanya Billal terkejut.


Iqbal mengangguk, lalu menceritakan semuanya kalau Lidya resign karena dua minggu lagi mantan asisten istrinya itu akan menikah. Jenny pun tidak punya alasan lagi untuk mencegahnya karena kalau sudah menikah, mungkin suaminya memintanya untuk berhenti bekerja.


Billal tidak bisa berkata-kata. Kabar tentang Lidya membuatnya tampak frustasi. Terlebih Iqbal juga menceritakan perihal Lidya yang mengembalikan uang bonus pemberian istrinya, yang membuat Billal jadi merasa sangat bersalah.


“Apa kamu yakin kalau Lidya akan benar-benar menikah?” pertanyaan aneh Billal membuat Iqbal semakin bingung.


“Benar Om. Kemarin dia sendiri yang mengatakannya.” Sahut Jenny yang baru saja datang dengan membawa kue hasil buatannya.

__ADS_1


Billal langsung terdiam. Dia tidak menyangka kalau Lidya benar-benar menerima pinangan pria beristri dua itu. Entah kenapa ada rasa tidak ikhlas dalam hatinya, dan dia juga tidak mengerti alasannya. Sedangkan Iqbal diam-diam memperhatikan perubahan wajah Billal saat mengetahui kabar resign-nya Lidya.


“Ayo, Om silakan dimakan kuenya.” Ucap Jenny sambil mengambil Gita dari gendongan Billal.


Gita juga tak lagi menanyakan Lidya, setelah Jenny berhasil mengalihkan perhatiannya. Lalu mereka bertiga melanjutkan obrolannya sambil menikmati hidangan yang disuguhkan oleh Jenny.


Beberapa saat kemudian, Billal berpamitan pulang karena alasan akan bertemu dengan seseorang. Dia mencium kedua pipi Gita bergantian setelah itu pulang.


“Apa ada hal penting yang disampaikan Om Billal, Mas? Atau hanya ingin bertemu Gita saja?” tanya Jenny.


“Nggak ada. Dia hanya kangen Gita saja katanya. Tapi aku melihat ada yang aneh dari raut wajah Om Billal saat mengetahui kabar Lidya resign.” Ucap Iqbal.


“Hal aneh apa, Mas? Apa mungkin Om Billal menyukai Lidya?” tanya Jenny to do point, karena firasat seorang wanita sangat kuat.


“Bagaimana kamu bisa menyimpulkan seperti itu?”


“Hanya firasatku saja sih, Mas. Lagi pula Om Billal juga sering berinteraksi dengan Lidya. Lidya orangnya baik dan penurut. Mungkin saja Om Billal selama ini diam-diam menyukai sifat Lidya.”


Hari berganti hari. Jenny masih melakukan pekerjaannya seperti biasa di rumah sambi mengawasi anaknya. walau terkadang pembantunya juga ikut mengasuh Gita.


Sementara itu Iqbal juga disibukkan dengan beberapa pekerjaan di kantornya. Perkembangan perusahaan akhir-akhir ini sangat meningkat pesat, terlebih sejak dipegang kembali oleh Iqbal.


Sebenarnya Iqbal ingin sekali menyerahkan semuanya pada Galang, karena dia yang lebih berhak menjadi Ceo. Sedangkan dirinya akan merintis usaha sendiri. Namun hal itu masih rencananya saja, belum ia sampaikan pada istrinya. Orang pertama yang wajib tahu tentang semuanya.


Iqbal memeriksa beberapa berkas yang baru saja dikirim olehOlivia, sekretarisnya. Dia selalu mengerjakan pekerjaannya dengan teliti dan detail. Iqbal tidak ingin ada kesalahan sedikitpun yang akan berakibat fatal pada perusahaan.


Tok tok tok


Galang masuk ke ruangan Iqbal setelah dipersilakan masuk. Dia membawa beberapa berkas yang membutuhkan tanda tangan Iqbal. lalu Iqbal pun meninggalkan pekerjaannya sebentar.


“Apa kamu sudah tahu kabar terkini dari Tuan Marvin?” tanya Galang.


“Buat apalagi aku mengetahui kabarnya? Perusahaan juga sudah tidak bekerja sama lagi dengan perusahaannya.” Jawab Iqbal dingin.

__ADS_1


“Iya benar juga sih. Hanya saja aku ingin menyampaikan kalau perusahaannya sudah benar-benar gulung tikar. Dan yang aku dengar, Danisa sekarang diusir oleh kedua orang tuanya.” Galang memneri tahu.


“Ya, pantas dia mendapatkannya. Anggap saja dia telah menuai balasan dari apa yang dia perbuat pada Jenny.”


“Apa? Apa maksud kamu?” tanya Galang tak mengerti.


Lalu Iqbal menceritakan awal mula istrinya mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan dari Danisa saat di pesta pernikahan rekan bisnisnya tempo hari sbelum akhirnya Jenny dilarikan ke rumah sakit. Iqbal mengatakan kalau harga diri Jenny direndahkan oleh Danisa di depan orang banyak. Dan kejadian itu diketahui oleh Billal, Omnya.


Galang sangat terkejut mendengarnya. Dia memang tidak tahu perihal itu. Yang dia tahu hanya tentang pemutusan kerjasama dengan perusahaan Tuan Marvin karena Tuan Marvin berniat curang. Dan ditambah lagi dengan skandal Danisa.


“Apa skandal Danisa terungkap karena Tuan Billal?” tanya Galang penuh selidik.


“Sepertinya begitu. Karena aku sangat tahu kalau Om Billal sangat peduli terhadap Jenny. Terlebih dia juga menyaksikan sendiri ulah Danisa saat itu.” Jawab Iqbal.


Selesai menanda tangani beberapa berkas itu, Galang segera kembali ke ruangannya. Iqbal pun kembali melanjutkan pekerjaannya sebelum dia pergi meeting dengan ke luar.


Jam sudah menunjukkan pukul 11 siang. Iqbal segera mempersiapkan beberapa berkasnya untuk meeting. Kali ini dia akan meeting di sebuah restaurant sekaligus makan siang di sana.


Iqbal keluar dari gerbang kantornya dengan mengendarai mobilnya sendiri. Karena dia sudah terbiasa pergi tanpa sopir.


Tak jauh dari perusahaan, tampak seorang perempuan dengan penampilan yang sangat lusuh tak terawat. Wanita itu memandangi mobil Iqbal yang baru saja melintas tepat di depannya. Matanya berembun namun hatinya masih dipenuhi dendam dan amarah.


“Semua ini karena istri kamu. Karena wanita sialan itu, hidupku sekarang jadi seperti ini.” gumamnya sambil mengepalkan kuat tangannya.


.


.


.


*TBC


Happy Reading‼️

__ADS_1


__ADS_2