
Danisa tidak bisa menjawab lagi ucapan Papanya. Dia menangis memegangi pipinya yang masih terasa panas lalu pergi dari ruangan Papanya.
Tuan Marvin mengusap wajahnya dengan kasar. Dalam hatinya telah menyesal setelah menampar putri kesayangannya. Tapi dia melakukan ini semua hanya untuk membuat Danisa sadar akan perbuatnnya.
Setelah itu Tuan Marvin keluar dari ruangannya untuk segera meeting dengan beberapa staff penting. Dia ingin mencari solusi bagaimana cara mengatasi permasalahan yang tengah dihadapi perusahaannya kini. Karena kalau tidak segera mendapatkan bantuan, sudah dipastikan kalau perusahaanya akan bangkrut beberapa hari lagi.
Keesokan harinya, beberapa karyawan di perusahaan Tuan Marvin sedang demo di depan kantor. karena mereka sudah mengetahui kabar terkini. Mereka meminta agar tidak di PHK dari perusahaan dan segera dibayarkan gajinya, yang harusnya kemarin diberikan.
Semalaman Danisa juga ikut sibuk mencari solusi untuk masalah perusahaan. Dia sudah sadar akan tindakannya. Namun dia tidak begitu yakin jika Iqbal sendiri yang melakukan ini semua.
Danisa melangkahkan kakinya memasuki perusahaan. Dia sudah dihadang beberapa karyawan yang sedang berdemo di depan kantor.
“Harap tenang semuanya! Saya harap kalian segera pulang. kami akan berjanji akan membayarkan gaji kalian semua.” Ucap Danisa.
“Jangan hanya janji saja! Kami tidak butuh janji. Kami butuh uang!” ucap salah satu karyawan yang mewakili.
Danisa sangat pusing. dia segera masuk ke dalam kantor. dia tidak peduli diteriaki bahkan diumpati oleh beberapa karyawan yang sedang berdemo.
“Pa, bagaimana ini?” tanya Danisa saat bertemu Papanya sedang berada di lobby.
“Papa sudah berusaha meminta bantuan ke beberapa investor asing. Masih belum ada balasan dari mereka.” Jawab Tuan Marvin.
Di tengah kekacauan perusahaan yang hampir bangkrut, tiba-tiba saja ada dua orang wanita paruh baya mendatangi kantor Tuan Marvin. Dan kebetulan Danisa dan Papanya masih belum beranjak dari Lobby.
Tuan Marvin tahu diantara dua wanita paruh baya itu salah satunya adalah adik iparnya. Dia masih berpikir buat apa adik iparnya datang ke perusahaan. Karena dia tidak pernah menjalin hubungan kerja dengan perusahaan adiknya karena bidangnya berbeda.
“Ada ap-“
Plakkk
Belum sempat Tuan Marvin bertanya pada adik iparnya, dia dibuat terkejut oleh tindakannya yang tiba-tiba menampar Danisa sangat keras.
“Tante! Apa maksud Tante menamparku begini?” tanya Danisa.
“Dasar keponakan kurang ajar!! Wanita ja***g!!” umpatnya.
__ADS_1
Tidak cukup sampai disitu, wanita paruh baya satunya kini sudah menarik rambut Danisa sangat kencang hingga membuat Danisa terjatuh ke lantai. Tuan Marvin sangat panik dan segera memanggil security yang sedang menjaga orang demo di depan kantornya.
“Kamu pantas mendapatkan semua ini, dasar ja***g! sudah puas kamu merusak rumah tanggaku? Bahkan Om kamu sendiri kamu rayu sampai mengajaknya bercinta!!” ucap Tante Danisa.
Duarrrr
Tuan Marvin sangat terkejut mendengarnya. Tetapi dia masih belum mempercayai sepenuhnya ucapan adik iparnya mengenai Danisa.
“Lebih baik kamu pergi sekarang juga! jangan menambah masalahku. Tidak mungkin Danisa seperti itu.” Sanggah Tuan Marvin.
“Apa ini belum cukup membuktikan? Bahkan wanita ja***g yang berstatus anak kesayangan anda ini juga telah merayu suami saya. Dan kami bercerai hanya karena suami saya memilih wanita murahan ini.” ucap wanita paruh baya itu sambil melempar beberapa bukti foto perselingkuhan suaminya bersama Danisa.
