
Cup
Entah setan apa yang tengah merasuki hati Iqbal saat ini. saat merasakan hembusan hangat nafas Jenny yang menerpa wajahnya, ada sesuatu yang bergejolak dalam dirinya dan memberanikan diri untuk mengecup bibir Jenny. Meski suasana sedang gelap gulita tapi Iqbal sangat yakin kalau yang dia kecup baru saja adalah bibir Jenny. Karena dia bisa merasakan rasa manis.
Jenny yang mendapat serangan kecupan mendadak pun terdiam seperti patung. Otaknya tidak bisa bekerja dengan baik. Posisi kepalanya pun masih belum berubah. Masih mendongak menatap wajah Iqbal. Tapi entah kenapa rasa takut yang sejak tadi dia rasakan perlahan hilang berganti rasa nyaman.
Mereka berdua sama-sama terdiam di tengah kegelapan itu. Nafas keduanya saling berhembus menerpa wajah masing-masing. Degupan jantung merka pun saling bertautan dan mereka juga bisa merasakan, karena posisinya juga sangat intim. Lidah Jenny terasa kelu saat ingin berucap untuk menyudahi adegan berpelukan itu.
“Kak, hmmmpppp-“
Iqbal kembali mengulangi perbuatannya. Bahkan kali ini bukan sekadar kecupan, melainkan ciuman yang sesungguhnya. karena saat ini bibir Iqbal menempel pada bibir Jenny dengan waktu yang lumayan lama. Selain itu, Iqbal juga *****@* bibir Jenny dengan lembut, meski sejak tadi Jenny masih tertutup. Hati Iqbal kecewa karena tidak mendapat balasan dari Jenny. Itu tandanya perempuan itu sama sekali tidak memiliki perasaan terhadapnya.
Kedua pasang mata yang terpejam itu mendadak terbuka lebar saat tiba-tiba lampu sudah menyala terang. Sadar akan posisinya yang begitu intim dan bibir yang masih tertaut, dengan cepat Iqbal melepaskannya.
“Maafkan aku!” ucap Iqbal lalu masuk ke dalam kamarnya meninggalkan Jenny.
Jenny memegang bibirnya yang masih tersisa rasa yang baru saja ditinggalkan oleh Iqbal. Perlahan air matanya menetes. Entah apa yang dirasakan Jenny saat ini setelah melihat kepergian Iqbal begitu saja setelah dengan berani menciumnya.
Keesokan paginya, karena hari ini weekend keduanya sama-sama libur bekerja. Setelah kejadian semalam, Iqbal lebih memilih menjauh dari Jenny. Sedangkan Jenny yang beusaha untuk berbicara dan meminta penjelasan pada Iqbal pun tidak memiliki kesempatan. Bahkan pagi ini Iqbal memilih keluar rumah.
Sedangkan Jenny yang sedang dilanda gelisah lebih memilih mengalihkan rasa itu dengan membuat sketsa baju. Namun tak lama kemudian deringan ponsel menghentikan niat Jenny yang akan menggoreskan pena. Ternyata panggilan itu dari Xavier.
Jenny dan Xavier menghabiskan waktunya bertelepon ria selama berjam-jam. Jenny yang awalnya sedikit malas, lama-lama perempuan itu tampak menikmati perbincangannya dengan Xavier. Memang Jenny akui kalau Xavier adalah sosok laki-laki yang sangat humble. Dia pandai mencari celah untuk mengambil hati seseorang. Dan terbukti sudah Jenny rasakan saat pertama kali dulu mengenalnya.
Sementara itu Iqbal sekarang sedang berada di apartemen Galang. Laki-laki itu tampak terdiam sendiri di balkon kamar Galang sambil menyesap rokoknya. Dan tak lama kemudian Galang datang dengan membawa dua cangkir kopi untuk Iqbal dan dirinya sendiri. Iqbal hanya melirknya sekilas.
“Jangan curhat sekarang, perutku lapar sebentar lagi makanan datang.” Ucap Galang lalu meneguk kopinya.
Iqbal hanya mencebik kesal. Dia juga tidak akan mencurahkan isi hatinya begitu saja meski pada Galang sekalipun. Dan Galang pun tahu, jadi dia hanya menggoda sahabatnya saja berusaha untuk mencairkan suasana.
Tak lama kemudian datang kurir makanan mengantar pesanan makanan Galang. Kemudian mereka berdua sarapan bersama. Kebetulan Iqbal tadi memang belum sarapan. Karena dia keluar rumah masih sangat pagi.
