
Keesokan paginya, Iqbal dan Jenny sudah bersiap rapi untuk pergi setelah menyelesaikan sarapannya. Hari ini Iqbal akan mengajak istrinya melihat rumah baru pemberian mendiang Nyonya Sarah. Sebenarnya baik Iqbal maupun Jenny sudah sangat nyaman tinggal di rumahnya sendiri, namun karena amanat itu, mau tidak mau mereka harus menerima dan menempati rumah itu.
“Apa masih sakit?” tanya Iqbal sebelum pergi.
“Sudah nggak, Kak.” Jawab Jenny.
“Untunglah, nanti kita bisa mengulanginya lagi.” Jawab Iqbal enteng tanpa dosa.
“Awwww”
Iqbal meringis memegangi perutnya yang baru saja dicubit oleh istrinya. Jenny benar-benar heran dengan sikap suaminya yang menurutnya kelewat mesum. Padahal sebelum ada kejadian kebobolan gawang seperti kemarin, sikap Iqbal tampak dingin, kaku, dan datar. Bahkan untuk membahas hal yang intim saja tidak pernah. Tapi kenapa sekerang jadi seperti ini.
Jenny mengabaikan ringisan suaminya. Dia langsung masuk ke dalam mobil. Dan Iqbal pun akhirnya mengikutinya.
Mereka berdua sedang dalam perjalanan menuju alamat rumah barunya. Hanya membutuhkan waktu kurang lebih selama 30 menit mereka sampai di alamat itu.
Tak lama kemudian mobil yang ditumpangi Iqbal dan Jenny sudah memasuki sebuah kompleks perumahan elit. Iqbal terus melajukan mobilnya mencari dimana letak rumahnya. Hingga akhirnya mobilnya sampai dan berhenti di sebuah rumah besar dengan halaman yang sangat luas. Iqbal tampak kagum dengan kemewahan rumah itu. Rasanya dia tidak pantas menerima semua itu.
Sementara Jenny juga sangat terkejut melihatnya. Meski baginya sudah terbiasa tinggal di rumah mewah seperti itu, mengingat kedua orang tuanya termasuk salah satu pengusaha sukses dan ternama.
Mereka berdua berjalan memasuki rumah itu setelah berhasil membuka pintu gerbangnya. Lagi-lagi Iqbal dan Jenny sangat takjub dengan kemewahan rumah itu. Halaman yang begitu luas dan tampak sebuah taman bunga yang sangat indah dimana di tengahnya terdapat kolam ikan dengan gemericik air yang terus mengalir.
“Kak, apa benar rumah ini menjadi milik kita?” tanya Jenny.
“Iya. Rumah kita dan anak-anak kita.” Jawab Iqbal tersenyum.
Setelah itu mereka berdua melanjutkan langkahnya masuk ke dalam. Setelah berhasil membuka pintu utama, mereka berkeliling memasuki rumah itu. Rumah berlantai dua itu didesign dengan model eropa. Dan disana terdapat banyak kamar yang sepertinya memang disiapkan untuk ditinggali keluarga besar.
“Kenapa Nyonya Sarah memberikan kemewahan seperti ini?” gumam Iqbal masih tak percaya.
“Mungkin beliau memang merasa punya hutang budi pada kakak. Jadi Kak Iqbal pantas mendapatkan semua ini.” jawab Jenny.
Setelah puas berkeliling dalam rumah, Iqbal mengajak Jenny memasuki garasi. Disana ada sebuah mobil yang masih tertutup oleh pelindung. Iqbal segera membukanya. Jenny membelalakkan matanya saat melihat sebuah mobil sport mahal ada di depan matanya.
__ADS_1
“Kak, ini nyata atau mimpi?” tanya Jenny.
Tanpa menjawab, Iqbal berjalan mendekati mobil. Dia juga merasa seperti mimpi. Dia harus mengucapkan banyak terima kasih pada Farah. Bagaimana pun juga Farah kini sudah dia anggap seperti saudaranya sendiri.
Setelah cukup lama menghabiskan waktu melihat-lihat isi rumah barunya, Iqqbal mengajak Jenny pulang. mereka sepakat akan menempati rumah itu besok. Berhubung rumah barunya sudah terisi lengkap dengan semua perabotan, jadi Iqbal dan Jenny tinggal menempatinya saja dan hanya membawa baju-bajunya.
Kini Iqbal dan Jenny sedang duduk di sebuah restaurant untuk makan siang. Namun mereka sedang menunggu kedatangan Farah.
“Hai, ada apa nih kalian ngajak aku makan siang?” tanya farah yang baru saja datang.