Tuan Marvin mengambil foto itu. Foto dimana Danisa sedang liburan bersama seorang pria paruh baya dengan mengenakan pakaian super seksii. Dan foto yang diperlihatkan oleh adik iparnya melalui ponselnya. Dimana Danisa sedang berciuman dengan Omnya sendiri di café. Dan juga terlihat Danisa sedang menggandeng mesra Omnya yang diyakini sedang berada di sebuah hotel.
Tangan Tuan Marvin gemetar melihat semuanya. Dia sudah tidak sanggup lagi bersuara keras untuk Danisa. Dia benar-benar murka dan kecewa atas tindakan putri kandungnya sendiri. Tiba-tiba saja Tuan Marvin memegangi dadanya yang terasa berdenyut. Dan tak lama kemudian pria itu pingsan.
“Papa!!” teriak Danisa.
“Urus Papa kamu dulu. Setelah ini kami akan buat perhitungan dengan kamu.” Ucap Tante Danisa lalu pergi meninggalkan perusahaan.
Tidak butuh waktu lama, kabar berita heboh itu sudah muncul memenuhi laman berita online. Semua orang sudah mengetahui kabar tentang Danisa yang terlibat skandal dengan beberapa pria dewasa, termasuk salah satunya adalah Omnya sendiri.
Iqbal yang sedang mengerjakan pekerjaan kantornya di rumah sakit sambil menunggui istrinya juga terkejut mendengar berita itu. Kabar anjloknya saham Tuan Marvin semalam saja sudah membuatnya kaget, dan kini dikejutkan lagi dengan skandal Danisa.
Iqbal sudah tahu kalau semua ini karena tindakan Billal. Iqbal semakin yakin kalau Billal memang bukan orang sembarangan. Bahkan untuk keponakannya sendiri, dia sampai rela membalaskan dendamnya sampai ke akar-akarnya.
“Mas!” panggil Jenny.
Entah sudah berapa kali Jenny memanggil suaminya, tapi sejak tadi Iqbal masih terdiam dan seperti sedang memikirkan sesuatu.
Duk
Jenny melempar tutup gelas ke arah suaminya. Dan membuat Iqbal sadar dari lamunannya.
“Sayang? Kamu melemparku pakai ini?” tanya Iqbal tak percaya.
__ADS_1
“Kenapa memangnya? Sejak tadi aku memanggilmu tapi kamu sangat asyik melamun.” Ucap Jenny cemberut.
Iqbal akhirnya berjalan mendekati istrinya, lalu mengecup singkat bibirnya yang sedang cemberut itu.
“Maafkan aku, jangan marah ya. Aku tadi hanya sedang fokus dengan pekerjaanku.” Ucap Iqbal.
“Bohong!”
Iqbal menghembuskan nafasnya pelan. Tidak mungkin dia mengatakan tentang Danisa. Dia takut istrinya marah karena tidak suka dengan perbuatan membalas dendam. Kemudian Iqbal menyalakan tv yang ada di ruangan itu. Benar saja saat ini beberapa acara tv sedang meliput berita tentang perusahaan Tuan Marvin sekaligus skandal Danisa.
Jenny membelalakkan matanya saat mendengar dan melihat berita itu. Jenny mendengarkan dengan seksama tentang kasus skandal Danisa terutama dengan Omnya sendiri.
“Apakah semua itu benar, Mas?” tanya Jenny tak percaya dan Iqbal mengangguk.
Jenny sedikit merasa lega karena ucapan Danisa tempo hari saat merendahkan dirinya di depan orang banyak tidak terbukti, lantaran Danisa sendirilah yang seolah menunjukkan sifat aslinya dengan mengkambing hitamkan orang lain.
“Kamu tenang saja. Aku sudah tidak lagi bekerja sama dengan perusahaan Tuan Marvin. Dan aku pastikan setelah ini pasti Danisa sudah tidak berani lagi menampakkan wajahnya di depan publik.” Ucap Iqbal.
“Iya, Mas. Aku merasa lega sakarang, karena dia sudah tidak lagi berani mendekatimu, bahkan merusak rumah tangga kita.” Ucap Jenny.
“Ya sudah, sekarang lebih baik kamu istirahat biar cepat pulih. Apa kamu tidak ingin segera bertemu dengan putri kita?” tanya Iqbal.
“Iya, Mas. Aku sangat merindukan Gita.” Jawab Jenny lalu dia kembali beristirahat.
.
.
.
*TBC
Sorry ya readers kesayangankuuhh, up nya rada telat karena sistemnya gangguan🙏🙏
jangan lupa tinggalkan jejak di setiap bab ok👌👌
__ADS_1
Happy Reading‼️