__ADS_1
“Nggak ada acara kamu?” tanya Iqbal.
“Sebenarnya ada. Tapi karena ada kamu disini jadi aku membatalkannya.” Jawab Galang.
“Memangnya mau kemana? Sorry deh, aku pulang saja kalau gitu.” Ucap Iqbal bersalah.
“Tidur.” Jawab Galang singkat dan membuat Iqbal mencebik kesal.
Setelah itu keduanya terdiam cukup lama. Galang menghembuskan nafasnya pelan saat menyadari kalau sebenarnya kedatangan Iqbal kesini sedang ada masalah. Galang yang sudah tahu sifat sahabatnya yang tidak mudah menceritakan masalahnya kalau tidak ditanyai dulu, akhirnya Galang menanyakan masalah apa yang sedang dihadapi Iqbal.
Awalnya Iqbal masih diam karena dia bingung bagaimana cara memulai menceritakan masalahnya. Terlebih membahas tentang perbuatannya yang telah berani mencium Jenny semalam. Namun Galang tidak putus asa, selain penasaran, dia juga tidak tega melihat sahabtanya memendam masalahnya sendiri. Iqbal pun menceritakan semuanya.
“Bagus dong kalau begitu.” Ucap Galang dan membuat Iqbal mendelik kesal.
“Ya setidaknya kamu mulai menunjukkan perasaan kamu pada Jenny. Meskipun dia tidak membalas ciuman kamu, setidaknya itu adalah sebuah sinyal kalau kamu menganggap Jenny bukan seorang adik. Dan Jenny harus tahu akan hal itu.” Ucap Galang.
“Sekarang aku bingung bagaimana harus bersikap pada Jenny setelah kejadian semalam.” Ucap Iqbal.
Iqbal membenarkan apa yang diucapkan oleh Galang baru saja. Hatinya sedikit lega. Mungkin nanti saat sudah di rumah dia akan kembali meminta maaf pada Jenny untuk melupakan kejadian semalam.
Lama berada di apartemen Galang, Iqbal tidak sadar kalau waktu sudah sore. Akhirnya Iqbal memutuskan untuk pulang ke rumah.
Saat sudah tiba di rumah, Iqbal melihat Jenny tampak sedang berbincang-bincang dengan salah satu tetangganya. Iqbal tampak tersenyum tipis melihat Jenny berinteraksi dengan tetangganya, karena selama ini yang dia lihat Jenny hanya berdiam diri di rumah setelah seharian bekerja.
“Eh, Mas Iqbal baru pulang Mas?” sapa ibu paruh baya itu ramah.
“Iya.” Jawab Iqbal sopan.
“Saya tadi main kesini sambil memberi olahan masakan saya. Eh nggak tahunya Mbak Jenny sedang di rumah sendirian. Jadi saya temani.” Ucapnya.
“Iya, Bu terima kasih.” Jawab Iqbal.
__ADS_1
“Ya sudah, berhubung Mas Iqbal sudah pulang saya pamit dulu kalau gitu.”
“Makasih ya Bu masakannya.” Jawab Jenny tersenyum ramah.
Setelah tetangganya pulang, Jenny masuk ke dalam rumah. namun langkahnya terhenti saat Iqbal memanggilnya. Jenny pun menghentikan langkahnya tapi tidak berani menatap wajah Iqbal.
“Maafkan perbuatanku yang semalam. Lupakan kejadian itu.” Ucap Iqbal terlihat tanpa beban.
“I..iiya Kak.” Jawab Jenny.
Lalu Iqbal berjalan memasuki rumah mendahului Jenny. Entah kenapa mendengar ucapan Iqbal yang memintanya untuk melupakan kejadian semalam, membuat Jenny merasa kecewa. Tapi dia tidak tahu harus berbuat apa.
Saat Jenny akan meletakkan sayuran pemberian tetangganya tadi, ternyata ada Iqbal yang sudah duduk disana.
“Sepertinya sayuran itu enak. Apa aku boleh memakannya sekarang?” tanya Iqbal.
“Boleh, Kak. Sebentar aku siapkan dulu nasinya.” Jawab Jenny.
Iqbal pun tersenyum tipis melihat Jenny menyiapkan makanan untuknya seolah seperti seorang istri sungguhan.
.
.
.
*TBC
Huufttt sabar ya blm saatnya cap cip cup😂😂✌️✌️
Happy Reading‼️
__ADS_1