Farah kini sudah terlihat baik-baik saja setelah kepergian Maminya. Bahkan sikapnya dengan Jenny sudah lebih baik dari sebelumnya. Karena dia juga bisa melihat hubungan Iqbal dan Jenny seperti pasangan pada umumnya.
“Nggak ada apa-apa. Aku hanya ingin mengucapkan banyak terima kasih atas semua pemberian mendiang Nyonya Sarah.” Jawab Iqbal.
“Sudahlah Bal. jangan bilang itu lagi. Kamu pantas mendapatkannya. Justru aku yang sangat berterima kasih. Kamu telah berbuat banyak untuk Mami dan perusahaan. Sementara aku yang anak kandungnya belum bisa membahagiakan sama sekali.” Ucap Farah sendu.
“Sudah, lebih baik kita langsung makan saja. Sejak tadi aku sudah sangat lapar.” Ucap Jenny mencairkan suasana.
Iqbal dan Farah tergelak mendengar penuturan Jenny. Kemudian mereka bertiga segera menikmati makan siangnya. Iqbal mengatakan pada Farah kalau mulai besok akan menempati rumah barunya. Farah juga terlihat senang mendengarnya.
“Sebenarnya aku masih belum cukup menguasai sih, Bal. menjadi wakil kamu saja membuatku sedikit kerepotan. Tapi kalau kamu dan Jenny memang ada urusan penting, aku akan berusaha menghandle semuanya.” Jawab Farah.
“Kita nggak akan lama kok. Ehm Far, bolehkah aku merekrut pegawai baru untuk membantuku di kantor sekaligus membantu kamu jika nanti aku tinggal pergi.” Ucap Iqbal.
“Terserah kamu, Bal. aku ngikut aja. Memangnya kamu mau merekrut siapa?” tanya Farah sambil mengunyah makanannya.
“Galang” jawab Iqbal singkat.
Uhukkkk
Jenny dengan cepat memberikan air putih untuk Farah yang tiba-tiba tersedak makanan. Wajahnya langsung memerah setelah mendengar nama seseorang disebut oleh Iqbal.
“Pelan-pelan Farah. Kayak sedang jatuh cinta saja.” Ucap Jenny tanpa beban dan membuat Farah melototkan matanya.
__ADS_1
Iqbal tersenyum tipis melihat interaksi Jenny dan Farah. Sebenarnya niat Iqbal merekrut Galang untuk bekerja di perusahaan milik Farah, selain karena kemampuan Galang yang hampir sama dengan dirinya, Iqbal juga ingin mendekatkan Galang denngan Farah. Beruntungnya selama ini Galang bekerja freelance dan tidak terikat dengan perusahaan manapu.
“Apaan sih kamu, Jen.” Jawab Farah dengan muka memerah.
“Ya maaf. Tapi Kak Galang juga orangnya sangat baik kok. Siapa tahu saja kalian nanti berjodoh.” Ucap Jenny.
Iqbal tersenyum mendengar ucapan istrinya, namun Farah memilih menundukkan kepalanya menikmati makan siangnya yang belum selesai.
Setelah makan siang, mereka bertiga pulang. hari ini juga Iqbal akan menghubungi Galang dan menyampaikan maksdunya biar besok bisa langsung ikut bekerja.
Keesokan paginya, Jenny sudah menyiapkan baju-bajunya dan baju Iqbal ke dalam koper besar. Mereka akan meletakkan kopernya di rumah baru, setelah itu pergi ke kantor sedangkan Jenny ke butik.
Iqbal dan Jenny sudah sepakat akan pulang ke kota J tiga hari lagi. Selain Iqbal masih mengurus beberapa pekerjaannya, Jenny juga harus meminta ijin terlebih dulu pada pemilik butik.
Kini Jenny sudah masuk ke butik untuk memulai aktivitasnya. Disana dia berpapasan dengan Lila yang sudah tampak rapi seperti akan pergi.
“Pagi, Mbak! Mau kemana Mbak kok sudah rapi?” tanya Jenny basa-basi.
“Pagi juga. ini aku habis ambil sesuatu yang tertinggal. Dan aku juga akan balik kerja ke kota J, Jen.” Jawab Lila.
“Oh ya? Wah nanti kita bisa ketemuan dong Mbak. Tiga hari lagi aku juga akan pulang.” ucap Jenny.
“Benarkah? Baiklah nanti kita akan bertemu disana ya.” Ucap Lila senang.
.
.
.
*TBC
Jangan lupa tinggalkan jejaknya guys🤗😘
__ADS_1
Happy Reading
‼️